Terjerat Brondong

Terjerat Brondong
TB 26


__ADS_3

Author POV


Raut wajah pemuda itu sulit diartikan hingga membuat Fany yang baru saja mengutarakan perasaan hanya bisa menunduk malu. Gadis itu meremas tangannya dengan hati was-was karena Rian tidak kunjung bersuara. Rian sendiri terkejut, seolah tidak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya.


"Kau yakin tidak salah mengartikan perasaanmu?" tanya Rian ragu.


Fany menggeleng. "Kenapa kau masih tidak percaya? Bahkan aku bersedia menjadi saksi tempo hari juga karena kamu, bukan karena Dilan! Dan hari ini aku bertemu dengannya hanya untuk menanyakan hari ulang tahunmu," jelas Fany penuh penekanan.


"Untuk apa?"


"Aku pikir, di hari ulang tahunmu nanti aku ingin memintamu kembali... memulai hubungan yang sempat berakhir, cicitnya lirih.


Rian tidak menyangka seorang Fany akan bersikap seperti ini, memohon agar hubungan mereka terjalin. Pemuda itu tersenyum tipis lalu menarik tangan Fany yang tampak berkeringat.


"Kalau begitu, kita jalani dulu. Akan aku lihat, seberapa seriusnya kamu denganku," godanya.


Fany mendongak dengan wajah memerah menahan malu namun, kemudian dia tersenyum manis. Mengangguk kecil dan menggenggam tangan Rian.


"Aku akan buktikan," ucapnya mantap.


Gadis itu bahagia... akhirnya kesalah pahaman mereka berakhir. Dan dirinya pun lebih tenang karena mengetahui apa yang seharusnya diperbuat. Dua sejoli itu berjalan ke luar kantin dengan bergandengan tangan.


Jam pertama mulai terdengar tapi, Rian bukannya ke kelas, langkahnya malah mengarah ke area parkir kampus. Fany mengeryit bingung.


"Kau mau ke mana?"


"Ke rumahku, aku hampir melupakan niat awalku ke kampus. Aku akan menjemputmu sore nanti, kita perpisah di sini," ucap Rian melepas gandengan.


Fany segera menahan tangan Rian dengan merangkulnya. "Aku ikut! Aku tidak akan mengganggu... aku hanya ingin bersamamu," pintanya.


"Tapi... " Rian tampak enggan.


"Aku sempat dengar tadi, kalian menyebut Mamamu..." sela Fany cepat.


Rian menghela nafas kasar dan menatap Fany serius. Dipegangnya ke dua bahu gadis itu. "Bisakah kau menjaga rahasia?"


Fany mengangguk mantap, mengangkat kedua jarinya tinggi. "Aku janji!" serunya.


Pemuda itu mengulum senyum lalu mengacak puncak rambut Fany. "Good girl," digenggamnya kembali tangan gadis itu. Dan Fany tersipu malu dibuatnya.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Selama perjalanan Rian menceritakan semua yang terjadi hingga peristiwa Mamanya jatuh pingsan tadi pagi pada Fany. Gadis itu hanya bisa menampilkan wajah terkejut dengan mulut membulat tidak percaya. Matanya melebar sempurna seolah melihat sesuatu yang menakutkan.


"Aku tidak tau harus bilang apa, yang jelas... mereka keren banget!" serunya dengan ekspresi kagum.


Rian sampai menginjak remnya mendengar penuturan Fany.


"Apa?"


"Ya, keren! Mama kamu emang cantik seh diusia segitu... paket komplit karena juga cerdas, wajar kalau Kak Dilan sampai terpikat. Hanya tidak menyangka, ternyata Bu Laras juga memiliki perasaan yang sama," Fany manut-manut seolah mengerti. "Hm... berat juga ya selera Kak Dilan ini, pantas aku dihempas begitu saja," ujarnya tanpa tau jika mata Rian langsung memicing tajam.


Fany menoleh panik. "Aku hanya bercanda, yang penting kan aku cintanya sama kamu," Gadis itu mengerlingkan mata, Rian mendengus dengan mata malas.


"Kita kembali ke masalah mereka!" Fany mengalihkan pembicaraan ke topik awal. "Kau sudah menerima mereka?" tanya gadis itu penasaran.


"Entahlah... aku masih bingung," Rian mengurai ramputnya kasar.


