
Sementara Bia menunggu balasan dari Hanum, tapi ponselnya tak kunjung bergetar. Setelah beberapa kali Bia melihat ponselnya dan melihatnya sekali lagi ia memutuskan untuk keluar rumah dengan motor sportnya.
“Ka Bia! Kakak mau kemana? Antarkan Ranti ke minimarket!“ teriak Ranti pada Bia yang hampir jauh.
Bia menghentikan motornya menoleh ke belakang. “Males!“ jawab Bia badmood. Bia memantik gas motornya melajukan motornya tanpa lagi peduli pada rengekan Ranti adiknya.
“Ka Bia...! Ihh...Ngeselin banget. Ka Bia kenapa sihh jutek gitu mukanya.“ gadis itu mencebikkan bibirnya masuk kedalam rumah.
“Kamu kenapa sayang ko kesel gitu mukanya?“ tanya Arinta pada putrinya.
“Ranti cuma minta diantar ke mini market depan, ma. Tapi ka Bia pergi gitu aja, ngeselin banget kan ma. Habis diputusin kali BT gitu mukanya.“ jawab Ranti kesal menuju kamar atas.
“Masa sih? Tadi Bia baik-baik saja! gumam Arinta. “Memangnya pacar Bia siapa Ranti?“ tanya mamanya dengan nada setengah berteriak.
“Mana Ranti tahu, Ma!“ pekik Ranti diakhir langkahnya sebelum masuk kamar.
...***...
Ditengah malam seperti biasa Kendra menangis jika perutnya lapar. Sultan mengerjapkan kedua matanya melirik kearah samping melihat putranya yang sudah bangun mulut mungilnya yang terbuka mencari sumber energinya.
“Hanum! Kendra lapar susui dia cepat!“ panggil Sultan dengan matanya yang setengah terbuka.
Hikkk...Eeee...
“Hanum!“ panggil Sultan sekali lagi. Tapi Hanum belum juga terjaga dari tidurnya. Sultan keluar dari box tempat dia tidur bersama Kendra untuk membangunkan istrinya yang bukan dalam arti sesungguhnya. Dengan langkah gontainya Sultan menghampiri ranjang dimana Hanum tidur.
Tapi sungguh sial kaki Sultan tersandung karpet lantai, dan terjerembab keatas ranjang. Hampir saja dia menimpa tubuh istrinya jika kedua tangan kokohnya tidak mampu menahan beban tubuhnya.
“Aaaa...! Apa yang kau lakukan padaku? Kau memang sengaja melakukannya bukan? Dan Kendra hanyalah alasanmu saja untuk menipuku!“ oceh Hanum tidak terima. Ia merasa Sultan sedang mempermainkan hidupnya.
“Tidak ada suami yang menipu istrinya. Sudah aku katakan padamu, aku berhak melakukan apapun disini termasuk melakukan itu padamu.“ ucap Sultan dengan posisi mengunci tubuh istrinya. Susah payah Hanum menelan ludahnya, menatap wajah suaminya tanpa lagi mengikis jarak.
Ya Tuhan ada apa dengan jantungku? Kenapa berdetak sekencang ini ?
tanya Hanum pada hatinya, yang tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya.
Tapi apa yang pria itu lakukan, Sultan melihat kearah dada istrinya. Dan membuka satu kancing baju Hanum tanpa permisi. Gadis itu tidak lagi berani bersuara ataupun berkutik di depan suaminya. Hanya tatapan matanya saja yang nanar dan hampir mengembun.
“Kau mau apa?“ tanya Hanum terbata.
“Aku mau kau susui putraku sebelum dia menangis.“ ucapnya seraya bangkit dari hadapan istrinya dan menjatuhkan tubuhnya begitu saja disamping Hanum. Gadis itu hanya mampu menarik nafasnya dalam dan melepasnya kasar. Serta mengusap keringatnya yang membasahi pelipisnya.
Eee....Oee.. ee
__ADS_1
Tangis Kendra merasakan haus dan lapar. Hanum segera meraih tubuh mungil bayi itu dan duduk bersandar dia atas ranjang menyusui baby Kendra. Dan masih menetralkan suasana hatinya yang bergemuruh bagai ombak yang berdebur kencang.
Pagi-pagi sekali Sultan sudah rapih dengan pakaian kerjanya. Kali ini Sultan tidak sarapan bersama istrinya hanya minum segelas susu hangat yang Hanum siapkan untuknya.
“Maaf, aku tidak sarapan di rumah. Hari ini ada meeting dadakan di kantor. Dimana Kendra?“ tanya Sultan setelah meletakkan gelas kosongnya.
“Iy__iya tidak apa-apa. Kendra ada di taman berjemur dengan baby sitter nya.“ jawab Hanum canggung mengingat kejadian semalam dengannya.
“Aku pergi!“ pamit Sultan datar.
“Hati-hati!“ pesan Hanum sedikit gugup.
Hanum masuk kedalam setelah mobil suaminya tidak lagi terlihat. Pak Amir segera mengunci pintu gerbang dan kembali ke pos jaga.
Aliya segera membawa Kendra ke dalam dan memandikan si kecil sebelum melakukan aktifitas lainnya.
