
Author POV
Terlihat sesosok pria yang berjalan pelan sambil menunduk lesu. Bagaimana tidak, setelah nekat mengutarakan perasaannya dia langsung meminta sang gadis untuk menjadi kekasihnya. Tentu saja jawabannya dapat ditebak.
Pria itu tidak langsung mendapatkan jawaban, tapi diminta untuk menunggu beberapa waktu. Sang gadis masih perlu memikirkannya, memikirkan mau atau tidak untuk menjadi kekasih pria tersebut.
Tidak lama dirinya tersadar oleh rangkulan seseorang pada pundaknya. “Bagaimana? Sudah bilang?”
Yang ditanya mengangguk namun raut wajahnya menyedihkan. Dilan pun penasaran. “Ada apa dengan wajahmu?”
“Aku di tolak…” jawab Rian lemas.
“Apa?”
“Aku memintanya untuk menjadi kekasihku.”
Dilan sontak menoyor kepala Rian gemas. “Kamu terlalu terburu-buru, kenapa harus diwaktu yang sama?”
“Aku memang ingin dia jadi kekasihku, untuk apa ditunda lagi?” belanya.
Dilan manut-manut mengerti. “Karena kamu sudah nekat, ya kamu harus berani menanggung rasa penasaran itu,” ledeknya.
Rian mengerucutkan bibirnya kesal, Dilan tidak membantu sekali, malah membuat suasana hatinya semakin semrawut. Namun, detik kemudian Rian teringat sesuatu dan menatap Rian penuh tanya.
“Tadi kamu bilang sudah menyukai seseorang, siapa?”
Dilan menghentikan langkah ketika pertanyaan itu terdengar. Melihat balik Rian dengan tatapan yang sulit diartikan. Dilan tampak ingin mengucapkan sesuatu namun ditahannya, pemuda itu mengatupkan bibirnya rapat.
Rian menunggu Dilan menjawab namun, tidak kunjung dijawab oleh pemuda itu.
“Siapa? Apa aku mengenalnya?” kembali Rian bertanya.
“Dia…” Dilan mengalihkan pandangan dan maniknya tertuju pada Laras yang sedang berjalan menuju toilet khusus dosen. Dengan cepat dia melepas rangkulannya pada Rian dan mendorong pemuda itu.
“Nanti akan ku beritahu, sebaiknya kau kembali ke kelasmu,” Rian yang didorong hanya menurut dan kembali ke kelas.
Dilan segera berlari menuju toilet saat Rian sudah tidak terlihat, langkahnya sempat terhenti kala seorang dosen menyapanya di tengah perjalanan. Kembali berjalan dan mengamati situasi di sekitar. Ketika merasa aman, Dilan memasuki toilet dengan mengendap-endap.
Terdapat 3 pintu kamar mandi di depannya. Diketuknya satu per satu pintu itu, mengecek di mana Laras berada. Mendorong pelan setiap pintu dan ternyata 2 kamar mandi tersebut kosong. Tinggal satu lagi yang belum diketuk, sudah dipastikan itu adalah tempat Laras berada.
Tidak lama pintu pun terbuka, Laras yang belum menyadari keberadaan Dilan di balik pintu tampak merapikan rambutnya sesaat sebelum matanya membulat sempurna kala tubuhnya di dorong kembali memasuki kamar mandi.
“Akkhh!”
__ADS_1
Klak
Dilan mengunci pintu kamar mandi yang berukuran kecil tersebut.
“Dilan? Apa yang kau lakukan?!” Laras memekik.
Dilan menaruh telunjuknya pada bibir Laras. “Stss… aku tidak masalah jika orang lain mengetahui keberadaan kita?” pancing Dilan.
“Jangan macam-macam,” desis Laras.
Dilan menatap sendu wanita di depannya, meraih helaian rambut Laras dan menghirupnya. “Mengapa menghindariku?”
“Dilan… hentikan,” Laras salah tingkah ditatap seperti itu.
“Apa perasaanku sungguh tidak berarti untukmu?” Dilan merapatkan tubuhnya pada Laras hingga wanita itu harus mundur beberapa langkah.
Wanita itu hampir saja terbawa suasana sebelum akhirnya mengingat kejadian tadi pagi dan segera menepis tangan Dilan yang menghirup rambutnya.
“Jangan bicarakan perasaan, seorang playboy seperti kamu tidak akan mengerti!”
Perkataan Laras membuat Dilan terhenyak, seketika Dilan pun mengingat alasan mengapa Laras menjadi ketus. Pemuda itu menyeringai, terlintas sebuah ide untuk menguji wanita di hadapannya ini.
