
”Bu, Hanum!” lirih Farhan, melihat panggilan telepon di layar smartphone nya.
~ Ya bu Hanum, ada yang bisa saya bantu untuk bu Hanum?
~ Pak Farhan bisa jemput saya di rumah? Hari ini ada jadwal cek up ke rumah sakit untuk ibu saya.
~ Bisa bu. Saya on the way kesana.
~ Terima kasih sebelumnya pak Farhan.
Mobil kantor milik suaminya pun datang dalam waktu 15 menit. Farhan membantu Hanum dan ibunya masuk kedalam mobil. Pak Amir membuka pintu gerbang lebar-lebar, dan menutupnya setelah mobil yang mereka tumpangi bergerak jauh.
”Pak Farhan! Tadi saya coba hubungi suami saya. Tapi handphonenya tidak aktif, Pak Farhan di kantor tadi sama suami saya kan?” Hanum bertanya pada Farhan supir kantor suaminya memastikan.
”Mungkin ponsel pak Sultan sengaja di non aktifkan Selama meeting.” jawab Farhan apa adanya.
”Apa meetingnya sepagi itu, Pak Farhan?” tanya Hanum lagi.
”Eee__ iya, Bu Hanum. Ada sedikit masalah di kantor. Pak Sultan saat ini masih bersama para petinggi penting perusahaan,” ujar Farhan.
”Do'a kan saja Hanum. Semoga masalah suamimu secepatnya selesai dan tidak terjadi sesuatu.” ucap Farida berharap.
”Iya ibu. Pak Farhan bisa tolong sampaikan pesan saya, jika saya pergi ke rumah sakit untuk cek up.” pesan Hanum pada Farhan untuk menyampaikan pesannya.
”Baik, Bu. Akan saya sampaikan pesan ibu.”
Drttt... Drttt....
”Hanum, ponselmu berdering. Mungkin itu suamimu.” ujar Farida. Hanum segera meraih benda sejuta umat dalam tasnya.
”Bia!”
”Bia menelpon mu?” tanya Farida
”Iya Ibu. Semalam Bia memang menghubungiku, katanya ada yang ingin dia bicarakan. Bia lebih dulu memutus sambungan teleponnya, sebelum aku mengatakan. Jika hari ini kita akan pergi ke rumah sakit.” jawab Hanum.
”Coba kau angkat saja! Mungkin Bia ingin memberitahu tentang tantemu, Mirna.” perintah Farida. Ia pun menggeser layar unlock ponselnya.
~ Bia?
~ Hanum temui aku di taman Manggala jam 10 sekarang!
~ Bia, aku sedang bersama ibu. Aku sudah ada janji dengan dokter, untuk cek up kesehatan ibu.
Ujar Hanum. Bia masih diam, berpikir bagaimana caranya menemui Hanum. Memberitahu rencana Sultan suaminya, yang membicarakan masalah rencana. Menikahi seorang gadis, yang dia sendiri tidak tahu siapa gadis yang ia lihat malam itu.
__ADS_1
~ Aku akan menemuimu di rumah sakit. Ini penting dan ini tentang suamimu.
~ Suamiku?
Tanya Hanum mengerutkan dahinya, tidak mengerti akan ucapan Bia.
”Ada apa dengan suamimu Sultan, Hanum?” tanya farida khawatir.
”Entahlah, Bu. Hanum juga tidak tahu.” jawab Hanum, dengan suaranya yang terdengar lemas.
”Setelah cek up kau temui saja Bia. Ibu akan pulang dengan pak Farhan. Apa saya merepotkan pak Farhan?” tanya farida sungkan.
”Tentu saja tidak, Nyonya. Sudah menjadi tugas saya, mengantar anda kemanapun anda pergi.’’
...***...
Di rumah sakit Hanum segera menemui dokter spesialis organ dalam. Setelah sebelumnya membuat janji dua hari yang lalu, Suster mempersilahkan Hanum dan ibunya masuk.
Sebelum dokter melakukan, dokter bertanya pada pasien apa saja yang ia keluhkan, dan suster mencatat semua yang dokter perintah.
”Bu Hanum, bisa ajak bu Farida ke atas brankar, biar saya bantu.” perintah suster itu. Hanum mendorong kursi roda menuju brankar yang diberi tirai warna hijau.
Dokter dan asistennya mulai melakukan tindakan medis, Hanum dengan telaten melakukan apa yang dokter minta. Dan mendengarkan apa saja yang boleh, dan tidak boleh ibunya konsumsi juga lakukan.
Hampir 40 menit mereka berada di dalam ruangan, usai melakukan pemeriksaan. Hanum menerima resep dokter, untuk menebus obat di apotok yang tidak jauh dari ruangan mereka berada.
Setelah menerima obat mereka segera menuju lobi, melihat istri dan ibu atasanya. Farhan segera melangkahkan kakinya menghampiri mereka, membantu Farida masuk kedalam mobil dan melipat kursi roda kedalam bagasi.
”Maaf, Farhan sudah membuat Anda repot. Karena tidak bisa ikut pulang bersama kalian. Sekali lagi saya minta maaf.” ucap Hanum tidak enak hati.
”Jangan khawatir Bu Hanum, Saya akan mengantar ibu Farida dengan selamat.” kata Farhan tersenyum meyakinkan. Mobil Farhan segera meninggalkan lobi, tidak lama mobil Bia berhenti tepat di depan Hanum berada.
Bia membuka pintu mobil tanpa harus keluar. ”Masuklah Hanum!” pinta Bia, Hanum segera masuk dan duduk di kursi depan.
