
“Hanum!“ Pangil Sultan menarik lengan istrinya.
“Kau ada disini juga?“ Hanum bertanya seraya mengikuti langkah suaminya.
“Kenapa? Kau kaget melihatku ada disini?“ ketusnya melirik Hanum dan pria tadi yang duduk di depan istrinya. Yang masih terlihat tenang melihat Hanum bersama pria asing yang menurutnya adalah majikannya.
“Lepaskan tanganku!“ pinta Hanum memberontak.
“Lepaskan dia! Aku hanya mengajak Hanum ngobrol sebentar. Hanum, maaf aku sudah mengganggu pekerjaanmu. Dan katakan pada majikanmu itu, jika tadi kita tidak tidak sengaja bertemu.“ ucap Bia dan berlalu pergi meninggalkan kedai.
“Apa! Kau mengatakan jika aku adalah majikanmu? Apa kau tidak menghargaiku sebagai suamimu Hanum?“ Kali ini Hanum sedikit merasa takut melihat Sultan benar-benar marah dengannya.
“Aku tidak mengatakan apapun padanya, apalagi tentang hubungan kita. Mungkin dia berpikir jika aku bekerja denganmu dan kau adalah majikanku.“ ucap Hanum. Mengikuti langkah suaminya sambil mendorong troli menuju lobi. Sultan merogoh ponsel di saku celana bahannya mempercepat langkahnya.
~ Farhan kau boleh kembali ke kantor sekarang.
~ Baik, Pak.
Sultan memutus sambungan telepon pada supir kantornya.
Kenapa dia terlihat sangat marah? Memangnya apa salahku. Sebelum pergi aku bahkan sudah meminta izin darinya, dasar pria aneh!
Gumam Hanum heran akan sikap suaminya yang tiba-tiba menjadi sedikit posesif.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, mereka sama-sama diam di dalam mobil. Sultan melirik kearah Hanum dengan tatapan kesal, sebelum ia kembali mengungkapkan kekesalannya.
“Aku membayarmu untuk menjadi ibu susu putraku. Tapi kau malah bertemu dengan pria lain dengan alasan pergi belanja. Kau ini ibu macam apa?“ bentak Sultan menatap kearah Hanum yang sudah ketakutan. Sultan kembali melajukan mobilnya setelah lampu jalan berubah hijau.
“Aku sudah jelaskan padamu aku tidak sengaja bertemu dengan Bia. Dia adalah teman sekolahku dulu, aku meminta padanya untuk menyampaikan pesanku pada ibu. Jika aku baik-baik saja dan aku akan menemuinya di waktu yang tepat.“
“Aku tidak perduli siapa dia? Dan apa hubunganmu dengannya?“ ucap Sultan menarik lengan Hanum hingga tiada lagi mengikis jarak diantara mereka. Dan menimbulkan getaran di dadanya yang Sultan sendiri tidak tahu perasaan apa yang muncul secara tiba-tiba.
“Lalu kenapa kau begitu marah?“ Hanum mendorong dada suaminya yang membuat jantungnya tidak nyaman.
“Karena Kau___ Karena kau meninggalkan Kendra terlalu lama. Apa kau tidak berpikir putraku menangis karena haus dan lapar?“ kilah Sultan mencari alasan dan kesalahan Hanum tanpa alasan tepat.
“Aku bahkan baru meninggalkan Kendra 30 menit yang lalu. Dan Kendra tidak akan kelaparan atau haus karena aku sudah menaruh stok asi kedalam freezer cukup banyak.“ Sultan dibuat bungkam oleh pernyataan istrinya yang cukup masuk akal.
“Kau itu tidak hanya banyak bicara tapi kau juga keras kepala.“ lirik Sultan dengan tatapan matanya yang marah. Hanum terdiam menahan rasa kesal pada suaminya yang menurutnya sangat tidak adil.
Mobil Sultan berhenti tepat di depan pintu gerbang, pak Amir segera membuka pintu gerbang dan kembali menguncinya.
__ADS_1
“Pak Amir tolong keluarkan kantong belanjaan dalam bagasi!“ pinta Hanum dan masuk kedalam rumah.
