
Laras POV
Kediaman Laras
Akhir pekan aku habiskan untuk mengatur dekorasi rumah dan membersihkan barang-barang yang tidak terpakai. Menyumbangkannya ke tukang barang bekas yang sering berkeliling di sekitar komplek. Garasiku yang seperti gudang membuatku pening tujuh keliling. Rian senang mengoleksi atribut sepeda namun tidak pandai menatanya. Menaruh asal hingga barang itu usang dengan sendirinya.
"Rian! Barang yang di garasi masih dipakai atau tidak? Kalau tidak, mau Mama jual ke Koh Aceng neh!" Seruku kesal.
"Terserah Mama saja, yang terpasang di sepeda yang aku pakai," sahutnya membuatku tambah geram.
Bahkan barang yang menumpuk itu masih tersegel, belum dipakai sama sekali. Aku membantingnya hingga menimbulkan bunyi cukup keras.
BRAK
"Ada apa Ma?" Rian menghampiriku dengan khawatir.
"Kalau memang barangnya tidak dipakai, kenapa kamu beli? Pemborosan!"
"Maaf Ma, temanku yang nawarin. Aku gak tega nolaknya, dia bilang buat nambahin beli obat Ibunya," Rian menunduk tidak enak.
Aku menghela nafas, jadi semua karena ingin menolong temannya. Memang terlihat barangnya bukan barang Ori, pantas dia tidak memakainya.
"Kenapa gak bilang dari awal?" Aku menyugar rambutku, menyesal karena telah memarahi anak semata wayangku. "Baiklah, barangnya akan Mama jual... lalu uangnya kamu kasih ke temen kamu itu," ucapanku membuat Rian mendongak heran.
"Beneran Ma?"
Aku mengangguk dengan senyum simpul, Rian segera memelukku. Aku terkekeh dibuatnya.
"Makasih Ma, Mama memang yang terbaik," Rian mengecup pipiku dan berlari memasuki rumah. Sepertinya dia akan memberitahukan temannya akan niatku itu.
Aku menggelengkan kepala melihat tingkah anak remajaku. Aku kemudian berjalan ke arah rolling dor garasi, hendak menutupnya namun tidak bisa. Seperti ada yang tersangkut di rollingnya. Aku menarik cukup keras hingga rolling itu hampir menghantam tubuhku, aku memejamkan mata hingga rolling itu terhenti. Aku membuka mataku dan terkejut dengan kehadiran Dilan yang menahan rolling dor.
"Dilan!"
"Hampir saja, anda tidak apa-apa?"
Aku tersenyum kikuk, lagi-lagi jantungku berdebar tidak karuan jika di dekatnya. Pemuda itu terlihat makin tampan setiap harinya. Aku mengibaskan tangan berusaha mendinginkan wajahku yang memanas.
"Ak-Aku baik-baik saja... terima kasih banyak, Dilan," ucapku tulus.
Pemuda itu membalas dengan senyuman manis. Semanis madu pikirku. Aduh, makin melantur saja otakku ini.
Dilan mengutak-atik rollingku. "Sepertinya ada sesuatu yang tersangkut, anda punya perkakas? Biar aku perbaiki rollingnya," ucapnya serius.
Aku terhenyak tidak enak. "Tidak usah, biar aku hubungi bagian reparasi saja," sergahku.
Dilan mendekat, menyentuh tanganku yang sedang memegang martil dan mengambilnya. Aku sendiri tidak sadar jika sedang memegang itu. Aku terpaku sesaat dengan sentuhannya, seperti ada aliran listrik yang menyengat.
"Jangan menolak, saya hanya bisa membalas kebaikan anda dengan sedikit bantuan," bisiknya membuatku merinding.
__ADS_1
Mata kami saling bersitatap, maniknya mengunciku membuat seolah waktu terhenti. Aku tidak bisa bergerak, dan...
"Ma, aku mau keluar... mau nitip sesuatu?"
Suara Rian menyadarkanku, aku menengok dengan cepat dan mengusap wajahku. Apa itu tadi? Dilan tampak diam saja, hanya tersenyum simpul ketika aku kembali melihatnya.
"Hai, Dilan... kau sedang apa?" Rian menghampiri aku dan Dilan. Aku seperti orang yang tertangkap sedang selingkuh.
"Hm... itu-" jawabku gugup.
"Rolling dormu macet, tadi hampir mengenai Mamamu. Jadi aku ingin memperbaikinya," sela Dilan.
Raut wajah Rian berubah panik, dia memberondongku pertanyaan beruntun membuatku risih.
"Bener Ma? Terus Mama gak kenapa-napa kan? Ada yang sakit? Biar Rian anter ke Dokter ya," tanyanya tanpa jeda.
Aku tersenyum dan mengusap bahunya. "Mama tidak apa-apa, untung ada Dilan yang nahan rollingnya," jelasku.
Rian memeluk Dilan, membuat yang bersangkutan tersentak. "Makasih banyak ya, udah nolongin Mama aku," serunya lantang.
"Sudah kewajibanku, menjaga Mamamu," jawab Dilan membuatku mengerutkan kening.
