
”Pak Sultan!” sapa sang asisten terkejut. Tidak biasanya atasannya itu datang menemuinya tanpa memberitahu dulu.
”Maaf tidak memberitahu mu sebelumnya." ucap Sultan memberitahu.
"Pak Sultan bisa temui saya kapan pun. Apa yang bisa saya bantu untuk bapak?" tanya sang asper.
“Entah kenapa situasi ini semakin sulit. Menurutmu apa yang sebaiknya aku lakukan?“ Sultan mencoba mencari solusi terbaik untuk masalahnya.
“Seperti sebelumnya yang sudah saya katakan. Bapak bisa menerima tawaran pak Anggara, menikahi putri keduanya. Lagipula pernikahan Anda dengan gadis itu hanya sementara bukan?“
Sultan hanya terdiam menggelengkan kepalanya lemah. “Aku tidak tahu.“ jawab Sultan bimbang. Entah perasaan apa yang tengah dirasakannya. Sang asisten mengerutkan dahinya, menatap atasannya bingung.
“Anda telah melibatkan perasaan Anda sendiri, Pak. Itu artinya pak Sultan terjebak oleh perjanjian yang Anda buat sendiri.“
“Ya. Mungkin kau benar. Dan aku tidak tahu harus berbuat apa?“ ujarnya merasakan ada kekacauan di hatinya. Cukup lama mereka membahas masalah pekerjaan, dan sesekali menyinggung sedikit soal perasaannya.
Selain sebagai asisten pribadinya, patner kerjanya itu bisa Sultan andalkan. Selain menjadi penasehat perusahaan, dan teman ngobrol dikala pikiran kalut.
Sementara Hanum masih menunggu kedatangan suaminya. Yang sejak pagi tadi ia berangkat, namun sama sekali belum memberi kabar, meski lewat pesan singkat sekalipun.
Hanum hendak keluar kamar menemui ibunya, tapi ponselnya lebih dulu berdering.
Hanum tersenyum senang melihat ponselnya menyala. ”itu pasti mas Sultan.” pikir Hanum meraih hapenya diatas nakas. Tanpa lagi melihat ld caller si pemanggil Hanum segera menggeser ikon warna hijau.
~ Mas Sultan!
Panggil Hanum dengan riak wajahnya yang berbinar.
~ Jadi Sultan adalah suamimu Hanum, dan bukan majikanmu?”
~ Bia! Kau?”
Panggil Hanum kaget disebrang telepon. Dan melihat ponselnya tertera nama Bia, bukan Sultan suaminya.
~ Aku sudah tahu semuanya, Hanum. Kau sudah berbohong padaku.
ucap Bia kecewa. Setelah tahu yang sebenarnya tentang hubungan Hanum dan Sultan. Yang dia tahu adalah, majikan dari gadis yang disukainya sejak lama.
~ Ak__ aku__”
~ Hanum, ada yang ingin aku sampaikan dengan mu. Temui aku besok di taman Manggala, ini sangat penting.”
~ Tapi aku__”
Tuttt.... Tutttt...
__ADS_1
Bia lebih dulu memutus sambungan teleponnya tanpa lagu mendengar penjelasan Hanum.
”Untuk apa lagi Bia ingin menemuiku? Hal penting apa yang ingin Bia sampaikan? Sampai menghubungiku malam-malam begini.” gadis itu bertanya pada dirinya sendiri. Tanpa tahu maksud pria yang dulu pernah menjadi kakak kelasnya.
Hanum memutuskan untuk menunggu Sultan pulang, dengan duduk di kursi tamu. Tanpa sadar waktu terlewat begitu sangat cepat, hingga ia tertidur di sofa. Mobil Sultan memasuki halaman tepat pukul satu dinihari, setelah pak Amir membuka pintu gerbang.
Ia menarik gagang pintu ganda yang belum dikunci, dilihatnya sosok gadis belia yang resmi ia nikahi tiga bulan lalu. Tidur dengan pulas, nampak jelas wajah lelah itu menunggu kedatangannya.
”Kenapa harus menungguku, Hanum?” tanyanya. Ia segera meraih tubuh Hanum yang terlihat lebih berisi, menggendongnya kedalam kamar. Sejak ada Farida Kendra tidur bersama neneknya, tanpa khwatir membuat putranya harus dan lapar, karena Hanum telah menyetok asi sebelumnya di dalam freezer.
Sebelum pergi tidur Sultan melakukan ritual rutin, mandi sebelum bergabung tidur bersama istrinya. Dan mereka pun tidur hingga pagi menjelang, Hanum merubah posisi tidurnya. memeluk guling yang ia kira adalah tubuh suaminya.
Merasa ada sesuatu yang aneh, dan ia ingat betul jika semalam dia berada di ruang tamu menunggu suaminya pulang. Ia pun segera membuka kedua matanya lebar-lebar.
”Aku tidur di kamar? Bukannya semalam aku di sofa tamu, nunggu mas Sultan pulang. Apa mas dia yang sudah membawaku ke kamar?” ucap Hanum dengan senyum bingungnya. Gadis itu menyibak selimutnya keluar mencari suaminya yanga ia pikir masih ada di kamar mandi.
”Mas, mas Sultan kamu masih di dalam?” panggil Hanum di depan pintu kamar mandi. Karena tidak mendengar jawaban dari dalam, Hanum menarik knop kamar mandi. Membuka pintu yang ternyata kosong.
Hanum memicingkan mata heran. ”Kosong? Tumben mas Sultan sudah kelar mandi, biasanya jam segini baru bangun.” lirihnya melangkah keluar menuju dapur.
”Hanum, mau buat apa, Nak?” tanya Farida memutar kursi roda mendekati putrinya.