“Bu Hanum sudah pulang? Cepat sekali belanjanya.“ tanya Aliya heran. Baru kali ini ada perempuan yang pergi ke mall kurang dari satu jam sudah kembali ke rumah.
“Ya.“ jawab Hanum sedikit ketus masuk ke kamarnya.
“Bu Hanum kenapa? Mukanya kesel begitu.“ lirih Aliya bertanya pada dirinya sendiri.
“Aliya dimana Kendra?“ tanya Sultan datar.
“Ada dikamar pak masih tidur.“ jawab Aliya menunjuk kamar dimana Kendra tidur. Tapi Hanum sudah ada didalam menggendong Kendra dalam dekapannya.
“Sayang kau sudah bangun, Nak? Maaf tadi mama pergi belanja sebentar meninggalkan mu, sayang. Apa tadi Kendra menangis saat mama pergi?“ bayi itu tertawa seolah mengerti apa yang mamanya tanyakan padanya.
Sultan berdiri di depan pintu kamar istrinya, melihat putranya dari balik pintu yang ia buka sedikit. Yang hanya terlihat punggung istrinya mendekap putranya sambil mengatakan keluhannya isi hatinya pada putranya. “Sayang kau tahu tadi papamu marah pada mama, dan mama tidak tahu kenapa papamu begitu marah? Dia juga sudah menuduh mama pergi dengan pria lain dengan alasan pergi belanja. Tapi sungguh mama tidak bohong, mana mungkin mama sengaja meninggalkanmu untuk menemui Bia. Padahal mama tidak sengaja bertemu dengannya, Sayang apa Kendra percaya pada mama?“ Lagi-lagi bayi mungil tak berdosa itu tersenyum pada Hanum. Sedikit mengeluarkan suara khasnya yang nampak begitu senang dalam dekapan hangat ibu susunya.
“Hanum benar-benar menyayangi Kendra. Meski dia tidak terlahir dari rahimnya yang hanya menjadi ibu susu baginya. Sepertinya aku harus minta maaf pada Hanum dia juga terlihat tidak sedang berbohong.“ belum sempat Sultan masuk kedalam. Ponselnya lebih dulu berdering dan membuat Hanum menolong ke belakang dan melihat punggung suaminya sudah bergerak meninggalkan pintu kamarnya dengan ponsel menempel di telinganya.
“Mau apa lagi dia? Sayang sebaiknya kita tidur karena mama sudah lelah menghadapi sikap papamu yang aneh itu.“ ucapnya sambil menutup rapat pintu kamarnya.
“Pak Amir buka pintu gerbangnya! Saya harus kembali ke kantor.“ perintah Sultan pada satpam yang menjaga keamanan rumahnya.
“Pak Sultan! Saya sudah buatkan kopi susu spesial untuk pak Sultan.“ seru Aliya menghentikan langkah majikannya.
Sultan hanya melirik Aliya yang berjalan mendekatinya. “Kau minum saja Saya tidak suka kopi susu.“ ujarnya memasukkan kembali ponsel kedalam saku jasnya.
“Semakin kau jual mahal. Aliya jadi semakin penasaran, kau lihat saja nanti pak Sultan.“ Aliya menarik ujung bibirnya menyunggingkan senyum tipis seraya menyerutup kopi panas di tangannya.
Pak Amir menutup pintu gerbang sambil melihat kearah Aliya. Dengan sikapnya yang menurutnya terlihat sedikit aneh pada Sultan.p
“Baby sitter itu aneh sekali terhadap pak Sultan. Apa cuma perasaanku saja, Astaghfirullahalazim kenapa aku jadi su'udzon gini?“ Pak Amir segera menepis dugaannya yang berfikir tidak baik pada perawat baby Kendra.
*
*
Dikontrakan tempat Farida dan Mirna tinggal terdengar sedikit kisruh. Yang sedang memperdebatkan masalah Hanum yang kabur dari rumah, karena menolak tidak ingin dinikahkan dengan juragan Hartoyo. Pemilik kebun dimana dulu Farida dan suaminya bekerja mengais rezeki dari sisa hasil kebun yang mereka garap.
