Terjerat Brondong

Terjerat Brondong
TB 20


__ADS_3

Author POV


Manik itu masih setia menatap jendela kamar pujaan hati dari luar rumah, kemudian memilih pergi dengan segala perasaan yang mengganjal. Takut jika pengganggu itu akan datang lagi, tapi sepertinya orang itu cukup tahu diri. Karena saat dirinya turun dari lantai 2 rumah Laras, sosok yang menyebalkan itu telah hilang. Berharap tidak akan pernah muncul lagi namun, sepertinya tidak mungkin mengingat dia adalah Papa dari Rian.


Sebenarnya kedatangan dirinya ke rumah Laras adalah kebetulan, dia sudah tidak bisa menahan rindu untuk bertemu dengan wanita beranak satu itu. 2 minggu terakhir hanya bisa menatap tanpa bisa bercengkrama bahkan sekedar memegang tangan. Tidak disangka kedatangannya adalah keputusan yang tepat, dia dapat menjaga Laras dari pelecehan yang hampir dilakukan oleh mantan suaminya.


Brengsek, jika bukan karena Laras menahannya. Pasti orang itu sudah terkapar oleh tinjunya. Umpatnya dalam hati.


Berjalan gontai saat memasuki rumah, bertepatan dengan Pak Kentaro yang keluar dari kamar.


"Mana Laras? Kenapa kamu datang sendiri?"


"Laras sedang tidak enak badan," jawabnya acuh.


Panggilan Dilan pada Laras membuat Pak Kentaro mengeryit, pasalnya selama ini Dilan selalu memanggil Laras dengan embel-embel Nyonya, sebagai tanda keseganannya pada wanita itu. Pak Kentaro semakin yakin dengan prasangka selama ini mengingat sikap Dilan yang jauh berbeda saat dirinya di rumah sakit dan setelah kembali ke rumah. Pemuda itu selalu menatap lembut pada Laras, bahkan tidak jarang seperti ingin berinteraksi secara intim dengan wanita itu.


"Dilan..." panggil Pak Kentaro pada Dilan yang sedang membuka kulkas, tampak pria itu mengambil botol air mineral.


"Hm?" Pemuda itu menenggak air ke mulutnya.


"Apa kau memiliki perasaan pada Laras?"


"Uhuk, uhuk, uhuk!"


Pemuda itu tersedak air putih hingga meringis. Wajahnya sampai memerah, menoleh sambil menyeka air di mulutnya.


"Paman-"


"Sebaiknya kau pikirkan lagi, aku tidak mau Laras sampai terluka," ucapnya pelan


"Maksud Paman apa? Aku tidak mungkin melukai Laras!" Dilan tampak tidak terima.

__ADS_1


"Kau yang lebih tau, Paman hanya bisa memberikan masukan. Semua keputusan ada padamu," setelah itu Pak Kentaro kembali memasuki kamarnya.


Dilan mengepalkan tangannya, kesal karena selalu diragukan. Tidak dengan Laras, sekarang Pamannya sendiri seolah tidak merestui. "Aku akan buktikan jika ucapan Paman tidak akan pernah terjadi," gumamnya.


Pemuda itu pun memilih keluar rumah, menghirup udara di luar akan lebih baik untuk kepalanya yang dalam mode panas. Berjalan menuju mobilnya lalu meluncur meninggalkan pekarangan rumah.


30 menit sudah Dilan lakukan hanya untuk berputar-putar mengelilingi komplek. Mengendarai mobilnya tanpa arah, andai ada Laras di sampingnya pasti akan menyenangkan. Mengajaknya pergi kemana pun wanita itu suka, mendadak ia menjadi rindu.


Di tengah perjalanan Dilan dikejutkan dengan keberadaan Rian yang dihadang oleh 3 orang pemuda. Wajah yang tidak asing, mereka pernah bersitegang dengan Rian di toko Fany tempo hari. Pedal rem pun diinjaknya. Membanting pintu mobil dengan kasar, ditendangnya dari jauh salah satu pemuda yang mencekal tangan Rian hingga tersungkur di atas tanah.


BRUK


Kehadiran ke-3 pemuda itu sungguh tidak tepat waktu, Dilan yang hatinya masih memanas akibat pertemuannya dengan Papa Rian yang hendak melecehkan Laras seolah mendapatkan penyaluran untuk kekesalannya. Dihajarnya ke-3 pria itu tanpa ampun hingga babak belur.


