Terjebak Status Palsu

Terjebak Status Palsu
Bertemu Dengannya


__ADS_3

Tepat pukul sembilan mobil Farhan tiba di depan pintu gerbang. Pak Amir membukakan pintu besi yang menjulang kokoh. Dan menyapa ramah penghuni mobil di dalamnya, Farhan menganggukkan kepalanya sebagai balasannya.


Tinnn......


Hanum meraih tas mungilnya yang ada di atas meja rias keluar menutup pintu kamarnya.


“Aliya, saya titip Kendra. Ada sesuatu yang harus saya beli. Di Freezer sudah ada beberapa botol asi untuk Kendra. Kau bisa hangatkan sebelum memberikannya.“ pesan Hanum pada baby sitternya.


“Baik, bu!“ jawab Aliya singkat.


“Sayang, mama pergi dulu ya! Kendra nggak boleh nangis mama pergi sebentar.“ pamit Hanum mengecup pipi mungil bayi yang ia susui walau tidak lahir dari rahimnya.


Farhan keluar dari mobilnya membukakan pintu untuk istri atasannya.


“Pak Farhan tidak perlu repot-repot membukakan pintu. Saya bisa melakukannya sendiri.“ ucap Hanum masuk duduk di kursi belakang penumpang.


“Itu sudah menjadi tugas saya setiap hari nyonya.“ ujar Farhan melirik Hanum dari kaca spion di depannya. Sambil menghidupkan mesin mobil dan mengoperasikan mesin kemudinya.


“Saya bukan nyonya disini. Panggil saya Hanum saja, lagi pula usia saya lebih muda dari Anda. Mungkin pak Farhan lebih cocok jadi kakak saya.“ tutur Hanum tersenyum ramah padanya.


“Tapi Anda adalah istri dari atasan saya. Sudah sepantasnya saya memanggil itu pada Anda.“ jelas Farhan.


“Tapi saya tidak suka mendengarnya. Dan sebutan itu menurutku terlalu tua untuk saya.“ ucapan Hanum membuat Farhan tersenyum lebar, di kantor ia jarang sekali tersenyum apalagi tertawa. Jika tidak ada hal yang lucu dan membuatnya tertawa.


“Pak Farhan, sudah berapa lama bekerja pada suami saya?“ tanya Hanum memberanikan diri untuk bertanya.


“Cukup lama hampir dua belas tahun.“ jawab Farhan.


“Wao, cukup lama sekali. Itu artinya pak Farhan sangat mengenal Pak Sultan dengan baik, sebab setiap hari anda bersamanya.“ pikir Hanum memancing supir kantor suaminya. Untuk mengorek sedikit informasi mengenai Sultan pria yang hampir satu bulan menjadi suami kontraknya.


“Pak Sultan orang baik. Dia juga sangat dermawan pada semua karyawan kantor yang mengalami kesulitan masalah ekonomi. Ya meski sikap pak Sultan terlihat dingin tapi beliau sangat penyayang, sama seperti almarhum pak Damanik meski beliau hanya orang tua angkat pak Sultan.“


“Orangtua angkat?“ tanya Hanum kaget mengulang ucapan Farhan.


“Pak Sultan adalah yatim piatu yang diangkat pak Damanik. Dan mewariskan seluruh aset kekayaannya termasuk pabrik pengolahan limbah yang saat ini pak Sultan jalankan.“ jelas Farhan memberitahu sebagian info pada istri atasannya.


“Jika mengenai bayi yang pak Sultan adopsi. Apa masih ada hubungan keluarga dengannya?“ tanya Hanum lagi lebih pribadi, mengenai privasi suaminya.

__ADS_1


“Maaf Bu Hanum. Untuk masalah itu saya sama sekali tidak tahu. Sepertinya sangat pribadi, di kantor pun tidak ada karyawan yang berani bertanya. Siapa dan mengapa pak Sultan mengadopsi bayi?“ papar Farhan lagi.


Mobil Farhan masuk kedalam basement, salah satu mall terbesar di Jakarta. Hanum masuk kedalam mall dan mendorong troli tempat menampung belanjaannya.


Tempat pertama yang ia kunjungi adalah deretan rak yang memajang berbagai macan susu ibu menyusui dari merk yang cukup terkenal. Yang memiliki rasa yang bervariasi, Hanum meraih 10 dus susu dan menaruhnya kedalam troli.


Ia kembali mendorong keranjangnya beralih ke tempat aneka makanan dan minuman. Serta daging sayur dan buah. Saat Hanum memilih snack serta cemilan sehat yang boleh dikonsumsi oleh ibu menyusui. Tanpa sengaja troli yang ia dorong menabrak keranjang belanjaan yang Hanum tidak tahu.


“Maaf! Saya tidak sengaja tadi__ Bia!“ seru Hanum.


“Hanum! Kau?!“ panggil Bia terkejut melihat Hanum ada dihadapannya.


“Bia? Kau sudah kembali?“ tanya Hanum antusias menepikan trolinya.


“Ya, Hanum. Aku sudah kembali dan aku sudah meraih gelar sarjanaku dan bekerja di perusahaan besar di Bandung.“


“Aku ucapkan selamat Bia, atas keberhasilan mu!“ ucap Hanum mengulurkan tangannya menjabat tangan Bia. Kakak kelas Hanum saat masih di bangku menengah atas, yang juga menjabat sebagai ketua osis.


