Terjerat Brondong

Terjerat Brondong
TB 12


__ADS_3

Laras POV


Universitas ***


Aku berjalan dengan tergesa, pasalnya barusan saja aku berpapasan dengan Dilan yang asik bercengkrama dengan seorang mahasiswi cantik. Aku terkekeh sendiri, sudah pasti pemuda setampan Dilan dikelilingi wanita cantik. Hampir saja aku terpedaya dengan ucapannya yang ingin bertanggung jawab. Mana mungkin? Dia pasti bercanda, menganggapku hanya leluconnya. Atau aku akan menjadi pembicaraannya di antara teman-temannya.


Memikirkan itu membuatku marah. Kenapa aku begitu gelisah dan kesal?


Aku menghindarinya yang hendak menghampiriku, aku segera memasuki kantor dan menutup pintu dengan sedikit kasar.


Sialan!


Segala pikiran buruk memenuhi isi kepalaku, membuatku ingin meledak hingga sebuah tepukan di bahuku mengangetkanku.


“Ya Alloh!” pekikku sambil menoleh.


“Laras, kamu kenapa?” Maria menatapku penuh tanya.


Aku mendadak salah tingkah. “Ah, Maria… aku kira siapa,” jawabku sambil tersenyum kikuk.


Maria memicingkan mata. “Memang kau pikir aku siapa?”


Aku mengedikkan bahuku. “Bukan siapa-siapa,” aku berjalan menuju ruanganku.


Maria mengekoriku, dia terus memperhatikan setiap gerak-gerikku. “Aku tidak percaya, apa ada yang kau sembunyikan dariku?”


Tanganku yang sibuk mengambil buku pun terhenti, menghela nafas lelah dan melihat Maria yang memberikan tatapan curiga. “Tidak ada apapun Nyonya Maria, bisa tolong berikan aku jalan? Aku mau ke kelas! Aku sudah terlambat,” sirdirku membuat Maria membulatkan mata.


“Laras, kamu pasti salah makan! Atau kamu sedang PMS?” Aku tidak menghiraukannya dan berlalu meninggalkan Maria yang masih menganga.


“Stss… jangan berisik,” ucapku sebelum membuka pintu. Melihat sekitar yang terlihat lengang baru aku melangkahkan kaki keluar kantor.


Baiklah, mulai hari ini sebaiknya aku tidak berurusan dengan brondong manis itu. Aku tambah kesal mengingat seberapa manis dirinya. Entah mengapa aku merasakan denyut ngilu di dadaku, perasaan ini… Aku menggelengkan kepala menepis segala pikiran anehku dan berjalan menuju kelasku.


🍁🍁🍁


Author POV


Rian menghampiri Dilan yang sedang duduk sendiri di lantai ruang club tinju. Menyapa pemuda yang terlihat macho dengan balutan kain di telapak tangannya.


“Sedang apa?” tanya Rian. Pemuda itu ikut duduk di samping Dilan.

__ADS_1


“Istirahat, baru beres latihan,” jawabnya sambil menenggak air mineral.


Rian manut-manut mengerti. Hening sejenak, tanpa ada yang melontarkan kata hingga Rian memulai kembali pembicaraan.


“Hm… Fany kemarin minta lunch bareng, tapi harus sama kamu,” ucapan Rian membuat Dilan mengeryit.


“Sepertinya dia tidak cocok denganmu,” perkataan Dilan membuat Rian terkekeh.


“Aku tau kok, dari awal memang dia sukanya sama kamu,” Rian tersenyum masam.


Dilan menatap heran Rian. “Jangan melihatku seperti itu, aku senang kalau dia senang,” Rian menepuk bahu Dilan. “Cepat siap-siap, aku tunggu di luar,” pemuda itu pun beranjak dari duduknya dan berlalu menuju pintu keluar.


Dilan berdecih, bagaimana bisa Rian dengan entengnya mengatakan senang ketika wanita yang disukainya menyukai orang lain. Baginya itu klise, cinta tidak harus memiliki hanya omong kosong belaka.


🍁🍁🍁


Cafe***


Gadis bersurai hitam dengan panjang sebatas bahu terlihat sedang duduk manis di sudut ruangan sebuah café. Matanya berbinar kala melihat dua orang pria berjalan menghampirinya. Yang satu ber paras local, dan yang satunya ber paras blasteran Jepang. Tentu saja langsung menarik perhatian pengunjung café yang lain. Diapit dua pemuda tampan jelas membuat gadis berambut panjang itu tersenyum bangga.


“Hai Kak Dilan, Rian,” sapanya.


Dilan hanya mengangguk dengan muka datar, sedangkan Rian tersenyum manis. “Hai, Fanny… sudah menunggu lama?”


