Terjerat Brondong

Terjerat Brondong
TB 28


__ADS_3

Laras POV


Aku berjalan menuju kelasku mengajar, di waktu bersamaan ponselku berdering. Ku hentikan langkah dan merogoh tas selempangku. Sebuah panggilan dari orang yang membuatku kasmaran, aku menerima panggilan itu dan mengapit ponselku diantara pundak dan telingaku.


[Assalamu'alaikum,] aku mengucap salam.


[Wa'alaikum salam,] sahut Dilan.


[Ada apa?] tanyaku.


[Hanya rindu, padahal tadi pagi aku sudah menatapmu,] ucapnya sontak membuatku tersenyum geli.


[Berhenti merayu, aku geli mendengarnya] ucapku menahan tawa.


[Geli-geli enak, ya?] godanya.


[Dilan!] pekikku hampir membuat mahasiswa yang di luar memperhatikanku. Pria ini benar-benar harus dibungkam mulutnya agar tidak mengeluarkan kata absurd.


Terdengar suara kekehan dari seberang sana. [Rencana kita tidak berubah kan?]


Aku mengeryitkan kening dengan mata menyipit. [Rencana?] tanyaku balik.


[Menemaniku untuk magang, kau lupa?]


Aku membulatkan mataku karena tersadar. [Ya ampun, hampir saja aku lupa,] aku melanjutkan langkah hingga pintu kelasku. [Kita sambung lagi nanti, aku sudah di kelas.] tambahku.


[Baiklah,] jawab Dilan agak lesu.


Aku mengulum senyum yang lagi-lagi terus tersungging di wajahku. Ah, sudahlah.... aku tidak akan menahannya lagi. Aku memasuki ruangan kelas dengan sapaan riang pada setiap mahasiswa. Mereka tampak bingung, masalahnya aku mengajar selalu dengan wajah datar. Jadi wajar jika mereka bersikap seolah ada yang aneh padaku.


"Hari ini Ibu sedang senang, jadi... kita hanya membahas buku Iliad dari Homer tanpa soal," seketika ruangan riuh karena sorak kegirangan para mahasiswa. Apa aku terlalu keras pada mereka? Hingga ketika bebas tugas mereka begitu antusias. Aku meringis sendiri.


Aku membahas sejarah buku yang diberikan Dilan padaku, tentang Achiless yang terbunuh karena kelemahan pria itu pada tumitnya. Dan hingga kini aku bingung, mengapa sebuah merk ban terkemuka di dunia malah memakai lambang tumitnya.


Satu jam berselang, jam pelajaranku hampir usai. Ketika itu pula suara ketukan pintu mengambil atensiku, Maria datang dengan raut wajah yang aneh. Aku pun meninggalkan kelas untuk berbicara di luar dengan Maria.

__ADS_1


"Ada apa Maria?" tanyaku setelah menutup pintu kelas.


Maria menatapku tajam, dia menyodorkan sebuah kertas padaku. "Katakan, apa maksudmu? Kau meminta cuti dua bulan, untuk apa?" Maria memberondong pertanyaan sambil menunjuk-nunjuk kertas yang sedang aku baca.


Sebuah surat permohonan cuti, aku sama sekali tidak pernah mengirimnya bahkan belum ku buat. Tapi kini ada di tanganku, dengan email dariku. Aku menatap Maria dan secara samar aku melihat siluet seseorang cukup jauh di belakang Maria. Dia tersenyum sambil mengerlingkan mata. Ini ulah orang itu tapi, bagaimana bisa dia menggunakan emailku?


Maria memanggil-manggil diriku yang termenung. "Laras, kamu tidak mendengarku?" Aku masih diam kemudian Maria menoleh ke arah tatapanku. Beruntung dia sudah tidak ada di sana. Maria pun kembali memanggilku dengan menggoyang bahuku. "Laras! Kok malah bengong?"


Aku tersadar dan melihat ke arah Maria. "Ah... iya, maaf. Nanti akan aku beritahu padamu alasan mengapa aku meminta cuti tapi, saat ini ada yang harus aku kerjakan. Penting!" jelasku. Aku harus meminta penjelasan dari perbuatannya ini.


Maria tampak tidak puas dengan jawabanku. Dia mengekoriku yang memasuki ruangan kelas.


"Semuanya, hari ini cukup sampai di sini! Kita bertemu lagi besok, Ibu minta review kalian untuk buku Iliad dan dibuat dalam kertas selembar. Ingat, tulisan tangan, Ok!" Pintaku pada seluruh mahasiswa.


