Terjebak Status Palsu

Terjebak Status Palsu
Mencari Informasi


__ADS_3

Di depan pintu pagar rumah Sultan, mobil Zeevania masuk ke dalam halaman setelah Pak Amir membuka lebar pagar besi. Perempuan itu turun dari mobil dengan angkuhnya, melihat Hanum bersama Kendra di sekitar taman kecil di dekat garasi mobil.


"Hai, keponakan tante yang ganteng. Habiskan makanan mu, oke! Sebentar lagi tante akan menjadi ibu mu. Jadi Kendra harus menjadi anak yang baik dan penurut. Ckkkkk, kasihan sekali kau Hanum. Bagaimana nasibmu setelah Sultan menikahku? Dan menceraikan mu sebelum usia Kendra 3 tahun. Bukan begitu isi perjanjiannya?" ejek Zeevania tersenyum licik dengan stylenya.


"Mungkin saja suamiku akan menikahi mu tanpa harus menceraikan ku. Karena aku telah memiliki bagian dari hidupnya terpenting. Kau itu memang tante dari putranya, tapi kau bukan wanita satu-satunya yang ada dalam hatinya. Jadi tidak perlu kau bersikap sombong seolah kau adalah istri sahnya." ucap Hanum dengan berani membalas ejekan Zeevania yang cukup menohok. Gadis itu menajamkan kedua matanya menatap punggung Hanum mendorong stroller masuk kedalam rumah.


"Sialan! Punya nyali juga rupanya dia melawanku," umpat Zeevania tidak suka.


Sedangkan Sultan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju panti asuhan yang sempat Harits beritahu kemarin. Setelah semua urusan kantor berhasil ia hendel dan menyerahkan sebagian pekerjaannya pada sang asisten. Tidak butuh waktu lama Sultan tiba di panti asuhan dengan membawakan banyak makanan, dan mainan serta alat-alat sekolah yang anak-anak panti butuhkan.


Anak-anak yang tengah bermain di taman memandang kedatangan Sultan dengan tatapan penuh harap. Mereka berharap jika kedatangan pria berjas, dengan sisiran rambutnya yang tertata rapi itu. Datang dengan membawa kabar bahagia untuk mereka semua.


"Anak-anak, ayo semuanya kembali ke kelas masing-masing! Waktu istirahat sudah selesai kalian harus kembali belajar." seru ibu panti menyerukan pada semua anak-anak panti untuk kembali belajar bersama guru mereka.


"Bu, sepertinya ada tamu." ucap salah satu anak panti.


"Iya, sayang ajak semua teman-temanmu masuk kelas." titah ibu panti tersenyum. Sultan berjalan mendekati ibu panti dengan membawa beberapa kantong besar barang bawaannya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Bu panti." sapa Sultan memberi Salam seraya menyerah oleh-oleh darinya.


"Waalaikumsalam," jawab ibu panti tersenyum. Mempersilahkan masuk sebagai tamu donatur menurut perkiraannya. Siapa lagi yang sengaja datang ke panti setiap harinya jika bukan donatur.


"Maaf, Bu. Saya Sultan saya donatur baru. Boleh saya minta waktunya sebentar." ujar Sultan sopan.


"Tentu saja boleh, Pak Sultan, Mari ikut saya keruangan.'' Sultan berjalan mengekor di belakang pungg6 ibu panti menuju ruang tamu yang berada di samping kantor. Ibu panti mempersilahkan Sultan duduk dan menduduki sebuah kursi kayu panjang berukir.


"Ada sesuatu yang ingin bapak sampaikan tentang panti kami? Ya memang seperti ini keadaan panti kami." ucap ibu panti merendah. Sultan tersenyum tipis merespon ucapan wanita 47 tahun itu.


"Saya Ibu Endang pimpinan panti ini.'' ucapnya memperkenalkan diri.


" Baik Bu, Endang. Kedatangan saya selain sebagai donatur ada sesuatu yang ingin saya tanyakan. Apa Anda masih ingat ada anak bernama Zeefara yang diadopsi sekitar usia 5 tahun pada saat itu?" tanya Sultan mulai serius. Ibu Endang nampak mengingat nama yang sul9 sebutkan.


"Sebentar, Pak." ucap Ibu panti beranjak dari kursi menuju lemari brankas tempat penyimpanan data penting. Setelah mendapatkan apa dia cari ibu panti membuka kembali lembaran kertas putih sejak terakhir menyimpannya setelah 18 tahun berlalu.


"Apa yang Anda maksud gadis dalam foto ini?" tanya ibu panti. Menunjukkan berkas yang masih terlihat rapi dan jelas. Sultan mengamati foto lucu Zeefara saat usia 5 tahun ketika keluarga Anggara ingin mengadopsinya. Foto yang sama yang dulu pernah dia simpan saat gadis itu menaklukkan hatinya.

__ADS_1


"Benar sekali, Bu. Ini adalah Zeefara, boleh saya tahu siapa orang yang sudah membawa Zeefara ke panti ini, Bu?" tanyanya lagi pada ibu panti. Bu Endang mulai mengingat kejadian itu bagaimana Zeefara bisa ada di panti.


Panjang lebar ia menceritakan kisah bayi yang menangis di depan pintu tanpa identitas. Hanya ada satu buah giwang berwarna hijau jamrud yang mengait di sweaternya. Yang entah milik siapa Sultan sendiri baru melihat bentuk anting di tangannya lalu mengambil gambar dan menyimpan kedalam kamera ponselnya.


"Terima kasih, Bu Endang atas penjelasan ibu. Informasi ini begitu penting untuk saya. Karena saya adalah calon suami mendiang Zeefara dan saya sangat menyayangkan atas kejadian naas yang menimpanya. Sebab setelah kami bertunang saya berada di Batam karena urusan pekerjaan.''


" Ya, semua sudah menjadi jalannya. Zeefara harus pergi dengan cara yang sudah Tuhan tentukan. Meski kita tidak menginginkan semua itu terjadi." tutur ibu panti yang telah menjaga dan merawat Zeefara selama lima tahun. Semua ibu panti dan teman-temannya sangat menyayangi Zeefara, dia gadis periang pandai menghibur temannya yang sedih. Dia juga termasuk anak pintar dalam seni menggambar.


Usai pertemuannya dengan ibu panti dan menerima informasi darinya Sultan pun pamit pergi pada ibu Endang. Dan bercengkrama sebentar dengan anak panti yang sedang bermain bola di halaman depan.


"Anak-anak, Om Sul pamit dulu mungkin lain kali kita bisa bertemu dan main bareng lagi." ucap Sultan pamit pada mereka, sambil menyeka keringatnya di dahi setelah ngos-ngosan lari berebut bola.


"Daaa.... Om, Sul! Sampai ketemu lagi!" seru Arkan melambaikan tangan kearah Sultan bocah usia 8 tahun yang sudah dekat dengannya meski baru mengenalnya.


____ Bersambung___


Nayra terimakasih masih setia di ceritku. Maaf lama up kendala waktu dan HP rusak. Semoga sehat slu makasih untuk jejaknya komennya di tunggu! 🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2