
”Lama sekali Hanum ke toilet, atau terjadi sesuatu dengannya?” pikir Bia melirik disekitarnya. Dan berpikir mencarinya, ia pun beranjak dari kursi menuju arah toilet. ”Hanum!” lirih Bia melihat Hanum lari menuju ares parkir.
”Apa ini yang ingin Bia katakan? Jika dia tahu sesuatu tentang Sultan.” ucap Hanum lari mengusap pipinya yang basah, meninggalkan tempat dimana tadi ia berdiri mendengar percakapan antara suaminya dan Zeevania.
"Hanum, tunggu!" teriak Bia lari mengejar langka cepat Hanum. Tapi Bia ingat sesuatu, jika tas Hanum tertinggal di kursi. Secepatnya Bia meraih tas yang Hanum tinggal, dan gadis itu sudah tidak ada di tempat parkir.
Hanum tiba di rumah ketika ibunya istirahat setelah makan siang dan minum obat. Lantas menemui Kendra setelah membersihkan diri, ditatapnya tubuh mungil itu yang tengah lelap. Entah perasaan apa yang saat ini tengah Hanum rasakan semakin hari kasih sayangnya semakin tumbuh dan tumbuh pada bayi yang tidak terlahir dari rahimnya. Tapi darahnya kini mengalir memberi kehidupan untuknya tumbuh dan sudah menunjukkan adanya perkembangan yang pesat.
Kendra mulai memahami Hanum, mungkin nalurinya kini telah menyatu sehingga Kendra lebih memahami ibu susunya.
"Sayang, mungkin sebentar lagi mama tidak akan bisa bertemu denganmu lagi. Entah sampai kontrak kerja mama sebagai ibu susu usai, atau sampai papamu menikahi gadis itu." ucap Hanum mengusap lembut pipi gembil Kendra. Hanum menangis seakan tidak ingin jauh dari putra sambungnya, diangkatnya tubuh Kendra yang sudah terlihat besar sesuai dengan bertambahnya usia Kendra yang sudah pandai berceloteh dengan bahasa khasnya dan itu hanya Hanum yang mengerti.
Kenapa hatiku harus sesakit ini Ya Tuhan perasaan apa ini? Seharusnya aku tidak perduli dia mau menikah lagi atau tidak. Toh dia pasti akan menceraikan ku terlebih Sultan sudah merencanakan pernikahannya dengan Zeevania.
Gumam Hanum sedih memikirkan. Bagaimana jika nanti ibunya tahu yang sebenarnya jika pernikahannya dengan Sultan hanya sebatas kontrak kerja. Hanum pun tertidur di samping Kendra hingga waktu hampir menjelang malam.
...***...
__ADS_1
”Mama! Sepertinya ada yang sedang mama pikirkan?” Sapa Zeevania tiba-tiba.
”Zeeva, kau sudah pulang sayang?” tanya mamanya tersenyum tipis.
”iya” jawab Zeevania singkat.
”Darimana saja kamu seharian ini, sayang?” tanya mamanya lagi.
”Zeeva bersama Sultan, membahas rencana pernikahan kita.” jawab Zeeva jujur.
”Sayang sebaiknya kau pikirkan lagi. Mama lihat Kendra sudah berada di tangan wanita yang tepat, Hanum wanita baik-baik. Dia sangat menyayangi Kendra cucu mama.”
"Zeeva, Sayang bukan itu maksud mama," sanggah Mayang.
”Aah... Sudahla, Ma. Sejak dulu mama nggak pernah respect dengan Zeeva, yang ada dalam pikiran mama cuma Fara, Fara, dan Fara. Mama nggak pernah sayang Zeeva.” tuduh Zeeva benci.
"Zeeva! Kau salah paham, Nak.” ujarnya meyakinkan.
__ADS_1
Lagi-lagi Sultan pulang terlambat dia lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor. Terkadang ia juga tidak pulang lebih memilih tidur di tempat kerja, dan itu membuat Hanum kesal. Ia mendapati suaminya pun pergi pagi-pagi sekali dan itu pun sebelum Hanum bangun hanya berpesan pada Farida, ibu mertuanya.
”Tuan Anda harus mengambil langkah cepat atau perusahaan ini akan benar-benar bangkrut. Dan Anda akan kehilangan semua aset.” ucap Sang asisten memberi saran.
Sultan terdiam sejenak sebelum memberi jawaban. ”Siapkan tiket untuk ku besok. Aku akan ke Swiss menemui seseorang.” titahnya lalu beranjak ke ruang operator. Meminta petugas untuk melihat semua aktifitas yang terekam kamera.
”Sekeras apapun kamu mencari sesuatu yang tidak kamu tahu, Sultan. Pada akhirnya kamu akan tetap memilih cara dengan menikahiku.” senyum licik Zeeva memandangi potret Sultan yang terpampang di layar ponselnya. Setelah memantau Apapun yang Sultan lakukan Zeeva segera menuju rumah kediaman Sultan untuk menunjukkan padanya jika dirinya lebih pantas merawat Kendra.
Hanum mengajak Kendra berjemur setelah makan pagi usai lalu memandikannya. Kedatangan Zeeva membuat semua orang dirumah berdecak kesal.
”Hanum biarkan Sultan bersamaku, Ingat Kendra adalah anak dari kakaku aku lebih berhak” ucap Zeeva merebut dari tangan Hanum.
”Tapi lihatlah Kendra masih menyusu. Kenapa kau merebutnya begitu saja?” Tanpa menghiraukan protes Hanum Zeeva segera membawa Kendra kedalam kamar. Takut ibunya mendengar perdebatannya dengan Zeeva. Hanum segera mendekati ibunya yang sudah mulai curiga.
”Hanum, untuk apa perempuan itu ada berada disini atau dia akan merebut semuanya drimu?” tanya Farida tidak suka.
”Sudahlah ibu yang terpenting saat ini adalah kesehatan ibu saja. Ibu tahu kan saat ini perusahaan suamin Hanum sedang dalam masalah?” ujar Hanum mengingatkan ibunya.
__ADS_1
”Maafkan ibu Hanum. Ibu tidak suka melihat caranya bicara yang tidak sopan itu.” Hanum mengajak ibunya ke kamar dan memintanya istirahat setelah memberinya jus buah yang digunakan mix dengan sayur.
____ Bersambung_____