Terjebak Status Palsu

Terjebak Status Palsu
Terbongkar


__ADS_3

Hanum keluar dari ruang pemeriksaan dengan membawa amplop putih bersimbol nama medis pada umumnya. Dengan wajah pucat Hanum melangkah, yang disusul langkah Bia di depan yang sejak tadi dengan setia menunggunya.


"Apa yang dokter katakan, Hanum? Apa kau baik-baik saja?" Bia mencecar Hanum dengan beberapa pertanyaan yang ingin dia tahu. Hanum mengangkat sedikit wajahnya menatap Bia, tapi yang nampak diwajah cantiknya seperti awan mendung yang siap menumpahkan hujan.


Gadis itu merengek tanpa sadar, bergerak reflek menangis memeluk Bia dengan amplop yang yang masih ada ditangannya.


Hi....Hiiiikkkk...!


Tangis Hanum yang masih belum mengatakan apapun. Bia membalas pelukan Hanum yang memang sejak dulu sangat dia harapkan menjadi bagian dari hidupnya. Tapi garis Tuhan berkata lain, Bia kembali dipertemukan dengan gadis pujaanya dengan setatusnya yang sudah menjadi milik orang lain.


"Katakan Hanum apa yang terjadi?" tanya Bia sekali lagi.


"Aku sendiri tidak tahu, jawaban apa yang akan kuberikan pada ibu nanti." keluh Hanum dengan perasaan hatinya yang sedang bingung. Bia dan Hanum masih dengan posisi yang sama, Bia ingin waktu berhenti berputar untuk sejenak saja. Dia masih ingin memeluk Hanum merasakan ketenangan jjiwanya, meski kenyataannya dia sendiri tidak tahu apa yang tengah terjadi pada Hanum hingga membuatnya menangis.


"Katakan Hanum apa yang membuatmu menangis?" Bia merenggangkan pelukannya menatap wajah Hanum.

__ADS_1


"Ak__ Ak__ Aku. Aku hamil." jawab Hanum kembali menangis, kini tangisnya menjadi lebih sesegukan terlihat dadanya yang nampak naik turun.


"Lalu kenapa kau menangis? Harusnya kau bahagia, Hanum. Jadi suamimu itu tidak akan menikahi gadis itu." pikir Bia semudah itu, seandainya saja tidak ada kontrak pernikahan. Mungkin Hanum tidak akan sesedih itu. Bagaimana jika Sultan hanya menginginkan anaknya saja, sudah dipastikan suami sementaranya itu akan menceraikannya. Dan hidupnya akan kembali tragis bersama tantenya yang jahat itu.


Kau tidak tahu Bia, jika aku bukan istri pada umumnya. Yang hanya dinikahi pria kaya hanya sebagai ibu pengganti dari putra yang dilahirkan oleh gadis yang benar-benar Sultan cintai, bukan aku.


"Hanum!" panggil Bia, segera menyadarkan Hanum yang nampak diam dan berpikir. Sesekali sesegukan tangisnya masih terdengar lirih.


***


"Assalamu'alaikum, Ibu! Sayang Mama pulang, Nak." ucap Hanum dari luar. Bukan jawaban salam yang Hanum Terima dari ibunya, melaikan tamparan keras yang sangat pan\as.


"Ibu! Kenapa ibu tampar Hanum?" tanya Hanum tidak mengerti. Kenapa ibunya tidak menjawab salam darinya, melainkan ke lima jari Farida melayang keras meninggalkan jejak merah di pipinya yang mulus.


Farida menatap nanar putrinya, Hanum sendiri tidak tahu apa yang membuat ibunya marah besar?

__ADS_1


"Maaf, Ibu. Hanum terlambat pulang tadi disana ada sebuah kecelakaan kecil, jadi Hanum sedikit terlambat. Apa Kendra rewel, Bu?" tanya Hanum lagi?" Farida justru melempar beberapa lembar kertas di depannya. Hanum membelalakkan kedua matanya kaget.


"Pantas saja saat kalian mengenalkan ibu pada keluarga palsu kalian. Kendra sama sekali tidak mirip denganmu ataupun suamimu. Jadi Kendra bukan cucuku bukan darah daging kalian? Dan satu lagi kalian menipu cinta seorang ibu, menikah kontrak untuk bisa menjadi ibu susu untuk anak orang lain yang suamimu adopsi. Jadi ini yang kau berikan pada ibumu, Hanum? Kalian sepakat membohongi ibumu pernikahan macam apa yang kalian jalani? Keluarga macam apa?" Bentak Farida kecewa akan sikap dan keputusan putrinya yang tidak memikirkan sebab dan akibat yang akan terjadi dikemudian hari.


Bukan seorang wanita tidak boleh memberikan Asinya pada seorang bayi kecuali dalam keadaan darurat. Sebab ada hukum wanita yang tidak boleh memberikan Asinya yang bukan anak kandunnya. Dikhawatirkan kelak akan terjadi hubungan perkawinan sedarah, jika kita tidak benar-benar memperhatikan hukum dan larangan dalam islam.


"Ibu, Ha__ Hanum."


"Cukup! Jadi ini yang yang ibu ajarkan padamu, Hanum? berbohong pada ibu? Seharusnya dulu ibu tidak membiarkan mu pergi dan memaksamu menikah dengan juragan Hartoyo tidak peduli kamu menjadi istrri ymag yang keberapa ibu tidak perduli," ujarnya menyesali rencana Mirna adiknya yang jelas membenci dirinya.


"Ibu? Apa yang ibu katakan?" Hanum menangis meraih telapak tangan Farida, namun ibunya menghempaskan tangan Hanum begitu saja. Dan meraih tas besarnya yang sudah disiapkan sebelum Hanum pulang.


"Ibu! Mau kemana? Jangan pergi ibu! Hanum mohon maafkan Hanum ibu! Hanum tahu anakmu ini salah tapi aku mohon jangan tinggalkan Hanum ibu. Maafkan Hanum!" Hanum menyatukan kedua tangannya didepan dada memohon agar ibunya tidur pergi meninggalkannya.


"Terima kasih untuk pengobatan kalian, karena sudah menolong ibu dan sembuh dari sakit." ucap Farida dingin pergi meninggalkan yang tengah menagis tidak tahu harus berbuat apa.

__ADS_1


Farida masuk kedalam mobil taxi online yang telah menunggunya, yang di pesan oleh Zeevania sebelum perempuan ular itu pergi.


_____Bersambung_____


__ADS_2