”Hal penting apa yang ingin kau sampaikan, Bia? Hingga tidak bisa mengatakannya langsung di telepon saja.” tanya Hanum semakin penasaran. Informasi apa yang dia tahu tentang suaminya.
”Aku akan memberitahu mu nanti, Hanum. Kau telah berbohong, ternyata pria itu bukanlah majikanmu. Tapi suamimu.” cecar Bia membuat gadis itu bungkam.
Itu artinya pertemuan pertama saat di pusat perbelanjaan, Hanum membeli banyak susu ibu menyusui. Itu untuk dirinya sendiri, Hanum sudah memiliki anak dari pria itu. Sakit sekali rasanya mendengar kenyataan yang sebenarnya.
”Siapa nama anakmu, Hanum?” tanya Bia tiba-tiba.
”Anak?” tanya Hanum melirik Bia canggung.
”Iya, anakmu? Aku ingat sekali. Saat kita bertemu di mall, aku melihat kau membeli banyak susu ibu menyusui.” Bia melirik Hanum sekilas, lalu kembali fokus pada mesin kemudi.
__ADS_1
”Eee, iya. Kau benar, itu punyaku.” jawab Hanum terbata.
”Iya. Siapa namanya?” desak Bia lagi. Hingga Hanum sulit untuk menjawabnya.
”Ke__ Kendra!” jawabnya gugup.
Ciiittt....Cittttt...
”Bia...?!” kejut Hanum. Reflek gadis itu memeluk erat tubuh Bia. Ingatannya kembali pada bayangan beberapa tahun lalu, ketika ayah dan ibunya mengalami kecelakaan. Saat membawa muatan hasil palawija, untuk di jual pada tengkulak atau bandar yang sudah menjadi langganan mereka.
Bia merasakan irama jantungnya bedetak saling berkejaran. Aroma wangi yang menguar dari rambut, dan tubuh gadis itu menelisik indera penciumannya. Mengacak-acak perasaannya pada gadis yang tengah memeluknya. Bia yang saat berusaha menepis perasaan itu seolah rasa itu kembali hadir.
”Maaf, Hanum ada seekor kucing yang melewati mobil kita.” ucap Bia memberitahu.
”Aku takut sekali, Bia. Aku takut. Apa terjadi sesuatu pada kucing itu?” tanya Hanum masih dengan posisi memeluk Bia. Pria itu dapat merasakan betapa takutnya Hanum dengan tubuhnya yang gemetar.
”Tenanglah, Hanum! Tidak terjadi sesuatu pada kucing itu. Dan kita aman.” tanpa pria itu sadari, kedua tangannya terangkat membalas memeluk tubuh Hanum. Yang terlihat sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
Tapi naas kejadian tanpa sengaja itu, tertangkap kamera ponsel. Saat mobil Zeevania tepat berada di mobil milik Bia.
”Ckkkk....! So sweet banget mereka. Pasti ini akan jadi kejutan buat Sultan. Karena istrinya oh bukan, istri kontraknya, atau istri sementaranya ada dalam pelukan pria lain.” lirih Zeevania tersenyum licik, setelah menyimpan tangkapan layarnya.
Mobil Bia kembali melaju dengan kecepatan normal, menuju taman Manggala. Taman yang dilengkapi beberapa kedai, kafe dan stand yang asyik untuk tempat nongkrong anak-anak muda. Juga dapat digunakan sebagai tempat pertemuan atau meeting diluar kantor.
”Katakan saja Bia! Hal penting apa yang ingin kau bicarakan padaku? Sampa-sampai mengajakku kesini.” tanya Hanum tidak sabar ingin tahu hal penting apa yang akan dia sampaikan.
’’Hanum, aku tidak menyangka kau sudah menikah secepat itu, dan memiliki baby kau pasti bahagia.” ucap Bia sengaja mengulur waktu. Dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu, dan ngobrol bersama gadis yang sampai saat ini masih ada di hatinya.
”Bia, aku tidak ada waktu berlama-lama disini. Saat ini ibu dan Kendra membutuhkan ku. Kau sempat mengatakan jika ini ada hubungannya dengan suamiku. Memangnya apa yang kau tahu?” desak Hanum, menuntut penjelasan Bia.
Saat pelayan sedang menata dua gelas softdrink, dan kentang goreng. Tanpa sengaja pelayan menyenggol mangkok saus dan mengenai dressnya.
”Maaf, Nona! Saya tidak sengaja.” ucap pelayan itu menunduk takut.
”Mba, hati-hati kerjanya! Lihat baju pacarnya jadi kotor kena noda sambal!” omel Bia sedikit marah.
”Sudah Bia, nggak papa cuma kotor sedikit. Aku bersihkan ini dulu di toilet.” ujar Hanum membersihkan noda saus dengan tisu.
”Hanum, Biar aku antar.” ucap Bia menawarkan diri.
”Tidak perlu, Bia. Aku bisa sendiri, kau tunggu disini,” pinta Hanum. berjalan menuju toilet sesuai tanda panah yang sudah ada. Memudahkan pengunjung tanpa perlu lagi bertanya, dimana letak toilet berada.
Belum sempat Hanum belok kiri sesuai arahan, mata indahnya menatap tajam kearah pria tampan berdasi biru.
Duduk bersisian dengan wanita yang Hanum kenal. Berada di meja dekat kolam ikan hias, dengan suasana tempat yang agak terbuka di tengah taman. Dengan rasa penasaran Hanum mengayunkan langkah kakinya sedikit mendekat berdiri diantara pot besar.
__ADS_1
”Apa?! Mas Sultan dan perempuan itu akan menikah? Kenapa hati ini begitu sakit mendengarnya?” Hanum meremas dressnya kuat. Air mata jatuh bersamaan dengan hatinya yang luka.