Terjebak Status Palsu

Terjebak Status Palsu
Membawa Ke Rumah Sakit


__ADS_3

”Zeeva! Ada hal penting apa hingga membuatmu ada di kantorku?” tanya Sultan mengambil posisi duduk di kursi kebesarannya.


Gadis itu tersenyum menatap pria dihadapannya. ”Aku berniat ingin datang menjenguk keponakanku. Tapi aku tidak tahu dimana rumah baru mu. Aku meminta pada orang kantormu, mereka bilang tidak berani memberikan apapun yang berhubungan dengan pribadi atasannya. Orang-orang mu memang sungguh sangat kolot sekali Sultan.”


”Itu artinya mereka bertanggungjawab jawab penuh pada tugasnya.” balas Sultan.


“Oke! Kapan aku bisa menemui Kepnakanku Kendra?“ tanya Zeevania antusias.


“Ka bisa menemuinya__’’ belum sempat Sultan melanjutkan ucapannya ponselnya lebih dulu berdering menjeda obrolan mereka.


~ Halo pak Kendra Kendra sakit badannya panas


~ Apa!


Sultan terkejut mendengar kabar putranya tiba-tiba sakit, dan memberitahu sekertarisnya melalui panggilan interkom.


“Susan, beritahu Harits untuk mewakiliku di acara meeting hari ini kau siapkan semua presentasinya.“


“Baik, Pak.


“Ada apa Sultan? Kenapa kau tiba-tiba menjadi panik seperti ini?“ Zeevania bertanya ingin tahu apa yang terjadi.


“Kendra sakit. Aku akan membawanya ke rumah sakit.“ ucap Sultan tergesa-gesa.


“Aku ikut dengan mu.“ Zeevania menyambar tasnya mengikuti langkah cepat pria di depannya menuju lobi kantor.


Sultan melajukan kemudinya dengan kecepatan sedang. Mengoperasikan mesin kemudi sedikit tidak sabar, ditambah jalanan macet karena ada insiden kecil yang sedang poltas tangani.


Melihat sikap Sultan yang tengah panik. Zeevania menggunakan kesempatan itu untuk mendekati mantan calon kakak iparnya.


“Sultan, tenanglah tidak akan terjadi apapun pada Kendra. Kau tenangkan dulu dirimu.“ kata Zeevania menyentuh bahu Sultan tanpa ragu.


“Aku tidak bisa tenang sebelum tahu bagaimana keadaan Kendra.“ ujarnya yang tetap fokus pada jalanan di depannya.


Setibanya di depan pintu gerbang pak Amir segera membuka pintu besi tinggi itu, dan kembali menutupnya setelah mobil majikannya masuk kedalam.


“Kendra!“ Panggil Sultan cepat. Mendengar panggilan majikan prianya, Aliya segera keluar membawa Kendra dalam dekapannya.


“Pak Sultan, Kend___“ panggl Aliya dengan wajah kecewa melirik ada wanita cantik di sisi kanan Sultan.


“Kenapa Kendra bisa sakit? Dimana ibunya?“ tanya Sultan meraih tubuh Kendra yang panas.


“Bukannya bu Hanum tadi pergi sama bapak.“ ucap Aliya bingung akan pertanyaan majikannya.

__ADS_1


“Jadi Hanum belum sampai di rumah?“ Sultan kembali bertanya pada babby sitter putranya. Aliya menggelengkan kepalanya ringan dengan tatapan heran.


Jadi kau benar-benar pergi bersama pria brengsek itu, Hanum. Aku tidak akan tinggal diam, kau harus membayar mahal perbuatan mu ini dasar perempuan tidak tahu diuntung.


Umpat Sultan marah mengepalkan tangannya keras.


"Ya sudah sebaiknya secepatnya kita bawa Kendra ke rumah sakit, Sultan. Agar secepatnya mendapat penanganan dari dokter.“


“Ya kau benar. Aliya kau jaga rumah.“ perintah Sultan pada baby sitter rumahnya. Aliya hanya menjawab ya dengan nada datar. Pasalnya rencana Aliya membawa Kendra ke rumah sakit bersama Sultan gagal lagi.


“Hiiiikk.... Kenapa sih gagal lagi! Gagal lagi! Siapa coba perempuan sok cantik tadi?“ Aliya menghentakkan kedua kakinya kesal dengan bibirnya mengerucut.


Sultan dengan perasaan cemas membawa putranya ke rumah sakit yang kini ada dalam gendongan Zeevania.


Sementara Hanum menangis memohon pada tantenya untuk membiarkan dirinya pergi dari rumah juragan Hartoyo.


“Tante! Aku mohon bantu Hanum keluar dari sini! Aku tidak mau menikah. Aku tidak mungkin bisa menikah, Tante.“ ucap Hanum menangis menyatukan kedua tangannya di depan dada penuh permohonan.


“Kenapa? Apanya yang tidak mungkin? Dengar Hanum! Kamu itu cuma bekerja sama orang kaya itu hanya jadi ibu susu anaknya saja. Dan dia bisa bayar perempuan lain buat gantiin kamu.“ sanggah Mirna memberi alasan membuat Hanum lebih mengerti.


