Terjerat Brondong

Terjerat Brondong
TB 27


__ADS_3

Author POV


Kediaman Laras


Keputusan Rian benar-benar membawa dampak yang baik untuk sang Mama. Buktinya seesokan hari, Laras sudah segar bugar dan siap untuk kembali beraktifitas. Ternyata cinta memang dapat merubah segalanya. Yang dari sakit jadi sembuh, yang lesu jadi semangat dan lain sebagainya.


Seperti pagi ini, Rian yang biasanya berbinar saat melihat Dilan menjadi berkebalikan. Rian memasang wajah sebal ketika sarapan, karena Dilan tanpa tahu malu menumpang makan di rumahnya. Alasan saja, Rian tau akal bulus pemuda itu.


"Jaga matamu! aku lihat seperti mau copot dari kelopaknya," sarkasnya sambil mengunyah roti lapis spesial buatan Laras.


Dilan hanya menyeringai mendengar Rian yang berubah menjadi samsat dalam sekejab. Pemuda yang dipikirnya sangat baik hati dan tidak sombong itu menjadi galak dan ganas padanya. Semua itu karena dirinya yang berani mengencani sang Mama. Salahkan Laras yang masih terlihat memikat hingga seorang Dilan tidak mampu menepis pesonanya.


"Bagaimana aku menjaga mataku? Jika hanya sosok dirinya yang terbayang?" ucapan Dilan membuat Rian merinding. Dilan tidak henti menatap Laras yang juga ikut sarapan bersama. Wanita itu hanya bisa tersenyum dengan pipi yang merah merona.


"Huek!" pemuda itu pura-pura ingin muntah.


Dilan tergelak dengan respon Rian. Rasa-rasanya malah ingin terus menggodanya. Laras hanya menggeleng dan beranjak dari duduknya, Meraih setiap piring kosong yang ada di meja. Dilan ikut beranjak dan mendekati Laras yang hendak mencuci piring.


"Biar aku yang cuci," Dilan menahan tangan Laras.


"Makasih..." Laras tersenyum manis.


Mereka bersitatap menjadikan suasana sangat romantis. Namun, Rian malah bermuram durja. Dimasukkan semua roti ke dalam mulutnya hingga penuh. Dirangkulnya tangan Laras dan menyeretnya menuju pintu rumah.


"Ayo kita berangkat! Sudah ada tukang cuci piring di sini," ledeknya. Dilan hanya bisa mendengus. Tidak mungkin dirinya membatalkan niat untuk cuci piring. Laras yang diseret Rian pun menurut dengan tatapan tidak enak pada Dilan.


"Kita ketemu di kampus," Dilan mengerlingkan mata pada Laras. Laras mengangguk mengerti. Rian memicingkan mata, dalam hati dia akan membuat Dilan sibuk hingga tidak bisa berduaan dengan sang Mama. Entahlah, padahal dia sudah merestui hubungan mereka. Tapi naluri sebagai calon kepala rumah tangga mengusiknya, secara reflek dia ingin menjaga Mamanya dari hal-hal yang tidak diinginkan.


Dilan meneruskan kegiatannya, tidak lama Bi Inah datang setelah berbelanja dari warung dekat rumah. Wanita paruh baya itu memekik melihat Dilan yang sedang mencuci piring. Dihempasnya belanjaan di atas lantai dan menghampiri Dilan.


"Aduh... Den Dilan tidak usah di cuci piringnya!" Diraihnya spon di tangan Dilan. Dilan sendiri sempat kaget akan keberadaan Bi Inah hingga tidak sempat menghindar.


"Eh, Bi... tidak apa-apa, saya kan sudah menumpang makan di sini," kilahnya berusaha mengambil kembali spon.


Bi Inah menghalau dan mendorong tubuh Dilan dengan bahunya agar pemuda itu menjauh. "Sudah sana tidak usah," dilihatnya meja yang kosong. "Ibu Laras dan Den Rian mana?" sambungnya.


"Sudah berangkat, Bi!" sahut Dilan


Mata Bi Inah membelalak. "Tuh kan, apalagi Ibu Laras dan Den Rian sudah pergi, sudah Den Dilan berangkat juga! Nanti saya dikira makan gaji buta," keluhnya tidak enak.

__ADS_1


Dilan terkekeh, dia pun mengangguk dan pergi menuju kampus setelah pamit pada Bi Inah.


