Terjebak Status Palsu

Terjebak Status Palsu
Kepulangan Sultan


__ADS_3

Di dalam taxi Farida hanya bisa menangis tidak tahu harus bersikap bagaimana pada putri satu-satunya. Ia menatap kedua kaki palsunya dengan tatapan pias, ia menangis antara tidak tega dan rasa sesal. Karena telah berkata kasar dan menamparnya.


Supir taxi melirik wanita paruh baya itu melalui kaca spion di depannya. Tidak tahu harus membawa penumpangnya kemana, sebab wanita itu masih menangis dengan pandangan ke arah luar jendela mobil tanpa berani bertanya.


Taxi pun berhenti tepat saat lampu lalulintas berwarna merah, supir itu akhirnya memberanikan diri bertanya pada penumpangnya yang terlihat sedikit lebih tenang.


"Maaf, Bu. Kita mau kemana?" tanya supir taxi, membuat Farida menoleh pada supir taxi.


"Ke Jalan Nusa indah nomor tiga, Pak." jawab Farida seraya mengusap bulir bening di pipinya.


"Baik, Bu." ucap supir itu. Farida menyandarkan kepalanya yang terasa berat di sandaran kursi penumpang. Memejamkan kedua matanya sejenak melupakan masalah yang tengah dialaminya beberapa menit lalu.


Maafkan ibu, Hanum. Ibu terpaksa melakukan itu padamu, tapi hanya itu satu-satunya cara yang bisa ibu lakukan agar perempuan itu tidak menyakitimu. Kau telah mengambil keputusan sejauh itu, dan mengorbankan masa mudamu yang seharusnya bahagia bersama teman seusiamu. Kau melakukannya bukan tanpa maksud, kau pasti sudah memikirkan semuanya sebelum mengambil keputusan.


Gumam Farida pada hatinya berusaha berpikir positif pada Hanum, putrinya dan menepis pikiran buruk yang ada di kepalanya. Farida lebih memilih pergi meninggalkan Hanum untuk sementara, karena yang putrinya butuhkan saat ini adalah keleluasaan waktu untuk mereka bicara dan menyelesaikan masalah mereka dengan cara dewasa.


Flash back off,


Kendra merengek menangis di jam tidurnya setelah minum susu yang telah Farida hangatkan sebelumnya. Kendra pun tertidur pulas setelah menepuk-nepuk lembut pantatnya. Farida lalu meraih botol susu itu yang telah kosong untuk dibawanya ke tempat pencucian, tapi ada sesuatu yang membuat langkah Farida terhenti di sebuah meja kecil yang terdapat di sudut ruangan.


Sebuah map cokelat yang tergelat begitu saja diatas meja. Ia berpikir jika putrinya telah melakukan kecerobohan menaruh benda penting sembarangan.


"Itu seperti map? pikir Farida meletakkan botol kosongnya. Lalu meraih amplop bermotif warna coklat tersebut,dan membukanya mana tahu itu adalah map penting milik menantunya. Yang Hanum lupa taruh kembali ditempatnya sebab Sultan sempat menelpon Hanum sebelum putrinya pamit belanja.

__ADS_1


"Anak itu ceroboh sekali, tidak menyimpan surat penting pada tempatnya kembali." gerutu wanita bergelar nenek itu membaca isi map. Betapa tidak percayanya ia setelah melihat dan membaca isi dari map penting menurutnya itu.


Jadi Kendra adalah anak adopsi? Bukan anak kandung Sultan dan Hanum? Pantas saja wajah anak itu sama sekali tidak mirip Sultan maupun Hanum.


Ucap Farida pada hatinya. Sontak ia pun menangis, Farida merasa putrinya telah berani berbohong padanya begitu juga Sultan suami dari putrinya. Mereka sekongkol melakukan kebohongan berapa teganya mereka melakukan semua itu padanya. Apa mereka tidak berpikir siapa yang sedang mereka bohongi? Farida menarik nafasnya dalam dan melepasnya perlahan bersamaan dengan bulir bening dimatanya.


"Oh, jadi ibu Farida sudah tahu yang sebenarnya siapa itu Kendra? Aku punya satu hadiah lagi untuk ibu Farida," Zeevania tersenyum licik menyerahkan selembar kertas pada wanita dihadapannya. Farida pun menerima kertas dari tangan Zeevania, menatap gadis itu sekilas tatapannya kembali tertuju pada kertas ditangannya lalu mulai membacanya.


