Terjebak Status Palsu

Terjebak Status Palsu
Dosa Yang Menjadi Pahala


__ADS_3

Sultan mengajak istrinya pulang ke rumah sebelum menemui Kendra di rumah sakit. Tidak ada obrolan diantara mereka di dalam mobil selama perjalanan pulang.


Hanum melirik sekilas wajah suaminya tanpa berani bertanya, begitu juga dengan Sultan yang tetap fokus pada jalanan di depannya.


“Terima kasih, sudah menyelematkan ku lagi.“ ucap Hanum sedikit takut. Tapi tidak ada balasan sepatah kata pun dari mulut suaminya.


Hanum kembali diam meremas ujung kebayanya, suasana diantara mereka menjadi hening dan canggung bagai dua orang asing yang tidak saling mengenal.


“Sebaiknya kau diam dan jangan mengatakan apapun lagi.“ pinta Sultan dengan wajah datar.


“Percayalah aku dan Bia tidak melakukan apapun. Orang suruhan juragan Hartoyo memukul Bia dan memindahkan tubuhnya ke atas brankar milik ibu, dan mereka menculik ibuku dan mengancam hidupnya.“ jelas Hanum pada suaminya. Mencoba meyakinkan Sultan bahwa dia berkata jujur tanpa ada kebohongan sedikit pun.


“Ibumu saat ini ada di rumah sakit. Dan sedang dalam penanganan dokter.“


“Benarkah! Jadi ibu sudah ada di rumah sakit?“ Kedua mata Hanum kembali berbinar ceria setelah tahu ibunya baik-baik saja. Refleks Hanum memeluk tubuh suaminya dan kembali mengatakan terima kasih.


“Aku sedang menyetir, Hanum. Kita bisa membahayakan pengguna jalan lain.“ ujar Sultan mengingatkan Hanum.


Hanum merenggangkan tubuhnya dari tubuh kekar suaminya. “Maaf aku terbawa suasana.“ ucapnya kembali canggung.


Pak Amir membuka pintu gerbang untuk kedua majikannya, dan kembali menutupnya setelah mobil sudah berhenti di halaman. Keduanya masuk kedalam menuju pintu utama. Hanum bertanya pada Sultan dimana Kendra dan Aliya ia melihat suasana rumah terlihat sepi.


“Dimana Kendra? Apa dia bersama Aliya?“ tanya Hanum.


“Kendra ada di rumah sakit. Itu semua karena kau penyebabnya.“ tuduh Sultan seketika.


“Aku? Memangnya apa yang kulakukan pada putraku? Aku menyayangi Kendra sama seperti putraku.“ papar Hanum.


“Bohong! Kau hampir membunuh putraku. Kau berikan Kendra susu dengan kwalitas rendah. Apa yang kau berikan pada Kendra hingga tubuhnya tidak memiliki nutrisi yang baik untuknya.“ bentak Sultan mencengkram kedua bahu Hanum keras.

__ADS_1


“Sakit, Mas. Lepaskan!“ menggerakkan kedua bahunya yang sakit. Sultan melepaskan cengkraman tangannya sedikit kasar.


“Bersihkan dirimu, kita akan ke rumah sakit menjenguk Kendra!“ Sultan keluar membawa handuknya menuju kamar mandi di kamarnya yang lama. Mereka pun melakukan ritual mandinya di kamar mandi yang berbeda.


Usai mandi Hanum memilih dress motif bunga dengan kancing depan, agar lebih mudah menyusui Kendra. Hanum melepaskan handuk yang melekat di tubuhnya dan untuk memakai dress yang tadi ia pilih. Tapi suaminya lebih dulu masuk kedalam tanpa Hanum tagu.


Sultan melambatkan langkahnya sepelan mungkin mendekati punggung istrinya yang nampak bagai lukisan bernyawa dari Sang Maha karya.


Ia memeluk tubuh istrinya dari arah belakang. Hanum tekejut luar biasa saat tangan kokoh itu menyentuh kulit tubuhnya dan mendekapnya erat, tangan nakalnya mulai memainkan perannya menyentuh apapun yang dia suka.


Sultan membalik tubuh Hanum hingga mereka saling berhadapan. Malu nervous yang menjadi satu membuat wajahnya yang semula seputih kapas kini menjadi merah padam. Bagai buah tomat matang yang siap dipetik.


Gadis itu tidak berani menatap dua bola mata suaminya yang pekat, yang tengah mengagumi dan menikmati keindahan perhiasan yang Tuhan ciptakan untuknya melalui pandangannya. Sungguh nikmat Tuhan mana yang kamu dustai. Sehingga noda dosa itu berubah menjadi sebuah pahala ketika Tuhan telah menghalalkan keduanya melalui ikatan suci dalam sebuah pernikahan.


