
Setelah kejadian siang itu Sultan menghabiskan waktunya berada di ruang kerja. Melanjutkan pekerjaannya yang tertunda, setelah melakukan meeting di luar kantor bersama rekan kerjanya.
Melihat istrinya berada di luar rumah tanpa izin darinya, membuat Sultan marah di tambah lagi dia harus melihat Hanum bersama pria lain. Laki-laki yang sempat dia lihat saat Hanum izin pergi untuk belanja kebutuhan rumah dan kendra.
Mendengar notifikasi pesan whatsapp Sultan menutup layar laptopnya. Dan beralih menggeser layar ponselnya membuka pesan singkat dari asisten pribadinya.
~ Untuk acara undangan makan malam nanti, saya jemput atau pak Sultan berangkat sendiri?
“Aku hampir saja lupa jika ada acara undangan makan malam bersama Tuan Felix,“ gumam Sultan pada dirinya. Yang hampir saja melupakan acara makan malam dari kolega bisnisnya.
~ Aku akan berangkat sendiri malam nanti bersama istriku.
Balas Sultan pada asistennya. Ia segera keluar dari ruangannya, tanpa terasa waktu sudah menjelang malam azan mahgrib pun berkumandang. Melihat suaminya menutup pintu ruang kerjanya. Hanum membawakan secangkir kopi untuk Sultan dan meletakkannya di meja tamu.
“Aku sudah buatkan kopi untukmu.“ ucap Hanum sedikit gugup.
“Terima kasih, aku akan meminumnya nanti.“ balas Sultan melangkahkan kakinya menuju kamar.
Hanum meraih lengan suaminya menghentikan langkahnya. Sultan menoleh melirik tangan istrinya sekilas lalu menatap wajah Hanum yang nampak kaku.
“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.“ ucap Hanum.
“Jika kau hanya ingin menjelaskan hubunganmu dengan pria itu. Aku tidak berminat sebaiknya kau kembali ke kamarmu. Bersiaplah kita akan pergi keluar makan malam.“ titahnya dengan sikapnya yang datar.
“Aku hanya ingin minta maaf. Aku pikir kita perlu meluruskan kesalahan pahaman ini.“ ujarnya tanpa berani menatap wajah suaminya. Sultan menarik ujung bibirnya melirik Hanum sekilas dan melempar pandangannya pada benda mati di sekitarnya.
“Maaf? Aku selalu menerima maaf dari orang tidak dengan tanpa syarat.“ Hanum mengernyitkan dahinya tidak mengerti akan ucapan suaminya.
“Maksudnya?“ tanya Hanum menyipitkan kedua matanya.
“Karena aku bukan tipe orang yang dengan mudahnya menerima maaf begitu saja.“ ucapnya berlalu dari hadapan Hanum.
“Dasar pria aneh! Aku tidak mengerti pada jalan pikirannya. Minta maaf saja salah.“ gerutunya berdumel kesal pada dirinya sendiri.
Hanum meminta Aliya untuk menjaga Kendra lagi, karena Sultan akan mengajaknya keluar pergi makan malam bersama.
“Aliya saya minta kamu jaga Kendra baik-baik. Karena saya tidak akan biarkan siapapun menyakiti putraku.“
__ADS_1
“Baik, pak.“ jawab Aliya cepat.
“Hanum! Apa kau sudah siap?“ panggil Sultan untuk segera keluar.
“Ya. Aku sudah siap, mas.“ jawab Hanum dengan senyum manisnya.
Sultan tertegun melihat penampilan istrinya yang cantik luar biasa. Dengan balutan gaun indahnya yang Sultan pilih untuknya.
Hanum kau memang sungguh cantik. Aku bahkan merasa bangga jika aku bisa membawamu kedalam acara perusahaan.
Guma Sultan pada hatinya. Mengagumimu sosok wanita yang tidak lain adalah istrinya sendiri.
“Mas! Mas Sultan!“ tegur Hanum melambaikan tanganya di depan wajah suaminya.
“Kita berangkat sekarang!“ jawabnya terbata.“ meraih telapak tangan suaminya.
Sultan membuka pintu mobil dan masuk setelah Hanum duduk di kursi penumpang di sampingnya. Ia mulai memutar kunci mobil, dan menyalakan mesin kemudi. Pak Amir membuka pintu gerbang untuk mereka keluar.
Di mobil Hanum melirik suaminya yang fokus pada mesin kemudi. Sultan yang sudah tahu istrinya sejak tadi melirik kearahnya hanya diam dengan sikapnya yang dingin.
“Jika hanya mengatakan hal yang tidak penting sebaiknya kau simpan saja.“ ucap Sultan to the point.
“Ibu?! Jadi kau masih memiliki seorang ibu?“ tanya Sultan kaget. Ia terpaksa menepikan mobilnya mendengar penjelasan Hanum.
“Ya aku sangat merindukan ibu. Bia mengatakan jika ibu pingsan jatuh dari kursi roda, dokter mengatakan ini ibu mengalami infeksi paru-paru dan harus mendapatkan perawatan.“ jelas Hanum jujur pada suaminya. Keinginannya untuk meluruskan kesalah pahaman pada suaminya terjawab sudah.
