
Laras POV
Manik hitam dengan surai agak kecoklatan itu mampu membuatku terlena, brondong manis dan legit itu tidak sanggup untukku menolaknya. Meski mulutku berkata jangan, tapi nyatanya aku pasrah. Saat tangannya menyentuh pinggulku dan bergrilya menuju resleting gaunku. Nafasku tertahan, karena bisikannya mampu memberikan desir dalam tubuhku. Membuat aliran darah mendidih memberikan sensasi tersendiri.
"Izinkan aku menciummu," bisiknya.
"Ti-tidak, Dilan... hhmmp..."
Bibirnya pun membuatku bungkam seketika, aku masih mencoba menolak mempertahankan kewarasanku yang sedikit lagi runtuh oleh lum*tan lembutnya.
"Jangan... ini tidak benar," ucapku lirih sementara Dilan terus memberikan sentuhan disekujur tubuhku. Mengecup leherku hingga aku memejamkan mata.
"Tidak ada yang tidak benar akan cinta... Laras... aku mencintaimu, biarkan aku mencintaimu malam ini..." kembali dia memangut bibirku, begitu lembut dan instens. Aku benar-benar terbuai dan terjerat olehnya.
Aku menerima setiap sentuhan dan ciuman memabukkan darinya, membuat hasratku naik, ini belum pernah aku rasakan. Betapa menggeloranya, terlalu manis untuk ditolak. Kata cinta darinya sontak membuatku luluh hingga tanpa sadar Dilan berhasil melucuti gaunku, kini aku hanya mengenakan underware di hadapannya.
"Dilan..."
"Ya... kau begitu lembut," ucapnya seraya mengecupi tubuhku dari atas hingga ke perut. Meremas gemas gunung kembarku yang masih berbalut victoria secret hitam.
"Dilan... stop... Dilan," aku menariknya yang hampir melepas pantyku. Menangkupkan wajahnya yang menatap penuh cinta.
Dilan berdiri dan menempelkan kening kami berdua. "Kau adalah wanita yang harus diperjuangkan, Laras... rasakan aku," kembali manik itu mengunciku. Menjerat dan menarikku ke dasar lautan yang paling dalam. Perasaan adalah dasar yang tidak dapat diukur oleh siapapun, tidak akan ada yang tau.
Dilan menciumku untuk kesekian kalinya, membuatku larut akan rasa yang diam-diam telah hadir antara kami. Aku tidak menampik jika aku tertarik padanya, tertarik sebagai seorang wanita kepada pria dewasa.
Pemuda itu mengangkat tubuhku dengan pangutan kami yang tidak terlepas, membawaku menuju kamarnya. Merebahkanku dengan terus membelit lidah. Tangannya begitu lihai membuatku polos dalam sekejap hingga tiba Dilan membuka t-shirtnya yang menampakkan pemandangan memanjakan mata. Perut rata dengan sedikit otot di sana, mampu membuatku hilang akal. Dilan menarik tanganku untuk menyentuh perutnya.
"Kau milikku," ucapannya menjadi awal penyatuan kami. Sebuah malam yang akan menjadi sesalku di kemudian hari.
🍁🍁🍁
Aku merasakan sebuah sinar menerpa wajahku. Aku menyipitkan mata karena kantuk yang masih terasa. Aku melihat sekelilingku, cukup lama aku terdiam hingga tiba-tiba aku tersadar. Aku tersentak melihat diriku yang hanya berbalut selimut.
"Ya Alloh! Apa yang terjadi?" Aku menutup mulutku menahan rasa bersalah teramat sangat.
Aku telah melakukan hal di luar batas, melakukan hubungan tanpa ikatan pernikahan. Tidak pernah terlintas di benakku, aku akan mengalami hal yang selama ini hanya terdengar di telingaku. Dan yang paling parah, aku melakukannya dengan Dilan. Seorang pemuda yang hanya beda 2 tahun dengan Rian. Tetanggaku sendiri!
Aku panik, mataku mulai berkabut. Ya Alloh, ampuni hambamu ini...
Tanpa kata aku meraih pakaianku yang berserakan di lantai. Aku menahan malu pada diri sendiri, wanita macam apa aku ini? Aku telah melecehkan mahasiswaku sendiri.
Saat aku mengenakan underwareku Dilan datang menghampiri. Senyum terulas di parasnya, dengan santai membawa sebuah nampan yang berisikan sarapan pagi.
__ADS_1
"Sudah bangun, ada apa?"
Aku menoleh dengan wajah yang aku yakin sangat berantakan. Aku diam dan memilih kembali mengenakan bajuku, Dilan terusik dengan sikapku.
"Mau kemana?"
"Pulang," jawabku cepat.
"Rian sampai nanti siang, kita sarapan dulu ya," Dilan mendekatiku. Aku sibuk menarik resleting gaun tanpa ingin menjawab apapun.