Mereka pun akhirnya duduk dan memanggil pelayan untuk memesan makanan.


“Hm… makasih ya sudah mau datang,” ucap Fany sumringah.


Rian meringis melihat sikap Dilan yang dingin, dengan kikuk pemuda itu berkata. “Sama-sama.”


Dilan melipat tangannya dan menyenderkan tubuh pada kursi, memejamkan mata sesaat. Semua itu tidak luput dari perhatian Fany.


“Kak Dilan kenapa?” tanya Fany.


Yang ditanya tidak bergeming membuat Rian tidak enak hati. “Sepertinya kelelahan karena latihan barusan,” jelas Rian.


“Oh… memang latihan apa?”


“Tinju,” tambah Rian.


“Woah, Kakak Dilan suka Tinju… pantas tubuh Kak Dilan bagus!” puji Fany.

__ADS_1


Pemuda itu diam saja, merasa risih dengan sikap Fany. Baginya Fany adalah gadis cerewet haus perhatian. Merasa memiliki wajah cantik membuat gadis itu tinggi hati. Awalnya dia pikir Fany gadis yang tidak merepotkan namun, beberapa kali gadis itu menemuinya dan menanyakan ini itu tentang dirinya.


Dilan menanggapinya karena tau Rian menyukai gadis itu, jika tidak mana mungkin Dilan mau meladeninya.


Suasana akward yang dibuat Dilan segera hilang saat pelayan datang menghidangkan pesanan mereka. Tanpa menunggu lama mereka pun menyantap makanan itu. Dilan tidak nafsu makan, dirinya sedang galau karena seharian ini sulit untuk menemui Laras sang pujaan hati, terakhir tadi berpapasan namun wanita itu bergegas pergi dengan muka masam.


Semua karena gadis di hadapannya ini. Apa Laras cemburu? Memikirkan itu seketika membuat hatinya menghangat, tanpa sadar pemuda itu tersenyum kecil sendiri.


Fany yang meihat itu hanya diam meski dalam hatinya penuh tanya, kenapa tiba-tiba pemuda tampan itu tersenyum sendiri. Apa karena makanannya atau memikirkan sesuatu?


Selesai acara santap siang, mereka pun kini sedang menikmati minuman mereka. Dilan melirik arloji di lengannya dan beranjak dari kursi hendak pergi.


“Kakak mau pergi?” Fany tampak kecewa.


“Makannya kan sudah selesai, dan aku ada urusan lain jadi tidak bisa lama-lama,” jawab Dilan cepat.


Fany hanya bisa mengangguk pasrah. “Oh begitu, ya sudah… lain kali kita bisa makan bareng lagi kan?” tanyanya penuh harap.


Dilan terdiam dan menarik nafasnya sebelum melontarkan kata yang membuat Rian mati kutu. “Dengar, aku tidak berjanji ada yang namanya lain kali. Aku mau makan siang kali ini karena bujukan Rian,” Dilan menoleh ke arah Rian yang membeku. “satu lagi, aku sudah menyukai orang lain jadi jangan mendorongku untuk melakukan hal aneh lagi, mengerti?!” pungkasnya dan dia pun pergi meninggalkan Rian serta Fany yang tampak terkejut.


Fany meremas tangannya menahan malu, baru kali ini dia di tolak oleh seorang pria. Selama ini dirinya selalu di puja-puja bahkan diperebutkan oleh para pria di kampus. Rian yang melihat Fany hanya diam saja menjadi tidak enak.


“Maaf Fany…” ucap Rian menyesal.


“Tidak apa-apa, mungkin keberadaanku sangat mengganggu,” ujarnya sendu.


“Bagi aku kamu tidak mengganggu, karena bagi aku kamu special…” Rian berkata dengan serius. Pemuda itu memberanikan diri untuk memegang kedua bahu Fany. Gadis itu pun terhenyak meski tidak melakukan apapun, menunggu Rian yang seperti ingin kembali berucap. “Aku… aku suka kamu Fany, sejak semester pertama… sejak kamu tersenyum padaku di kantin waktu itu.”


Waktu terasa terhenti dengan pengakuan Rian yang begitu berani. Fany masih belum memberikan respon hingga kembali terdiam dengan kata Rian selanjutnya.


“Maukah kamu menjadi kekasihku?”


Tbc.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


Rian... kamu terlalu terburu-buru deh...


Maaf ya reader… aku selalu menggantung kalian cukup lama. Please jangan marah… nanti aku jadi kepikiran. Salut deh sama kalian para othor yang bisa up setiap hari bahkan sehari 2x or 3x…

__ADS_1


Berharap aku bisa mengikuti jejak mereka. Aamiin…!


__ADS_2