
Author POV
Laras dan Dilan terhenyak, dengan tergesa mereka saling menjauh. Laras menutup wajahnya yang menegang, mengurai rambutnya asal kemudian turun dari mobil. Netra hitam mengintimidasinya, Laras bahkan menunduk takut karena telah ketahuan bercumbu di dalam mobil oleh anaknya sendiri. Sungguh memalukan!
"Mama ... Dilan? Apa yang sedang kalian lakukan?" suara itu terdengar datar namun tersirat kekecewaan.
Laras tersentak, memberanikan diri untuk menatap sang putera. "Rian... Mama-"
"Masuk!" ucap Rian tegas.
"Apa?" Laras seolah salah dengar. Baru kali ini dia mendengar nada memerintah dari Rian.
"Aku bilang masuk rumah, sekarang!" pinta Rian sambil menunjuk ke arah rumah.
Laras tau jika dirinya telah melakukan kesalahan, Rian pasti merasa kecewa padanya. Manik hitamnya mulai berkabut, dengan berat Laras mengangguk dan melangkahkan kaki menuju teras. Sebelum itu Laras sempat berbisik.
"Maafkan Mama..." wanita itu pun berlalu tanpa menoleh pada Dilan yang ingin menahannya.
"Laras..." Rian menghadang Dilan dengan berdiri di hadapan pria itu.
"Dan kamu, jelaskan padaku!" kembali Rian mengeluarkan nada memerintah. "Apa hubungan kalian?"
"Mamamu, kekasihku..." jawab Dilan dengan lantang.
Rian melebarkan matanya mendengar pengakuan Dilan. "Kalian? Berkencan?" pemuda itu menggeleng tidak percaya. "Dengar... kau bisa mengencani banyak wanita, kenapa harus Mamaku?" tanyanya heran.
"Rian... kami saling mencintai, tidak... aku yang sangat mencintai Mamamu. Aku jatuh cinta padanya sejak pertama kali bertemu," ujar Dilan serius.
Rian berdecih. "Kau pikir aku percaya dengan semua gadis yang mengejarmu? Bahkan Fany menyukaimu."
"Tapi aku tidak pernah meladeni mereka!" sergah Dilan tidak terima.
Rian terdiam sesaat, kemudian seolah teringat sesuatu. "Apa ini alasanmu menjauhkan Papa dariku? Agar kau dapat dengan leluasa mendekati Mamaku?" cibirnya dengan senyum miris.
"Tidak! Papamu memang tidak baik untuk Mamamu, hingga kini sifatnya belum berubah," Dilan menampik pemikiran Rian yang awalnya benar.
"Jangan memfitnah Papaku! Lalu kau pikir, yang pantas untuk Mamaku adalah dirimu?" hardik Rian kesal.
"Kau harus percaya, aku bicara yang sebenarnya," Dilan berusaha meyakinkan Rian namun, sepertinya pemuda itu sudah terlanjur kecewa.
__ADS_1
Tidak hanya pada Mamanya... juga pada Dilan yang sudah dianggap sahabatnya. Mereka berdua bermain di belakangnya. Rian merasa seperti orang bodoh.
Rian menjauhi Dilan yang ingin mendekat, menatap tajam pada sosok yang sempat dikaguminya itu. "Mulai hari ini jangan dekati Mamaku!" kecamnya.
Dilan menggeleng keras. "Rian! Jangan minta aku menjauhi Laras," dia tidak akan bisa... lebih tepatnya tidak akan sanggup jika harus berpisah dengan wanita itu.
"Berhenti memanggilnya seperti itu!" Rian menggeram dan segera pergi meninggalkan Dilan.
Dibantingnya pintu rumah hingga meredam suara Dilan. Pemuda itu memasuki tiap ruangan dengan hati bergemuruh. Kesal hingga ingin rasanya berteriak. Kakinya pun melangkah menuju lemari pendingin, ditenggaknya air putih langsung dari botolnya. Mengatur nafasnya yang sempat memburu, menatap sendu pada tangga menuju kamar Laras.
Sebaiknya tidak sekarang. Rian maupun Laras butuh waktu untuk menenangkan diri. Akhirnya Rian memilih memasuki kamar dan menguncinya.
🍁🍁🍁
Laras POV
Hatiku tidak tenang, lebih tepatnya malu. Tertangkap basah oleh Rian... apakah dia melihat semua yang telah kami lakukan? Seharusnya aku bisa menahan diri. Aku merutuki kelemahan hatiku. Aku memang bukan ahli ibadah, aku hanya orang yang biasa-biasa saja dalam mengerjakan perintah-Nya. Mungkin karena itulah dengan mudah aku terjerat dan tergoda oleh Dilan.
