
“Mirna! Apa yang kamu lakukan?“ protes Farida akan sikap culas adiknya. Merebut uang pemberian Bia dari tangan Farida.
“Mba Farida nggak usah protes! Udah deh mba tu diemnya aja. Taunya makan sama tidur bangun terus tidur lagi. Coba mba pikir berapa juta mba harus bayar baby sitter buat ngurus mba yang lumpuh gini? Masih untung adik kamu ini masih mau ngurus kamu mba kalo nggak mba pasti udah jadi gembel.“ hardiknya berlalu meninggalkan kakaknya sendiri di depan.
“Mirna... tega kamu kamu berlaku tidak pantas denganku.“ ucap Farida dalam tangisnya menekan dadanya yang nyeri.
“Itu karena kamu juga tega sama aku mba. Kamu yang udah rebut kebahagiaanku dengan menerima lamaran mas Tria. Dan kalian menikah diatas penderitaanku hingga aku memutuskan diri untuk menjadi perawan tua.“ ucap Mirna pada dirinya sendiri melirik kakaknya dari balik tirai ruang tengah.
Dilain sisi Bia duduk di teras depan memutar-mutar ponselnya dengan gerakan jarinya. Membayangkan akan nasib keluarga Hanum gadis yang sampai saat ini masih mengirim ruang hatinya.
“Bia! Kamu sedang apa disini, Nak?“ tegur mamanya, pada putranya membawakan secangkir teh hangat dan kue buatannya.
“Mama!“ panggilnya membenarkan posisi duduknya. Dan melirik sekilas wanita yang telah memberikan cinta dan kasih sayang untuknya.
“Seperti ada yang kamu pikirkan, Bia. Apa ini ada hubungannya dengan Maira?“ tebak Arinta melihat apa yang tengah putranya pikirkan.
“Maira? Mama ko jadi ngaco gitu!“
“Ya habis, kamu pikirin apa sayang?“ tanya mamanya dengan nada sedikit menekan.
“Mama masih ingat sama tetangga kita dulu yang bernama bu Farida Sebelum kita pindah rumah?“ tanya Bia.
“Bu Farida?“ ulang Arinta sembari mengingat nama yang Bia tanyakan.
“O, ya mama ingat. Istrinya almarhum Pak Triadmojo ibunya Hanum?“ tanya mamanya memastikan kebenaran orang yang putranya maksud.
“Ada apa dengannya?“ tanyanya lagi.
“Keadaan bu Farida sangat memprihatinkan, ma. Kasihan sekali beliau, Hanum juga kabur dari rumah karena dipaksa tantenya menikah dengan juragan Hartoyo. Tapi kemarin Bia sempat bertemu dengan Hanum di swalayan sepertinya dia bekerja pada orang lain sebagai asisten rumah tangga.“ ucap Bia membayangkan pertemuannya dengan gadis impiannya.
“Kasihan sekali Hanum. Dia gadis yang baik, cerdas dan___“
“Cantik,“ sambung Bia membuat mamanya menyipitkan kedua matanya. Arinta menangkap sesuatu dari wajah Bia, kata cantik yang Arinta dengar dari mulut putranya membuatnya cukup jelas jika Bia ada rasa dengan gadis bernama Hanum.
Baru kali ini aku dengar Bia memuji seorang gadis dan itu adalah Hanum. Bukan Maira yang selama ini aku pikir adalah gadis yang Bia suka.
Gumam Arinta dalam hatinya.
__ADS_1
“Oh, ya Maira apa kabarnya, Bia? Lama dia tidak main ke rumah.“ tanya mamanya memancing pembicaraan perihal kedekatan teman wanita putranya.
“Masa mama lupa Maira kan melanjutkan studynya di LN.“ jawab Bia beranjak setelah menyesap teh hitam hangat buatan mamanya.
...***...
Di kediaman Sultan Hanum tengah menyiapkan menu makan malam untuk suaminya. Tidak lupa Hanum menyuruh pak Amir dan Aliya makan lebih dulu.
“Pak Amir sebaiknya makan dulu sebelum maghrib tiba!“ ujar Hanum pada penjaga keamanan rumahnya.
“Nanti saja, Nak Hanum. Setelah bapak dari masjid.“ jawab pak Amir yang telah siap dengan baju koko dan sajadah yang tersampir di bahunya.
“Oh ya sudah. Nanti pak Amir masuk saja kedalam saya sudah siapkan di meja makan.“
“Terima kasih, Nak Hanum. Bapak pergi dulu,“ pamit pak Amir. Gadis itu mengangguk sebagai jawabannya.
“Aliya, sini Kendra biar sama saya. Kamu makan saja dulu lalu solat maghrib.“ ucap Hanum memberi jeda waktu untuk Aliya rehat sejenak.
“Baik, bu Hanum. Tapi saya nggak solat lagi dapet.“ ujarnya pada majikannya.
