Terjebak Di Dunia Drama

Terjebak Di Dunia Drama
Taman terlarang


__ADS_3

‘’Coba kau periksa,’’ ucapnya memerintah Wei Luo. Cao Zhi sengaja membawa satu bandit dan menyuruh Wei Luo untuk menyelidiki. Pasalnya, tubuh bandit itu benar-benar sangat mengenaskan dan panah biasa tidak mungkin membuat tubuh seseorang menjadi seperti itu.


‘’Kenapa bisa seperti ini?’’ Wei Luo juga dibuat syok saat melihat tubuh bandit. Cao Zhi lantas menunjuk ke arah panah yang masih menancap di dada kanan bandit.


‘’Karena ini?’’ tanya Wei Luo, Cao Zhi pun langsung mengangguk tanda mengiyakan.


Setelah itu, keduanya kembali memperhatikan tubuh mengenaskan si bandit yang tampak melepuh di hampir semua bagian.


Wei Lui pun meminta Cao Zhi untuk menarik anak panah di dada si bandit untuk diselidiki, pria itu sengaja menyuruh Cao Zhi karena sedikit geli saat melihat tubuh bandit.


Tanpa keberatan, dengan cepat dan dengan sekuat tenaga Cao Zhi langsung menarik anak panah itu dan memberikannya pada wei Luo. Pria itu pun langsung menyelidiki.


‘’Kalau aku tidak salah, sepertinya ini adalah getah,’’ ucapnya masih memperhatikan bagian ujung anak panah. Cao Zhi pun mendekat dan ikut menelisik.


‘’Getah apa yang bisa membuat tubuh melepuh seperti itu?’’ tanyanya. Dengan sedikit tergesah, Wei Luo memberikan anak panah itu pada Cao Zhi, sedangkan dirinya berlari mencari kitab buku tanaman beracun yang dulu sempat diberikan oleh para leluhurnya. Setelah menemukan, dia kembali berlari menghampiri Cao Zhi dan membuka kitab itu lembar demi lembar hingga menemukan apa yang sedang dicari olehnya.


‘’Ini,’’ tunjuknya pada lembar buku. Cao Zhi pun langsung melihat dan ikut membaca isi lembaran itu. Lembaran itu berisi tentang bahayanya apel kematian, dari mulai daun, buah dan getahnya.


‘’Sepertinya itu getah dari pohon apel kematian,’’ ucap Wei Luo. Cao Zhi pun mengangguk setuju, lalu dengan kompaknya mereka kembali melihat ke arah si bandit.


‘’Kau harus bertindak cepat dalam mencari pelakunya dan juga harus cepat menemukan Permata Yujie, sebelum racun -racun itu menyebar dan merusak negara kita,’’ ucap Wei Luo. Cao Zhi pun hanya bisa kembali mengangguk.


*****


‘’Cao Zhi mana? Kenapa aku tidak melihatnya sejak tadi?’’ tanya Anxin sesaat setelah dirinya dan Pangeran Yuan keluar dari Aula Bǎi hé huā.


Pangeran pertama sontak menghentikan langkahnya dan menatap tidak suka pada Anxin yang sepertinya cuek akan tatapan tersebut.


‘’Kau sedang bersamaku jadi, jangan pernah menanyakan pria lain!’’ Setelah itu pangeran ketiga kembali meneruskan langkahnya dan meninggalkan Anxin yang tampak bingung akan ucapan itu.

__ADS_1


Hanya beberapa menit, Anxin sudah melebarkan senyumnya, wanita itu berlari menyusul sang Pangeran. Dia berpikir Pangeran pertama sedang cemburu karena dia yang menanyakan keberadaan Cao Zhi.


‘’Kau cemburu ya?’’ godanya pada Pangeran pertama. Pria itu hanya meliriknya sekilas dan terus membawa langkahnya menuju Istana Timur.


‘’Pulanglah, aku harus berlatih panahan,’’ ucapnya begitu mereka sampai di depan pintu masuk Istana timur.


‘’Bisakah aku ikut denganmu? Aku ingin melihat kau berlatih,’’ pinta wanita itu. Tidak lama dia tersenyum dan melangkah mengikuti Lu Yuan yang sudah lebih dulu masuk.


Hampir satu jam Anxin menemani Pangeran Yuan memanah, wanita itu lalu pamit pulang karena Pangeran Yuan masih asyik dengan kegiatannya, sedangkan dirinya sudah mulai bosan.


