
“Nak, Hanum tadi__“ pak Amir tidak jadi melanjutkan ucapnya melihat Hanum berjalan tergesa-gesa.
“HANUM!“ panggil Sultan marah dengan nadanya yang cukup tinggi.
“Kk__Kau sudah pulang?“ tanya Hanum kaget. Ia merasakan hawa tidak enak dalam tubuhnya juga dentuman keras di dadanya.
“Kenapa? Kau kaget melihatku ada di rumah?“ tuturnya berjalan mendekati Hanum yang sedang dalam ketakutan melihat ada kilatan amarah di wajah suaminya.
“Kau keluar dari rumahku tanpa seizinku, Hanum.“ ucapnya berjalan memutari tubuh semampai istrinya. Hanum seakan sulit menelan ludahnya. Wajahnya memanas adanya aura tidak yang tidak kondusif dari suaminya Sultan. “Ikut aku!“ titah Sultan menarik lengan Hanum menuju kamar pribadinya yang berada di lantai atas.
Aliya mendongak melihat majikan prianya menarik tangan Hanum dengan kasar menuju lantai dua.
“Rasain Loe, Hanum. Sultan pasti akan mengurung dia.“ senyum sinisnya kembali masuk kedalam, dimana Kendra tidur setelah minum susu murni yang Sultan pesan melalui toko online kepercayaannya.
“Maafkan aku. Aku hanya__“
“Kau hanya menemui pria itu, lalu menyerahkan yang kau miliki untuknya.“ sarkas Sultan penuh amarah.
“Apa yang kau katakan itu tidak benar.“
“Lalu bagaimana mana yang benar, Hanum? Coba katakan padaku aku ingin mendengar dari mulutmu!“ perintahnya. Hanum menelan ludahnya kasar dengan tatapan takut melihat suaminya berjalan semakin mendekatinya.
“Apa yang kau lakukan?“ tanya Hanum dengan dadanya yang berdebar kencang.
__ADS_1
“Aku sudah memberimu peringatan jangan membuat putraku menangis karena harus dan lapar. Apa yang sudah shdah kau lakukan hampir membahayakan nyawa putraku. TAPI APA KAU LAKUKAN, HANUM?“ teriak Sultan bentaknya dengan keras tepat di depan wajahnya. Hingga jatuh terduduk di tepi ranjang, Hanum memalingkan wajahnya takut menghindari kemarahan Sultan.
“Aku tidak melakukan apapun. Apalagi melakukan hal yang__“
“Tapi aku melihat dia menyentuhmu. Dan kau diam saja, kau justru menikmati momen itu bukan? Dan di rumah kau biarkan kerongkongan Kendra kering dan menangis kejar tanpa bisa diam.“ bentak Sultan lagi dengan marah yang lebih besar dari sebelumnya. Sultan melepaskan kancing kemejanya satu persatu dan melemparnya ke lantai dengan kasar.
Dapat Hanum lihat dengan jelas tubuh liat suaminya. Dada bidang kekarnya membentuk sempurna dengan bulu-bulu halus yang menambah kegagahan perawakan nya.
“Kau mau apa? Jangan!“ Hanum mengangkat kedua kakinya keatas ranjang duduk memundurkan diri menjauhi Sultan dengan tatapan buasnya yang siap menerkamnya hidup-hidup.
“Kau bertanya padaku mau apa? Kau lupa jika kau adalah istriku dan aku adalah suamimu. Di mata Tuhan kita adalah pasangan suami istri yang sah, tidak ada dosa diantara kita melakukannya.“ Sultan terus berjalan mendekat Hanum dengan kedua lututnya. Kini ia juga telah menurunkan rel sleting celana bahannya, dan itu membuat Hanum semakin takut dan tidak karuan dengan wajah merah padamnya. Sultan juga melempar celana bahannya ke sembarangan arah. Dan menyisakan celana boxer nya saja.
“Suami istri? Kau telah melupakan sesuatu, kau mengatakan agar aku tidak berharap lebih dari pernikahan ini. Dan setatus kita hanya sebatas sebuah catatan diatas kertas.“ bantah Hanum dengan mengumpulkan segala keberanianya berkata di hadapan Sultan.
“Disini aku yang memegang kendali, aku bisa merubah segala bentuk perjanjian itu menjadi lebih paten dan permanen serta mengikat hidupmu lebih lama lagi.“ sanggah Sultan mengunci tubuh ramping berisi istrinya.
