
Sementara di rumah sakit Aliya tengah kebingungan menenangkan Kendra yang menangis tanpa mau diam. Suster mencoba menenangkan dengan memberinya sebotol susu formula tetap saja menangis dan tidak mau diam.
“Mas hatiku tidak tenang aku khawatir Kendra rewel.“ ujar Hanum merasa gelisah.
“Sebentar lagi kita sampai, Tenang saja ada Aliya dan suster yang menjaganya.“ kata Sultan dengan tenang. Sultan memarkirkan mobilnya sesuai arahan dari penjaga parkir sebab area parkir hampir penuh.
Setelah mendapatkan tempat parkir untuk mobilnya mereka berjalan melewati koridor. Mendengar suara tangisan Kendra Hanum mempercepat langkahnya menuju rumah perawatan yang diikuti langkah suaminya mengimbangi langkah Hanum.
“Kendra! Sayang, Mama datang, Nak!“ seru Hanum meraih tubuh putranya lalu menciumi wajahnya bertubi-tubi.
Tangis Kendra yang semula kencang tak seorangpun mampu menenangkan tangisnya. Sungguh ajaib hanya dengan mendengar suara Hanum, Baby Kendra langsung diam dan tenang setelah ibu susunya menggendongnya.
Aneh kenapa bayi cengeng itu tiba-tiba diam di tangan Hanum. Bikin capek aja ngeselin amat tu bayi.
Aliya menggerutu kesal karena Kendra membuatnya panik dengan tangisnya.
“Aliya terima kasih sudah menjaga Kendra. Kamu boleh pulang dan istirahat, jika kami butuh sesuatu aku akan menelpon mu.“ ucap Hanum pada baby sitternya, memberi izin pulang untuk istirahat.
Hanum segera memberi asi untuk putranya duduk bersandar di sofa yang ada di dalam ruangan.
“Hanum aku harus kembali ke kantor untuk memeriksa beberapa berkas.“ pamit Sultan mencium pipi Kendra berkali-kali. Juga mendaratkan bibirnya di kening istrinya.
"Hati-hati, Mas!“ pesan Hanum pada pria berwajah datar, yang mulai dia suka dengan caranya memperlakukan dirinya. Sultan kembali membalikkan tumbuhnya untuk mengatakan sesuatu pada Hanum.
“Hanum, kau bisa menemui ibumu di ruang anggrek 03. Kau bisa meminta suster untuk mengantarmu, Suster Lili yang akan menjaga Kendra jika kau pergi.“ ucap Sultan sebelum melanjutkan langkah kakinya.
“Terima kasih, Mas. Aku pasti menemui ibu.“ balas Hanum senang. Sultan pun meninggalkan rumah sakit menuju gedung kantor yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah sakit.
“Ibu Hanum saya suster Lili yang akan menjaga Kendra, jika bu Hanum ingin menemui ibu Farida.“ ujar suster Lili yang menawarkan jasanya untuk Hanum.
“Suster Lili terima kasih. Saya titip Kendra sebentar.“ ucap Hanum beranjak dari sofa menidurkan Kendra dengan hati-hati ke atas ranjang.
__ADS_1
’’Sama-sama, Bu Hanum.“ balas suster Lili. Hanum menemui ibunya yang sedang dalam perawatan sebab sakit yang dideritanya cukup serius.
Hanum membuka pintu ruang perawatan, ia melihat ibunya masih belum sadarkan diri.
“Ibu, lihatlah ada Hanum disini. Apa ibu bisa mendengar suara ku? Aku sangat merindukan mu. Maaf sudah membuat ibu khawatir tapi ibu tenang saja putri ibu baik-baik saja.“ Hanum mencium punggung tangan ibunya penuh sayang dan meletakkannya di pipinya yang basah. Farida seolah dapat mendengar suara tangis putrinya dan menggerakkan jari tangannya serta memanggil namanya dengan suaranya yang lemah.
“Hanum, putriku.“ ucapnya dengan suaranya yang melemah.
“Ibu!“ panggil Hanum dengan binar matanya yang bahagia.
“Hanum!“
“Iya ibu. Ini Hanum putri ibu. Aku sangat merindukan mu, Ibu. Ibu harus sembuh ibu harus sehat ada aku yang akan menjagamu.“ tuturnya memberi semangat ibunya. Farida megusap lembut rambut Hanum menatap putri satu-satunya benar-benar ada di hadapannya.
