Terjebak Status Palsu

Terjebak Status Palsu
Penculikan


__ADS_3

Seperti biasa di pagi hari Hanum menyiapkan pakaian kantor untuk Sultan berangkat kerja. Serta membuat sarapan pagi sebelum ia pergi menjenguk ibunya di rumah sakit.


Sultan keluar setelah rapi dengan stelan kantornya menuju meja makan. Diraihnya cangkir berisi kopi panas lalu menyesapnya perlahan, lalu menyelesaikan makan paginya bersama Hanum.


”Aku akan mengantarmu ke rumah sakit sebelum ke kantor.” ujarnya di akhir makan paginya.


”Iya, mas. Asalkan tidak mengganggu pekerjaanmu saja.” kata Hanum tidak ingin menyulitkan pekerjaan suaminya.


”Tentu saja tida, aku juga ingin bertemu dengan ibu mertua. Sebab aku tidak sempat meminta izin darinya sebelum menikahi putrinya.” ucap Sultan membuat hati Hanum senang.


”Ya memang itu yang seharusnya kau lakukan.” sanggah Hanum membereskan meja makan.


”Aliya kamu jaga Kendra baik-baik kami akan pergi ke rumah sakit.” titah Sultan pada baby sitter rumahnya.


”Baik, pak!” jawab Aliya membawa Kendra masuk kedalam box bayi.


”Sayang, Kendra. Mama sama papa pergi sebentar. Mama janji tidak akan lama.” pamit Hanum pada putra asuhnya.


Cuppp!


Hanum mengecup pipi dan kening Kendra berkali-kali, dan menggendongnya sebentar.


Sultan pun menggoda putranya gemas yang sudah menunjukkan kelucuannya.


”Sayang, hari ini papa harus ajak mama pergi. Sayang nggak boleh nangis, ok!” ujar Sultan menoel pipi mungilnya. Belum sempat Hanum dan Sultan masuk kedalam mobil si kecil lebih dulu menangis.


”Sayang, Kenapa nangis?” tanya Hanum mendekati putra asuhnya.


”Nanti juga Kendra diam setelah minum susu, Bu.” kata Aliya sambil menenangkan Kendra dalam gendongannya. Si kecil Kendra pun diam sejenak Hanum mendekatinya tapi kembali menangis lagi setelah ibu susunya kembali masuk kedalam mobil.


”Mas aku jadi tidak tenang jika Kendra masih menangis.” Hanum berkata pada suaminya saat mobil bergerak perlahan menjauhi halaman.


”Tidak perlu khawatir nanti juga Kendra akan tenang setelah mandi dan minum susu.” ucap Sultan dengan sikapnya yang tenang meyakinkan istrinya.


”Semoga saja.” harap Hanum masih menatap putranya melalui kaca spion. Mobil melaju dengan kecepatan normal menuju rumah sakit Centra Medika.


Sultan memarkirkan mobilnya di lobi, dan menguncinya secara otomatis.


Sultan pun mengikuti langkah Hanum, di belakang punggungnya menuju ruang perawatan dimana ibunya dirawat. Saat hampir tiba di depan pintu ruangan, ponsel Sultan tiba-tiba berdering dengan nama Susan yaitu sekretarisnya.


”Hanum kau masuk saja dulu. Ada panggilan telepon.” ucap Sultan memberitahu.

__ADS_1


Hanum mengedipkan kedua matanya sebagai jawaban lalu membuka pintu ruangan. Sementara Sultan masih di luar menerima panggilan telepon dari sekretarisnya.


~ Susan, tunda saja jam meetingnya 25 menit lagi saya...


~ Maaf, pak bukan itu tapi ada tamu wanita yang mencari bapak


~ Wanita?


~ Benar, pak. Namanya nona Zeevania.


Zeeva? Untuk apa dia datang ke kantor? Pasti karena semalam aku tidak menjawab telepon darinya.


Tanya Sultan pada dirinya lalu kembali kembali memberitahu Susan.


~ Katakan saja untuk menunggu di ruanganku.


~ Baik, pak!”


Sultan menutup aplikasi whatsapp nya lalu menaruh ponselnya kedalam saku celana bahannya. Di dalam ruang perawatan Sultan justru melihat pemandangan yang membuat darahnya mendidih panas.


”HANUM.....!”


”BRAKKK.....!!”


”Tunggu! ini tidak seperti yang kau pikirkan.” pekik Hanum mengikuti langkah suaminya yang berjalan semakin cepat meninggalkan dirinya yang setengah berlari.


Tanpa sepatah kata Sultan diam dalam marahnya tanpa lagi perduli panggilan istrinya.


”Berani-beraninya dia berbohong padaku. Besar sekali nyalimu mempermainkanku Hanum.” ucap Sultan mengepalkan tangannya penuh marah hingga menampakkan ototnya yang menonjol.