“Hanum aku dengar kau kabur dari rumah, saat bi Mirna memaksamu untuk menikah dengan juragan Hartoyo. Apa itu benar?“ tanya Bia penasaran dengan desas-desus kabar di kampung sebelah tempat Hanum tinggal bersama ibu dan tantenya.


Hanum hanya mengangguk tanpa menjawab. “Bia! Apa kau mau membantuku?“ tanya Hanum ragu. Bia menyapukan pandangan matanya mencari sesuatu.


“Jangan! Tidak perlu Bia, ini terlalu banyak.“ tolak Hanum tidak enak melihat trolinya yang sangat banyak dengan barang belanjaannya.


“Tidak masalah, Hanum. Anggap saja aku mentraktir mu setelah sekian lama.“ ujar Bia mendorong keranjang Hanum. Tanpa sengaja Bia melihat dus susu ibu menyusui di troli belanjaan yang Hanum beli.


Susu ibu menyusui? Hanum membeli susu itu banyak sekali. Apa dia sudah menikah dan punya anak tapi__? Ah tidak mungkin, Hanum pasti bekerja untuk orang lain. Dan susu itu pasti milik majikannya.


Pikir Bia berpikir positif pada Hanum, gadis lugu yang menjadi target cintanya. Tapi Bia belum pernah menyatakan cinta dan perasaannya sekalipun pada Hanum. Selain takut Hanum menolaknya, ia juga tidak siap merasakan sakit hati karena cintanya bertepuk sebelah tangan.


Hanum dan Bia sudah berada di kedai, dan memesan makanan dan minum yang sudah Bia pesan pada pelayanan kedai.


“Batagor, siomay dan es jeruk?“ Hanum tersenyum membelalakan kedua matanya, melihat jajanan favorit di kantin sekolahnya dulu.


“Kenapa? Kau sudah tidak menyukainya?“ tanya Bia ingin tahu.


“Justru aku sangat menginginkannya, tapi aku tidak ada waktu untuk makan diluar.“ jawab Hanum melahap dua makanan kesukaannya satu per satu.

__ADS_1


“Pelan-pelan, Hanum! Aku akan pesan satu lagi untuk mu. Sekarang kau tinggal dimana Hanum?“ Hanum melambatkan kunyahannya, setelah mendengar pertanyaan Bia.


“Aku___ Bia aku tadi ingin mengatakan padamu. Jika aku ingin minta bantuanmu.“ tutur Hanum mengalihkan pembicaraannya.


“Katakan Hanum apa yang bisa aku bantu untuk mu?“ tanya Bia lagi menyendok siomay kedalam mulutnya.


“Aku ingin kau memberitahu pada ibuku, jika aku baik-baik saja. Untuk saat ini aku belum bisa menemui ibu. Aku takut bibi akan mengurungku dan memaksaku untuk menikah dengan juragan Hartoyo.“ ucap Hanum sedih menundukkan pandangannya meletakkan garpu dari tangannya keatas piring.


“Tentu saja aku tidak keberatan, Hanum. Aku pasti menemui ibu dan mengatakan kabar baik darimu.“


“Terima kasih, Bia. Aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu.“ ucap Hanum tersenyum lebar, hingga lesung di pipinya terlihat jelas.


“Kau cukup menerimaku menjadi pacar mu saja.“ seloroh Bia memancing keadaan agar tidak terlalu kentara.


Uhukk.... Uhukkk....


Hanum tiba-tiba terbatuk mendengar ucapan Bia yang menurutnya gurauan. Tapi cukup membuatnya kaget sebab pria itu terlihat serius saat mengatakan langsung di depannya.


“Hanum, kamu seperti anak kecil saja. Aku mengatakan itu saja sudah baper,“ Bia membersihkan bibir Hanum yang basah dengan tisu karena tersedak es jeruk yang diminumnya.


Sedang di sebrang sana pria tampan dengan garis tegas di wajahnya. Nampak begitu marah melihat istrinya duduk dan tersenyum dengan pria lain.


Hanum, kali ini kau benar-benar membuatku marah. Dihadan pria lain kau tersenyum dengan sangat manisnya, di rumah kau bersikap acuh dan ketus.


“Pak Sultan sepertinya projek kerja ini sangat bagus. Dan saya sangat tertarik dengan kerja sama ini, bisnis usaha perabot rumah tangga dari bahan plastik. Hasinya pun cukup menggiurkan.“ ujar kliennya melihat sample beberapa barang di layar laptop milik Sultan.


“Pak Sultan?“ klien itu mengulang panggilannya.


“Eh, iya pak Hutomo. Bagaimana dengan kerja sama ini?“ tanya Sultan memastikan.


“Saya sepakat atas kerja sama ini. Saya akan meminta asisten pribadi saya untuk mengurus semuanya.“


“Terima kasih, Pak Hutomo atas kepercayaannya.“ mereka saling berjabat tangan atas kesepakatan kerja sama mereka. Dan kliennya pun pamit undur diri meninggal tempat meeting.


“Hanum!“


🌺 Bersambung____

__ADS_1


yang sudah mampir disini Terima kasih🙏


Selamat menjalankan ibadah puasa, untuk Readerku yang setia di lapakku. Mohon maaf untuk semuanya.


__ADS_2