Terjerat Brondong

Terjerat Brondong
TB 29


__ADS_3

Laras POV


Beberapa hari berlalu, besok adalah hari dimana Dilan pergi magang dan tentunya bersamaku. Tapi, aku belum juga membicarakan hal ini pada Rian. Aku belum meminta izin meninggalkannya sendiri, aku seolah menyesal dengan keputusanku kemarin. Demi Dilan aku sampai begini, apa ini langkah yang benar? Melihat sikap Rian yang berubah pada Dilan aku menjadi ragu akan hasilnya nanti.


Aku menyugar rambutku gemas, kenapa aku jadi labil begini? Jika Maria tau, bisa di ceramahi aku 2 hari 1 malam.


Mengetuk-ngetuk meja dengan jari, berharap aku segera mendapatkan solusi, yang ada aku makin frustasi. Sudah berapa kali aku berguling gelisah di ranjang hingga kini aku tidak mendapatkan apa-apa. Hanya pemandangan sebuah kaki dengan bulu-bulu cukup lebat mendekat. Kepalaku terutai di sisi ranjang dalam posisi terbalik, karena itu Rian seperti sedang berjalan di langit-langit.


"Mama sedang apa seh?" putera semata wayangku menatap heran.


Aku sontak beranjak duduk dan gerakan tiba-tiba itu membuat kepalaku pening. Aku memegang kepalaku sambil mengaduh.


"Aduh," keluhku.


Mendengar suara kesakitanku, Rian segera menghampiri dengan wajah khawatir. "Kenapa, Ma? Sakit?"


"Tidak, cuma kaget bangun tiba-tiba. Akhir-akhir ini Mama sering pusing kalo bangun dari tidur atau duduk lama," jawabku masih sambil memegang kepala.


"Kok bisa? Mama kurang darah mungkin!"


Perkataan Rian ada benarnya juga tapi, selama ini aku tidak pernah punya darah rendah. Selalu normal dan stabil. Masa seh penyakit orang tua? Apa aku sudah setua itu? Aku meringis sendiri.


"Mungkin... nanti Mama coba tensi darah di apotek," ujarku menenangkan. Aku bisa melihat kelegaan di raut wajahnya saat aku mengatakan niatku itu.


"Iya, kalo mau periksa sekarang! Rian yang antar" tawarnya antusias.


Aku tersenyum kecil dengan gelengan. "Tidak usah," aku menatap lekat Rian. Sebaiknya aku mengatakan rencana itu padanya sekarang. "Ada sesuatu yang lebih penting yang ingin Mama sampaikan padamu," tambahku.


Rian terdiam, matanya menelisik dengan seksama. Aku meraih tangannya dan mengajaknya duduk di dekatku, di sisi ranjang. Mengusap punggung tangannya perlahan, sebelum akhirnya aku berkata dengan serius.


"Kau ingat kejadian perkelahian itu?"


Pemuda itu mengangguk. Aku tersenyum dan kembali berkata.


"Dilan menerima hukuman yang tidak seharusnya dia emban, meski kekerasan bukanlah hal baik tapi, dia lakukan itu karena membelamu. Jika tidak ada dia waktu itu, mungkin Mama menerima telpon dari rumah sakit atas namamu," Rian tampak tertunduk dengan tangan terkepal. "Magang Dilan ditunda hingga tahun depan..."


"Apa? Tahun depan?" Rian terkejut. Sepertinya dia tidak tau hukuman apa yang Dilan dapat.


"Ya... dan Dilan tidak menolak. Dia menerimanya begitu saja hingga Mama berinisiatif untuk menghadap Dekan, bernegosiasi agar Dilan tetap bisa magang. Mama berhasil meyakinkan Dekan tapi, semua tergantung keputusan Dilan sendiri. Mau atau tidak dia menjalani magang," jelasku panjang lebar.


"Lalu? Dilan mau magang lagi kan, Ma?!" tanyanya penasaran.


"Tidak..." aku menggeleng pelan. "Dilan tidak mau," jawabanku membuat kening Rian berkerut.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Alasannya... dia tidak ingin jauh dari Mama," jelasku.


"Bagaimana bisa dia berfikiran dangkal ssperti itu? Ini kan demi kebaikannya!" Rian tampak tidak terima.


"Ya... dan Mama merasa kita berhutang budi padanya, hingga akhirnya Mama membujuk dan menawarkan diri untuk menemaninya di sana," ucapku pelan sambil mengamati ekspresi Rian.


Rian tersentak, wajahnya makin terlihat aneh karena kebingungan. "Apa? Mama bilang apa tadi?"


"Mama... akan menemani Dilan magang di Surabaya," cicitku mulai ciut melihat responnya.


Pemuda itu berdiri dari duduknya dengan wajah sedih. "Dan meninggalkan aku sendiri di sini?"


"Mama tau, ini keputusan yang berat. Jika bukan karena dia menyelamatkanmu dan tidak mendapat hukuman, mungkin Mama tidak akan menawarkan diri," kembali aku menjelaskan namun, sepertinya Rian salah mengartikannya.


