Terjebak Status Palsu

Terjebak Status Palsu
Tuduhan untuk Hanum


__ADS_3

“Hanum! Tunggu!“ pekik Bia. Gadis itu pergi tanpa lagi menoleh kebelakang. Ia segera masik kedalam taxi karena perasaannya yang tiba-tiba merasa cemas dan tidak enak.


“Pak tolong cepat sedikit!“ pinta Hanum pada supir taxi.


“Tapi di depan macet mba!“ uacap supir taxi itu. Hanum berdecak tidak tenang melihat kearah depan. Dan melihat ke sisi jalan di samping kanan dan kiri jendela mobil. Setelah beberapa menit macet mobil yang Hanum tumpangi kembali melaju dengan kecepatan normal.


“Pak bisa di percepat?“ tanya Hanum lagi sedikit memaksa.


“Baik, mba.“ jawab dang supir cepat.


Taxi melaju dengan kecepatan cukup tinggi tidak kurang dari 20 menit, Hanum sampai di depan pintu gerbang. Pak Amir membukakan pintu besok tinggi itu dan kembali menguncinya setelah Hanum masuk kedalam dengan tergesa-gesa.


“Nak Hanum!“ Panggil Pak Amir. Tapi Hanum tidak mendengar panggilan satpam yang menjaga keamanan rumahnya. Hanum mendengar suara tangis Kendra ia segera masik masuk setelah lebih dulu mencuci tangan dan kakinya di kamar mandi dapur.


“Sayang! Kendra!“ panggil Hanum segera meraih bayi mungil itu dari Aliya. “Mama sudah kembali, Sayang. Kendra jangan menangis lagi, nanti mama sedih.“ ucap Hanum memeluk Kendra. Tangis Kendra berangsur pelan, dan berhenti menangis setelah Hanum menyusuinya.“


“Sejak ibu pergi Kendra sangat rewel sekali, bu Hanum.“ ujar Skitar pura-pura.


“Benarkah? Aliya apa kau tidak memberikan Kendra susu?“ tanya Hanum.


“Sudah bu. Saya sudah berikan semua susu untuk Kendra dan saya juga sudah hangatkan susunya. Tapi Kendra tetap saja masih menangis.“ jawab Aliya bohong. Dia justru membiarkan Kendra menangis tanpa memberikannya susu. Hanya satu botol kecil yang Aliya berikan dan itu dalam suhu yang masih panas.


“Ya sudah kamu boleh pergi dan istirahat Aliya!“ perintah Hanum pada baby sitternya. Aliya pun keluar meninggalkan Kendra yang masih menyusu dengan kuatnya.


“Rasain! Malam nanti Kendra pasti rewel dan menangis karena mulutnya melepuh dan mereka akan bertengkar lagi.“ seringai Aliya tersenyum licik meninggalkan pintu kamar Hanum.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Tapi Sultan belum juga pulang dan Kendra tidak bisa tidur dengan nyenyak. Hanum mencoba menyusuinya tapi Kendra tidak mau menyesap ****** payu daranya, ia pun semakin bingung. Apa yang Kendra rasakan pada tubuhnya ia pun meraih ponselnya untuk menghungi suaminya.


...***...


Di tempat lain Sultan justru menghabiskan waktunya di cafe bersama dua sahabatnya. Setelah melakukan meeting terakhir Sultan menerima ajakan dua sahabat sekaligus koleganya dalam bisnis.


“Sultan, nggak nyangka kamu bisa secepat itu mengambil keputusan untuk mengadopsi anak Zivara. Kamu sendiri tidak tahu siapa ayah dari bayi itu.“ ucap Ramlan dalam obrolan mereka.


“Entahlah aku merasa aku memiliki tanggung jawab atas bayi itu. Dan aku dan sangat mencintai Zivara.“ sanggah Sultan.


“Gila loe Sul. Loe nikahin Hanum belum loe apa-apain? Kuat loe?“ seloroh Davin menggoda Sultan dengan senyum seringainya.


Sultan hanya menghela nafasnya kasar, menyandarkan dirinya di sandaran kursi. “Brengsek loe, Vin! gue sama loe tu beda.“ timpal Sultan membalas.

__ADS_1


“Jadi setelah anak Zivara umur tiga tahun, loe bakal cerai in istri loe?“ tanya Revan serius.


“Entahlah!“ jawab Sultan mengangkat kedua bahunya. Ia melirik arloji di pergelangan tangan kanannya, tiba-tiba ponselnya berdering tertera nama Hanum.


“Hanum!“ cicit Sultan mengerutkan dahinya.


“Ciee...Ciee! Istri kangen suami nggak pulang-pulang. Udah sana angkat buruan!“ goda Davin lagi. Sultan segera menjawab telepon dari Hanum tanpa lagi berpikir.


~ Halo, mas. Cepat pulang Kendra teru saja menangis.


~ Kendra!


Sultan segera memutus sambungan telepon dari istrinya. Dan meraih kunci mobilnya lari segera menuju area parkir.


“Sahabat kita benar-benar sudah menjadi gila setelah merubah setatus barunya.“ seloroh Revan heran akan jalan pikiran sahabatnya yang menurutnya tidak logis.


Menikah hanya untuk mengadopsi anak dari mantan tunangannya. Yang sama-sama mereka tidak tahu siapa pria yang telah menghamilinya.