“Putriku Hanum kau cantik sekali, Nak. Pakaianmu juga bagus. Apa Bia juga yang sudah membuat mu seperti ini?’’ tanya ibunya. Hanum menggelengkan kepalanya ringan.
“Ibu__“
“Ibu! Dengarkan aku dulu bukan__“ Lagi-lagi Farida menjeda keinginan Hanum yang ingin menjelaskan yang sebenarnya.
“Hanum! Kenapa pakaianmu basah? Apa kau sudah menjadi ibu menyusui?“ tanya Farida dengan senyum bahagianya.
“Iya ibu.“ jawab Hanum cepat.
“Kau sudah menikah, Nak dan punya anak? Lalu dimana cucu ibu, Hanum?“ tanya Farida seakan lupa akan penyakit yang di rasakannya.
“Huuum!’’ Suara bariton mengejutkan keduanya yang sedang mengobrol dan menoleh kearah sumber suara.
“Bagaimana keadaan ibu saat ini? Apa sudah lebih baik?“ tanya Sultan melangkah mendekati brankar. Meraih kedua bahu istrinya yang duduk di kursi disamping ibunya.
Farida tersenyum melirik tangan pria bertubuh tinggi yang masih setia berada di pundak putrinya.
__ADS_1
“Hanum siapa pria tampan ini?“ tanya Farida ingin tahu.
“Ibu ini adalah mas Sultan suami Hanum.“ tuturnya tanpa ragu memperkenalkan pria yang berdiri dengan gagah disisinya.
“Jadi Nak Sultan adalah menantuku?“ tanya Farida lagi. Sultan mengindik kedua matanya mengangguk.
“Maaf bu. Aku menikahi putrimu tanpa seizinmu. Kami bertemu tanpa sengaja dan aku merasa jika Hanum adalah wanita yang pantas untuk aku jadikan istri.“
“Lalu dimana anak kalian? Ibu ingin melihat cucu ibu.“
“Ibu sabarlah! Ibu harus sembuh kita pasti akan membawa Kendra untuk bertemu dengan neneknya. Bukan begitu, Sayang?“ ujar Sultan pada Hanum.
“Benar ibu. Ibu harus sembuh dulu baru bisa gendong Kendra dan aku yang akan menjaga ibu disini.“ ucap Hanum.
“Tidak Hanum, tempat mu bukan disini. Tapi dirumah suamimu ada si kecil yang membutuhkanmu. Ibu baik-baik saja sudah ada suster yang menjaga ibu, Nak. Lihat bajumu makin basah kau harus segera susui putramu.“ perintah Farida tidak ingin merepotkan putrinya.
“Tapi bu.“ sanggah Hanum.
“Jangan buat cucuku menangis, Hanum.“ tuturnya. Hanum mendongak menatap wajahnya suaminya.
“Ibu benar. Siapa yang akan menyusui Kendra jika kau disini, Sayang? Sedangkan Kendra tidak mau minum susu formula.“ papar Sultan. Hanum dan suaminya sengaja tidak memberitahu perihal Kendra yang sebenarnya demi menjaga kondisi kesehatan ibu mertuanya.
Sultan dan Hanum pamit pada Farida setelah meminta suster khusus untuk menjaga dan merawat Farida selama masih dalam perawatan.
“Kami pamit ibu.“ pamit keduanya pada Farida. meninggalkan ruangan menuju ruangan dimana Kendra v dalam penjagaan suster Lili.
Sedang dikediaman Sultan Zeevania menemukan selembar kertas berisi surat perjanjian kontrak nikah. Yang tanpa sengaja dia temukan di dalam laci meja sudut ruangan.
“Surat perjanjian kontrak nikah? Jadi Sultan dan Hanum hanya nikah kontrak“ kejut Zeevania dengan senyum liciknya.
Aliya pun tidak kalah terkejutnya melihat surat perjanjian milik majikannya ada di tangan wanita yang baru dia kenal saat membawa Kendra ke rumah sakit.
__ADS_1
“Gawat! Kenapa surat perjanjian itu sekarang ada di tangan perempuan itu. Jadi bertambah lagi sainganku untuk mendapatkan pak Sultan. Gara-gara sakit perut jadi gagal lagi kan!“ sungut Aliya menghentakkan kedua kalinya ke lantai.