Terjebak Status Palsu

Terjebak Status Palsu
Istri Kedua


__ADS_3

“Hanum... Hanum...!“ panggil Sultan mengerjapkan kedua matanya. Kepalanya pun masih terasa berat dan pusing, ia mencoba mengingat kejadian semalam sebelumnya.


“Aku ada di rumah? Terakhir aku keluar dari kantor pergi ke club dan minum dengan orang bernama Topan.“ ucapnya mengingat.


Flashback on,


“Maaf Pak! Ada tamu untuk bapak.“ ucap Susan sekertaris pribadinya.


“Siapa? Apa saya ada jadwal pertemuan dengan klien?“ tanya Sultan pada sekretarisnya.


“Tidak, Pak. Tapi Pak Anggara.“ jawab Susan.


“Untuk apa dia datang menemuiku?“ lirih Sultan pada dirinya. Susan segera undur diri dari ruangan atasannya.


“Permisi, Pak.“ pamit Susan.


“Pak Anggara!“ tegur Sultan pada pria paruh baya itu. Anggara membalik tubuhnya hinga mereka saling bertemu pandang.


“Sultan! Apa kabar? Senang bisa kembali bertemu dengan mu.“ sapa Anggara mengulurkan tangan kearah Sultan.


“Baik. Seperti yang Anda lihat.“ jawab Sultan dengan cara bicaranya yang khas.


“Kau pasti heran kenapa aku datang ke kantor mu lagi setelah setahun berlalu. Aku ingin mengundang mu makan malam di rumah, ada hal penting yang ingin aku sampaikan. Istriku ingin sekali menemui cucunya.“ ujar Anggara biasa saja.


“Hanya istri Anda?’’ tanya Sultan cukup menohok.

__ADS_1


“Iy__ya. Aku ini kakeknya. Bagaimana pun juga aku adalah orangtua Fara meski, hanya orangtua asuh. Untuk itu kami mengundang mu acara makan malam untuk meluruskan kesalahan pahaman yang terjadi.’’ ucap Anggara tanpa merasa malu. Ataupun sungkan pada Sultan, yang bersedia menganggap anak Fara sebagai putranya meski bukan darah dagingnya.


“Setelah sekian lama kalian baru mempertanyakannya?“ tanya Sultan dengan raut wajahnya yang sudah jengah.


“Ayolah, Sultan! Kita jalin kembali hubungan kekeluargaan ini demi cucuku. Dan aku dengar usahamu sedang dalam masalah, kita bisa bicarakan ini secara pribadi. Datanglah besok!“


Sultan nampak bepikir sejenak. “Aku akan datang sendiri besok.“ ucap Sultan memberi jawaban. Anggara pun keluar dari ruangan setelah pamit undur diri.


“Orangtua macam apa dirinya?“ pikir Sultan menilai. Lalu ia pun meraih kunci mobilnya dan pergi meninggalkan gedung kantor. Mobil melaju tanpa tahu kemana arah tujuannya sampai akhirnya Sultan menemukan sebuah club malam dengan bangunannya yang cukup mewah.


Ia pun memesan minuman pada pelayanan bar, dan Topan melihat pria berdasi dengan jas berwarna biru muda yang kebetulan ada di meja sebelahnya.


“Boleh gabung?“ tanya Topan mengambil posisi duduk di depan Sultan.


“Silakan!“ jawab Sultan datar. Mereka saling berkenalan, dan pelayan datang membawa minuman mereka pun minum bersama. Hingga mereka sama-sama mabuk bertukar cerita dan meracau tanpa sadar.


“Ya, aku sudah menikah dan punya anak. Tapi__ aku menikah untuk mencari ibu susu untuk putraku karena ibunya sudah meninggal.“ ucap Sultan diakhir tegukannya.


“Kasihan sekali kau tuan, Bachtiar! Menikah demi anak. Kau pasti terpaksa menikahinya, karena tidak ada cinta.“ Topan terus meracau.


“Aku bahkan sudah memiliki anak tanpa menikahi perempuan itu. Karena aku hanya terobsesi saja untuk memilikinya, dia itu cantik dan seksi.“ ucap Topan tertawa tanpa dosa.


“Itu artinya kau laki-laki bajingan!“ umpat Sultan mendorong bahu Topan dalam kondisi yang sudah mabuk. Sultan mencoba bangkit tapi,


BRUGHH...!!

__ADS_1


Flashback back, Off


“Kepalaku pusing sekali. Hanum!“ teriak Sultan lebih keras lagi. Mendengar namanya di panggil Hanum menyerahkan Kendra pada ibunya.


“Ibu, Mas Sultan memangilku. Tolong jaga Kendra!“ Hanum segera beranjak ke kamar suaminya.


“Kau sudah bangun?“ tanya Hanum.


“Bantu aku ke kamar mandi! Kepalaku pusing.“ pintanya.


“Semalam kau mabuk, tentu saja kepala mu pusing. Kau pulang bersama Zeevania.“ ucap Hanum ketus, menyerahkan handuk bersih pada suaminya.


“Kau cemburu?“ tanya Sultan penasaran.


“Aku! Cemburu? Tidak. Aku tidak cemburu.“ jawab Hanum bohong.


“Oke, jadi aku bisa menikahinya. Menjadikannya istri keduaku.“ seloruhnya asal dengan tujuan menggoda Hanum. Dia ingin tahu bagaimana perasaan Hanum yang sebenarnya.


“Apa! Tidak! Aku tidak mau Kendra memliki ibu yang lain. Aku adalah ibunya.“ tolak Hanum tidak ingin berbagi suami pada wanita lain.


“Kau cemburu, Hanum.“ bisik Sultan tepat di telinga gadis itu. Dan membuat darahnya berdesir.


“Cepatlah mandi!“ ujar Hanum mendorong dada bidang suaminya. Segera bangkit dari hadapan Sultan, pria itu lebih dulu meraih jari tangan Hanum.


“Temani aku mandi! Kepalaku pusing aku butuh refleksi. Kau bisa memijat kepalaku.“ perintahnya menarik tangan istrinya kedalam kamar mandi.

__ADS_1


Disana mereka kembali mengulang setelah semalam mereka sama-sama melakukan hubungan suami istri. Kali ini ia ingin memberikan sensasi yang berbeda dengan gaya yang dia inginkan.


Dibawah gemericik guyuran air shower mereka sama sekali tidak merasakan dinginnya air ditubuhnya. Bahkan mereka semakin menikmati peran mereka, sebagai pasang halal yang terikat dalam sebuah hubungan suci.


__ADS_2