
Laras POV
Langit mulai kemerah-merahan menandakan jika hari telah senja. Aku kemudian merapikan meja sebelum beranjak pulang ke rumah. Di tengah kegiatanku, ponselku berdering. Aku mengeryit saat melihat nama yang tertera di sana.
[Halo?] Sapaku.
[Dek Laras, kau sudah pulang?]
[Sedang bersiap pulang,] aku mengapit ponsel diatara telinga dan bahuku.
[Mau ku jemput?]
[Aku membawa mobil sendiri, ada apa Mas?] Jawabku asal.
[Aku ingin mengajakmu makan malam.]
Aku mendesah lelah. [Mungkin lain kali, aku tidak mau meninggalkan Rian sendiri di rumah,] sergahku.
[Rian sudah besar, dia pasti mengerti.]
[Ya, dia selalu mengerti aku. Tidak seperti kamu, Mas.] Sarkasku.
[Dek Laras...] suaranya terdengar getir.
[Jika tidak ada lagi yang penting, telponnya aku tutup. Aku mau pulang,] ucapku tanpa basa basi.
[Baiklah, aku sebenarnya mau minta ijin untuk mengajak Rian ke pertandingan bola di Bandung. Mungkin menginap 1 malam,]
Aku terdiam sesaat dan duduk di sofa. [Kapan?]
[Bulan depan.]
[Oke, tidak masalah,]
[Terima kasih, Dek...]
[He-em, ya sudah aku pulang dulu,] ucapku kemudian menutup panggilan.
Aku memejamkan mata melepas penat yang memenuhi kepalaku. Aku bingung dengan diri sendiri. Aku tidak pernah bisa menahan amarah yang masih tertinggal di hati setiap berhadapan atau berinteraksi dengan mantan suamiku. Rasa dikhianati dan curiga masih belum kunjung hilang.
Apa ini karena batinku yang belum mengikhlaskan semua? Tidak semudah membalikkan telapak tangan. Nyatanya kejadian itu memberikan rasa trauma tersendiri pada diriku. Aku berusaha tegar dengan menggugat cerai Mas Andi, meski sebenarnya hatiku berdarah-darah. Mas Andi pun tidak luput dari rasa itu, rasa hancur akan segalanya. Kami sama-sama menderita.
Tapi untuk memulai semuanya lagi... aku masih ragu.
🍁🍁🍁
"Assalamu'alaikum," aku mengucap salam dan menutup pintu.
Tidak ada sahutan. Apa Rian belum pulang?
__ADS_1
Aku melempar asal tas dan sepatuku, aku merebahkan diri di sofa. Rasanya tubuhku seperti remuk redam. Aku mendengar suara dari arah dapur, pasti Rian sedang mencari makanan. Aku belum memasak, aku pun berseru memanggilnya.
"Rian, pijitin Mama donk..." rengekku. "Pegel banget... nanti Mama bikinin corn dog deh," tambahku.
Sudah jadi kebiasaanku dipijat oleh Rian sepulang kerja, aku menyenderkan tubuh bersiap untuk di pijat.
Aku merasakan tangan Rian yang memijit pundakku yang pegal dan tegang. Pijitannya enak sekali, aku sampai memejamkan mata menikmati pijatannya.
"Ehm... iya di situ..." aku memiringkan kepalaku. "Uh... enak banget Rian, kamu makin jago pijitnya," pujiku tanpa melihat padanya.
"Baguslah jika enak," aku langsung membuka mataku saat suara yang tidak asing terdengar.
Yang jelas itu bukan suara Rian. Aku menengok dengan cepat.
"Di-Dilan!"
Pemuda itu tersenyum, sontak aku bangun dari dudukku. Mengusap wajah berantakanku yang merah karena malu.
"Maaf, aku kira kamu Rian. Dan... kenapa kamu diam saja?" Ucapku tidak enak.
"Saya tidak tega, anda seperti sangat lelah," lagi senyumannya tidak kunjung luntur. Mungkin jika aku seorang gadis di kampus aku akan meleleh saat itu juga.
"Ma, sudah pulang?" Rian memanggilku sambil menuruni tangga.
Aku menatap bingung pada Rian yang berdiri di samping Dilan.
"Kalian..."
"Ya... kami sudah berkenalan," ucapku kikuk dan beranjak mengambil sepatu serta tas yang berserakan. "Kalian tunggu sebentar ya! Nanti Mama buatkan makan malam," aku segera berlalu menuju kamar.