Ya Tuhan! Apa yang kulihat ini? Jadi Hanum dan Sultan hanya menikah kontrak? Berani sekali mereka bermain-main dengan sebuah pernikahan. Janji suci yang saling mereka ikrarkan dihadapkan Tuhan, mereka jadikan sebuah lelucon? Ibu tidak menyangka kalian tega membohongi ibu.


Keluh Farida membatin pada anak, dan menantunya. Baginya pernikahan adalah sebuah ikatan suci yang menyatukan dua hati dalam bentuk cinta. Dan didalamnya pun melibatkan kedua belah pihak keluarga untuk saling memberikan do'a dan restunya. Tapi mereka telah berani bermain-main dalam sebuah hubungan. Farida merasa putrinya telah lancang dalam mengambil keputusan, tanpa memikirkan bagaimana perasaannya hatinya. Atau Hanum tidak pernah menganggap ibunya masih ada, hingga tidak berkata jujur padanya.


"Bagaimana ibu Farida dengan kejutan ini? Kau tidak ingin bertanya siapa aku dan kenapa aku bisa keluar masuk disini dengan bebas?"cecar Zeevania berapi-api. Farida masih diam menatap Zeevania, dan melempar pandangannya pada objek lain karena muak melihat perempuan licik didepannya.


"Tapi aku adalah adik dari ibu kandung Kendra, Wanita yang sangat Sultan cintai hanyalah Zeevara, kakaku yang meninggal setelah melahirkan putranya. Jika Sultan tidak mencintai kakakku, mana mungkin pria seperti Sultan mau bersusah payah merawat Kendra yang jelas bukan darah dagingnya. Karena kakaku hamil dengan kekasihnya sebelum Sultan melamarnya, kekasihnya itu pergi tanpa bertanggungjawab padanya." papar Zeevania memberitahu siapa Kendra dan kenapa Sultan mengadopsinya.


"Lalu apa kau berpikir akan merebut mereka." tanya Farida.


"Bukan merebut lebih tepatnya mengambil posisiku yang seharusnya. Tapi anakmu telah mengambil posisi itu dariku, lagipula mereka menikah tanpa cinta. Sultan hanya memanfaatkan Hanum, sebagai ibu susu untuk putranya agar bisa bertahan hidup. Dan menjajikan sejumblah uang yang nilainya tidak main-main."


Flashback On,


Pesawat yang Sultan tumpangi mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Ia pun dijemput oleh asisten pribadinya menuju kediamannya, rumah yang hampir 5 bulan Sultan tempati bersama Hanum dan ibunya setelah dia menemukan dan menolong ibu mertuanya yang saat itu mengalami sakit yang cukup serius.

__ADS_1


Dimobil Sultan nampak marah mengepalkan kedua tangannya keras, mengetatkan rahangnya hingga membentuk guratan wajahnya yang sangat tidak bersahabat. Setelah membuka dan melihat kirimkan vidio yang Zeevania kirimkan untuknya melalui pesan whatsapp beberapa jam yang lalu.


"Aku sendiri tidak tahu, jawaban apa yang akan kuberikan nanti."


"Katakan Hanum apa yang membuatmu menangis?"


"Ak__ Ak__ Aku. Aku hamil."


Hanya kata-kata itu yang Sultan ingat dalam kepalanya yang ingin meledakkan rasa marah yang sudah ia tahan mati-matian.


Kedua matanya membulat tajam dan memerah seolah ingin menelan manusia hidup-hidup. Asisten pribadinya hanya berani melirik atasannya melalui kaca spion di depannya bertanya-tanya pada hatinya. Ada masalah serius apa lagi hingga membuatnya wajahnya seperti monster menyeramkan. Batinnya tanpa berani bertanya, hanya matanya saja yang fokusnya terbagi antara boss-nya dan jalanan didepannya.


"Menyetirlah dengan benar atau aku yang harus turun tangan?" protes Sultan memperingatkan asistennya.


"Bb__Baik, Pak. Maaf!" ucap Sang asisten terbatas. merasa telah tertangkap basah karena ketahuan memperhatikan atasannya diam-diam.


Pak Amir segera membuka pintu gerbang lebar-lebar, setelah melihat mobil atasannya berada didepan pintu gerbang. Dan kembali menutupnya setelah Sultan melangkah masuk kedalam, meminta asisten kembali ke kantor. Untuk memberitahukan pada orang kantor jika atasan mereka sudah kembali dari Swiss.


"Kau sudah pulang!" sapa Hanum berjalan cepat menghampiri suaminya.


_____Bersambung____


Tunggu bab selanjutnya ya! Dukung terus karyaku jangan lupa tinggalkan jejaknya, Terima kasih. 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2