Tapi aku tidak memungkiri jika aku ini telah jatuh hati, apa yang harus aku lakukan sekarang?
Aku terus berfikir hingga tertidur begitu saja, saat terjaga oleh ketukan pintu kamar aku melihat hari sudah gelap. Aku berjalan menuju jendela kamarku yang belum tertutup sepenuhnya oleh gorden, saat itu juga mataku bertabrakan dengan manik Dilan di seberang sana.
"Kemana ponselku?" gumamku.
"Ponsel Mama aku simpan,"
Aku terperanjat dan menoleh cepat ke asal suara. "Rian..."
"Mama belum makan, Bi Inah sudah masak dari tadi siang," setelah berkata Rian membalikkan tubuh hendak pergi. Aku segera mengejarnya dan memegang tangannya.
"Rian... ada sesuatu yang harus Mama jelaskan," ucapku pelan.
"Aku sedang tidak ingin mendengar apapun," perkataan Rian membuatku membeku.
Sebegitu mengecewakan kah aku? Aku terdiam, saat itu juga tanganku terlepas. Aku menunduk dengan manik yang mulai basah.
"Jangan benci Mama... dan ini juga bukan salah Dilan... semua salah Mama..." suaraku bergetar menahan isak menyesakkan.
Aku merasakan sebuah dekapan pada tubuhku, Rian memelukku dan berbisik. "Apa benar Papa belum berubah? Itukah yang membuat Mama akhirnya menjalin hubungan dengan Dilan?"
__ADS_1
Aku mendongak menatap wajah Rian yang terdapat gurat kesedihan. Haruskah aku mengiyakannya? Atau menutupinya?
Rian mengusap jejak air mata di pipiku. "Jujur Ma! jangan lagi ada yang Mama sembunyikan dariku," ucapannya bagai ultimatum untukku.
Anggukan aku berikan, sekejap mata puteraku terpejam. Mungkin hatinya kembali sakit, telah dibohongi banyak orang. Oleh aku, Dilan dan Mas Andi.
"Kenapa Mama tidak bilang? Jadi aku tidak perlu bersikap baik padanya," aku menggeleng dan menangkupkan wajah Rian.
"Bagaimanapun juga dia Papamu, kamu tetap harus hormat padanya. Mama tidak mau kamu jadi anak durhaka," aku tersenyum, menatap lembut wajah puteraku satu-satunya itu. "Maafkan Mama... Mama tau sudah melakukan hal tidak pantas, Mama bukan orang tua yang baik... tidak bisa memberikan contoh untukmu-"
"Aku tidak berfikir seperti itu, Ma... aku kecewa karena Mama tidak jujur padaku, apa aku tidak cukup berarti untuk Mama?" Rian menyela.
"Tentu saja itu tidak benar! Kamu sangat berarti untuk Mama!" tegasku.
"Seberapa berarti aku? Apa lebih berarti dari Dilan?"
Aku bergeming, tidak dapat menjawab. Mereka berdua sama-sama berarti untukku.
"Jika aku meminta Mama untuk menjauhi Dilan, apa Mama bisa?" aku tidak menyangka Rian akan meminta hal seperti itu.
"Itu..." dengan sulit aku mengeluarkan kata.
"Apa Mama mencintainya?"
Aku mengangguk pelan, aku bisa mendengar helaan nafas Rian. Hatiku berdenyut nyeri. Apa sekarang aku memang harus memilih? Aku tidak ingin Rian sampai membenciku, dan Dilan... apa aku sanggup melepasnya?
"Kita bicarakan lagi nanti," ucap Rian melepas pelukan dan hendak pergi namun, perkataan ku membuatnya terhenti.
"Mama akan memutuskan hubungan kami," aku tersenyum dengan air mata yang masih mengalir.
Mungkin ini yang terbaik, aku kembali hidup berdua dengan Rian. Biarlah ku kubur perasaan cinta ini, cinta yang mungkin salah di mata sebagian orang. Jika ini adalah jalan takdirku, aku akan menjalaninya. Aku pun tidak bisa jika harus kehilangan Rian. Tidak ada kata mantan untuk Ibu dan Anak.
Dilan... maafkan aku...
Tbc.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
__ADS_1
Apakah ini akhir dari hubungan mereka???