Terjerat Brondong

Terjerat Brondong
TB 14


__ADS_3

Laras POV


Kediaman Laras


Satu jam sudah perjalanan aku lalui menuju rumahku, aku menahan kesal pada Maria yang menyia-nyiakan satu jam yang harusnya aku jadikan untuk mengajar.


Semua karena Dilan!


Huft… karenanya lah aku jadi terlihat pucat. Namun, kemudian aku tersenyum kecil.


Pemuda itu, sepertinya sangat pandai dalam menjeratku. Atau jangan-jangan dia sudah terbiasa seperti itu sebelumnya. Pada mantannya… kenapa aku menjadi kesal?


Aku menghempas tubuhku pada ranjang empuk kesayanganku, menatap langit-langit kamar memikirkan sesuatu keputusan yang telah aku ambil. Aku menahannya untuk pergi, padahal jika aku membiarkannya mungkin kisah kami sudah sampai di situ saja.


Tapi sebaliknya, aku tidak mau itu terjadi. Apa benar aku menyukainya? Dan aku tidak menolak saat Dilan menciumku.


Wajahku langsung memanas, aku menutupinya dengan bantal.


“Aduh… aku jadi berdebar-debar begini!” gumamku.


Aku memilih memejamkan mata, membawa segala pikiranku ke alam mimpi. Berharap saat ku terjaga nanti semua baik-baik saja.


🍁🍁🍁


Suara ponsel berdering dengan keras dibarengi suara ketukan di pintu kamarku menambah gaduh suasana ruangan. Dengan berat aku membuka mata, rasa kantukku belum hilang. Aku meraba ponsel dan ternyata sebuah alarm yang berbunyi, menunjukkan pukul 19.00.


Tok, tok, tok


“Ma! Sudah lewat magrib,” seru Rian di balik pintu.


Aku langsung melebarkan mata. “Ya, ampun! Aku belum sholat,” runtukku segera beranjak dari ranjang.


“Ya, nanti Mama keluar!” sahutku sambil berjalan menuju kamar mandi.


Setelah menunaikan kewajibanku yang hampir melewati batas waktu, aku bersiap untuk ke dapur. Mengenakan daster Sabrina dan menggelung rambutku yang sudah mulai memanjang dengan asal. Tanpa aku sadari ada seseorang yang berdiri menjulang di balik pintu kamarku, aku hampir memekik saat membuka pintu karena terkejut.


“Dilan!”


Pemuda itu tersenyum menawan, maniknya menelitiku dari atas hingga bawah membuatku risih dan aku baru menyadari wajah bangun tidurku.


Kenapa dia di sini? Mana masih muka bantal, haduuuhh! keluhku dalam hati.


“Cantik, bahkan saat bangun tidur,” Dilan tersenyum simpul.

__ADS_1


Aku yang di puji bungkam seketika, bingung mau bersikap apa. Aku benar-benar mati kutu.


“Hm… aku… harus memasak,” Aku menundukkan wajahku sambil melangkah menghindarinya. Aku segera berlari kecil menuju dapur.


Sialan! Aku dibuat tidak berkutik olehnya, rutukku.


Aku segera menyibukkan diri dengan memasak, mengabaikan setiap langkah yang mendekatiku dari belakang.


“Ma. Mau masak apa?”


Aku terhenyak dan menoleh, aku kira yang di belakangku adalah Dilan. Aku sudah ke ge-eran sendiri. Aku tersenyum kikuk pada Rian yang memandangku penuh tanya.


“Hm… masak… masak yang cepat jadi saja ya! Omelete sama oseng-oseng brokoli, gimana?” tanyaku balik pada Rian.


“Itu juga enak, kalau Mama capek biar aku yang masak,” Rian memegang wortel yang belum dikupas.


Aku terkekeh dan meliriknya jail. “Memang bisa?”


Rian mengusap tengkuknya yang tidak gatal. “Mama kasih tau saja aku harus bagaimana,” jelasnya.


Aku tertawa kecil dan mendorongnya untuk kembali ke meja makan. “Sudah, biar Mama yang masak! Mama tidak mau dapur Mama nanti kebakaran,” ledekku.


Ku lihat bibir Rian yang mengerucut tidak terima dikatakan seperti itu.


“Aku bukan Dilan!”


“Kau kan tidak bisa masak, kau bilang pernah meminta Mama memasak ayam kalkun saat aku pergi bersama Papa,” Aku terhenyak mendengar penuturan Rian tentang aku memasakan Dilan ayam kalkun. Pasalnya malam itu… kami berdua berakhir dengan tidur bersama.


Tanganku mendadak dingin, apa saja yang telah Dilan katakan pada Rian?


“Lalu?” tanyaku sambil menundukkan kepala. Aku mengaduk adonan omelette dengan perasaan waswas.


