Terjerat Brondong

Terjerat Brondong
TB 24


__ADS_3

Author POV


Matahari mulai terbenam, langit yang memerah kini mulai menghitam. Tanpa bintang dan bulan terlihat hampa seperti tidak ada kehidupan. Hembusan semilir angin kala itu membuat suasana semakin dingin, sedingin tatapan Dilan pada ponselnya yang tidak kunjung mendapatkan respon dari sang kekasih.


“AKKH, SHIT!” geramnya sambil membanting ponsel ke ranjang.


Berjalan mendekati jendela kamar memukul dengan kedua tangannya yang mengepal.


BUGH!


“Kenapa kau tidak mengangkat teleponnya?" maniknya menatap lurus jendela di seberang sana. Gorden itu masih tertutup, tidak ada celah seperti tadi.


Apa dia harus pergi ke sana? tanpa perduli Rian yang akan melarang dan menghadangnya. Keadaan saat ini benar-benar membuatnya frustasi. Tidak menyangka jika Rian akan memergoki mereka, salahkan dirinya yang tidak bisa menahan diri jika bersama Laras.


Jiwa muda menggebu yang menjadi boomerang, Dilan hanya bisa memaki diri dalam hati. Jika bisa menghajar diri sendiri mungkin akan dia lakukan sekarang.


Saat dirinya sibuk menjambak rambut yang sudah berantakan, dering ponsel mengalihkan atensinya. Dengan cepat digapainya ponsel itu, berharap jika itu adalah panggilan dari Laras. Wajahnya yang mulai berbinar itu langsung memudar kala tau siapa yang menelponnya. Sebuah nomor yang tidak dikenal.


“Siapa?” gumamnya.


Hingga akhirnya pada panggilan ke-3 Dilan mengangkatnya. Dilan diam saja, memancing di seberang sana agar mengeluarkan suara terlebih dahulu.


[Halo… Kak Dilan,] sapa orang itu. Dilan memicingkan mata, mengingat suara siapa itu.


[Aku Fany kak, maaf mengganggu,] ucapnya kembali karena tidak kunjung mendapat respon dari Dilan.


Dilan mendengus kesal mendengar nama penelpon tersebut.


[Mau apa? Dan dapat dari mana nomor teleponku?] Dilan sedang tidak ingin berhubungan dengan orang yang tidak penting baginya.


[… Kak Dilan jangan salah paham, aku menghubungi Kakak untuk menanyakan masalah Rian. Masalah nomor… aku menanyakannya ke pihak administrasi di kampus, maaf jika aku lancang,] ujar Fany tidak enak.


[Kenapa dengan Rian?] Dilan lebih tertarik pada hal yang bersangkutan dengan Laras, mungkin Rian akan menjadi calon anak sambungnya nanti. Dilan sudah berfikiran sejauh itu.


[Bisa kita ketemu langsung?] tanya Fany takut-takut.

__ADS_1


Dilan terdiam, apa hal yang akan disampaikan gadis itu sangat penting? Hingga mengajaknya untuk berbicara langsung di luar.


[Kalau Kakak keberatan, tidak usah-]


[Kita ketemu di depan kampus besok!] sela Dilan cepat.


[O-ok Kak, terima kasih!]


Dilan menutup panggilannya, menatap datar pada gawai yang di genggamnya. Tidak ada balasan apapun dari setiap pesan yang dikirimnya pada Laras, bahkan 30 panggilan diabaikan begitu saja. Mendesah lelah, Dilan memilih memasuki kamar mandi guna meredamkan hatinya yang gundah gulana.


🍁🍁🍁


Laras POV


Mataku tidak kunjung terpejam, seperti terganjal oleh lem yang merekat di antara kelopak mata. Memikirkan cara bagaimana memutuskan hubungan dengan Dilan tanpa menyakitinya? Mengucapkan kata putus pun rasanya lidahku kelu. Aku mencintainya…


Tanpa terasa aku menitikkan air mata, bibirku berkata ingin mengakhiri namun, hatiku merintih. Cukup lama aku meratapi semua hingga pintu kamarku terbuka. Aku menenggelamkan kepalaku pada bantal, menutupi wajah dengan mata sembab dari Rian yang mendatangiku.


“Ma…” panggil Rian. Dia duduk di sisi ranjang.


“Mama belum makan, dari tadi aku tunggu di bawah… Mama tidak kunjung turun,” ucapnya pelan.


“Mama… pasti makan. Mama hanya ingin tidur sebentar lagi,” jawabku.