”Dengarkan aku! Ini tidak___


”Diam! Jangan pernah mengatakan apapun lagi padaku dengan kisah cerita karanganmu itu.” Hanum memegang erat lengan kokoh suaminya berharap Sultan mempercayai ucapannya. Bahwa ala yang dia lihat tidak seperti apa yang ada dalam pikirannya apalagi mengira bahwa Bia adalah selingkuhannya.


”Percayalah! Aku tidak bohong.” ucap Hanum menangis memohon pada suaminya untuk mempercayainya.


”Kita selesaikan urusan kita dirumah.” ucap Sultan membuka pintu mobil lalu menatap Hanum tajam. Aku akan mencari ibu susu lain untuk putraku Kendra dan aku tidak sudi putraku di susui oleh wanita pembohong dan tidak tahu malu seperti dirimu.” sarkasnya. Ucapan Sultan seketika membuat dada wanita yang baru semalam menyerahkan hidup dan miliknya pada pria yang menjadi suaminya sejak dua bulan yang lalu berdentum dengan kerasnya bagai sebuah ledakan yang menghancurkan dirinya.


”Jadi Hanum bekerja sebagai ibu susu dari anaknya. Tapi kenapa Hanum mau melakukan pekerjaan itu. Aww kepalaku masih sakit sekali!” pekik Bia meringis menahan sakit di bahu dan kepalanya akibat pukulan keras dari Mirna.


”Kamu pasti dalam masalah besar Hanum. Maaf atas kecerobohanku.” ucap Bia bersembunyi dari balik pilar. Yang menyalahkan dirinya sendiri karena merasa tidak mampu menjaga amanat dari wanita yang dia cinta.

__ADS_1


Bia sendiri tidak tahu siapa orang yang telah memukulnya, dan menculik Farida ibu Hanum.


”Mas Sultan...! Tunggu! Percayalah aku tidak bohong,” teriak Hanum mengejar mobil Sultan yang bergerak perlahan meninggalkan lobi.


Sultan melihat istrinya dari kaca spion yang lari mengejarnya hingga kaki tersandung dan jatuh ke aspal.


”Hanum!” pekik Sultan menghentikan laju mobilnya sejenak. Menoleh ke belakang melihat Hanum yang tertunduk mengusap lututnya yang luka.


Ingin sekali ia menghampiri gadis yang membuat dirinya jatuh cinta padanya. Tapi egonya lebih besar dari cinta yang ia punya, hingga membuatnya tidak dapat berpikir dengan jernih.


Untuk apa aku peduli padanya, dia sudah berani menipuku. Memintaku datang ke rumah sakit untuk melihat bersama kekasih gelapnya.


Ucap Sultan pada hatinya yang kembali dipenuhi rasa marah, cemburu dan benci yang menjadi satu. Pria itu pun kembali memacu laju mobilnya tanpa lagi perduli pada gadis yang tengah meratapi nasib yang tak berpihak padanya.


Tanpa gadis itu tahu seseorang orang menarik tangannya dan membius Hanum dan membawanya kedalam mobil sedan putih.


”Bagus! Cepat jalankan mobilnya!” perintah Hartoyo pada anak buahnya.


”Siap boss!” jawab Bimo menyalakan mesin kemudi.


”Akhirnya aku bisa dapatkanmu, Hanum.” ucap Hartoyo tertawa puas. Menyusuri wajah mulus Hanum dengan jarinya. Diraihnya ponsel dari saku kemejanya untuk menghubungi Mirna.


~ Mirna saya mau kamu siapkan semuanya! Malam ini saya akan menikahi keponakan mu Hanum yang cantik jelita ini.


~ Siap juragan! Saya akan atur semuanya asalkan___”


~ Kamu jangan khawatir Mirna saya sudah siapkan komisi yang bagus untuk mu. Hubungi pak penghulu sekarang juga. Saya tidak mau penghulu datang terlambat atau menunda acara sakralku malam nanti.


~ Beres juragan! Serahkan semua sama Mirna.


Hanum pun tersadar saat mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Ia mengerjapkan kedua matanya yang masih kabur tanpa sadar Hanum memanggilnya nama suaminya.


”Mas Sultan!” pekik Hanum dibawah alam sadarnya. Setelah mata itu dengan jelas melihat siapa pria tua di sebelahnya. Hanum membulatkan kedua matanya terkejut.


”Juragan!” ucapnya kaget luar biasa melihat pria yang membuatnya takut.


”Kenapa sayang? Kamu kaget melihat calon suamimu?” tanya Hartoyo dengan nada menjijikkan.


”Jangan pernah mimpi, karena aku tidak akan pernah sudi!” tolak Hanum mentah-mentah tidak ingin duduk bersebelahan dengan pria yang lebih pantas menjadi ayahnya.


”Terserah apa yang kamu katakan Hanum. Yang jelas mau tidak mau malam nanti kau akan menjadi istriku. Dan kita akan sama-sama menikmati malam pertama kita.” ucapnya tertawa puas melihat wajah Hanum dengan segala keterkejutannya.

__ADS_1


”Tidak, Aku tidak mau. AKU TIDAK MAU.....!” teriak Hanum keras.


__ADS_2