
Author POV
Universitas ***
Terlihat seorang gadis dengan surai se bahu berjalan menuju gerbang kampus. Kakinya melangkah sedikit cepat dengan raut wajah khawatir. “Sudah lama Kak?” tanya Fany tidak enak.
Kebetulan dia telat 15 menit karena sang Ayah meminta dirinya untuk mengantar terlebih dahulu ke Toko.
Pemuda di hadapannya mengedik acuh. “Tidak, aku juga baru sampai.”
Fany meringis mendapatkan sikap yang terkesan tidak ramah dari Dilan, tapi dirnya tidak terkejut akan hal itu. Setelah bertemu beberapa kali dengan Dilan, Fany bisa membaca karakteristik pemuda itu sebenarnya.
“Hm… kita bicara di kantin saja yuk Kak,” tawarnya pada Dilan. Pemuda itu hanya mengangguk lalu berjalan beriringan dengan Fany.
Sampailah mereka di kantin kampus, Fany memesan makanan untuk mereka berdua. Dilan sendiri tidak menolak karena dia memang belum sarapan. Tanpa mereka ketahui jika Rian mengikuti mereka sejak tadi. Pemuda itu tampak kesal, karena di mata Rian, Fany dan Dilan terlihat seperti sepasang kekasih.
Setelah selesai memakan makanan yang mereka pesan, Dilan segera memulai pembicaraan. “Kau ingin menanyakan hal apa tentang Rian?” tanyanya to the point.
Fany yang sedang menyeruput minuman hampir tersedak. “Ehm… itu, aku ingin menanyakan tanggal ulang tahunnya pada Kakak,” jawabnya takut-takut.
Dilan mendengus mendengar pertanyaan Fany, apa ini sangat penting hingga harus membicarakannya langsung. Pemuda itu mengusap wajahnya kasar. Fany menyadari hal itu dan kembali berkata.
“Sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada Kakak, lebih tepatnya aku ingin membuat pengakuan dan permohonan,” jelasnya mampu mengambil alih atensi Dilan.
“Maksudmu?”
“Sejak awal, aku memang menyukai Kakak. Siapa yang tidak? Kak Dilan sangat tampan, persis seperti idol Korea… tapi aku baru menyadari jika itu hanyalah rasa kagum semata,” Dilan mendengarkan dengan seksama. “Ternyata yang sebenarnya aku sukai adalah Rian… pemuda yang tidak popular, yang selalu menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan dan yang terpenting adalah… dia menyukaiku jauh sebelum aku menyadari perasaan ini. Semua sudah terlambat,” pungkasnya dengan nada getir.
Fany menunduk menyesal, hal itu membuat Dilan iba. Diusapnya bahu gadis itu, berharap dapat menenangkan sedikit rasa sedihnya. “Jangan sedih, sampai saat ini hanya kamu yang ada di hatinya. Rian bukan pria yang mudah jatuh cinta,” ucapan Dilan sontak membuat Fany mendongak dengan wajah berbinar.
“Benarkah?” tanyanya setengah tidak percaya.
Dilan mengangguk dengan senyuman tulus, baru kali ini Fany melihat senyuman itu. Karena selama ini Dilan hanya menampilkan wajah datar yang terkesan cool. Sudut mata gadis itu basah, begitu besar harapannya akan ucapan Dilan. Jika memang benar hati Rian masih berlabuh padanya, dia tidak akan tinggal diam. Dia akan mengejar Rian yang selama ini selalu menyukainya dalam diam.
“Makasih Kak,” Fany membalas senyuman Dilan tidak kalah manis.
__ADS_1
Pemandangan itu justru membuat amarah seseorang di seberang sana memuncak. Dengan sedikit hentakan orang itu berdiri dari duduknya dan berjalan dengan langkah lebar mendekati meja Dilan dan Fany. Dengan kasar menarik baju Dilan dan mendorongnya membuat Dilan terhuyung hampir terjatuh. Dilan yang belum menyadari keadaan tidak bisa menghindari bogeman mentah yang melayang secara tiba-tiba mengenai pipinya.
BUGH!!!
“Kakak!” Fany memekik. Matanya melebar saat tau siapa yang memukul Dilan. “Rian…”
Dilan menoleh pada orang yang memukulnya, mengetahui siapa itu dia pun terkejut. “Rian, kenapa kau memukulku?” tanyanya bingung.
Rian merangsek maju dan mengangkat kerah Dilan dengan kasar. “Kau bilang mencintai Mamaku tapi apa yang ku lihat? Kau sedang bersenang-senang di sini! Sementara Mamaku sakit karena memikirkan dirimu!” geramnya kesal.
Fany yang mendengarkan ucapan Rian panik, jangan sampai Rian salah paham lagi padanya. Sedangkan Dilan langsung berusaha melepaskan cengkeraman Rian padanya, pemuda itu balik bertanya ketika mendengar keadaan sang kekasih hati dari calon anak sambungnya. “Mamamu? Laras… sakit?”