“Kalo aja anak kamu yang keras kepala itu enggak kabur mba dan mau menikah dengan juragan Hartoyo. Hidup kita tidak akan sengsara seperti ini, buat makan aja kita susah apalagi buat membeli obatmu mba. Harusnya waktu itu mba paksa Hanum buat nikah sama juragan, ini semua gara-gara anak kamu itu mba hidup kita jadi seperti ini.“ ucap Mirna marah menyalahkan kakak dan keponakannya.
“Mirna, maafkan mba. Tapi ini semua bukan salah Hanum, dia tidak ada sangkut pautnya dengan semua yang terjadi. Ini adalah takdir dari Tuhan yang harus kita terima dengan lapang dada, Mirna.“ tutur Farida menekan dadanya yang sesak karena batuk.
__ADS_1
“ Iya tapi aku yang kena imbasnya. Lagian kenapa sih mba pake lumpuh segala bikin aku tambah susah aja.“ umpat Mirna semakin kesal dan benci pada kakaknya yang menurutnya tidak berguna.
“Assalamu'alaikum, bu Farida!“ Panggil Bia dari luar.
“Waalaikumsalam,“ jawab Farida memaju mundurkan kursi rodanya menuju pintu.
“Bu Farida, apa kabar?“ sapa Bia pada ibu Hanum.
“Bia! Benar ini Bia anak pak Danu?“ tanya Farida memastikan. Farida sempat tidak percaya melihat ada banyak perubahan dari diri Bia.
“Benar bu Farida. Saya Bia anak pak Danu.“ umar Bia meraih punggung tangan Farida dan menciumnya dengan takzim.
“Alhamdulillah kabar ibu Baik, Nak. Nak Bia sendiri apa kabar sekarang tinggal dimana?“ tanya Farida lagi dengan terbatuk-batuk.
“Bu Farida, sakit? Biar Saya antar ibu ke rumah sakit.“ Bia menawarkan diri untuk mengantar ibu dari gadis yang ia taksir sejak duduk di bangku SMA dulu.
“Tidak perlu nak Bia. Hanya batuk nanti juga sembuh setelah ibu min obat.“ tolak Farida tidak ingin merepotkan orang lain.
“Obat darimana? Makan aja susah mau minum obat!“ ucap Mirna tiba-tiba dari dalam dengan melipat tangan di dadanya.
“Bi Mirna!“ bentak Bia pada Mirna yang bicara kasar dan tidak sopan pada kakaknya.
“Kenapa mau marah?“ tanya Mirna denan nada sinis.
“Bu Farida ini ada sedikit uang untuk ibu berobat. Tolong diterima.“ pinta Bia memaksa.
“Tidak, Nak Bia. Ibu tidak bisa menerimanya begitu saja.“ tolak Farida mendorong uang dari tangan Bia. Sedangkan Mirna melirik uang itu dan berharap Farida mau menerimanya.
“Tolong diterima bu, ini adalah rezeki dari Tuhan buat ibu. Saya mohon.“ ujar Bia memohon agar Farida mau menerimanya. Akhirnya Farida mau menerima uang pemberian Bia setelah berhasil membujuknya.
“Terima kasih, Nak Bia. Semoga Tuhan membalas kebaikan Nak Bia.“ Bia tersenyum lega sekaligus iba melihat keadaan ibu Hanum yang sangat miris.
Kasihan sekali kamu Hanum, tidak seharusnya kamu dan ibumu menderita seperti ini. Aku akan pastikan ibumu baik-baik saja Hanum, agar kamu bisa bekerja lebih tenang.
Kata Bia dalam hatinya meraih tangan wanita paruh baya itu, yang mulai di penuhi guratan garis halus di tangannya.
“Sama-sama bu Farida. Saya permisi lain kali Saya akan datang kesini lagi.“ Farida mengangguk mengusap kedua pipinya yang basah. Bia pun pergi memutar arah motornya meninggalkan kontrakan ibu Hanum.
“Mirna! Apa yang kamu lakukan?“
🌺Bersambung_____
__ADS_1