“Lalu kalian…” aku menunggu setiap lanjutan kata Rian, meremas spatula yang ada di tanganku. “Kalian menonton film Troy semalaman, aku sedih tidak bisa ikut menonton,” Rian berkata dengan sedih.


Aku menoleh dengan perasaan yang sulit digambarkan. Antara lega dan merasa bersalah. Dilan malah tersenyum menyebalkan padaku.


Awas kau nanti! Sudah membuatku berfikiran macam-macam. Ancamku dalam hati sambil memberikan tatapan tajam pada pemuda itu.


“Sebaiknya kita menunggu Mamamu memasak, Ayo kita menonton Troy sekarang!” ucap Dilan sambil merangkul Rian. Pemuda itu mengerlingkan mata sebelum meninggalkanku sendiri di dapur dengan perasaan dongkol.


🍁🍁🍁


Seusai makan malam, aku membiarkan dua pemuda di rumah yang sedang asik bermain playstations. Aku berjalan menuju halaman belakang rumahku. Duduk bersantai di sana dengan ditemani teh hangat. Menghela nafas sambil menatap rembulan yang kebetulan sedang berbentuk sabit.

__ADS_1


“Sedang apa?” aku menoleh dan menatap malas pria yang berhasil menciumku di toilet tadi siang. Mengacuhkannya tanpa ingin menjawab.


Aku merasakan sesuatu tersampir di bahuku, sebuah jaket hitam yang sering dikenakan Dilan. Aku bisa menghirup aroma parfum maskulin dari sana.


“Marah?”


Aku diam saja, malas… apa maksudnya dia menceritakan kejadian malam itu. Meski tidak semuanya. Dia tidak tau setakut apa aku jika Rian mengetahui apa yang telah terjadi antara kami.


“Maaf, aku hanya mencari alibi untuk kita… tolong jangan marah,” Dilan duduk di kursi sampingku, menggapai tanganku dan meremasnya.


“Jangan ucapkan apapun! nanti Rian dengar,” aku menarik tanganku namun, ditahannya.


“Rian sudah tidur, kau tenang saja,” ucapnya menenangkanku.


Aku mendesah lelah, mendadak aku menjadi pesimis tentang hubungan kami. “Dilan… apa sebaiknya kita memikirkan kembali-“


Disaat yang sama aku merasakan tarikan pada tubuhku hingga hampir terhuyung. Kejadiannya sangat cepat hingga aku baru sadar bahwa aku sudah dalam pelukan Dilan.


“Jangan minta aku untuk berhenti, jangan menyerah sebelum kita memulainya… tidak ada yang perlu dipikirkan lagi, aku benar-benar mencintaimu, apa kau meragukan itu?” bisiknya pada telingaku.


Aku memejamkan mata menikmati dekapan hangat darinya. “Aku menyukaimu… tapi aku belum tau apa ini cinta? Maaf aku membuatmu bingung, aku pun masih belum memahami perasaanku saat ini. aku-“


Ucapanku terputus dengan ciuman darinya. Ciuman yang begitu kuat hingga aku hampir kehabisan nafas, aku berusaha menarik wajahku dari ciuman itu.


“Hmmmpp… Dilan!”


Manik itu menatapku dalam, jarinya mengusap lembut bibir bawahku. “Aku akan membuatmu mencintaiku, Laras!”


Pemuda itu kembali memangut bibirku, menelusuri setiap inci rongga mulutku, mengejar lidahku hingga aku kewalahan. Tubuhku mendadak lemas, seolah energi terserap olehnya. Dilan mengangkat tubuhku, melingkarkan kakiku di pinggangnya. Dia pun membawaku entah kemana sampai aku sadar ketika Dilan merebahkanku di atas ranjang kamarku.


“Dilan! Berhenti…” aku menahan dirinya yang mulai merangkak ke atas tubuhku. “Jangan… aku tidak mau melakukan itu… kita belum menikah!”


Ucapanku sontak membuatnya berhenti. Dilan merapikan rambutku yang berantakan.


“Maaf, kau selalu membuatku tidak bisa menahan diri…” pemuda itu mengecup keningku. “Aku tidak akan melakukannya, kita akan menikah… aku janji… sebelum itu aku hanya ingin membuatmu lemas,”


Aku masih belum mengerti apa maksud dari perkataannya hingga tiba-tiba Dilan membuka kakiku dan menaruh kapalanya di antara tungkai kaki.


“Dilan… stop... aaaakhhh!!"


Tbc.


Please rate, vote dan likenya yach!

__ADS_1


Sertakan commenta kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


Skip adja ya… di sarankan membacanya saat malam, karena othor gak tanggung jawab klo pikiran reader travelling di siang hari. hahahaha


__ADS_2