
Ciiiiiiiittttttt!!!
"Sialan tu mobil! Brengsek!" Topan mencoba berdiri menarik motornya yang jatuh terperosok di bahu jalan.
"Astaga! Ckkk...."
Sultan memukul mesin kemudinya kesal. "Kenapa bisa nabrak orang, sihh?" gerutu Sultan sebelum turun melihat kondisi orang tersebut. Pikirannya yang kacau mengingat vidio yang sulit dia percaya, hatinya mengatakan jika ada yang tidak beres pada vidio yang Zeevania kirim untuknya.
"Maaf, tadi saya tidak sengaja menabrak Anda," ucap Sultan menghampiri.
"Haa, punya mata nggak....?" bentak Topan. Mereka saling menunjuk kaget menyebut nama mereka masing-masing. Setelah mengingat awal pertemuan mereka di club malam itu.
"Topan!" panggil Sultan.
"Sultan! Jadi loe yang nabrak gue!" seru Topan tidak menyangka.
"Sorry, Bro! Ya biasalah!" ujarnya berseru.
"Gimana kalo kita ngopi santai, gue tahu tempat ngopi nongki paling asyik disini." ajak Topan menawarkan dengan bahasa gaulnya. Sultan tersenyum menanggapi ajakan Topan.
"Untuk kali ini maaf, mungkin lain kali. Karena masih ada beberapa masalah pekerjaan yang harus saya urus." tolak Sultan tanpa ada niat menolak niat baiknya.
"Oke, tidak masalah pria bisnis man kaya loe. Memang selalu sibuk sama urusan kantor, next lain kalo kita ngobrol lagi." ucap Topan sambil menaiki kuda besinya, memutar kunci motornya dan pergi meninggalkan tempat kejadian.
Sementara Sultan lebih memilih mengurus pekerjaannya, Karena menurutnya menyelesaikan urusan perusahaan lebih penting dari hal lain. Terlebih itu menyangkut dengan siapa dulu dia hidup dan sukses seperti yang telah dia capai bersama ayah angkatnya Damanik.
"Selamat siang, Pak Sultan!" para karyawan dari berbagai staff.
"Siang," jawab Sultan datar.
"Ada apa dengan boss kita? Apa masalah perusahaan semakin besar? Jika itu benar maka perusahaan ini terancam bangkrut, dan kita semua siap-siap saja kena phk." ucap salah satu karyawan pada lawan bicaranya.
"Aku rasa perkiraanmu itu salah. Karena pak Sultan tidak hanya memilik, satu atau dua anak perusahaan saja di Jakarta. Tapi ada perusahaan besar lain, yang bekerja sama dengan perusahaan asing di industri kosmetik Swiss. Salah satu prodaknya yang populer adalah parfum. Hanya perusahaan Sultan corporationlah yang berani bersaing di pasar internasional. Dengan memakai jasa model termahal dari Paris sebagai model iklan prodaknya."
__ADS_1
"Ckkk....! Ternyata pak Sultan bukan orang sembarangan." decaknya penuh kekaguman.
Sultan membuka pintu ruangannya dan mulai berkutat pada layar laptopnya, untuk mengecek jalannya perusahaan selama dia tidak ada di kantor. Melihat lampu ruangan atasannya menyala sang asisten melangkah mengetuk pintu, dan masuk setelah mendapat jawaban dari dalam.
"Tuan! Anda disini?" tanya sangat asisten sedikit bingung.
"Ya. Apa ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Sultan yang tetap fokus pada layar datarnya.
"Eh, tidak bukankah tadi Anda ingin istrahat di rumah. Tapi saya melihat ruangan Tuan menyala terang jadi saya masuk hanya memastikan jika didalam adalah Tuan sendiri." ujar sang asisten pada atasannya.
" Yang bisa keluar masuk kedalam ruangan ini hanya saya dan kau saja. Jika ada orang lain yang masuk kedalam ruangan ini, siapa yang harus bertanggung jawab atas kelalaian ini?" tanya Sultan cukup membuat asisten terkejut juga takut.
"Maksud Tuan, ada orang asing yang masuk kedalam ruangan ini? Tapi bagaimana caranya? Bahkan kita memiliki sistem pengaman pada kunci ruangan ini secara khusus." tanyanya heran dan berpikir siapa yang memiliki kemampuan luar biasa itu.
"Dan hanya orang licik saja yang mampu melakukannya." jawab Sultan.
"Zeevania?'' tuduh Sang asisten.
"Mungkin. Karena hanya orang-orang seperti Anggaran saja yang memiliki ambisi di luar batasan yang ingin menguasai bisnis internasional."
"Dengan cara itu kita bisa menembus masuk kedalam perusahaannya. Dan mengetahui siapa dalang dari pencurian data perusahaan kita."
"Ide yang bagus tapi sangat beresiko, dan dampaknya adalah keluarga Anda Tuan." tuturnya mengingatkan.
"Untuk mencapai sebuah tujuan kita harus mengambil keputusan besar. Meski harus mengorbankan bagian terpenting dari hidup kita, tapi ini semua demi menyelamatkan perusahaan yang telah diwariskan secara hukum. Dan saya saya memiliki beban tanggungjawab mempertahankan wasiat Tuan Damanik." tuturnya berpikir keras demi perusahaan yang telah diwariskan olehnya.
