Terjebak Status Palsu

Terjebak Status Palsu
Rindu Itu


__ADS_3

Hanum sengaja tidak memejamkan matanya barang sejenak, agar bisa melihat suaminya pulang. Hampir dua pekan lamanya Hanum tidak bertemu suaminya berangkat dan pulang dari kantor.


 Pagi-pagi sekali Sultan sudah berangkat dan hanya pamit pada ibu mertuanya. Sultan selalu menolak jika ibunya membangunkan Hanum dengan alasan tidak ingin membuat istrinya terlalu lelah mengurus Kendra.


Waktu menunjukkan pukul 2 dini hari, Hanum mendengar deru mobil berhenti di halaman. Ia segera keluar menuju pintu depan.


"Hanum, Kau?! sapa Sultan mendapati Hanum ada di depannya.


"Kenapa? Apa yang membuatmu terkejut?" tanya Hanum dengan irama debaran di dadanya. Entah kenapa Hanum seperti remaja yang baru mengenal cinta.


"Seharusnya di jam lewat tengah malam seperti ini kau sudah tidur." ucap Sultan.


"Dan di jam seperti ini seharusnya kau pun sudah berada di rumah bersama anak dan___" Hanum menjeda ucapannya merasa tidak pantas menyebut dirinya adalah istrinya. Setatusnya sebagai istri kontrak cukup membuatnya tahu diri siapalah dirinya.


"Dan apa, Hanum? Kenapa kau tidak melanjutkan ucapanmu?" tanyanya ingin tahu.


"Aku sudah siapkan air panas, cepatlah mandi!" perintah Hanum mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Siapkan beberapa potong pakaian kedalam koper, besok aku akan ke Swiss." Hanum memutar tubuhnya menatap suaminya.


"Aku bahkan baru melihatmu lagi setelah beberapa minggu kau sengaja menghindariku. Dan kau akan pergi lagi, Apa ini juga bagian dari rencanmu untuk menikah gadis itu?" tanya Hanum cukup menohok seperti ada ribuan baru besar yang menghantam dadanya.


"Jadi, Kau sudah tahu masalah itu?" tanya Sultan gantian.


"Aku pun sudah siap jika kau akan menceraikanku. Dari awal kita sudah sepakat dan aku menyetujui kontrak kerja denganmu sebagai ibu sudi dari putramu." ujar Hanum melangkah meninggalkan suaminya dalam kamar seorang diri.


Sultan mengayunkan langkah gontainya masuk kedalam kamar mandi, tidak butuh waktu lama Sultan membersihkan diri. Dia keluar mendapati kopernya yang sudah terisi pakaian ganti dan semua yang Sultan butuhkan selama di Swiss.


Aku tidak mengerti dengan perasaan ini. Aku menginginkan perceraian tapi kenapa hati ini begitu sakit.


"Aku memang bodoh, bodoh, bodoh! Seharusnya perasaan ini tidak pernah ada. Dan bodohnya lagi aku telah menyerahkan bagian terpenting dari hidupku padanya." Hanum merutuki kebodohannya, karena terperdaya oleh pesona Sultan yang tidak dimiliki pada pria lain.


Sultan masuk kedalam kamar di mana putranya tidur bersama istri kontraknya. Ia melihat Hanum tidur memunggungi arah pintu kamar dengan posisi memeluk Kendra. Disentuhnya pipi lembut malaikat kecilnya yang tidur dengan lelap. Sultan merebahkan tubuhnya di samping Hanum tidur, memeluk tubuhnya dari belakang.


"Aku tidak akan menceraikan mu sesecepat itu. Aku masih menginginkan mu menjadi ibu pengganti untuk Kendra. Menjadi istriku sesuai waktu dalam surat kesepakatan kita." ucap Sultan masih dengan posisi yang sama, memeluk perut istrinya.

__ADS_1


"Aku hanya tidak mau ibu tahu masalah ini sebelum kau menikahi Zeevania. Sebaiknya secepatnya kau menceraikan ku dan menikahinya dengan alasan demi menyelamatkan perusahaanmu." ujar Hanum memberi saran.


Sultan menarik tubuh istrinya hingga mereka saling berhadapan. "Dengar! Aku masih menginginkanmu. Apapun alasannya dengan atau tanpa surat kontrak itu, dimata hukum kau adalah istriku dan aku memiliki hak atas dirimu." jelas Sultan tidak ingin lagi dibantah atau ada perdebatan yang terjadi di atas ranjang.


Waktu telah berjalan, detik kemenit, menit kejam malam pun berakhir dengan aktifitas panasnya di ranjang. Penyatuan rasa yang masih sulit mereka artikan itu kembali terjadi. Setelah beberapa minggu tidak adanya komunikasi dengan baik hingga memercikkan sebuah rindu yang sama-sama mereka pendam tanpa mau mengakuinya.


Paginya mereka bangun yang diakhiri mandi bersama, dan keluar menuju meja makan yang telah disiapkan oleh Farida untuk menyambut mereka.


Hanum membawa Kendra dalam dekapannya, Sultan berjalan di sisi istrinya dengan menarik koper ditangan kirinya.


"Sultan apa kau akan pergi bersama anak dan istrimu, Nak?" tanya Farida melirik Hanum dan Sultan bergantian.


"Tidak ibu. Saya pergi untuk urusan kerja." jawab Sultan apa adanya.


''Benar ibu, Mas Sultan pergi untuk urusan kerja." sambung Hanum membenarkan ucapan suaminya. Acara makan pagi pun usai Hanum mengantar suaminya sampai di pintu mobil, Sultan pamit pada Hanum dan putranya juga ibu mertuanya.


"Ibu hanya bisa mendoakan keberhasilan mu, Nak Sultan." ucap Farida pada menantunya.

__ADS_1


"Terima kasih, ibu." ucap Sultan dan mencium kening istrinya dan putranya.


__ADS_2