Wanita itu lalu kembali ke kediaman keluarga He, dia memutuskan untuk bersantai di taman yang ada berada tidak jauh dari kamarnya. ‘’Bosan juga seharian seperti ini,’’ ucapnya sambil mendesah. Entah dorongan darimana, tiba-tiba saja dia teringat akan kitab taman terlarang. Wanita itu pun memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


Di dalam kamarnya, dengan ditemani oleh Chuncu, yang sedang menyiapkan beberapa cemilan untuknya, Anxin tengah serius membaca lembar demi lembar dari kitab itu.


‘’Mengisi waktu luang dengan membaca buku seperti ini, ternyata menarik juga,’’ ucapnya. Setelah itu, dia membuka mulut, meminta Chuncu untuk menyuap cemilan untuknya.


‘’Oh ya, apa kau pernah mendengar tentang taman terlarang?’’ tanyanya. Matanya masih fokus pada lembar halaman yang sedang dibaca.


‘’Memangnya taman seperti itu benar-benar ada?’’ tanya Anxin excited. Wanita itu bahkan sudah menutup kitab, dan menatap serius pada Chuncu.


‘’Taman itu berbahaya nona, tidak ada seorang pun bisa keluar setelah masuk ke taman itu. Jadi, nona jangan berpikir untuk pergi kesana, itu benar-benar sangat berbahaya.’’ Chuncu mengingatkan. Pelayan setia Anxin itu sudah menampilkan wajah seriusnya.


‘’Memangnya kau sudah pernah kesana?’’


Chuncu lantas menggeleng, karena memang dia belum pernah masuk ke taman itu, jangankan masuk, pergi ke daerah yang dekat dari taman itu saja dia tidak pernah dan juga tidak mau.


‘’Lalu darimana kau tau, kalau taman itu berbahaya?’’


‘’Begitulah kabar yang beredar nona, seluruh penduduk negeri ini bahkan sangat takut untuk mendekati taman itu.’’

__ADS_1


‘’Ck, aku tidak percaya omong kosong seperti itu, sebelum aku membuktikannya sendiri. Lagian didunia ini, mana mungkin ada taman yang memakan korban? Mungkin saja itu hanya akal-akalan si penjaga taman, karena takut tamannya rusak.’’


‘’Ma - maksudnya nona ingin pergi ke taman itu?’’


‘’Iya,’’ jawab Anxin. Lalu wanita itu kembali membuka kitab taman terlarang dan melanjutkan membaca.


‘’Apa benar, bunga-bunga cantik ini berada dalam satu taman?’’ gumamnya dengan wajah senang.


‘’No … nona kau tidak bisa ke taman itu, aku takut kau tidak kembali lagi,’’ ucap Chuncu yang sudah ingin menangis.


‘’Aku bahkan belum pergi dan kau sudah mendoakan hal buruk terjadi padaku?’’


‘’Tidak nona, mana mungkin aku mengharapkan hal itu, aku hanya takut terjadi apa-apa denganmu.’’


‘’Kalau begitu, kau ikut saja denganku.’’


Chuncu ingin memprotes, tetapi tidak sempat, karena Anxin sudah lebih dulu mengatakan sesuatu. ‘’Tidak ada tapi-tapian,’’ Setelah itu, Anxin menyuruh Chuncu untuk keluar dari kamarnya, sedangkan dirinya terus melanjutkan membaca kitab.


‘’Oh jadi taman itu berisi banyak tanaman beracun dan tanaman obat? Hhmm hebat juga taman itu, dia menyediakan racun, tetapi juga menyediakan penawar. Ibarat katanya, dia yang membuat masalah dan dia juga yang menyelesaikan masalah,’’ ucap wanita itu, dia menghentikan bacaannya sejenak.


‘’Sepertinya aku harus ke taman itu, aku ingin membuatkan obat memar untuk pria menyebalkan itu,’’ gumamnya dengan nada senang, lalu kembali membaca kitab taman terlarang itu. Dia terus membolak balik halaman demi halaman, membaca halaman demi halaman dengan sangat serius.


Hari hampir sore, Anxin pun sudah tertidur di lantai, dengan kepalanya tertutupi kitab yang tadi dibacanya.


Beberapa kali ketukan pintu terdengar, tetapi sama sekali tidak membangunkan Anxin.


‘’Masuklah Pangeran, nona mungkin sedang tidur,’’ ucap Chuncu memberi saran. Pasalnya, sudah hampir 10 menit Pangeran Yuan mengetuk pintu kamar, tetapi belum juga ada sahutan dari nona mudanya.


Bersambung.....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya.....


__ADS_2