Dilan melangkah ke belakang membuat jarak antara dirinya dengan Laras, melihat hal itu Laras terheran-heran.
“Ya, beberapa gadis mendekatiku… berusaha menjalin hubungan. Aku pikir, jika kamu terus menolakku… mungkin sebaiknya aku menyerah dan memulai dengan yang lain. Karena itu… aku akan bertanya untuk terakhir kalinya…”
“Apa kau menyukaiku?”
Laras terdiam, wanita itu malah menundukkan kepala. Dilan mengatupkan bibirnya menahan kekecewaan. Apa sebenarnya Laras tidak memiliki perasaan terhadapnya? Padahal dia yakin sekali, ada sebuah rasa tiap wanita itu menatapnya. Dan malam itu… Dilan tau jika Laras menyambut setiap sentuhannya. Pemuda itu pun tersenyum miris.
“Baiklah, aku sudah tahu jawabannya,” Dilan mendekati Laras lalu mengecup kening Laras sebelum kemudian dia berbalik badan hendak pergi meninggalkannya.
Tanpa diduga langkahnya tertahan, Dilan menoleh pada sesuatu yang menahannya, Laras menarik ujung kemejanya dan memandang pemuda itu.
“Jangan pergi,”
🍁🍁🍁
Laras POV
Kantor Dosen
Jantungku berdegub dengan kencang, semua karena ulah pemuda itu, brondong manisku. Aku mengusap wajahku yang memanas mengingat kejadian yang belum lama terjadi. Dari balik cermin kantor aku bisa melihat lipstick yang memudar, aku meraba bibirku. Sekelebat bayangan terlintas, saat Dilan memangutnya… menghisap dan membelit lidahku dengan penuh perasaan.
__ADS_1
Ciuman yang memabukkan, bukan yang pertama namun benar-benar membuatku terhanyut kembali. Setelah pengakuannya yang ingin menyerah, aku sadar jika aku menyukainya. Aku tidak mau dia berpaling, katakan aku tidak tahu malu dengan statusku saat ini.
Aku berusaha setenang mungkin, menahan senyum setiap bisikannya terngiang di telinga. “Aku mencintaimu, Laras…” suaranya terdengar sexi.
“Eling- eling… nyebut-nyebut… godaan Tuhan yang paling sulit dilawan adalah Dilan!” gumamku.
Aku masih termenung hingga suara Maria memecah semuanya.
“Laras! Mukamu merah,” ucapnya khawatir. Maria menyentuh keningku dengan punggung tangannya.
“Aku tidak apa-apa,” ujarku segera memalingkan muka.
“Apanya yang tidak apa-apa? Lebih baik kamu pulang lebih awal, aku tidak mau kamu pingsan saat mengajar, ya!” ancam Maria membuatku memutar bola mata malas.
Aku beranjak dari kursi dan mengambil tas ku. “Aku masih ada satu jam lagi,” aku hendak melangkah namun, Maria mencekal tanganku.
“Lihat sendiri, wajahmu pucat! Aku tidak mau tahu, pulang sekarang!” Maria dengan sikap pemaksanya. Maria tidak tau, siapa yang telah mengikis lipstickku hingga membuat wajahku pucat.
Semua karenamu, Dilan!
Aku hanya bisa memasang muka datar menerima gertakan Maria yang terlihat serius, bahkan dirinya menghubungi Dekan hanya untuk meminta izin aku yang pulang lebih awal.
“Kau benar-benar harus membayar upah satu jamku yang terbuang!” ucapku kesal.
“Aku akan membelimu sekalian,” perkataannya sungguh menaikkan tensi darahku.
Maria menuntunku menuju parkiran, sungguh orang yang kurang kerjaan!
“Selamat istirahat! Jika wajahmu belum membaik, jangan pernah menginjakkan kakimu ke kampus ini!” Maria membuka pintu mobilku dan mendorongku ke dalamnya.
“Seriously?” pekikku tidak terima.
Maria melambaikan tangan memberikan kode agar aku segera pergi, Ya ampun … apa benar dia sahabatku?
Aku akhirnya hanya bisa pasrah membawa mobil menuju rumah. Suasana hatiku yang tadinya berbunga-bunga langsung berubah suram. Ah… terserahlah. Aku akan memanfaatkan waktu pulang lebih awalku dengan tidur siang.
Tbc.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
Siang dan malam aku… tersenyum… teringat kan ulahmu…
__ADS_1
Apakah ku terjebak cinta buta, ataukah ku hanya merasa kasmaran…
Kira-kira seperti itulah hati Laras saat ini… hohoho