Terjebak Status Palsu

Terjebak Status Palsu
Menjebak Hanum


__ADS_3

Sultan menarik lengan Hanum hingga tubuh gadis itu terbentur di dada bidang suaminya. “Kau ingin mencari kambing hitam atas kesalahanmu?“ ucapnya tepat di depan wajah cantik istrinya yang tengah menahan rasa takutnya. Sultan menyusuri tiap jengkal wajah Hanum melaui tatapan binarnya.


Hanum berusaha melepaskan tangannya dari cekalan suaminya sebelum pikirannya melayang entah kemana. “Lepas!“ pekik Hanum menarik tangannya.


“Sekali lagi ini terjadi. Kau akan menerima hukuman dariku, yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu.“ tekannya. Semakin Hanum berjalan mundur menghindari tatapan Sultan Suaminya justru terus melangkah mendekati istrinya hingga kakinya membentur ranjang.


Dengan susah payah Hanum menelan salivanya dan memejamkan kedua matanya. Saat netra itu saling bertemu dengan sangat jelas Sultan dapat melihat betapa cantiknya istrinya jika dilihat


dengan jarak yang begitu dekat.


Dapat Hanum rasakan sapuan hangat nafas suaminya yang menyentuh di pipinya. Aroma parfum dan keringat yang menyeruak dari balik tubuhnya yang terkadang membuatnya rindu juga benci.


Rindu ketika suaminya bersikap romantis dihadapan orang lain meski hanya sebuah sandiwara. Benci disaat keadaan tidak berpihak padanya disaat seperti yang saat ini Hanum hadapi, sebuah tuduhan yang tidak dia lakukan.


Reflek tangan Sultan menyentuh bibir ranum istrinya yang terlihat menggoda dirinya. Tanpa Hanum sadari ia sendiri begitu menikmati sentuhan jari suaminya hingga bulu romanya meremang.


Mereka sama-sama terhanyut dalam perasaan yang mereka ciptakan sendiri. Sultan menangkup wajah Hanum dan mulai menyentuh bibir pink alami milik istrinya dengan bibirnya.


Nyatanya kedekatan mereka, untuk melupakan ketegangan masalah yang baru saja terjadi menguap begitu saja dan hilang entah kemana. Rengekan Kendra memaksa keduanya untuk mengakhiri semua yang seharusnya terjadi sebagai pasangan halal di mata Tuhan.


“Ee....ee...!“


Hanum membuka lebar kedua matanya dengan perasaan canggung. Menatap wajah tampan suaminya yang baru saja melepas pagutannya.


“Kau pergilah mandi! Biar Kendra bersamaku.“ ucap Hanum gugup juga malu pada Sultan.


“Kau saja dulu yang mandi. Ini sudah tengah malam nanti kau sakit.“ Angguk Hanum berjalan menuju kamar mandi. Di dalam Hanum hanya mencuci wajah, menggosok gigi dan mencuci kaki lalu mengganti pakaiannya dengan gaun satin.


Melihat Hanum dengan pakaian tidurnya, Sultan berpikir akan tidur dikamar istrinya lagi dengan alasan menjaga Kendra yang sedang sakit.


“Kau tidak mandi?“ tanya Hanum masih dengan sikapnya yang canggung.


“Ya aku mandi. Tapi aku akan tidur disini menjaga Kendra.“ jawab Sultan.


“Terserah kau saja.“ balas Hanum tanpa protes, yang biasa ia lakukan pada suaminya yang berdebat masalah tidur di ranjang yang sama. Ia sendiri merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Kendra karena telah meninggalkannya cukup lama bersama Aliya.


Tumben sekali dia tidak mempermasalahkan keinginanku untuk tidur di kamar dan di ranjang yang sama.


Gumam Sultan heran akan sikap Hanum yang tidak seperti biasanya. Jutek dan sedikit kasar jika bicara dengannya.

__ADS_1


“Aku akan kembali kesini membawa selimut dan pakaianku.“ ujarnya pada Hanum. Gadis itu tersenyum kaku naik keatas ranjang dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal.


Sultan membawa selimutnya kedalam kamar Hanum dan menutup pintu kamar itu dengan rapat.


“Sialan!! Kenapa malah tidur di kamar Hanum. Harusnya aku yang tidur dikamar bersama pak Sultan. Tapi kenapa mereka baik-baik aja seharusnya mereka bertengkar masalah lidah Kendra yang melepuh. Ok, rencana kali ini gagal tapi berikutnya aku tidak akan biarkan mereka akur.“ umpat Aliya kesal melihat kedekatan majikannya pada istrinya.


Hanum telah tertidur beberapa menit yang lalu sebelum Sultan masuk membawa selimutnya kedalam kamar istrinya. Dengan hati-hati Sultan merangkak naik keatas ranjang tidur disamping sisi kanan Hanum tidur. Sultan menatap wajah damai Hanum yang tidur pulas bak peri di buku dongeng yang biasa anak-anak baca.


Persetan dengan masalah surat perjanjian itu. Atau aku langgar saja kesepakatan yang kubuat untuknya sebelum aku menikahinya? Tapi apa yang akan Hanum pikirkan tentangku? Dia pasti akan berpikir aku adalah pria brengsek yang mudah membuat janji tapi juga mudah mengingkari.