“Aliya setelah Kendra mandi kamu bisa bawa ke kamar saya. Kamu bisa sarapan saya akan panggil pak Amir untuk sarapan juga.“ ucap Hanum memberitahu.
“Baik bu, Hanum.“ jawab Aliya.
Pak Amir punn sarapan pagi di meja makan seorang diri. Setelah Hanum berhasil memaksa pria paruh baya itu yang mengingatkan dirinya pada ayahnya yang telah lama tiada.
Hanum menemani baby Kendra di kamar setelah membuat perutnya kenyang dan akhirnya tidur pulas di gendongannya.
Hanum menidurkan si kecil yang membuatnya terbiasa dengan bayi mungil yang sudah membuatnya jatuh cinta.
“Bia!“ seru Hanum meraih ponselnya diatas nakas.
~ Hanum apa kabar? Semalam aku menunggu balasan darimu tapi kamu tidak membalas pesanku.
~ Maaf Bia semalam aku lupa dan tertidur.
~ Hanum apa kita bisa bertemu hari ini?
~ Hari ini?
ulang Hanum bingung.
~ Iya. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan, Hanum. Ini tentang ibumu.
Ibu. Bagaimana kabar ibu sekarang? Aku sungguh sangat merindukanmu ibu.
Ucap Hanum dalam hatinya. Dengan air matanya yang jatuh di kedua pipinya yang putih bersih.
__ADS_1
~ Hallo... Hanum! Apa kau masih mendengarku?
~ Iya, Bia. Dimana aku harus menemuimu?
~ Ok. Aku akan share lokasinya, Hanum.
Hanum memutus sambungan telepon dari Bia, teman sekaligus mantan kakak kelasnya dulu. Hanum memompa asinya. Sebelum ia pergi menemui Bia di tempat yang sudah pria itu share lewat pesan whatsapp nya.
Setelah beberapa botol dari ukuran besar hingga yang paling kecil sudah terisi asi. Hanum mengganti pakaiannya dan bersiap untuk pergi setelah memesan taxi online.
“Aliya saya titip Kendra sebentar. Saya harus pergi, ada sesuatu yang penting. Di Freezer sudah ada susu untuk Kendra kau bisa hangatkan sebelum memberikannya.“ ujar Hanum memberitahu.
“Aku izin tidak ya dengan pak Sultan? Tapi kan aku cuma pergi sebentar. Bagaimana jika dia tahu dan marah? Kalaupun aku izin belum tentu dia membolehkan aku pergi. Ahh aku pergi saja dan akan kembali secepatnya.“ tanya Hanum ragu pada dirinya.
“Bu Hanum, sudah ada taxi menunggu di luar.“ ucap Aliya memberitahu.
“Terima kasih, Aliya.“ ujarnya.
Hanum pun pergi setelah pamit pada Kendra dan menciumnya gemas. Dan masuk ke mobil setelah pamit pada pak Amir keamanan di rumahnya.
“Bagus Hanum sudah pergi dan Kendra juga masih tidur. Aku akan cari sesuatu di kamarnya.“ ucap Aliya segera melangkah ke kamar Hanum dan Sultan untuk mencari sesuatu.
Disana Hanum menemui Bia di restoran yang dekat dengan taman kemuning. Hanum melihat Bia duduk di meja nomor lima disana ia sudah memesan makanan dan minuman untuk menemani mereka ngobrol.
“Bia, apa kau sudah lama menungguku?“ tanya Hanum tidak enak hati pada pria di depannya.
“Tidak terlalu lama juga baru tiga menit yang lalu.“ jawab Bia santai.
“Katakan Bia bagaimana kabar ibuku? Aku sangat merindukannya.“ tanya gadis itu tidak sabar. Matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis karena rindu pada wanita tercintanya.
“Kondisi ibumu sungguh menyedihkan, Hanum. Sepertinya ibu sakit dan tantemu tidak merawatnya dengan baik.“ tutur Bia mengatakan keadaan Farida ibu Hanum setelah tahu kondisi kesehatannya.
“Ibu... Ibu maafkan Hanum. Aku tidak bisa melakukan apapun untukmu.“ ucap gadis itu menangis. Hanum menyesal telah pergi meninggalkan ibunya tanpa bisa melakukan apa-apa untuknya.
“Jangan menangis Hanum kau tidak salah dan ini semua bukan kesalahanmu. Tapi karena perbuatan jahat tantemu.“ ujar Bia membuat Hanum lebih tenang.
Sementara dirumah Kendra menangis kehausan. Tapi Aliya sibuk mencari hal tidak penting ya g bukan urusannya.
“Heh bayi! Bisa diem nggak budek tahu nangis terus!“ omel Aliya memarahi bayi tak berdosa itu yang tengah menagis.
Aliya menjejal mulut Kendra dengan dot susu yang masih sedikit panas. Hingga mulutnya terasa terbakar dan semakin menangis menjerit.
“Diem Nggak!“ bentak Aliya kasar.
__ADS_1
“Bia! Maaf aku harus pulang sekarang. Aku tidak bisa lama-lama.“pamit Hamun pada Bia meraih tas slim bagnya.
“Hanum! Tunggu!“ pekik Bia.