"Anda benar, Tuan. Untuk mencapai tujuan ada yang harus kita korbankan. Saya harap perjuangan Anda tidak akan sia-sia." ucap sang asisten penuh harap.
Disisi lain Hanum tidak tahu akan perasaannya saat ini. Sangat Kacau dan tidak tahu harus berbuat apa, sedangkan suaminya merasa jika dirinya telah menipunya. Hanum menatap resah wajah mungil Kendra yang sudah berusia 9 bulan itu, dia semakin pintar dan aktif berceloteh dengan suara kuasnya. Tertawa riang menatap ibu susunya, yang sudah menjadi ibu penggantinya sejak Sultan menikahinya.
Diraihnya tubuh Kendra, dan diciumnya pipi gembil putranya itu. Kendra semakin tertawa sambil menendang perut Hanum, seolah tahu jika dia akan segera memiliki adik.
"Kau tertawa bahagia dengan menendang perut mama, sayang. Apa kau tahu jika kau akan memiliki adik kecil?" tanya Hanum menangis harus akan tingkah Kendra buang lucu juga pintar.
__ADS_1
"Mama tidak tahu harus bahagia atau sedih, sayang. Karena papamu sudah menuduh mama telah melakukan hal yang tidak pantas. Mama tidak mungkin melakukan kebohongan itu." keluh Hanum mengusap air matanya. Tiba-tiba saja mimik wajah Kendra berubah menjadi sedih dan menangis seketika.
"Kendra sayang, cup nak jangan menangis." Hanum menenangkan putranya agar tidak menangis, tapi tangisnya semakin kencang dan menjadi. Hanum membuka kancing dasternya dan menyusui Kendra seperti biasa. Bukan membuatnya diam Hanum takut akan Kendra yang menangis histeris.
Hanum menekankan nomor ponsel suaminya dan memintanya segera pulang.
~ Cepatlah pulang, Kendra mengis histeris.
pinta Hanum pada Sultan di seberang telepon.
~ Kau ini ibu macam apa menenangkan putraku saja kau tidak bisa.
~ Aku juga tidak tahu. Kenapa Kendra menjadi seperti ini?
Sultan memutus sambungan telepon secara sepihak, keluar dari ruangannya terburu-buru. Setibanya di rumah Pak Amir segera membuka pintu pagar besi lebar- lebar. Sultan memarkirkan mobilnya di samping mobil Zeevania yang telah dulu terparkir disana.
"Bagaimana dengan Kendra?" tanya Sultan panik.
"Kau sudah pulang? Keponakanku Kendra tidak apa-apa istrimu saja yang tidak becus mengurusnya. Lihatlah dia sudah tenang setelah minum susu dari tanganku. Harusnya kau menyuruhnya keluar dari rumah ini, Sultan. Apa bukti itu belum cukup membuat mu percaya siapa Hanum sebenarnya." ucap Zeevania mempengaruhi Pikiran Sultan.
"Kau tidak perlu bersusah payah mencari keburukkannya. Aku masih membutuhka dia untuk tetap bekerja disini sampai aku menikahimu. Kau juga bukan yang membuat ibu Farida pergi dari sini?"
"Ak__Aku?" kejutan Zeevania.
"Sudahlah!" sanggah Sultan pergi mencari Hanum.
Sultan membuka pintu kamar Hanum yang baru saja menyelesaikan ritual mandinya, setelah susah payah menenangkan Kendra hingga tubuhnya lelah dan berkeringat.
"A__Aku berusaha menenangkan Kendra ta__tapi__" Hanum menjeda ucapannya, saat pria dihadapannya menarik tubuhnya kedalam pelukannya.
"Kau tidak lagi marah padaku?" tanya Hanum wajah suaminya telah berada begitu sangat dekat di depan wajahnya.
"Aku akan lebih marah setelah tahu benih siapa yang ada dalam rahimmu itu." bisik Sultan tepat ditelinganya hingga membuat tubuh Hanum meremang, ketika bibir Sultan menyentuh daun telinganya.
__ADS_1
"K__Kau adalah pria pertama yang menyentuhku. Dan kau pasti mengingatnya dengan baik setelah kau melakukannya padaku untuk pertama kalinya." Sultan hanya tersenyum membelai lembut pipi Hanum dengan bibirnya. Dan pergerakan tangannya menjelajah semakin jauh dibalik handuk kimono istrinya dan menarik tali simpul dan membuka kain pelindung tubuhnya.
Lagi dan lagi Sultan menggagahi tubuh molek istrinya, menguap sudah rasa marah dan benci itu yang entah hilang kemana. Setiap kali melihat istrinya yang mampu membangkitkan sisi laki-laki nya. Sekuat apapun Zeevania merusak pikiran Sultan, dan berusaha membuat celah diantara mereka, tetap saja Sultan tidak mampu menguasai dirinya. Setiap kali melihat istrinya dengan segala pesonanya bahkan perasaan cintanya seolah tak tergantikan oleh wanita manapun.