
Tiba-tiba saja, Anxin meringis, karena Cao zhi yang sudah menyentil dahinya. Pria itu sedikit kesal dengan ucapan Anxin tadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anxin langsung melotot, dengan wajah geramnya. Sebenarnya sentilan Cao Zhi tidak terlalu sakit, tetapi hal itu tetap saja membuatnya kesal. Dalam hatinya dia menggerutu, memaki pria bertopeng itu, dia bahkan menarik kata-katanya yang mengatakan wajah cao Zhi tampan. ‘’ Perilakunya sangat buruk, sudah pasti wajahnya juga buruk.’’
Masih dengan menggerutu, dia membawa langkahnya dan menyusul Cao Zhi yang sudah sedikit menjauh darinya.
‘’Kau tidak masuk, untuk menangkap mereka,’’ tanyanya, sambil melihat ke arah belakang, pada rumah kecil yang kini sudah diserbu oleh pasukan kerajaan xing.
Anxin hanya mendesah, karena Cao Zhi yang tidak kunjung menanggapi ucapannya. Entahlah terbuat dari apa pria itu, hingga sikapnya sangat menyebalkan dan selalu membuat dara Anxin mendidih. Lucunya, sekesal apapun, dia tetap saja mengikuti pria itu
‘’Kita akan berjalan kaki lagi?’’ tanyanya lagi, tapi kembali tidak dihiraukan oleh Cao Zhi. mungkin saja pendengaran pria itu sedang bermasalah, pikir Anxin masih dengan rasa kesalnya. Namun, sebisa mungkin dia tersenyum, karena ingin membujuk Cao Zhi, agar mau melakukan keinginannya.
‘’Kenapa tidak teleportasi saja, bukannya kau bisa? Ya … ya … ya … please, kita teleportasi saja, aku benar-benar capek sekarang. Ditambah lagi, hatiku masih ketakutan dan trauma saat melihat para bandit itu lagi. Oh ya, dan satu lagi, sekarang perutku juga lapar dan minta untuk segera diisi. Jadi, kau ajak aku teleportasi saja, atau setidaknya kau bisa mengajakku naik kuda.’’
‘’Please? Apa itu?’’
‘’Aish, kau tidak fokus pada inti ucapanku dan malah fokus pada satu kata itu,’’ decaknya penuh kekesalan. ‘’Please itu seperti kata pujian untukmu, ya … benar, kata pujian. Jadi, maukah kau melakukan teleportasi untukku?’’
‘’Kalau kau sangat tertarik pada hal itu, lebih baik kau mempelajarinya sendiri!’’
‘’Mempelajari? Bisakah? Bisakah aku melakukannya juga?’’ tanyanya dengan begitu bersemangat, ‘’lalu, lalu dimana aku bisa belajar caranya melakukan teleportasi atau, apa kau mau mengajariku?’’ dia sudah memegang pergelangan tangan Cao Zhi saking excitednya.
__ADS_1
‘’Mungkin aku akan mempertimbangkannya, tetapi saat kau berhasil membawakan Permata Yujie padaku.’’
‘’Permata itu lagi?’’ decaknya dalam hati dan melepaskan genggaman tangannya pada Cao Zhi. Menurutnya, Pusaka itu sudah seperti teror terbesar dalam hidupnya dan itu benar-benar mengganggunya. Dia merasa, hidupnya seakan tidak bisa tenang, sebelum menemukan Permata yang sama sekali tidak dia tahu model dan bentuknya itu.
‘’Apa kau tahu dimana Permata itu berada?’’ Entah sadar atau tidak, Anxin langsung menggeleng kepala. Tidak lama, dia langsung menundukan kepalanya dan mengakui kebohongannya. Wanita itu terus menunduk, takut melihat wajah marah Cao Zhi.
‘’Ck sudah kuduga!’’ Lalu pria itu melangkah meninggalkan Anxin.
Refleks, Anxin mengangkat kepalanya, melihat punggung pria itu dengan tatapan bingungnya. Tadinya, dia pikir Cao Zhi akan sangat marah karena sudah dibohongi, tetapi respon pria itu malah sangat berbeda dari perkiraannya.
‘’Ka - kau benar-benar tidak marah padaku?’’ Dia berlari menyusul pria itu dan berjalan di sampingnya, dengan masih memasang ekspresi bingungnya. Tiba-tiba saja langkahnya terhenti, saat Cao zhi menghentikan langkah dan berputar menghadapnya. ‘’Kenapa? Kau ingin aku membunuhmu sekarang?’’ tanya pria itu dengan seringai menakutkan.