Sultan melayangkan tangannya di udara serta mengepalkannya erat tanpa berani menyentuh wajah istrinya.


“Sial! Aku justru terjebak dan terperangkap dengan segala syarat yang kubuat sendiri.“ lirihnya menahan buncahan di dadanya yang siap meledak. Tanpa sengaja Sultan menunjukkan meja rias di samping ranjang dan membuat Kendra terkejut dan kembali


“Apa yang kau lakukan?“ tanya Hanum dalam kejutnya dan turun dari ranjang melihat Kendra yang terganggu karena ulah papanya.


“Maaf!“ ucap Sultan tanpa lagi berkata. Hanum mengangkat tubuh mungil Kendra dan menyusuinya duduk bersandar di sandaran ranjang. Tidak lama Kendra kembali tidur saat akan kembali menidurkan kedalam box Sultan melarangnya dan meminta istrinya tidur bertiga diranjang yang sama dengannya. Mereka pun kembali tidur hingga pagi menjelang.


...***...


“Aliya! Hari ini aku sendiri yang akan memandikan Kendra. Kau siapkan saja pakainnya dan yang lainnya.“ pinta Hanum pada baby sitternya.


“Sudah ada Aliya seharusnya kamu tidak perlu repot memandikan Kendra.“ ucap Sultan sambil mengunyah makanan dalam mulutnya.


“Semenjak ada Aliya aku tidak pernah memandikan Kendra lagi. Hari ini aku ingin memandikannya.“ujarnya memberi alasan pada suaminya.


Sultan mengakhiri sarapannya dengan minum segelas jus wortel buatan Hanum dan meraih tas kerjanya yang berada di kursi sebelahnya. Hanum mengajak Kendra masuk kedalam untuk mandi setelah mengantar papanya sampai pintu depan.


Lagi-lagi ponsel Hanum berdering dengan Id caller nama Bia, saat ia tengah bermain dengan Kendra di kamar.


“Bia! Ada apa lagi dia menghubungiku?“ tanya Hanum pada dirinya. Ia pun segera menggeser ikon warna hijau dan menjawab telepon dari teman sekolahnya dulu.


~ Halo Bia!


~ Hanum! Cepatlah kau kesini, ibu mu masuk rumah sakit!“


~ Ibu!


Hanum segera memutus sambungan telepon secara sepihak. Sebelum mendengar penjelasan dari Bia, di rumah sakit mana ibunya dirawat.

__ADS_1


Seperti biasa Hanum selalu memberi stok asinya di freezer. Sebelum ia pergi dan meminta sang baby sitter untuk menghangatkan sebelum ia memberikanya pada Kendra.


“Aliya! Aliya!“ Panggil Hanum setengah berteriak memanggil perawat putra angkat suaminya. Di kamar Aliya tidur dengan earphone yang terpasang di kedua telinganya sambil mendengarkan musik barat kesukaanya.


Hanum membuka paksa kamar Aliya, setelah beberapa kali mengetuk pintu kamarnya tapi tidak mendapatkan jawaban dari dalam.


“ALIYA!“ panggil Hanum dengan nada sedikit tinggi karena dia tidak mendengar panggilan darinya.


“Iy__Iya. Maaf bu Hanum saya ketiduran.“ ujarnya melepaskan earphone di telinganya.


“Kamu jaga Kendra, saya harus ke rumah sakit sekarang.“ ucap Hanum sedikit tergesa-gesa.


“Baik bu.“ jawab Aliya cepat, dengan setengah nyawanya yang belum terkumpul sempurna.


Hanum berjalan keluar dari kamar Aliya lalu, kembali memutar tubuhnya menghadap baby sitternya untuk mengatakan sesuatu.


“Ingat Aliya, jangan berikan susu pada Kendra dengan suhu panas. Kau membuat lidah putraku terbakar.“ tutur Aliya memberi peringatan.


“Ko ibu nyalahin saya? Ibu perginya lama. Kendra nangis terus stok susu habis dan tidak sabar nunggu dingin.“ jawab Aliya membantah.


“Aliya kamu___“ sanggah Hanum. Tapi ponselnya kembali berdering dan ia segera menjawabnya seraya berlalu dari kamar Aliya.


Aliya mencebikkan bibirnya tidak suka ke arah perginya majikan perempuannya.


“Pak Amir saya pergi sebentar ke rumah sakit. Tolong hubungi saya jika Kendra terus saja menangis.“ pinta Hanum pada satpam raumahnya.


“Baik, Nak Hanum.“ Angguk pak Amir, sambil membuka pintu gerbang tanpa berani bertanya. Hanum segera masuk kedalam mobil taxi online yang sudah menunggunya lima menit yang lalu.


Setibanya di pintu masuk rumah sakit, Hanum segera menuju koridor dan bertanya pada bagian informasi. Di ruangan mana ibunya dirawat? Disana Mirna melihat Hanum keponakannya. Berada di meja resepsionis dengan senyum smirk nya ia merasa rencananya berhasil.


“Bagus! Tikus kecil itu akhirnya keluar juga dari persembunyiannya.“ ucap Mirna menarik ujung bibirnya. Dengan jari tangannya yang menekan angka-angka di layar ponselnya.


“.... “


~ Baik juragan!“


Mirna menutup aplikasi whatsApp nya.


🌺Bersambung____

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya dukung terus karyaku ya! Terima Kasih.


__ADS_2