"Jadi, semua salah aku?" Rian mendesis.


"Rian... dengarkan Mama baik-baik," aku kembali menggapai Rian untuk duduk. Aku mengusap bahunya dan menyenderkan kepalaku. "Maafkan Mama ya, Mama lakukan ini agar Dilan mau kembali magang. Kita tidak bisa membiarkan dia begitu saja, bukankah dia sahabatmu?"


Tidak ada suara, sepertinya Rian sedang menimbang-nimbang sesuatu.


"Kamu sudah dewasa, sudah tau mana yang baik dan buruk. Selama di sini, Papamu akan sering datang menengok," bujukku.


"Kok ngomongnya begitu?"


"Jangan bahas dia!"


"Ok, jadi... bagaimana?"


"Aku mengerti, aku tau jika aku banyak hutang budi pada Dilan... tapi, membiarkan Mama pergi dengannya... siapa yang jamin dia tidak akan macam-macam? Matanya saja jika melihat Mama seperti kucing ingin kawin!"


Aku tergelak mendengar perkataan Rian, seperti itu kah pemikirannya?


"Kalian tidak boleh tinggal dalam satu atap!" tambahnya sambil menjulurkan kelingkingnya. Aku tertegun sesaat hingga Rian kembali berkata. "Setuju atau tidak?"


Aku mengangguk mantap. "Setuju!" Kamipun saling mengaitkan jari kelingking.


🍁🍁🍁


Keesokan harinya kamipun bersiap untuk pergi ke Surabaya. Dilan tersenyum manis sejak tadi pagi. Apalagi saat mendengar Rian mengijinkan aku ikut bersamanya. Kini aku berada di rumah Dilan, hendak pamit pada Pamannya.


Pria tua itu menghampiriku menggunakan kursi roda, keadaannya lebih baik sekarang meski tubuhnya tidak se segar sebelum operasi.

__ADS_1


"Pak Tua, aku akan pergi menemani keponakanmu yang keras kepala. Jika tidak, dia tidak akan magang dan menghambat kelulusannya tahun ini. Kau pasti tau jika aku salah satu Dosen di Universitasnya," jelasku pada Pak Kentaro.


Pria itu diam dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kalian telah menjalin hubungan?"


Aku terkesiap dengan pertanyaan Pak Kentaro padaku, apa Dilan telah memberitahukannya? Aku bingung sendiri.


"Kami..." ucapku terbata.


Aku sama sekali tidak tau harus berkata apa. Cukup malu aku yang sudah berusia ini menjalin hubungan dengan keponakannya yang masih muda. Aku memejamkan mata dan menghela nafas, mungkin sebaiknya aku jujur dari sekarang.


"Maaf... aku sungguh minta maaf. Mungkin di matamu aku tidak pantas untuk Dilan, aku seharusnya bisa menahan diri-"


"Aku tidak bilang kau tak pantas, Laras... aku hanya bertanya. Apakah kau mencintainya? Bukan karena paksaan?" Pak Kentaro menyelaku dengan pertanyaan.


"Tentu saja, aku... mencintainya. Bukan paksaan darinya atau siapapun," jelasku sambil menunduk malu.


Tanpa disangka Pak Kentaro memegang tanganku, aku terhenyak. Menatap bingung pada pria tua itu. "Jaga dirimu Laras, semoga cintamu dapat merubahnya," aku mendengarkan dengan seksama.


Merubah apa? Memangnya Dilan kenapa?


Rasa ingin tahuku muncul, ku rasa aku memang belum mengenal Dilan cukup lama. Tidak lebih dari 6 bulan sampai hari ini. Apa yang disukai dan tidak, aku belum mengetahuinya. Namun, tanpa kami sadari Dilan telah datang menghampiri. Raut wajahnya baru kali ini aku melihatnya.


"Paman, kami harus berangkat! Atau kami akan terlambat," ucapnya sambil manggapai tanganku.


"Jaga Laras, jangan sampai kau menyakitinya," Pak Kentaro menahan tanganku.


Ada apa sebenarnya? Aku melihat mereka satu persatu. Dilan diam saja hingga tangan Pak Kentaro terlepas.


"Ayo, kita pergi!" Dilan menarikku. Aku menghentikan langkah.


"Dilan, di mana sopan santunmu pada yang lebih tua? Kau belum pamit pada Pamanmu," ujarku mengingatkan.


"Tidak apa-apa Laras, Dilan sudah pamit dari tadi malam," Pak Kentaro tersenyum samar.


Ekor mataku melirik jam dinding di sana, waktu sudah cukup siang. Dan benar kata Dilan, jika kami mengulur lagi, kami akan terlambat sampai bandara. Aku menoleh pada Dilan yang ternyata kembali menghampiri Pak Kentaro. Pemuda itu memeluknya dan mencium punggung tangan kanan Pak Kentaro. Aku menghela nafas lega.


Tbc.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan koment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


Pak tua udah kasih kode2 neh.... Hm... ada apa ya dengan Dilan?

__ADS_1


__ADS_2