
Author POV
Pemuda itu terus menatap arlojinya yang telah menunjukkan pukul 10.00, menoleh pada pintu rumah yang tidak kunjung terbuka. Hatinya gelisah dan penuh tanya, sedang apa wanita pujaannya di dalam rumah? Kenapa begitu lama? Padahal dia tau jadwal mengajar wanita itu. Ada kelas pagi hari ini.
Tanpa berfikir lagi, dia pun memilih untuk mendekati pintu dan mengetuknya.
Tok, tok, tok
"Assalamu'alaikum."
Tidak lama pintu pun terbuka, wajah wanita tua yang cukup familiar terlihat dan tersenyum ramah.
"Wa'alaikum salam, Den Dilan... ada apa ya?" Tanya wanita itu saat pemuda di depannya hanya mengangguk dan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Dilan pun berkata.
"Hm... Nyonya Laras-"
"Oh, Ibu Laras sudah berangkat dari tadi," sela Bi Inah membuat Dilan sontak terkejut.
"Berangkat? Tapi saya tidak lihat Nyonya keluar rumah," sergah Dilan.
"Bu Laras tadi lewat pintu belakang, katanya mobilnya mogok," jelas Bi Inah.
Dilan terdiam, ternyata Laras menghindarinya lagi. Wanita itu membuat gemas, sepertinya Dilan akan main kucing-kucingan untuk saat ini. Dengan senyum terpaksa Dilan pamit. Berjalan pelan menuju mobil sambil membuka pesan dari Laras yang belum dibacanya.
[Tukang bohongπ€¨]
Bibir pemuda itu berkedut menahan senyum. Pesan balasan yang tadi malam ia kirim. Sebaiknya dia segera ke kampus, menangkap kucing yang terus bersembunyi karena malu. Semua ini pasti akibat perbuatannya semalam, membuat lemas Laras berkali-kali.
πππ
Laras POV
Universitas ***
Jam pertama usai, aku berjalan di koridor menuju kantor dengan was-was. Berharap untuk tidak berpapasan dengan dia. Dia yang membuatku malu setengah mati.
Aku seperti maling yang ketahuan hansip, berjalan sambil menoleh ke sana ke mari.
"Jangan sampai ketemu, jangan sampai pokoknya!"
"Ketemu siapa?"
Suara seseorang mengagetkanku hingga buku yang aku bawa jatuh berhamburan ke lantai. Aku mendesah lelah, ingin menjerit rasanya.
"Laras! Maaf buatmu kaget," seru Maria menyesal. Wanita itu membantuku memunguti buku yang berserakan.
"Tidak apa-apa, bukan salahmu," jawabku menenangkan.
Kami pun berjalan bersama setelah mengumpulkan buku. Maria menatapku penuh tanya.
"Sebenarnya ada apa? Kau punya masalah? Ceritakan padaku," Maria tampak khawatir.
Aku menghentikan langkah dan melihat wajah cantik yang selalu membantuku ini. Tidak... aku tidak bisa memberitahukan hubunganku dengan Dilan. Apa yang akan dipikirkan Maria tentangku jika dia tau?
"Aku hanya kecapekan, banyak tugas mahasiswa yang belum terkumpul membuatku kepikiran," jawabku dengan senyum manis.
__ADS_1
"Benarkah?" ucap Maria sangsi.
Aku mengangguk mantap. "Aku lapar, kita makan bakso titoti, Yuk!" ajakku mengalihkan pembicaraan.
Mendengar kata bakso, Maria pun berbinar senang. "Siap meluncur!"
Aku terkekeh melihat respon Maria, disaat bersamaan suara ponselku berdering. Mataku membulat melihat siapa yang menelpon.
"Dilan!" gumamku.
"Kenapa?" Maria menoleh padaku yang menghentikan langkah.
Aku tersadar dan segera meminta Maria ke kantor duluan dengan alasan aku ingin ke toilet sebentar.
Aku berjalan cepat menuju toilet dan menerima panggilan itu.
[Halo,] sapaku.
[Dimana?]
[Begini cara bicara mahasiswa pada dosennya?] sarkasku. Aku bisa mendengar suara nya yang tertawa kecil.
[Aku pikir aku sedang bicara dengan kekasihku, yang sedang malu karena perbuatanku semalam,]
Aku mengusap kasar wajahku. [Jangan di bahas!] ucapku mendesis.
[Laras...]
Jantungku langsung berdegub kencang mendengar suaranya yang memanggil namaku.
