Terjerat Brondong

Terjerat Brondong
TB 19


__ADS_3

Laras POV


Kediaman Laras


Suara jerit sebuah teko terdengar, menandakan jika air sudah matang. Aku menuangkannya di atas cangkir berisi bubuk hitam bersama gula. Aroma harum kopi menyeruak kala air menyatu dengan bubuk tersebut. Aku mengaduknya lama memastikan bubuk itu larut bersama gula dan air. Setelah itu aku membawa cangkir tersebut menuju ruang tamu.


Tampak sesosok pria berkacamata dengan wajah tidak bersahabat, dia adalah Mas Andi… mantan suamiku. Aku menaruh cangkir itu di meja berhadapan dengannya. Tersenyum ramah pada pria itu.


“Diminum Mas, kopinya!” tawarku.


Mas Andi melipat tangannya dan menatap datar padaku. “Aku ke sini bukan untuk minum kopi!” sergahnya ketus dan kembali melontarkan kata. “Apa maksud pesan Adek? Kenapa tidak mengangkat telpon Mas?”


Aku duduk berseberangan dengan Mas Andi, menopang nampan di atas pangkuanku. “Sengaja, agar Mas datang ke sini,” jawabku santai.


Kemarin, aku mengiriminya pesan singkat. Pesan agar berhenti meminta rujuk padaku, aku sudah memperhitungkan jika ia akan segera menemuiku.


“Apa salah Mas? Bukankah hubungan kita baik-baik saja sebelumnya? Mas mengerti jika Dek Laras butuh waktu, Mas siap menunggu!” Mas Andi beranjak dari tempat duduknya hendak mendekatiku namun, aku segera menghentikannya.


“Aku menyukai orang lain,” ucapanku sontak membuat Mas Andi membeku.


“A-apa?”


Aku mendongak dan berkata dengan tegas. “Aku sudah memiliki kekasih, jadi aku harap Mas berhenti mendekatiku! Terlepas dari kewajibanmu sebagai Papa Rian, aku tidak akan melarangmu menemuinya.”


Pria itu terdiam tampak berfikir sejenak lalu tersenyum miris. “Apa ini upayamu agar Mas menyerah? Mas katakan itu percuma!” pria itu menyangkal dengan pemikirannya.


Bayangan akan kartu bertuliskan nama hotel malam itu terlintas, aku tertawa kecil membuat Mas Andi bingung. “Itu sudah keputusanku, aku minta Mas menghargainya.”


“Laras, kamu pikir ini lucu?” Mas Andi terlihat mengetatkan rahangnya.


“Tidak… sama sekali tidak!” aku mengedikkan bahu acuh. “Aku hanya menyadari sesuatu. Jika watak seseorang mungkin akan sulit untuk dirubah,” ucapku ambigu.


“Apa maksudmu?”


Aku beranjak dari dudukku dan meraih paper bagku. “Mas bisa pulang sekarang! Aku ada urusan lain,” usirku halus.


Bukannya pergi Mas Andi malah mencekal tanganku hingga paper bagku terhemas karena gerakannya yang cukup kuat.


PRAK


“Kita belum selesai!” ucap pria itu penuh penekanan.

__ADS_1


“Mas! Apa-apaan seh?” aku berusaha melepaskan diri karena kesal, makananku berhamburan di lantai.


“Kamu yang apa-apaan?” Mas Andi menarik cekalan hingga tubuhku mendarat di atas sofa dalam keadaan terlentang. “Tiba-tiba memutuskan semuanya tanpa sebab, Mas tidak terima!”


Mataku membulat, Mas Andi mendekatkan wajahnya dan mencium paksa. Aku memalingkan muka sambil memekik. “Mas! Berhenti!”


Rontaanku terasa tidak berarti di bandingkan dengan tenaga Mas Andi seorang pria. Air mataku mengalir deras, untuk pertama kalinya aku diperlakukan seperti ini olehnya. Tenagaku terkuras hingga membuatku lemas namun, tidak lama ada tarikan pada tubuh Mas Andi membuat dirinya terjerebab di lantai.


Aku melihat sosok pemuda yang familiar, Dilan dengan wajah merah menatap tajam pada Mas Andi. Pria itu hendak merangsek maju melayangkan bogeman mentah.


“DILAN, JANGAN!” teriakku.


Kepalan tangan itu mengambang di udara, sebelum akhirnya Dilan memilih menarik diri menjauh. Pemuda itu menghampiriku lalu serta merta memelukku erat, pemandangan itu jelas saja membuat Mas Andi terkejut. Pria itu beranjak dari lantai dengan wajah kesal.