Aku memang marah padamu Hanum, tapi aku tidak mampu mengendalikan diriku. Setiap kali aku melihat mu dari kaca pikiranku yang sudah terisi penuh dengan cinta yang kumiliki. Aku jatuh cinta? Apa salahnya aku mencintai istriku sendiri? Meski awalnya bermula dari sebuah hubungan setatus palsu.


Hatinya terus berkecamuk seiring dengan gerakan tubuhnya yang telah menguasai dan mengunci penuh tubuh istrinya. Suara merdu dari keduanya memenuhi ruangan yang kedap udara, sehingga tidak dapat didengar orang lain di luar kamarnya.


“Sultan! Dimana kamu?“ teriak Zeevania mencari keberadaan Sultan. Pria yang dulu hampir menjadi kakak iparnya namun kandas di tengah jalan.


“Dengarlah! Ada yang mencarimu.“ ucap Hanum memberi jeda gerakan suaminya.


“Aku tidak perduli!“ jawab Sultan masa bodoh mendengar teriakan suara wanita yang sudah ia kenali. Ia kembali mencumbu istrinya yang sudah menjadi candu untuknya, dan meninggalkan banyak jejak merah di sebagian tubuh Hanum.


Zeevania membuka pintu kamar satu persatu namun tidak juga dia menemukan sosok pria yang membuat dirinya gelisah. Ada dua kamar di lantai atas yang belum ia buka Zeevania mendongak melirik keatas ada dua pintu, ia segera menapaki anak tangga.


“Dia pasti ada di kamar salah satunya.“ pikir Zeevania tidak sabar. Belum sempat dia menarik hendel pintu kamar sebelah telah dibuka dari dalam.


“Kau tidak perlu berteriak Zeevania. Kau masih bisa menelpon ku jika terjadi sesuatu pada Kendra.“ ucap Sultan tiba-tiba. Zeevania tercengang melihat penampilan Sultan yang mengenakan handuk bathtub dengan rambutnya yang basah.

__ADS_1


“Sultan kau__?“


“Iya aku ada di dalam bersama istriku.“ jawab Sultan santai. Dan kembali masuk setelah Hanum keluar dari balik pintu, yang telah rapih dengan dress yang menambah kecantikan dirinya berkali-kali lipat dengan rambut basahnya.


Netra Zeevania bertemu pandang dengan Hanum, ia tidak membalas sapaan dari Hanum yang menatapnya tidak suka. Zeevania segera turun mengikuti langkah Hanum menuju dapur.


“Apa yang kalian lakukan di atas?“ tanya Zeevania cemburu.


“Anda mendikte ku seolah aku adalah orang asing disini, Nona.“


“Aku bertanya padamu, Hanum. Tapi jawabanmu sangat tidak sopan.“ ucap Zeevania marah.


“Memangnya apalagi yang dilakukan sepasang suami-istri didalam kamar jika keduanya sama-sama basah. Sepertinya kau tidak suka melihat hubunganku dengan suamiku.“ ujar Hanum mengaduk kopi panas dan membawa keluar nampan berisi kopi dan soft drink dari dapur menuju meja tamu.


“Kurangajar!“ umpat Zeevania tidak suka melihat Hanum sebagai nyonya Sultan Bachtiar Zoelva.


“Sultan! Kau mengatakan jika kau akan mengurus perceraian mu dengan istrimu?“ tanya Zeevania bingung melihat sikap Sultan yang berubah lembut padanya. Jika sebelumnya dia terlihat marah dan murka saat tahu Kendra sakit.


“Itu akan menjadi urusan pribadiku dengan istriku. Jadi orang lain tidak berhak tahu apapun keputusan ku.“ ujarnya ia merasa jika Zeevania terlalu jauh mencampuri urusan pribadi rumah tangganya.


“Aku tahu itu adalah privasi mu. Maaf aku hanya tidak ingin masalalu mu dengan kakak ku dulu. Merusak hidup dan masa depanmu.“ Hanum melirik Zeevania dan suaminya penasaran. Setelah mendengar ucapan gadis yang tengah berbincang dengan suaminya.


“Jangan bahas tentang kakak mu. Aku juga tidak ingin merusak suasana hati istriku, tentang apa saja yang belum dia tahu tentang diriku.“ ucap Sultan melarang membicarakan soal Zeevara.


“Tapi dia juga__“


“Maaf aku harus kembali ke rumah sakit, Hanum!“ Sultan memanggil istrinya setelah menyesap kopi buatan istrinya.


“Brengsek!!“

__ADS_1


Bersambung____


Jangan lupa like dan Favoritnya ya! Terima kasih🙏


__ADS_2