Aku tidak mendengar suara apapun, karena merasa ada yang aneh aku mengintip dari balik bantal. Ternyata Rian sedang menatapku dengan sendu, aku gelagapan sendiri karena ketahuan mengintip. Rian menarikku dari pembaringan hingga terduduk, aku yang merasa lemas hanya bisa pasrah.


Mungkin karena aku belum makan dari tadi siang. Rasanya nafsu makanku hilang begitu saja. Rian meletakkan telapak tangannya pada keningku. Matanya langsung membulat sambil berseru.


“Ya Alloh, Mama… badan Mama panas!”


“Panas?” aku membeo, aku merasa biasa-biasa saja, malah merasa jika tubuhku dingin. Aku menarik selimut sambil tersenyum tipis. “Salah kamu, Mama malah kedinginan. Bisa tolong matikan ACnya?”


Rian menggeleng pelan. “Tunggu sebentar!” kemudian Rian beranjak dari duduknya dan meninggalkan kamar.


Tidak lama Rian kembali dengan sesuatu di tangannya. Menaruhnya diantara bibirku yang terkatup rapat. Aku baru menyadari jika itu adalah thermometer.

__ADS_1


“Lihat! Suhu Mama tinggi, ayo kita ke Rumah Sakit!” ucap Rian sambil menyodorkan thermometer yang telah dia ambil dari mulutku.


“36 derajat?” aku melihat thermometer itu lalu menggeleng. “Mama cuma masuk angin, Mama tidak apa-apa. Mama mau tidur lagi,” pintaku pada Rian. Pemuda itu diam saja, aku kembali meminta dirinya untuk mematikan AC. “Sebelum keluar kamu matikan ACnya ya…” setelah itu aku menutup mataku yang mulai berat.


🍁🍁🍁


Keesokan harinya aku terbangun pagi-pagi sekali. Aku menyeret tubuhku yang sangat lemas ke arah kamar mandi. Memuntahkan segala isi perutku di sana. sayangnya tidak ada apapun yang bisa ku keluarkan karena aku tidak memakan apapun dari kemarin siang. Mulutku pahit, kepalaku pun pening bukan main.


Aku merayap diantara dinding untuk kembali ke ranjang, diwaktu bersamaan Rian datang dengan wajah khawatir dan memanggil namaku. Aku tidak tau lagi apa yang terjadi, karena saat itu juga pandanganku menjadi gelap gulita.


🍁🍁🍁


Author POV


Kulit itu masih begitu lembut, sudah lama Rian tidak mengusapnya. Terakhir kali saat dirinya memasuki kampus, sang Mama memberikan semangat dengan genggaman tangannya. Mengusap menenangkan punggung tangan yang dingin karena gugup.


Saat itu Rian sedang masa ospek, sebuah kegiatan yang biasa dilakukan oleh mahasiswa baru di setiap Universitas. Mengingat itu membuat Rian menunduk haru, dikecupnya tangan sang Mama, menangis dan menyesali keegoisannya kemarin.


Rian hanya takut cinta sang Mama akan terbagi, terlebih pada orang lain yang bukan orang tua kandungnya. Tapi siapa yang tau? Orang tua sendiri kadang tidak lebih baik dari orang lain. Ada pula orang lain yang tulus mencintai layaknya keluarga sendiri.


Melihat bagaimana rapuhnya sang Mama tanpa Dilan membuatnya sadar, jika Rian tidak bisa memisahkan mereka. Rian juga tidak ingin Mamanya menderita, Rian hanya ingin melihat Mamanya bahagia. Jika kebahagiaan itu ada pada Dilan… mungkin merestui mereka adalah hal terbaik.


Rian hanya berharap, Dilan adalah pria yang pantas untuk sang Mama dan tidak akan pernah menyakitinya.


Akhirnya Rian memutuskan untuk menemui Dilan, dia ingin tahu seberapa pantas Dilan untuk Mamanya. Bisakah dia bertanggung jawab dan menjaga sang Mama?


Rian mengendarai mobilnya menuju kampus, sepanjang jalan memikirkan hal apa saja yang ingin disampaikan pada Dilan. Seperti seorang ayah pada anak perawannya. Rian ingin memberikan petuah dan peringatan pada Dilan jika pria itu sampai menyakiti wanita yang sangat di cintainya itu.


Baru saja Rian ingin memanggil Dilan yang sedang berdiri di depan gerbang kampus, dia dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang menghampiri Dilan. Tangan pemuda itu mengepal dengan matanya yang tajam.


“BRENGSEK!”


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan komen kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!

__ADS_1


__ADS_2