“Ya sudah kamu bisa istirahat saja dulu. Sayang Kendra sini sama mama, Nak. Kita main di kamar sambil tunggu papamu pulang.“ goda Hanum meraih tubuh mungil baby Kendra dari tangan Aliya dan menciumnya gemas membawanya ke kamar.
“Kendra tunggu sini, mama mau lihat siapa yang mengirim pesan.“ Hanum meraih ponselnya di atas meja sampai ranjangnya berada.
~📨 Hanum aku sudah bertemu dengan ibumu. Tapi maaf aku belum sempat mengatakan apapun, karena ada tantemu disana. Tapi ibumu baik-baik saja kau jangan khawatir. Aku akan menemuinya kembali dan memberimu kabar tentangnya.
~📨 Terima kasih, Bia. Maaf sudah membuat mu repot.
~📨 Tidak sama sekali Hanum. Aku senang bisa membantu mu. Boleh aku tahu dimana tempat tinggal mu sekarang?
Belum sempat Hanum membalas pesan terakhir dari Bia, Hanum mendengar suara Sultan memanggilnya.
“Hanum apa kau bersama Kendra? Buka pintunya!“ panggil Sultan mengetuk pintu kamar istrinya.
“Iya tunggu sebentar.“ pekiknya dari dalam. Hanum membuka pintu kamarnya melihat penampilan suaminya yang sudah fresh dengan baju santainya. Dan Sultan segera menerobos kedalam tidak sabar ingin secepatnya melihat putranya.
“Dasar om-om tidak sabaran!“ decak Hanum menggerutu. Sultan hanya melirik istrinya sekilas, tanpa suara. Lalu kembali menatap Kendra dan tersenyum tipis saat bayi mungil itu tersenyum lucu dalam tidurnya.
__ADS_1
“Temani aku makan!“ ujar Sultan setelah puas memandangi wajah tampan putranya.
“Aku akan panggil Aliya untuk menjaga Kendra.“ ucap Hsnum.
“Tidak perlu, kau masih bisa mendengarnya jika putraku menangis.“ tolak Sultan menarik telapak tangan istrinya. Hanum pun heran dengan sikap Sultan yang tidak biasa kepadanya. Melihat tangannya yang di genggam erat oleh suaminya.
“Ada apa? Kenapa kau menarik tanganku?“ tanya Hanum dengan nada protes.
“Pak Amir silahkan! Bapak bisa makan bersama kami disini.“ ucap Sultan pada satpam rumahnya mengajak Hanum duduk di kursi didekatnya. Istrinya pun paham akan maksud suaminya, dan melakukan sandiwaranya di depan pak Amir.
“Tidak perlu Nak Sultan. Biar saya makan di depan saja di dalam pos jaga.“ tolak pak Amir sopan di depan kedua majikannya yang sudah seperti anaknya sendiri.
“Jangan sungkan, kami senang jika bapak mau makan bersama kami.“ sambung Hanum menimpali.
“Bapak bawa saja piring dan lauknya ke gazebo sambil menikmati suasana malam.“ tuturnya.
“Terserah bapak saja yang penting bapak nyaman. Hanum ambilkan nasi untuk pak Amir!“ titah Sultan pada istrinya. Hanum mengisi piring kosong pak Amir nasi lengkap dengan lauk dan sayurnya.
Pak Amir membawa makan malamnya ke gazebo, menikmati makan malamnya disana. Sambil menikmati indahnya malam yang indah bertabur bintang.
Sultan menghabiskan makan malamnya hingga tak bersisa. Lidahnya memang cocok dengan masakan Hanum yang memang rasanya enak.
“Malam ini aku ingin tidur di kamarmu,“ ucap Sultan tiba-tiba. Membuat Hanum sulit mengunyah makanan dalam mulutnya.
“Maksudmu kau akan tidur denganku?“ tanya Hanum dengan tatapan polosnya.
“Jangan GR aku ingin menemani putraku Kendra. Tanpa harus pindah kamar jika Kendra menangis.“ ujarnya dengan wajah seriusnya.
“Seingatku itu tidak ada di surat perjanjian kita.“ ucap Hanum tidak setuju akan keinginan Sultan untuk tidur di kamarnya. Meski tujuannya adalah untuk menemani Kendra.
“Perjanjian? perjanjian apa yang mereka maksud?“ lirih Aliya pada dirinya, yang sengaja menguping pembicaraan kedua majikannya.
“Disini aku berhak melakukan apapun. Termasuk dirimu Hanum karena aku adalah suami mu.“
“Dan aku tidak akan membiarkanmu melakukannya.“ ucap Hanum menegaskan. Sedang Sultan hanya menarik ujung bibirnya membentuk smirk.
“Enak saja, dia pikir dia siapa? berbicara dan bertindak seenaknya. Dia yang berjanji tapi dia juga yang mengingkari.“ gerutunya sambil membawa peralatan bekas makannya kedalam wastafel.
__ADS_1
“Aku akan cari tahu sendiri, perjanjian apa yang mereka bicarakan tadi,“ ujarnya berlalu meninggalkan tempat dimana Aliya menjadi penguntit.
🌺Bersambung__