Tinn... Tinn...


Pak Amir nampak berjalan terhuyung membuka kunci pintu gerbang. Dengan rasa kantuk yang masih menyerang, karena beberapa menit ia tertidur menunggu Sultan pulang. Hanum mendengar suara klakson mobil suaminya, ia mempercepat langkahnya menuju pintu depan menemui Sultan.


“Aku tidak tahu kenapa Kendra terus saja menangis dan tidak menyusu.“ ucap Hanum takut akan reaksi suaminya.


“Sebaiknya kita bawa Kendra ke rumah sakit sekarang.“ titah Sultan mengajak Hanum ke rumah sakit untuk memastikan kondisi putranya.


Pak Amir kembali membuka pintu gerbang dan menutupnya kembali setelah mobil Sultan keluar.


“Sayang jangan menangis lagi, mama sedih dengarnya.’’ ucap Hanum mendekap tubuh mungil Alee Kendra Zoelva.


“Tenanglah sebentar lagi kita sampai!“ ujar Sultan membuat istrinya lebih tenang.


Di Koridor rumah sakit Sultan segera menuju ruangan dokter spesialis anak.


“Ibu Hanum Bachtiar Zoelva!“ panggil seorang perawat. Hanum dan suaminya segera masuk ke dalam ruangan. Dokter segera memeriksa kondisi Kendra yang masih menangis meski tidak sekencang sebelumnya.


“Putra ibu baik-baik saja. Hanya saja ada luka bakar pada lidahnya, sehingga membuatnya sulit untuk menyesap dan mengecap pada indera perasanya.“


“Luka bakar? Hanum, bagaimana itu bisa terjadi?“ tanya Sultan dengan sorot matanya yang menyelidik tajam.

__ADS_1


“Memangnya apa yang sudah aku lakukan padanya? Aku tidak mungkin melakukan itu pada Kendra.“ jawab Hanum dengan suaranya yang nyaris pelan dihadapan suaminya.


“Kau bisa jelaskan nanti di rumah.“ ucap Sultan tepat di telinga istrinya. Membuat Hanum sedikit takut dan menimbulkan desiran aneh yang Hanum rasakan malam itu kembali menyerangnya.


“ini resep obatnya, bapak bisa mengambilnya di apotik.“ ucap dokter spesialis itu.


“Terima kasih dokter.“ ucap Sultan dan Hanum keluar dari ruangan segera menuju apotek.


Sedang di rumah Aliya tertawa puas melihat kekacauan keluarga majikannya.


“Sebentar lagi akan ada perang dingin antara Hanum dan suaminya. Dan disaat itu aku akan mengambil kesempatan dalam keuntungan.“ ujarnya tersenyum licik dengan rencana jahatnya. Sepanjang perjalanan Sultan melirik Hanum penuh selidik. Antara percaya dan ragu akan ucapan istrinya.


Jika kau yang telah melakukannya, aku pastikan kau akan menerima hukuman dariku yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu, Hanum.


Ucap Sultan dalam benaknya mengancam. Hanum yang merasa dirinya di perhatikan oleh suaminya ia hanya melirik sekilas lalu melempar pandangannya ke arah luar jendela mobil.


Kenapa dia melihatku seperti itu? Memangnya apa yang dia pikirkan tentangku? Atau dia menuduhku dan mulai tidak mempercayaiku


saat melihatku bersama Bia?


Ada banyak pertanyaan di kepala Hanum, yang dia sendiri tidak tahu apa jawabannya. Dan jawaban itu hanya suaminya saja yang tahu dan disitu Hanum bertanggungjawab sepenuhnya atas keselamatan Kendra. Karena hanya Hanum yang memiliki peran sepenuhnya sebagai ibu pengganti untuk Kendra.


Setibanya di rumah Hanum segera memberikan obat untuk Kendra lalu menyusuinya.


Kendra pun tidur di pangkuan ibu susunya dengan lelap. Dengan sangat hati-hati Hanum menidurkan Kendra dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur.


Tapi Sultan lebih dulu mencekal lengan istrinya. “Jelaskan padaku bagaimana lidah Kendra bisa terbakar?“ tanya Sultan dengan nada mengintimidasi.


“Ak__Aku sendiri tidak tahu. Bagaimana itu terjadi pada Kendra?“ jawab Hanum terbata.


“Bagaimana bisa kau mengatakan tidak tahu. Kau yang selalu bersamanya setiap hari setiap saat kau bersama Kendra.“ tuduh Sultan marah dihadapan istrinya.


“Lalu kau menuduhku?“ tanya Hanum menangis


“Lalu aku harus menuduh siapa lagi selain kau, Hanum?“ tuduh Sultan dengan nada menekan.


“Aliya. Aku harus tanyakan ini pada Aliya.“ ucap Hanum setelah mengingat pagi tadi ia pergi dan menitipkan Kendra padanya.


Sultan menarik lengan Hanum hingga tubuh gadis itu terbentur dada bidang suaminya. “Kau ingin mencari kambing hitam atas kesalahanmu?“ ucapnya tepat di depan wajah cantik istrinya yang tengah menahan rasa takutnya. Sultan menyusuri tiap jengkal wajah Hanum melaui tatapan binarnya.

__ADS_1


🌺 Bersambung____


__ADS_2