“Tidak tante. Aku adalah ibunya sejak aku memberikan kehidupanku padanya.“


“Jadi kamu lebih memikirkan bayi itu yang bukan anak kandungmu. Daripada kebaikan ibumu yang hampir sekarat itu.“ hardik Mirna mengatakan hal yang menyakitkan pada keponakannya.


“Apa! Jadi kamu nyalahin saya? Kurangajar kamu Hanum.“


PLAAKK...!


“Tante!“ pekik Hanum memegangi pipinya yang merah akibat tamparan dari tantenya. Mengusap sudut bibirnya yang berdarah.


“Itu akibatnya kalo kamu kurangajar sama saya.“ ucap Mirna kesal dan marah keluar meninggalkan Hanum di kamar dan mengurungnya.


Hanum menangis terisak mengingat bayangan ayahnya juga ibunya saat masih bersama keluarganya.


Ayah, Ibu Hanum ingin selamanya seperti ini. Dan aku bahagia dengan apa yang kita miliki asalkan kita tetap sama-sama.


Iya sayang ayah dan juga bahagia dan bangga memiliki putri cantik dan pengertian seperti mu.


“Ayah, Ibu......!“ teriak Hanum menenggelamkan wajahnya di tepi ranjang. Kedua tangannya meremas kain sprei kencang. Hanum melirik ke sisi kanan dan kiri berusaha mencari cara untuk kabur dari kamar dimana tantenya mengurung dirinya di dalam.


“Bagaimana Mirna apa semuanya sudah beres?“ tanya Hartoyo memastikan.


“Tentu saja juragan.“ jawab Mirna.

__ADS_1


’’Saya mau lihat dulu kamar pengantin saya dan Hanum.“ ucapnya melihat daun pintu yang dihiasi rangkaian bunga. Hartoyo tersenyum melihat disekeliling kamarnya yang telah dihias indah sedemikian rupa. Dengan kelopak bunga mawar warna-warni membentuk hati di atas ranjang besarnya.


“Sangat indah!“ ujarnya menarik ujung bibirnya. Hartoyo keluar menutup pintu kamar pengantinnya menuju dimana Hanum di kurung.


Ceklek.


Suara pintu dibuka dari luar Hanum segera menormalkan dirinya yang berusaha menarik kait besi yang mengunci jendela dengan kuat.


“Hanum sayang! Apa yang kau lakukan disana? Beberapa jam lagi kita akan menjadi pasangan suami istri. Bersiaplah sayang! Sebentar lagi perias pengantin akan segera datang.“ ucap Hartoyo berjalan mendekati Hanum membelai pipinya yang mulus. Hanum menepis tangan si tua bangka yang akan menyentuh bibirnya. Yang tidak ada puasnya dengan masalah urusan perempuan.


“Jangan sentuh aku! Aku jijik melihatmu!“ tolak Hanum dengan kata-kata nya yang kasar.


“Ya aku memang tidak akan menyentuhmu. Sebelum pak penghulu meresmikan hubungan kita malam nanti. Haaaa...!“ ucap Hartoyo tertawa puas melihat wajah Hanum dalam ketakutan. Sedang Hanum sendiri mau muntah dan muak melihat wajahnya yang bagai monster pemakan manusia.


“Itu tidak akan terjadi. Itu tidak akan terjadi! Kau dengar itu tua bangka!“ teriak Hanum memancing emosi pria tua yang akan menikahinya.


Tidak lama kemudian para perias pengantin masuk membawa tas dan alat make-up.


“Mba Hanum maaf kami datang untuk merias mba tolong jangan menangis nanti hasil make-up nya tidak bagus.“ ucap pria kemayu itu pada Hanum, sembari mengeluarkan alat tempurnya sebagai make-up artis.


“Tidak. Aku tidak mau dirias. Katakan padanya, aku tidak ingin menikah dengan pria menjijikan seperti dia.“ bantah Hanum pada mereka.


“Sttttt...! Hati-hati ye kalo bicara, Nanti juragan dengar ye bisa di gantung.“ ucap boby yang biasa dipanggil baby oleh para karyawannya.


“Sudah jangan dengar ocehannya. Sekarang cepat rias dia dan ganti pakaiannya.“ perintah Mirna pada mereka semua.


Baby dan yang lain merias wajah cantik Hanum. Dan meraih baju pengantin untuknya, Mereka berhasil merias Hanum dengan ancaman tantenya. Mirna menunjukkan vidio ibunya dimana anak buah Hartoyo melepaskan selang oksigen hingga membuat ibunya sesak nafas.


“Ihh, gila banget ya juragan Hartoyo mau nikahin si Hanum. Padahal bininya udah tiga istri pada tahun nggak ya?“ ucap seorang ibu bergosip di warung pada ibu pemilik warung.


“Masa sih!“


“Beneran bu Hilda masa sih saya bohong. Penghulunya kan tetangga saya.“ ucap ibu itu memberitahu.


“Apa! Jadi juragan Hartoyo juga menculik Hanum.“ gumam Bia kaget mendengar obrolan ibu-ibu yang dia sendiri tidak tahu.


Bersambung____


Ikuti terus cerita novelku, Ya!


Jangan lupa tinggalkan jejak


Terima kasih! 🙏

__ADS_1


__ADS_2