
Malam semakin larut Sultan belum juga sampai rumah, pintu gerbang pun masih tertutup rapat sejak sore tadi. Makanan sudah dua kali dipanaskan berkali-kali Hanum melirik jam dinding di kamarnya.
Sesekali ia membuka tirai jendela kamarnya untuk melihat siapa tahu mobil suaminya memasuki halaman. Tapi yang ditunggu masih belum menunjukkan tanda-tanda dirinya akan pulang, ponselnya pun masih setia diatas nakas tanpa ada notifikasi apapun yangmasuk.
“Sebenarnya dia pergi kemana sampai selarut ini?“ tanya Hanum dalam hatinya resah.
“Hanum kamu belum tidur, Nak?“ tanya Farida memutar kursi roda menghampiri putrinya.
“kamu pasti khwatir, menunggu suami mu pulang.“ ujarnya memberi senyum tipis pada Hanum. Hanum menoleh menatap ibunya dengan wajah gusarnya.
“Tidak biasanya mas Sultan pulang selarut ini, Bu. Aku khawatir jika terjadi sesuatu padanya.“ ucap Hanum melangkah didepan ibunya lalu kembali berjalan melirik kearah jendela.
“Kamu seperti ini karena kamu mencintai suami, Sayang!“ Hanum menghentikan gerakan kakinya yang mondar-mandiri bagai setrika listrik.
Cinta? Apa benar yang ibu katakan tadi? Aku cinta pada pria cuek seperti dia? Tapi kenapa aku se-gelisah ini memikirkan dirinya?
“Hanum!’’ tegur Farida memecah hening.
“Ibu,“ jawab Hanum canggung.
“Cinta bisa merubah seseorang, yang tadinya tidak peduli menjadi lebih perhatian. Cinta juga bisa merampas tidur nyenyak mu seperti saat ini. Jika berada di samping orang yang kita cinta jantung ini tidak berhenti berdebar. Dan dia juga bisa membuat orang yang jatuh cinta terlihat bodoh, tapi__“ Farida menjeda ucapannya.
__ADS_1
“Tapi apa, Bu?“ tanya Hanum tidak sabar, menuntut jawaban ibunya.
“Tapi cinta juga bisa membuat hati terluka, kecewa, marah dan menangis.“ jawab Farida hati-hati, dengan suaranya yang melemah. Mengingat adiknya Mirna juga mencintai suaminya jauh sebelum Tria menikahi dirinya. Hingga memutuskan untuk tidak menikah selamanya dan memilih menjadi perawan tua.
“Kenapa, Bu? Jelaskan pada Hanum!“ tuntut Hanum seakan meminta jawaban ibunya. Tapi tiba-tiba suara ketukan pintu yang keras dari pintu depan. Membuyarkan keduanya dan harus menunda obrolan mereka, berjalan membuka pintu ganda itu.
“Mas Sultan!“ pekik Hanum melihat kondisi suaminya dalam keadaan mabuk.
“Nggak usah kaget! Mending kamu siapin baju ganti buat Sultan.“ perintah Zeevania memapah tubuh lemah Sultan kedalam.
“Hanum siapa perempuan itu? Kenapa harus dia yang membawa suamimu?“ tanya Farida mengikuti langkah Hanum kedalam kamar. Hanum masuk dengan langkahnya yang terburu-buru menuju lemari pakaian.
“Hanum tidak tahu ibu, tapi sepertinya perempuan itu sangat mengenal mas Sultan lebih dari yang aku tahu.“ jawab Hanum apa adanya.
“Kau adalah istrinya, Kau lebih berhak atas suamimu, Hanum. suamimu adalah kewajiban mu, bukan perempuan asing itu. Jika kau biarkan itu terjadi, itu sama saja kau membiarkan duri menancap di dalam rumah tanggamu.“ Hanum yang masih belum banyak tahu, tentang bagaimana menjalankan rumah tangga yang seharusnya. Hanya bisa mendengar nasihat ibunya yang dianggapnya sebuah pelajaran baru dalam rumah tangga yang harus dijalaninya.
“Aku akan lakukan demi keutuhan rumah tanggaku, Ibu.“ Farida mengangguk memberi senyum semangat pada Hanum. Untuk melakukan apa yang seharusnya Hanum lakukan pada suaminya.
“Lama sekali mengambil pakaian saja!“ bentak Zeevania melirik Hanum.
“Tinggalkan suamiku dan pergilah!“ ucap Hanum memerintahnya pergi. “Apa kau tidak malu dengan perbuatanmu ini. Kau bagiku hanya orang asing yang masuk kedalam kehidupan kami. Dan disini kau tidak ada hak, Apa perlu aku jelaskan lagi kepadamu? Disini kau hanya orang asing. Pergi!“ usir Hanum sekali lagi. Zeevania melangkahkan kakinya menarik ujung bibirnya dengan senyum mengejek.
__ADS_1
“Kau itu cuma istri kontrak. Setelah masa kontrakmu habis, kau tidak lebih dari sebuah sampah yang harus di buang di tempat yang seharusnya. Kau hanya bekerja sebagai ibu susu dari anak almarhum kakakku Zeevara.“ ucap perempuan itu dengan senyum mengejek. Mengeja nama kakaknya, gadis yang orangtuanya angkat sebagai putri mereka.
Untuk kali ini Zeevania mengalah, dia pun keluar dari kamar dimana Sultan sudah tertidur karena terlalu banyak minum. Di tutupnya rapat pintu kamar Hanum segera mengganti pakaian kerja suaminya dengan piyama.
Setelah berhasil melepas pakaian kotornya, dan menggantinya dengan yang lebih santai. Hanum menatap mengamati tiap inci wajah tampan suaminya. Di usianya yang matang pria berwajah Jawa-Arab itu semakin berkharisma di matanya.
Disentuhnya pipi suaminya yang di tumbuhan bulu-bulu halus di sekitar rahangnya. Alis tebal, hidung mancung dan bibir sensualnya, tiap kali dia memagut bibir mungil istrinya dengan segala sensasi di setiap permainannya.
“Apa benar yang ibu katakan? Aku cinta padamu?“ tanya Hanum. Seolah ia sedang bertanya pada Sultan dalam keadaan sadar.
“Tapi aku takut jika cinta itu pun bisa melukai ku. Seperti apa yang ibu katakan.“ Hanum pun teringat akan ucapan Zeevania yang mengatakan jika dirinya hanyalah istri kontrak.
Kau itu cuma istri kontrak. Setelah masa kontrakmu habis, kau tidak lebih dari sebuah sampah yang harus di buang di tempat yang seharusnya. Kau hanya bekerja sebagai ibu susu dari anak almarhum kakakku Zeevara.
“Bagaimana jika yang perempuan tadi katakan benar. Dia akan menceraikan ku setelah kontrak ku selesai. Dan bagaimana jika ibu tahu, jika aku hanya menikah karena sebuah perjanjian kontrak? Ibu pasti syok bahwa Kendra bukan anakku, tapi aku hanya ibu susu yang dibayar atas perjanjian selama tiga tahun.“ ucap Hanum lirih. Tanpa sadar air matanya jatuh begitu saja mengenai pipi Sultan. Hingga menciptakan gerakan kecil tubuhnya karena basah di pipinya.
“Fara!“ cicitnya tanpa sadar. Sultan memanggil nama almarhum mantan tunangannya.
“Fara? jadi hingga sampai saat ini di hatimu hanya ada nama mamanya Kendra?“ Hatinya seakan pedih seperti ada duri tajam yang menancap dihatinya.
“Ibu!“ panggil Hanum dalam isaknya
__ADS_1
Bersambung___