“Aku pikir reaksimu terlalu berlebihan, Dilan. Tidak seharusnya kau memeluk Ibu dari sahabatmu!” tampak pria itu mengepalkan tangannya.


Aku membalas pelukan Dilan, bernafas lega karena Dilan datang tepat pada waktunya. Tanpa aku tau jika Mas Andi meradang melihat hal itu.


“Lepaskan Laras!” Dilan angkat suara dengan wajah datar pada mantan suamiku. “Berhenti memintanya untuk rujuk dengan anda,” tambahnya.


Entah mengapa saat ini aku melihat Dilan sangat dewasa, aku seolah bisa mengandalkan dirinya. Memberiku ketenangan.


Dilan hendak mengatakan sesuatu namun aku mengusap dadanya menahan agar aku yang berbicara. Aku memandang Mas Andi dan berkata.


“Dia berhak! Karena Dilan adalah kekasihku,” tegasku.


🍁🍁🍁


Suasana ruangan itu terasa memanas akibat perseturuan yang terjadi, hening sesaat setelah pengakuanku tentang hubunganku dengan Dilan. Ekspresi Mas Andi sulit diartikan hingga membuatku menerka-nerka apa yang sedang difikirkannya. Cukup lama sebelum suara kekehan terdengar, aku menatap bingung pada mantan suamiku itu.


“He, he, he… sungguh lucu. Kau menyuruh Dilan untuk bersandiwara?” Mas Andi melihat ke arah Dilan dan tersenyum. “Jika kau jujur sekarang, aku akan memaafkanmu,” ucapannya membuatku pening.


Susah sekali meyakinkan pria ini jika hubungan kami sudah tidak bisa diperbaiki lagi. semua sudah berakhir sejak 5 tahun lalu.


“Kami tidak sedang bersandiwara, aku benar-benar mencintai Laras. Dan saat ini kami sedang menjalin hubungan,” jelasnya memudarkan senyuman yang terpatri di wajah Mas Andi.


Mendadak wajahnya merah padam. “Jangan bilang kalian yang malam itu-“


“Ya, itu kami!” jawabku.


“Kau gila! Kamu berhubungan dengan mahasiswamu? Di mana attitudemu, apa itu pantas?”

__ADS_1


Bibirku berkedut dan berdecih, mengusap kasar pipiku yang basah. “Jangan bahas attitude padaku, bagaimana kabarmu yang masih sering mencari kesenangan di belakangku hingga saat ini? Oh tidak… itu bukanlah kesalahan, karena kau pria lajang sekarang. Aku tidak pantas melarangmu,” aku mengeluarkan kartu hotel yang ada di saku celana Dilan.


Kartu itu tampak lusuh karena terkena air. Sepertinya Dilan lupa akan keberadaan kartu itu dan mencuci celananya tanpa memeriksanya. Aku melemparnya ke hadapan Mas Andi yang mematung. Dia cukup baik dalam menangkap maksudku.


“Kau bebas Mas, jangan melihat ke belakang lagi atau merasa bersalah padaku. Kisah kita memang telah lama usai,” ucapku datar pada mantan suamiku itu.


Mas Andi memungut kartu itu dan tertunduk, tangannya bergetar lalu meremasnya. “Maaf Laras… maafkan Mas,” ucapnya lirih.


Aku menggeleng tanpa suara, rasanya enggan menjawab. Sudah terlalu sering aku mendengar kata itu. Aku memeluk Dilan dan meminta ia membawaku pergi dari sana. Pemuda itu pun membawaku dalam gendongannya menuju lantai atas melewati Mas Andi begitu saja.


Dilan mengerti jika aku lelah, sangat lelah menghadapi masalah dalam hidupku. Setidaknya sekarang aku lega dan tau apa yang seharusnya aku lakukan.


“Terima kasih,” ucapku setelah Dilan membaringkanku di ranjang.


Senyuman tipis yang begitu aku rindukan akhirnya terlihat. “Tidurlah,” pria itu lalu mengecup keningku dan menyelimutiku dengan selimut.


Aku segera memejamkan mata, meneteskan air mata terakhir untuk Mas Andi.


Mungkin ini memang takdir hidupku, menjadi janda karena di khianati dan hampir saja terjatuh di lubang yang sama untuk ke-2 kali. Aku tidak pernah membayangkan bagaimana kisahku jika tidak ada pemuda itu.


Dilan… kekasih brondongku, meski hubungan ini di awali dengan kesalahan manis yang membuatku menyesalinya namun, aku pun tidak bisa terlepas darinya. Entah… haruskah aku bersyukur telah bertemu dengannya?


Tbc.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan komment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


Aku sekalian mau recommend beberapa novel karya teman sesama othor, check this out!







__ADS_1


__ADS_2