“Jika kau masih memiliki ibu lalu kenapa dulu kau hidup di jalanan dan menjadi copet?“ tanya Sultan semakin tidak mengerti.
“Itu semua terjadi diluar keinginanku. Dan aku terpaksa melakukannya, ibu memaksaku untuk kabur dari rumah. Karena tante Mirna selalu memaksaku untuk menikah dengan juragan Hartoyo sebagai istri mudanya. Karena juragan adalah pemilik kebun tempat ibu dan almarhum ayah dulu bekerja.“ Hanum menangis menjelaskan semua tentang hidupnya, sebelum bertemu Sultan dan menikahinya.
Sultan menarik tangan Hanum mendekap tubuhnya yang bergetar menahan isak tangisnya. “Besok kita jenguk ibumu di rumah sakit.“ Sultan meraih tisu dalam dasbor mengusap air mata istrinya dengan lembut.
"Maaf sudah membuat mu menangis.“ Angguk Hanum.
Sultan kembali menyalakan mesin kemudi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju gedung hotel sebagai tempat tujuannya.
Setibanya di lobi hotel Sultan memarkirkan mobilnya, dan masuk kedalam setelah menunjukkan kartu sebagai bukti resmi sebagai tamu undangan.
__ADS_1
“Selamat datang pak Sultan! Terima kasih sudah menyempatkan diri datang ke acara.“ Sapa Felix menyambut kedatangan Sultan sebagai tamu VIP nya. Seraya melirik wanita cantik yang berdiri tepat disampingnya.
“Sama-sama tuan Felix.“
“Istri pak Sultan sungguh sangat cantik sekali.“ puji Felix mengagumimu tanpa bisa melepaskan pandangan matanya.
“Terima kasih, Tuan Felix. Tapi maaf saya harus mencari meja lain. Karena saya tidak suka ada pria lain yang mengganggu istri saya lewat tatapan matanya.“ ucap Sultan melingkarkan tangannya dipinggang istrinya posesif.
Sultan mengajak istrinya duduk dan mengambilkan piring dan mengisinya dengan sepotong daging steak lalu memotongnya dengan ukuran kecil memudahkan Hanum memakannya tanpa susah payah.
“Terima kasih, mas.“ ucap Hanum meraih piringnya.
“Sultan Bachtiar Zoelva?! Zoel! Apa aku tidak salah orang?“ tegur seorang wanita cantik bak foto model.
“Zeevania! Hai apa kabar?“ sapa Sultan lagi setelah beberapa detik mengingat adik dari almarhum mantan tunangannya.
“Kau masih mengingatku dengan baik. Boleh aku bergabung?“ tanya zee lagi.
“Tentu saja. Silakan!“ Zee melirik wanita di sebelah Sultan yang masih tenang menikmati steak nya.
“Zeevania! Kenalkan dia adalah istriku namanya Hanum.“ ucap Sultan memperkenalkan istrinya. Hanum tersenyum tipis pada zeevania dan mengulurkan tangan kearah Zeevania memperkenalkan dirinya tapi sepertinya wanita cantik di depannya enggan menerima uluran tangan dari Hanum.
“Sayang, duduklah!“ pinta Sultan meraih telapak tangan istrinya.
“Jadi kau sudah menikah. Setelah kepergian kakak ku?“ tanya zee sedikit ada rasa kecewa.
“Benar aku sudah menikah demi putra yang Fara lahirkan.“ jawab Sultan apa adanya.
“Kapan kau kembali dari Ausie?“ tanya Sultan pada zee.
“Dua minggu yang lalu. Aku bahkan tidak bisa melihat hari terakhir kakaku di kebumikan.“ keluhnya membuang nafasnya kasar.
Sultan dan Zeevania pun berbincang seputar pekerjaannya dan kisah tragis yang menimpa Fara. Hanum yang sejak tadi sudah merasa bosan duduk manis menjadi pendengar yang baik untuk mereka hanya menghela nafasnya pasrah.
Sedang di rumah Aliya sibuk mencari sesuatu di kamar Hanum. Tanpa sengaja Pak Amir melihat Aliya membuang semua susu yang ada di dalam botol yang seharusnya di simpan kedalam freezer. Dengan cepat pak Amir merekam perbuatan Aliya yang telah mengganti asi dengan susu rencenga dari merk biasa dengan kualitas rendah.
“Kali ini Kendra bakalan diare dan masuk rumah sakit. Karena akan menyangka susu asi dari Hanum tidak lagi sehat.“ ucapnya tertawa dengan senyum licik. Setelah berhasil merekam perbuatan jahat Aliya pak Amir keluar setelah mengambil sebotol air mineral di dalam kardus. Tanpa sengaja pak Amir menyenggol kalender diatas meja sudut ruangan Aliya pun kaget.
__ADS_1
“Siapa?“ panggil Aliya sedikit keras.
“Saya mba Aliya pak Amir. Ambil air minum.“ jawab pak Amir lalu keluar kembali ke pos jaga.