Anxin langsung memundurkan langkahnya dua kali. ‘’Ti - tidak, mana mungkin aku menginginkan hal itu? Lagian, mana ada orang yang ingin nyawanya segera dicabut?’’ ucapnya ketakutan, tubuhnya sedikit bergetar dan tangannya sudah dipenuhi keringat. Inilah yang membuatnya kesal, dia sering kali tidak berdaya, saat Cao Zhi sudah memperlihatkan mata melototnya, yang menurut Anxin sangat menakutkan, seperti sekarang. Hanya dengan matanya saja, dia sudah sangat mampu mengintimidasi orang lain.
‘’Astaga dia meninggalkanku lagi!’’ ucapnya saat sadar Cao Zhi sudah meninggalkannya. Dia pun kembali berlari untuk mengejar pria itu. Kali ini dia tidak berteriak atau banyak bicara, karena takut memancing emosi pria menyebalkan dan tempramental itu.
Mereka terus berjalan dalam diam, tidak ada satupun yang berbicara. Lalu tiba-tiba saja, Anxin menarik lengan hanfu Cao Zhi dan membuat pria itu menghentikan langkahnya. Dia lalu mengikuti arah pandang Anxin.
‘’Kau lapar lagi?’’
‘’Apanya yang lagi? Seharian ini, aku bahkan baru satu kali makan,’’ gerutunya dalam hati, sebisa mungkin menahan rasa kesalnya. Dia sedikit tersinggung akan pertanyaan Cao Zhi yang menurutnya sedikit meremehkan dirinya. Pertanyaan Cao Zhi itu, terkesan sedang mengatai dirinya sebagai si tukang makan.
Baiklah, dia memang sangat suka makan, tapi dia melakukannya, untuk memberikan apresiasinya pada makan itu sendiri. Makanan ada untuk dinikmati, bukan untuk dilihat atau dikagumi saja ‘kan? Lalu, apa pantas pertanyaan Cao Zhi tadi? Ck, itu benar-benar menyinggung perasaannya.
__ADS_1
Namun, dengan berat hati dia menganggukan kepalanya sambil tersenyum paksa, lalu kembali membawa matanya pada kedai makanan yang berada di sisi kiri jalan. Tidak lama, dia tersenyum cerah, saat Cao Zhi melangkah masuk ke kedai makan itu dan dengan cepat pula, dia mengikuti Cao Zhi dari belakang.
Matanya setia memperhatikan sang pemilik kedai yang sedang berjalan ke arah mereka sambil membawa beberapa makanan yang tadi diinginkannya. Beberapa kali juga dia menelan salivanya, mungkin karena terlalu menginginkan makanan itu.
Sedangkan Cao Zhi hanya bisa menggeleng, melihat ekspresi Anxin yang terus menelan saliva, jangan lupakan juga matanya yang berbinar, tidak lepas dari makanan yang baru saja diletakan di meja tempat mereka duduk.
‘’Ini benar-benar enak,’’ ucapnya setelah memasukan satu potong ayam goreng kedalam mulutnya. Dia kembali tersenyum, dengan mata yang nyaris hilang.
‘’Kau mau?’’ tanyanya. Satu potong daging ayam sudah disodorkannya di depan mulut Cao Zhi. mau-tidak mau, Cao Zhi membuka mulutnya, saat wanita itu terus saja menyodorkan potongan ayam goreng, sampai menyentuh mulutnya.
‘’Enak ‘kan?’’ tanyanya dengan begitu bersemangat. Cao Zhi pun hanya bisa mengangguk. Setelahnya, dia membawa pandangannya ke seluruh arah, membiarkan Anxin menikmati makanan itu.
Tidak sengaja, dia melihat seorang pria yang menggunakan pakaian besi, pakaian khas para tentara perang. Pria itu seperti tengah mengawasi pergerakannya dan juga Anxin.
‘’Ada apa?’’ tanya Anxin dengan mulut yang penuh makanan. Wanita itu mengikuti arah pandang Cao Zhi, tetapi dia tidak tahu apa yang sedang dilihat oleh pria itu.
‘’Kau melihat apa?’’ Dia lalu berdiri, menempelkan kepalanya dan kepala Cao Zhi, lalu ikut melihat kemana pria itu melihat, pipi kanan Cao Zhi dan pipi kirinya saling menempel dan bertemu sapa.
Cao Zhi langsung menghindar, pria itu sedikit salah tingkah, sedangkan Anxin hanya melihatnya dengan kening yang mengkerut. Lalu kembali ke tempat duduknya, tetapi matanya masih saja menatap penuh selidik pada Cao Zhi.
‘’Kau melihat apa tadi?’’
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya😚