Lagi-lagi tidak ada penolakan yang keluar dari mulutnya, bahkan hati dan tubuhnya menginginkan lebih. Hanya saja wanita lebih pandai menutupi hasratnya, rasa malu itu lebih besar dari keinginannya.
Sultan pun terpantik dalam kobaran hasrat yang dia ciptakan sendiri. Ketika hazel itu saling bertemu dalam penyatuan rasa yang sama-sama mereka mau.
“Aku tidak akan biarkan pria lain menyentuh kulitmu sejengkal saja. Tidak akan sekali kau ingat itu baik- baik.“ ancam Sultan mengatakan tepat di depan wajahnya.
Sebelum bangkit dari hadapan istrinya Sultan lebih dulu merapihkan dress Hanum, yang sudah ia koyak hingga meninggalkan robekan di dada dan kedua bahunya.
__ADS_1
Dan menutup dress yang tadi ia singkap, hingga terlihat paha mulusnya yang putih bersih. Deru nafas Hanum masih memburu dengan dadanya yang naik turun. Merasakan detakan jantungnya yang berdebar hebat mempompa aliran darahnya tiga kali lebih cepat.
“Aku tidak akan merampasnya darimu secara paksa. Jadi kau jaga kehormatan mu sebelum aku memintanya.“ ucap Sultan bangkit dari ranjang. Meraih pakaiannya dan keluar meninggalkan Hanum seorang diri di kamar.
Hanum yang masih tidak percaya akan sikap suaminya yang masih bisa menahan hasratnya meski sudah diatas ubun-ubun.
Di kamar mandi Sultan mengguyur kepalanya dengan air dingin menghilangkan hawa panas yang sempat ia tahan mati-matian sebab tidak mendapatkan apa yang si junior inginkan. Sebagai pria normal ia sangat menginginkannya, tapi ia tidak ingin melihat Hanum kecewa. Dan meruntuhkan kepercayaan istrinya dan menilai dirinya sebagai pria Berengsek dan memanfaatkan keadaan Hanum untuk kesenangan dirinya.
Ikut aku dan menikahlah dengan ku, Hanum. Aku tidak membiarkanmu hidup di jalanan, apalagi menjadi copet di jalan hanya untuk mencari makan. Aku akan menjamin hidupmu jadilah ibu pengganti dari putraku yang telah ditinggalkan ibu selamanya setelah melahirkan.
Sultan berdiri dibawah guyuran shower dan mengusap kepalanya yang basah seraya mengingat awal pertemuannya dengan Hanum sebelum dia menikahinya.
Ia mencoba menetralkan tubuhnya yang hampir meledak di bawah sana. Jika dia sedikit saja tidak bisa menahan luapan hasratnya yang bersarang di dadanya.
Hanum sendiri turun dari lantai dua menuju kamarnya di bawah. Dengan keadaannya yang berantakan akibat ulah suaminya. Ia masuk kedalam kamar mandi membersihkan diri sebelum mendekati Kendra dan menyusuinya.
Hanum menatap pantulan dirinya di depan cermin kamarnya, menyentuh bibirnya dengan jarinya. Mengingat kejadian yang terjadi 20 menit yang lalu di kamar atas. Ia melihat ada jejek merah di leher dan dadanya. Hanum menarik sudut bibirnya membentuk lengkungan senyum tipis lalu kembali menyisir rambut basahnya.
Hikk.... kkk Eee....!
Kendra menangis dan terbangun dari tidur lelapnya karena kerongkongannya yang kering.
“Sayang Kendra sudah bangun, Nak!“ Hanum mengangkat tubuh mungil Kendra lalu duduk dan memberinya asi bersandar di sandaran ranjang.
__ADS_1
Kendra menghisap ****** ibu susunya dengan kuat dan lahap hingga lidahnya membuat Hanum meringis menahan ngilu di sekitar aerolanya.
“Pelan-pelan sayang! Kau bisa tersedak. Maafkan mama, Nak. Mama sudah membuatmu lapar, tapi mama janji tidak akan mengulanginya lgi. Maafkan mama sayang!“ ucap Hanum lalu menciumi Kendra penuh cinta dan Kendra kembali tidur setelah Hanum membuat perut kecilnya kenyang.