Matanya berkilat akan amarah, bahkan Dilan tersenyum tipis kala melayangkan bogem mentah pada rahang mereka. Fany memekik ngeri melihat pemandangan itu, Rian sendiri sempat terperanjat hingga akhirnya berusaha untuk melerai Dilan.


"Dilan, sudah... kau akan membunuh mereka jika diteruskan!" Rian menarik tubuh Dilan yang menindih salah satu pemuda.


"Tidak masalah," jawabnya menyeringai. Rian menggeleng keras.


3 pemuda itu tampak tertatih-tatih untuk berdiri, dengan wajah memar dan berdarah. "Aku tidak akan melepasmu!" Ucap salah satu dari mereka sebelum berlari tunggang langgang meninggalkan tempat itu.


Rian mendesah lelah, Dilan akan mendapat masalah pastinya. Andai dia tidak lemah, Dilan pasti tidak akan turun tangan untuk membantunya.


"Maaf, gara-gara aku-"


Dilan menggeleng. "Mereka memang harus diberi pelajaran, aku yakin selanjutnya mereka tidak akan mengganggumu lagi," sahutnya santai.


Fany mengeluarkan sebuah sapu tangan, lalu mendekati Dilan hendak menyeka sedikit memar di wajah pria itu namun, Dilan menghindarinya.


"Aku akan pulang dan merawat diriku sendiri, tolong jaga perasaan pasanganmu," ucapnya dan berlenggang pergi menuju mobilnya.

__ADS_1


Rian tersenyum masam, Fany masih menyukai Dilan meski saat ini telah menjadi kekasihnya. Rian menatap Dilan yang berjalan semakin menjauh lalu menoleh pada Fany yang juga melihat ke arah yang sama.


"Fany, kamu pulang sendiri ya. Dan... lebih baik kita menjadi teman saja," perkataan Rian membuat Fany tertegun sesaat kemudian gadis itu melebarkan matanya.


"Ap-apa maksudmu?"


"Aku tidak mau menjalani hubungan dengan gadis yang masih memikirkan pria lain, itu pasti tidak akan berakhir baik. Terima kasih atas jawabanmu kemarin, tapi ku rasa ini yang terbaik," Rian tersenyum lalu pergi meninggalkan Fany yang tercengang. Pemuda itu berlari mengejar Dilan yang telah memasuki mobil.


"Rian! Aku bisa jelaskan!" Suara Fany terdengar samar, Rian melambaikan tangan pada Fany yang hendak mendekatinya namun urung karena mobil Dilan telah berjalan bersama Rian di dalamnya.


Gadis itu terlihat sedih, mungkin dia menyesal telah bersikap tidak seharusnya. Menerima Rian tapi masih berharap pada Dilan, akhirnya dia tidak mendapatkan apa-apa.


Rian melihat sosok Fany dari kaca spion hingga kemudian memghilang.


"Kau meninggalkannya begitu saja?" Goda Dilan.


"Benar katamu, dia tidak cocok untukku. Aku tidak cukup baik baginya," Rian menerawang. Ternyata kisah cintanya kandas dalam waktu kurang dari 24 jam.


"Jangan salah, kau terlalu baik untuknya. Akan ada gantinya yang jauh lebih baik!" Dilan memberi semangat.


Rian tersenyum, sosok Dilan benar-benar membuatnya kagum. Tidak pernah menyangka jika dia akan sedekat ini dengan seseorang.


"Terima kasih Dilan, aku benar-benar senang mengenalmu," ujarnya sumringah. "Kau sudah seperti Kakak bagiku," tambahnya.


Dilan mengangguk, tanpa menjawab. Apa kau akan senang juga jika aku jadi ayah tirimu? Batin Dilan.


Sungguh lucu, apa jadinya jika Rian tau akan hubungan Dilan dengan Mamanya? Masihkah pemuda itu tersenyum dengan lapang?


Dilan terus berfikir sepanjang perjalanan, kapan dan bagaimana menyampaikan sebenarnya pada Rian? Jujur, restu yang sangat diharapkan Dilan adalah restu dari Rian. Anak dari wanita yang dicintainya.


Tbc.

__ADS_1


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan commen kalian agar aku lebih baik lagi, enjoy!


__ADS_2