🍁🍁🍁
Author POV
Rian memandang heran pada Laras yang segera pergi setelah kedatangannya.
"Mama kenapa? Kau tau?" Tanyanya pada Dilan.
Dilan hanya mengedikkan bahu dengan alisnya yang terangkat. Dalam hati dia senang bisa memijat wanita yang selama 2 hari bertandang di mimpinya. Meski samar, tadi ia sempat menghirup wangi shampo dari rambut Laras. Wanginya masih tertinggal di indera penciumannya.
"Harum," gumamnya.
Setelah selesai membersihkan diri, Laras segera menyiapkan makan malam untuk mereka. Mereka pun makan dengan khikmat dan lahap.
Rian menceritakan kegiatan hari ini ketika makan malam usai. Laras mendengarkan dengan seksama sambil menghidangkan camilan sebagai pelengkap cerita.
"Kau mau minum sesuatu, Dilan?" tawar ibu satu anak itu.
Dilan mengangguk sungkan. "Jika tidak merepotkan."
__ADS_1
"Aku tidak ditanya," sahut Rian dengan cemberut.
Jitakan melayang ke kepalanya. "Kamu tidak usah ditanya, pasti mintanya milo," jawab Laras gemas.
Dilan terkikik geli melihat hal itu. Tanpa sengaja matanya bertabrakan dengan Laras yang juga tersenyum. Manis sekali, batinnya.
Laras yang salah tingkah memilih menunduk. Sadar Laras, kamu ini orang tua. Masa terpesona sama brondong!
"Kamu mau minum apa?" Laras berusaha menepis perasaan aneh yang menyelimutinya.
"Kopi saja," jawab Dilan.
Laras segera ke dapur dan membuatkan minuman untuk mereka.
🍁🍁🍁
Waktu berputar dengan cepat, tanpa terasa sudah tengah malam. Akhirnya Dilan pamit meski sebenarnya enggan. Pemuda itu masih betah menatap Laras yang terlihat memikat hanya dengan daster rumahan dan ikatan asal pada rambutnya. Karena Rian yang sudah tidur lebih awal, Laras menemani Dilan sampai pintu keluar.
"Terima kasih untuk makan malam dan kopinya," ucapnya tulus.
"Sama-sama, terima kasih sudah membantu Rian membuka loker," jawab Laras yang terdengar lucu bagi Dilan.
"Tentu tindak sebanding," Dilan terkekeh.
Laras ikut tersenyum. "Selamat malam, Dilan," ucapnya terdengar merdu di telinga Dilan.
"Selamat malam," Pemuda itu pun pergi berjalan menuju rumah Pamannya.
🍁🍁🍁
Laras POV
Aku menutup pintu kemudian menyenderkan tubuh di balik pintu. Jantungku tidak henti berdebar semenjak tadi Dilan memijitku. Aku berusaha bersikap sealami mungkin, tapi berkali-kali maniknya menangkap dan memperangkapku hingga membuatku sulit bernafas. Perasaan ini tidak seharusnya. Ini pasti hanya kekaguman sesaat.
Aku harus menetralkan kembali akal dan pikiranku seperti semula. Ya, harus!
Aku kembali ke kamar dan bersiap untuk tidur. Saat aku akan menutup gorden, aku melihat dia yang berhasil mengacaukan jantungku sedang duduk sambil memainkan gitar. Pemuda rupawan dengan segala pesonanya. Aku memperhatikan sejenak sambil menikmati indahnya malam dengan taburan bintang.
Entah pukul berapa aku tidur, yang jelas keesokan harinya aku bangun kesiangan. Ini semua karena brondong itu, brondong garing yang rasanya manis dan legit!
Aku menuruni tangga dengan tergopoh-gopoh. Rian mendengus dan berkicauan dengan gerutuannya karena kesiangan.
"Mama kok bisa kesiangan seh? bla... bla... bla," aku menutup telinga dengan headseat dan melihat Rian seperti sedang bernyanyi seriosa.
Tanpa menghiraukan anak semata wayangku, aku menyiapkan bekal. Memanaskan mobil dan membakar roti kemudian menyumpalnya ke mulut Rian yang masih berceloteh tanpa henti.
Tbc.
Please rate, vote dan likenya yach!
__ADS_1
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
Hm.. makin manis adja neh... diabetes deh aku