"Baik Bu!" sahut mereka serentak.


Aku merapikan bukuku, Maria masih setia menemani. "Laras, tidak bisakah kau bilang padaku sekarang alasannya?"


Aku meraih tasku dan berjalan keluar kelas tanpa menjawab. "Laras!"


"Ok, maaf! Salahmu karena senang membuatku mati penasaran!" Maria membela diri.


Aku memejamkan mata, baru saja hatiku berbunga-bunga namun, dalam sekejap bunga-bunga itu hilang berubah menjadi bunga bangkai. "Maria... aku janji, aku akan memberitahukan semua... semuanya padamu tapi, tidak sekarang!" tegasku.


Kali ini Maria tampak diam dan seperti menerimanya. "Baik, aku tunggu..." Maria pun pergi meninggalkanku.


Aku meraih ponsel dan menghubunginya, siapa lagi kalau bukan Dilan.


[Assalamu'alaikum, Dilan! Kamu membajak emailku?] tanyaku kesal.


[Wa'alaikum salam, slowly babe. Aku cuma iseng,] suara itu begitu tenang.


[Iseng? Itu privasiku, kamu tidak seharusnya mengambil keputusan tanpa persetujuanku!] aku menahan suara agar tidak berteriak.


[Aku hanya ingin membantumu mendapatkan cuti, jadi minggu depan kita bisa langsung berangkat.] ucapnya meyakinkan.

__ADS_1


Apa memang seperti ini sikap anak muda dalam mengambil keputusan? Begitu terburu-buru dan membahayakan. Aku menghela nafas lelah. [Tapi, seharusnya kamu tidak sampai membajak emailku. Kau tau kan sepenting apa sebuah email seseorang?]


[Apa yang harus disembunyikan? Kita sepasang kekasih, aku akan segera menikahimu... kamu masih menjaga jarak dengan sikapmu ini,] keluhnya tidak mau kalah.


Aku lebih dewasa... aku yang harus banyak mengerti. Aku harus mengalah. [Aku maafkan kau kali ini Dilan, tapi tidak lain kali. Aku akan mengganti password emailku sekarang juga,] jelasku.


[Baiklah... aku minta maaf, harusnya kau menunggu aku mengucapkan itu. Kau menyindirku ya?] ledeknya dengan suara sumbang. Dan anehnya aku malah merasa geli mendengar itu.


[Seorang keras kepala sepertimu memang harus disindir agar lunak,] Aku mencibir.


[Aku hanya lunak padamu,]


[Gombal! Aku akan pulang sekarang, kau di mana?]


[Sedang mengamati makhluk Tuhan paling indah,]


Aku langsung mengedarkan pandangan mencari sosok yang ternyata sedang berdiri cukup jauh di seberang sana. Dia berjalan mendekat dengan senyuman menawannya. Aku terpaku dengan jantung yang berdegub setiap melihatnya. Saat jarak kami semakin terkikis kedatangan Rian yang tiba-tiba membuat raut wajah Dilan memuram seketika.


"Mama sedang apa?"


Rian menatap ke arah pandanganku, dia pun memicingkan mata. Dirangkulnya tanganku dan menyeretku kembali seperti tadi pagi. "Mama pulang denganku," ucapnya tanpa menunggu jawabanku. Dilan sendiri segera mengekori kami berdua sampai ke area parkir.


Tanpa kata, Dilan segera masuk ke dalam mobil dan menarikku bersamanya. Rian tersentak karena kaget dan menggeram kesal saat tau jika dirinya sendiri yang di kursi kemudi.


"Kau pikir aku supir?" Rian menengok ke kursi penumpang, menatap tajam pada Dilan. Aku memilih memejamkan mata dan menyumpal telingaku dengan earphone. Menyenderkan kepala dan berpura-pura tidur.


"Stss... lihat, Mamamu sedang tidur. Jangan berisik," bisik Dilan membuat Rian makin gemas.


Rian pun memilih menjalankan mobil sambil menahan dongkol. Dia mengalah karena tidak mau mengganggu tidur Mamanya. Dari kaca kemudi dia terus mengancam Dilan lewat isyarat. "Awas kau!" kodenya.


Tbc.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan koment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!

__ADS_1


Dilan bahaya juga neh, othor ngeri2 sedap klo sampe di bajak emailnya... 🥴


__ADS_2