”Mau buat kopi, Bu. Buat mas Sultan.” jawab Hanum cepat.
”Mas Sultan mengatakan itu sama ibu?” tanya Hanum ingin tahu. Farida tersenyum mengangguk.
”Maaf, Bu! Di luar ada tamu.” ucap Pak Amir memberitahu.
”Tamu?” tanyanya, merasa tidak memiliki janji dengan siapapun. Kecuali jadwal cek up ke rumah sakit untuk kontrol rutin ibunya.
Apa itu Bia? Tapi darimana dia tahu amat rumah ini?
Gumam Hanum mengingat semalam Bia menghubunginya. Jika ada hal penting yang akan disampaikannya.
”Benar, Bu. Ada di ruang tamu.” kata pak Amir. Lalu pergi kembali ke pos jaga. Hanum dan ibunya saling melempar pandang penuh tanya.
...***...
”Maaf, Anda siapa?” tanya Hanum bingung.
”Saya Mayang. Maaf sudah membuatmu kaget, saya bertamu diwaktu yang tak biasa.” jawab Mayang tersenyum ramah pada Hanum.
Hanum hanya mengangguk, ada banyak pertanyaan dalam benaknya. ”Apa Anda kerabat suami saya?” Mayang tersenyum mengedipkan kedua matanya sebagai jawaban.
”Kemarilah, Nak!” ajak Mayang menarik telapak tangan Hanum. Memintanya duduk di sebelahnya, ada perasaan bersalah di hati Mayang. Setelah tahu dan bertemu langsung dengan Hanum, wajah polosnya menunjukkan jika dia adalah wanita baik-baik yang Sultan nikahi.
__ADS_1
”Tapi saya belum mandi, masih lusuh dan__” ucap Hanum duduk mengangkat, dan mencium bahunya bergantian. Merasa risih dengan penampilannya yang sedikit berantakan.
”Tidak apa-apa, Nak. Apa Kendra sudah bangun? Saya adalah___” tanya Mayang to the point. Karena itulah tujuannya datang ke rumah Sultan pagi-pagi sekali. Ingin menemui cucunya Kendra. Anak Fara yang ia asuh dari panti asuhan, delapan belas tahun yang lalu.
”Hanum! Siapa yang datang, Sayang?” tanya Farida menuju ruang tamu, dengan membawa Kendra di pangkuannya. Ia lalu menekan tombol otomatis kursi rHan dan berhenti tepat di samping Hanum.
”Ibu, tante Mayang adalah kerabat mas Sultan.” jawab Hanum memperkenalkan pada ibunya.
”Saya Mayang.” ucapnya mengulurkan tangan memperkenalkan diri.
”Saya ibunya Hanum, Nyonya bisa panggil saya Farida.” balasnya menyebut namanya.
”Jangan panggil saya nyonya! Panggil saja saya Mayang.’’ tolaknya lembut. Mayang menatap makhluk tampan dan mungil itu tersenyum menggoda Kendra.
”Bu Mayang boleh menggendongnya.” ucap Farida menyerahkan Kendra pada Mayang.
”Sayang, kamu lucu sekali, Nak. matamu yang indah mirip sekali dengan ibumu.” ceplos Mayang tidak sadar akan ucapannya barusan.
Farida spontan melirik kearah Hanum putrinya. Begitu juga Hanum menatap ibunya tersenyum kamu. Sebab merasa ada yang salah akan ucapan wanita paruh baya yang mengaku kerabat suaminya itu.
Hanum tahu jika tidak ada kemiripan sama sekali pada diri Kendra atas dirinya. Apalagi Kendra memang tidak lahir dari rahimnya, hanya darahnya saja yang mengalir di dalam tubuhnya.
Mirip? Aku bahkan sama sekali tidak melihat ada kemiripan pada cucuku denga Hamun dan Sultan. Astaghfirullahalazim, kenapa aku jadi berprasangka buruk pada putriku dan suaminya. Kendra itu kan cucuku anak Hanum dan Sultan.
Gumam Farida berpikir jauh pada mereka.
”Bu Mayang, Hanum tinggal mandi dulu. Mau siap-siap ke rumah sakit antar ibu cek up.” ujar Hanum.
”Ya sudah, kalian bersiaplah! Biar Kendra saya yang jaga. Jangan khwatir Kendra akan baik-baik saja bersama saya.” ucap Mayang meyakinkan Hanum dan ibunya.
”Apa kami tidak merepotkan bu Mayang?” tanya Hanum tidak enak hati.
”Sama sekali tidak, Nak. Kendra cucuku juga bukan?”
”Terima kasih, Bu Mayang. Sudah menyempatkan datang menjaga Kendra. Sayang, maaf mama harus pergi antar nenek. Kendra jangan menangis, Oke!” goda Hanum menciumi wajah Kendra. Si mungil Kendra tersenyum lucu, dengan gerakan tangan dan kakinya. Seolah mengerti akan apa yang Hanum katakan untuknya.
Hanum dan Farida bersiap sebelum pergi kerumah sakit. Dan menghubungi Sultan sebelum berangkat, karena semalam ia tidak sempat mengatakan pada suaminya. Hanum sendiri tidak tahu kapan suaminya pulang, paginya pun dia sudah berangkat tanpa membangunnya.
Berkali-kali Hanum menghubungi suaminya, tapi ponselnya tidak aktif.
”Apa kau sudah menghubungi suamimu, Hanum? Jika hari ini kita akan pergi ke rumah sakit.” tanya Farida.
”Handphone nya tidak aktif, Bu. Hanum akan telepon mas Farhan untuk jemput kita. ” ucap Hanum. Akhirnya Hanum melakukan sambungan telepon pada Farhan, supir kantor suaminya untuk menjemput mereka.
”Bu, Hanum!”
__ADS_1