"Jangan bingung, cinta seorang Ibu tidak akan pernah berkurang pada anaknya. Kini giliran kamu, membuat dia bahagia," Fany mengusap tangan pemuda itu.


Rian tersenyum dan balas menggenggam tangan Fany di atas tangannya. "Makasih ya," dikecupnya tangan itu.


🍁🍁🍁


Laras POV


Aku menangis di dalam pelukan Dilan, entah mengapa rasanya sangat lega melihat dirinya saat ini. Bukankah aku ingin mengakhiri, mengapa aku malah melakukan hal sebaliknya?


Aku merasakan rindu yang tidak biasa, ingin terus melihatnya dan menghirup aroma tubuhnya yang sangat familiar di indera penciumanku. Ada apa denganku?


Tapi aku tidak boleh begini, Rian akan marah jika aku masih bersama Dilan. Dengan berat aku melepas pelukan, menatap maniknya yang hitam dan bening.


Menangkupkan telapak tanganku di pipinya. "Dilan... ada yang harus aku katakan padamu," suaraku parau.


Dilan meraih tanganku dan mengecupnya, memejamkan mata sambil menunggu aku meneruskan kata. Sedangkan lidahku mendadak kelu dengan nafas tercekat.


"Kita-"


"Ma..." suaraku tertahan oleh kehadiran Rian yang tiba-tiba. Aku beringsut menjauh dari Dilan.

__ADS_1


"Rian... Mama baru-" ucapku terbata.


Rian mengangkat tangan menyelaku. "Dilan, bisa tinggalkan kami berdua?" wajahnya datar membuat hatiku semakin tidak tenang.


Aku meremas seprai saat Dilan menurut dan meninggalkan aku dengan Rian di kamar. Pemuda itu sempat mengusap tanganku dan tersenyum tipis sebelum beranjak dari sisi ranjang.


Rian menutup pintu lalu menghampiriku, aku mengikuti pergerakannya dengan seksama hingga Rian meraih tubuhku. Memelukku sambil berkata.


"Maafin Rian Ma... jangan sakit lagi, jika Dilan bisa membuat Mama bahagia... Rian hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk Mama," aku termenung tanpa kata. Apa yang barusan Rian katakan?


"Mama kok diam?" tanyanya dengan wajah bingung.


Aku lebih bingung lagi. "Maksudmu apa?"


"Aku merestui kalian, Mama boleh berhubungan dengan Dilan... tapi dengan syarat," aku begitu senang mendengarnya.


Dengan semangat aku balik bertanya. "Apa syaratnya?"


"Kalian tidak boleh melakukan hal di luar batas, sebelum Dilan menikahi Mama. Dia serius kan sama Mama? Tidak hanya main-main saja? Jika hanya begitu, lebih baik dia pergi dari hidup Mama," tegas Rian membuatku ciut.


Kami sudah di luar batas, jauh sebelum hubungan kami terjalin. Aku benar-benar merasa tertampar oleh ultimatumnya. Rian... andai kau tau... aku tidak akan sanggup untuk menatapmu sekarang, rutukku dalam hati.


"Aku serius... aku akan menikahi Mamamu setelah lulus nanti, tentu saja aku harus mempunyai pekerjaan terlebih dahulu," suara Dilan terdengar dari luar. Sepertinya pria itu mendengarkan apa yang barusan Rian katakan. "Dan aku akan menjaga Mamamu, aku tidak akan melakukan hal di luar batas..." tambahnya. Dan berkata tanpa suara dengan gerakan bibirnya padaku. "Lagi,"


Aku hampir melotot, karena takut Rian melihatnya. Pemuda itu masih bisa bercanda di situasi seperti ini.


"Dasar tukang nguping!" cibir Rian kesal. Rian langsung memandangku dengan sendu. "Sekarang Mama sudah senang?"


Aku tidak bisa berkata, hanya memeluk puteraku sambil menangis haru. Dilan mendekati kami dan hendak memelukku namun, Rian memberikan kepalan tangan padanya hingga membuatku terkekeh.


"Bukan muhrim! No peluk-peluk!" ancamnya.


"Pelitnya, siap Pak Satpam!" ledek Dilan


Fany yang sedari tadi hanya menonton dari luar kini tau jika Rian adalah seorang pria yang sangat baik. Begitu menyayangi sang Mama. "Aku memang tidak salah pilih," gumamnya sambil tersenyum.


Tbc.


Please rate, vote dan likenya yach!

__ADS_1


Sertakan koment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


__ADS_2