[Aku rindu, sudah ya main kucing-kucingannya...]
[Laras... kok diam? Laras...]
[Aku dengar.]
[Jadi?]
[Ya sudah.]
[Ya sudah apa?]
[Tidak jadi deh!]
[Ok-ok jadi sudah tidak menghindar lagi ya...]
[Hm-mm]
Aku tidak percaya, aku akan bersikap seperti remaja yang baru jatuh cinta. Aku benar-benar salah tingkah dibuatnya.
[Nanti pulang bareng ya... aku tunggu di persimpangan dekat kampus. Love u...]
Aku tidak menjawab, aku langsung memutuskan panggilan itu. Aku bisa melihat wajahku dari pantulan cermin toilet. Pipiku merona seperti tomat yang sudah matang.
"Aku benar-benar mencari masalah," ucapku lirih.
πππ
__ADS_1
Bakso Titoti
Jam makan siang telah tiba, Maria dengan sigap memboyongku ke tempat bakso favoritnya. Cukup jauh kami pergi hanya untuk menyantap menu tersebut namun, semua itu terbayar karena rasanya yang enak dan sedap.
Maria mengaduk bakso dengan sambal tanpa saus. Aroma harum kaldu sapinya memang menggugah selera.
"Laras... duda keren yang waktu itu masih penasaran lho sama kamu," ucap Maria di sela kunyahannya.
Aku tidak menjawab, terlalu sibuk menyeruput kuah bakso. Maria yang gemas karena diabaikan akhirnya menarik mangkokku. Aku mendelik kesal.
"Makanya jawab kalau orang ajak ngomong!" Gerutunya.
Aku menghentikan kegiatanku yang terganggu. "Aku tidak tertarik," sahutku acuh.
"Kenapa? Kan belum kenalan, bagaimana bisa tidak tertarik?"
"Aku sudah punya pacar," aku mengatupkan bibirku yang keceplosan. Aduh, mati aku!
Maria menganga dengan bakso di mulutnya. "Eius?" (Serius?) Ucapan Maria jadi tidak jelas karena bakso yang belum dikunyahnya. Aku terkikik geli.
"Makan dulu baksomu!" perintahku.
Dengan cepat Maria mengunyah dan menelannya.
"Serius? Siapa?" Tanyanya lagi.
Aku menggeleng dan segera menyelesaikan makanku. Beranjak dari kursiku menuju kasir. Maria yang belum selesai makan tidak rela jika harus meninggalkan baksonya. Wanita itu hanya berseru dan memanggil-manggilku.
"Laras! Awas ya kamu main rahasia-rahasiaan sama aku!" Ancamnya dengan pipi menggembung penuh bakso.
Aku melambaikan tangan dan pamit pada Maria dari jauh. "Bye, ketemu di kantor ya..."
Aku pun melenggang pergi, sepertinya aku akan main kucing-kucingan lagi. Hanya saja kali ini bukan dengan Dilan, tapi Maria.
πππ
Author POV
Persimpangan jalan
Dilan memperhatikan setiap orang yang keluar dari gerbang kampus. Sungguh rasanya tidak sabar untuk bisa berduaan dengan sang kekasih. Hingga kemunculan yang ditunggu pun tiba, Dilan tersenyum menawan saat Laras memasuki mobilnya.
"Cepat, sebelum ada yang lihat," ucap Laras sambil mengamati sekitar.
"Sudah tidak sabar ya," goda Dilan.
Laras mendelik. "Jangan macam-macam," ancamnya.
"Satu macam saja, boleh?"
Laras memberi kepalan tinju, Dilan pun tergelak lalu melajukan mobil meninggalkan tempat tersebut.
Sepanjang perjalan Dilan selalu curi-curi pandang pada Laras yang terlihat menunduk, wanita itu tampak memejamkan mata. Kepala Laras beberapa kali terantuk pelan kaca mobil namun, wanita itu tidak bergeming... tetap setia dengan mata yang tertutup rapat. Dilan pun menghentikan laju mobilnya. Dia memarkirkan mobil di pinggiran taman yang terdapat pohon rindang.
Dilan tersenyum, tangannya menggapai kepala Laras dan merapikan rambutnya yang berantakan. meletakkan kepala Laras di pundaknya dan kemudian ikut memejamkan mata. Dilan menyusul Laras ke dunia mimpi.
Please rate, vote dan likenya yach!
__ADS_1
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
Beribu2 maaf aku mulai sulit up... lg sibuk input data sensus... π