"Ya, kewajiban kita berdua, karena kewajiban pria adalah menjaga wanita. Bener kan?" sahut Rian antusias.
Dilan mengangguk dan berkata. "Temani aku ke toko perkakas, kita butuh beberapa barang untuk memperbaiki rollingmu," pemuda itu merangkul Rian dan pergi meninggalkan aku yang masih termenung. Sepertinya tadi hanya khayalanku saja, aku menepis kejadian yang barusan terjadi.
"Bukan apa-apa," gumamku.
Author POV
Toko ***
"Rian... kemana Papamu?" Dilan mengambil kotak 1 set perkakas.
Rian menghentikan langkah, wajahnya sendu seketika. "Papa ada di Bandung," jawabnya pelan.
"Bandung?"
"Ya, Papa dan Mama bercerai 5 tahun yang lalu. Papa selingkuh dengan sekretarisnya. Mama memergokinya di sebuah hotel, dan begitulah," ucapnya getir. Rian menyenderkan tubuh pada tembok. "Aku, tidak pernah mengharapkan perpisahan mereka... tapi aku tau seberapa berat Mama menjalani hari-harinya dihantui rasa was-was dan prasangka. Aku menerima semua keputusan terbaik, yang penting Mama bahagia," pungkasnya sambil menghela nafas.
Dilan menepuk pundak Rian dan tersenyum. "Kau anak yang baik! Mamamu adalah wanita luar biasa," puji Dilan.
"Ya! Luar biasa sebagai Ibu," sahut Rian.
Dilan tidak menimpali, di dalam benaknya Laras adalah wanita yang sempurna. Wanita tangguh yang mengingatkannya pada seseorang.
Mereka pun selesai memilih barang namun, ketika menuju kasir. Langkah Rian terhenti, terlihat jika wajahnya merah merona. Rian mulai salah tingkah.
"Ada apa?" Tanya Dilan keheranan.
__ADS_1
Rian menunjuk ke arah kasir, ke arah seorang gadis yang berdiri di sana.
"Kau lihat, gadis cantik itu adalah Fany. Dia gadis paling populer di kampus!"
Dilan menatap datar gadis yang dibilang cantik oleh Rian. Biasa saja, pikirnya. Hanya gadis childish yang cengeng dan gila pujian.
"Kau menyukainya?" Kembali Dilan bertanya.
"Aku rasa dia tidak mengenalku," keluh Rian. Pemuda itu pesimis jika Fany mengenalnya sebagai teman kuliah, meski sebenarnya mereka satu jurusan.
"Kalau begitu, sapa dia. Dan minta nomor ponselnya, kamu bisa saling mengenal nanti," ujar Dilan memberi semangat.
"Aku malu," Rian menunduk membuat Dilan gemas.
Masih zaman malu-malu? Apalagi untuk Rian? Pemuda itu sebenarnya tampan dan menarik, hanya saja Rian tidak pernah berbaur dengan yang lain. Hingga banyak yang tidak mengenalinya. Dengan cepat Dilan merangkul Rian dan menyeretnya menuju kasir.
Wajah gadis itu merona dengan mata yang tidak henti mencuri pandang pada Dilan, Dilan tersenyum ramah menambah salah tingkah gadis itu.
"Hai, kamu Fany kan?" Tanya Dilan membuat gadis itu makin merona.
"Iya... kok tau?" Fany tersipu.
"Aku tau dari Rian, temen 1 jurusanmu, dia mau minta nomor ponselmu," sahut Dilan cepat dan mendorong Rian hingga berhadapan langsung dengan Fany.
"Oh, hai Rian... aku sering melihatmu di perpustakaan," ucapnya kikuk.
"Hm... iya, aku memang sering di sana," Rian mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Bersamaan dengan itu datang 3 orang pemuda yang terlihat sangar.
Matanya menatap cemooh pada Rian dan menghampirinya. "Ada kutu buku di sini?" 3 orang itu mendekat, sedangkan Dilan beranjak ke belakang. Pemuda itu mengamati dari jauh.
"Lagi deketin Fany neh ceritanya? Mana mau dia sama kamu yang makanin buku setiap hari," ejek salah satu dari pemuda itu.
Rian diam saja, menahan amarah dengan mengepalkan tangan. Fany yang melihat itu langsung mengusir 3 pemuda tersebut.
"Jangan bikin ribut di sini! Pergi, atau aku panggilin satpam!" Ancam Fany.
Tampak para pemuda itu enggan. "Oke Fany sayang, kita pergi. Yuk, cabut!" Ajaknya pada teman-temannya.
"Bye loser," pemuda itu menepuk kasar bahu Rian sebelum pergi.
Rian menggeram ketika ke-3 pemuda rusuh sudah tidak terlihat. "Sudah selesai, Dilan?"
"Yup, kita pulang sekarang!" sahut Dilan. Dan mereka pun kembali menuju rumah.
Tbc.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
__ADS_1
Nungguin ya?? Sabar ya... aku juga sambil nyuri2 waktu neh. Mksh masih setia sama aku... love u all...