“Ya, dia sakit! Mama tidak mau makan seharian saat aku minta menjauhimu, dan tadi pagi Mama pingsan… aku pikir, lebih baik merestui kalian… makanya aku menemuimu sekarang tapi apa yang kulihat? Kau-“ Rian melotot saat Dilan bukannya mendengarkan malah berlari keluar dari kantin “Hei! Mau pergi ke mana kau? Kau tidak mendengarku? Aku tidak mengijinkanmu menemui Mamaku!” Pemuda itu hendak mengejar Dilan namun, tangannya di tahan oleh Fany.
“Aku tidak tau ada masalah apa di antara kalian, tapi aku pikir yang akan aku sampaikan saat ini tidak kalah penting,” Fany berkata dengan serius.
Rian melihat ke arah pintu kantin, sepertinya tidak akan keburu jika mengejar Dilan saat ini. Lalu kembali menatap Fany. “Baiklah, akan aku dengarkan,” ucapnya sambil berjalan menuju meja.
🍁🍁🍁
Namun, hatinya pun menghangat saat tau jika Laras ternyata sangat mencintainya. Buktinya, wanita itu sakit saat diminta menjauhi dirinya. Saat kata restu terlontar dari mulut Rian, Dilan tidak menunggu lagi untuk langsung menemui Laras, ada Fany yang akan menjelaskan semua, pikirnya.
🍁🍁🍁
Kediaman Laras
Membanting pintu mobil dan secepat kilat menuruninya, berjalan setengah berlari menuju rumah Laras. Ditekannya bel rumah itu dengan jantung berdebar-debar. Tidak lama pintu pun terbuka, Bi Inah berdiri di sana. “Eh Den Dilan, ada apa ya?”
“Laras… eh maksud saya Nyonya Laras ada?” tanya Dilan kikuk.
“Oh, kebetulan Ibu Laras sedang tidak enak badan,” ucap Bi Inah membuat hati Dilan makin khawatir.
Bi Inah tidak mengetahui hubungan mereka, sudah seharusnya Dilan menjaga sikap. Dilan akan berpura-pura menjenguk Laras agar Bi Inah tidak berfikir macam-macam.
“Kebetulan saya mahasiswa beliau, jika boleh… saya mau menjenguknya,” jelas Dilan yang langsung diangguki Bi Inah.
__ADS_1
“Oh, iya tentu boleh… mari saya antar langsung ke kamarnya,” tawar Bi Inah. Dilan menurut dan mengekori Bi Inah dari belakang.
Selama ini Dilan bertemu dengan Laras saat Bi inah sedang tidak ada di rumah. Demi mencegah gossip tidak sedap beredar, Dilan akan menahan diri sampai hari itu tiba, hari di mana dia menghalalkan Laras.
Mereka pun berhenti di depan pintu kamar Laras. Bi Inah masuk terlebih dahulu, tampak Laras yang masih terlelap.
“Wah… Ibunya masih tidur, Den Dilan mau tunggu di sini apa di ruang tamu?”
“Di sini saja, tidak apa-apa Bi?”
“Iya… tidak apa-apa donk Den… saya ke bawah dulu ya, mau minum apa?”
“Tidak usah Bi, saya sekalian nunggu Rian pulang,” Dilan beralasan.
“Oh iya, bener… sekalian nunggu Den Rian ya. Kalau begitu saya sekalian pamit saja ya Den… Bu Laras tadi sudah minum obat, kebetulan saya ijin pulang cepat, soalnya mau jemput adik saya di stasiun,” jelas Bi Inah.
“Iya Bi, biar saya yang jaga Nyonya Laras,” mendengar itu membuat Bi Inah lega. Awalnya dia tidak bisa pergi karena tidak ada orang di rumah.
“Makasih ya Den, Bibi pergi dulu, Assalamu’alaikum,” pamit Bi Inah.
“Wa’alaikum salam,” sahut Dilan.
Dilan menunggu Bi Inah pergi, sampai suara pintu tertutup terdengar Dilan pun langsung menghampiri Laras. Pemuda itu duduk di sisi ranjang sambil membelai pipi sang kekasih. Mata yang terpejam pun mulai terbuka, mengerjap perlahan dan menoleh pada sesuatu yang mengusapnya lembut.
Paras tampan yang selalu menemani mimpinya kini tepat di hadapannya, tersenyum menawan membuat matanya basah karena terharu.
“Dilan…” suaranya berbisik terdengar lemah membuat hati Dilan bersenyut nyeri. Di peluknya tubuh pujaan hati dengan erat.
“Aku di sini,” ucapnya menenangkan Laras yang mulai terisak pelan.
Tbc.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan komen kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
__ADS_1
Entah mau ngakak atau sedih, yang jelas kasian liat Rian di kacangin sama Dilan.