Aku merasa sangat kacau. Dilan mencekal pergelangan tanganku ketika aku meraih jaketku.
"Ada apa, bukankah kita telah melalui malam yang indah," ucapannya membuatku mau tak mau kembali sadar seberapa binalnya aku ini.
"Maaf, Dilan... semua salahku," aku menghela nafas.
"Maaf? Apa yang salah? Tidak ada yang salah Laras," Dilan menggeleng tidak mengerti.
"Dilan, ini sama sekali bukan salahmu. Aku sebagai orang dewasa di sini yang telah lalai. Aku... aku begitu rentan... dan kau... kau begitu manis... sangat manis hingga aku khilaf, aku-"
"Laras, dengarkan aku! Tidak ada yang salah. Tadi malam adalah malam yang paling sempurna, kau tidak perlu merasa bersalah... aku akan bertanggung jawab padamu," selanya sambil memegang kedua bahuku.
"Tidak... itu tidak normal... sama sekali tidak wajar, aku yang khilaf... jadi-" aku melepaskan diri darinya. Aku bisa lihat raut wajahnya yang kecewa.
"Dilan... aku hanya-"
BHUAK!!!
Aku tersentak dengan Dilan yang meninju dinding secara tiba-tiba. Wajahnya memerah menahan sakit dan marah, aku memekik ketika melihat darah mengalir di setiap buku-buku jarinya.
"Dilan... tanganmu!" Aku menggapai tangannya. Dilan diam saja.
Aku menuntunnya menuju sofa dan mengambil betadine serta kapas untuk mengobatinya. Mungkin penuturanku terlalu mendadak hingga membuat Dilan tidak terima. Aku mencoba kembali membujuknya agar melupakan kejadian tadi malam.
"Dilan... sekali lagi aku minta maaf, aku harap kau mau melupakan kejadian tadi malam," ujarku.
Saat itu juga Dilan menarik tangannya yang sedang aku obati. Wajahnya datar tanpa ekspresi, belum pernah aku melihat rautnya yang seperti ini. Dia tampak tidak terima.
"Dilan..."
"Pergilah," pintanya membuat hatiku nyeri.
Apa Dilan membenciku? Apa yang harus aku lakukan?
__ADS_1
"Bukan maksudku-"
"Aku bilang pergi!" Ucapnya membuatku mau tidak mau harus pergi.
Ya, mungkin Dilan butuh waktu. Kami butuh waktu untuk kembali memikirkan dan memecahkan masalah ini. Aku pun memilih pulang saat itu juga.
🍁🍁🍁
Kediaman Laras
Aku mengguyur tubuhku di bawah shower, aku masih merasa hal yang telah terjadi tadi malam adalah mimpi. Aku berharap ketika aku membuka mata semua itu bukan kenyataan. Betapa bodohnya aku terbawa nafsu, tersesat bagai hawa yang termakan rayuan syetan.
Ku ambil air wudhu, meresapi tiap bulir air yang membasahi wajahku. Aku hanya berbekal niat untuk bertobat. Ku hamparkan sajadah, bersujud memohon ampun akan diri yang begitu kotor dan penuh dosa. Semoga Alloh menutupi aibku.
Waktu pun bergulir hingga petang menyapa. Aku menuruni tangga, ketika sampai di dekat pintu dapur aku bisa melihat rumah Pak Kentaro dari kaca jendela. Aku segera memalingkan muka. Aku merasa selalu dibayangi kejadian malam itu jika melihat hal apapun yang berhubungan dengan Dilan.
Beginikah perasaan orang yang merasa bersalah, hidupnya tidak tenang.
Suara ketukan pintu menyadarkanku, aku hampir melompat ketika membukanya. Mengira jika orang yang di hadapanku adalah Dilan, nyatanya orang itu adalah Rian. Aku tersenyum kikuk menyambut kepulangan anak semata wayangku.
"Assalamu'alaikum Ma," salam Rian.
"Wa'alaikum salam," sahutku setenang mungkin.
Rian tidak langsung masuk, dia masih berdiri di hadapanku hingga aku pun bertanya.
"Kok tidak masuk?"
"Kalau boleh, Papa makan siang di sini ya Ma," pinta Rian padaku.
Sedangkan Mas Andi tersenyum simpul di samping Rian menanti jawabanku.
Baiklah, aku mengalah saja, Batinku.
"Ya, silahkan masuk Tuan-tuan," ledekku meninggalkan mereka berdua.
Aku bisa melihat raut wajah sumringah Mas Andi sebelum aku berbalik badan. Apakah yang aku lakukan sudah benar? Hanya makan siang, bukan apa-apa pikirku.
Tbc.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan commenta kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
__ADS_1
Duh... aku ganti2an neh bikin lanjutan antara Acha sama Dilan... gpp ya?! Mau nunggu ya?!