🍁🍁🍁


Universitas ***


Rian benar-benar melakukan apa yang direncanakannya, membuat sibuk Dilan hingga pria itu tidak sempat bahkan sulit untuk sekedar memandang Laras. Diekorinya Dilan di setiap kegiatan, selesai itu Rian menggiring dan meminta tolong apapun agar Dilan tidak diam saja. Dilan pun mulai curiga.


"Rian, sepertinya aku tidak perlu menemanimu membaca buku," Dilan membolak balik sampul buku yang enggan dilihatnya.


Rian mengambil buku itu, lalu memberikan buku lain pada Dilan. "Kau harus baca buku, agar pintar dan lulus dengan nilai memuaskan! Jangan buat malu Mamaku," ucapan Rian sontak membuat Dilan mencibir.


"Heh, tanpa buku ini aku bisa lulus dengan baik!" Rian menahan dongkol, memang kenyataannya jika Dilan adalah mahasiswa pintar.


Dilan mulai bosan dan ingin segera menemui Laras namun, ada saja permintaan Rian yang menahannya. Antara bingung dan aneh, dia pun akhirnya melontarkan pertanyaan ketika Rian tiba-tiba mengajaknya ke kantin.


"Kau membuatku sibuk hari ini, aku tau alasanmu... bukankah kau sudah merestui kami? Kau tidak percaya padaku?" manik itu menatap serius Rian.


Rian yang berdiri kini kembali duduk dan menunduk. Dia bingung, rasanya masih tidak percaya jika pria di depannya ini adalah kekasih sang Mama.


"Kau tidak tau... rasanya kesal saja melihatmu bersama Mamaku," celetuk Rian membuat Dilan tergelak.


"Tidak!" ketus Rian. "Ah, sudahlah! Jika kau tidak mau ikut aku ke kantin, aku akan pergi sendiri," pungkasnya seraya bengkit dari duduk hendak pergi.


Dilan segera mengikuti calon anak sambungnya itu, baiklah... akan dia ikuti semua keinginan Rian. Hingga dia tidak mempunyai alasan lagi untuk menjauhkan dirinya dari Laras.


Rian mendelik melihat Dilan yang mengekorinya. "Sedang apa kau mengikutiku?"


"Aku sedang menemani calon anak tiriku jajan di kantin, bisa bahaya jika dia merajuk di sana sambil berguling-guling di lantai," ledek Dilan yang langsung membuat mata Rian melotot. Dilan segera berlari menghindari Rian yang hendak menendangnya.


"Sialan! Sini kau!" geram Rian.


"Rian, tidak boleh galak sama Papa ya!" Dilan kembali menggodanya.


Mahasiswa lain hanya melihat mereka sambil terkikik geli tanpa menghiraukan perkataan mereka yang dianggap hanya candaan, tanpa tau jika itu adalah kenyataan.


Mereka berdua pun akhirnya menjadi saling bermain kejar-kejaran. Fany yang sedang berjalan di lorong kampus pun hampir tertabrak Rian yang ingin melempar Dilan dengan tasnya. Saat itu juga Rian berhenti mengejar Dilan dan menghampiri Fany.


"Aduh maaf, kamu tidak apa-apa?" ucap Rian khawatir.

__ADS_1


Fany bukannya menjawab malah terkikik geli. "Kalian ini ternyata sangat akur ya, padahal aku sempat sangsi dengan perubahan sikapmu pada Kak Dilan," terang Fany.


Rian menggeleng sambil mengatur nafasnya yang sempat tersengal-sengal. Melihat ke arah lorong yang kosong sambil menggerutu dalam hati karena Dilan lolos dari kejarannya, sudah bisa ditebak kemana pria itu pergi. Setelah tenang Rian merangkul Fany.


"Jangan bahas dia... aku sedang tidak mood," sahutnya acuh. "Kita ke kantin saja, aku lapar," tambahnya lalu membawa Fany menuju kantin.


Gadis itu hanya mengulum senyum. Dia tau jika Rian masih merasa khawatir dengan hubungan Mamanya dan Dilan. Semua itu wajar mengingat Rian yang sangat menyayangi sang Mama. Fany menyenderkan kepalanya pada Rian sebagai langkah kecil agar kekasih hati tidak terus gundah. Ternyata itu berhasil, raut wajah Rian berubah riang dengan senyuman menawan.


🍁🍁🍁


Laras POV


Pagi ini hatiku berbunga-bunga, aku merasa tidak ada hari sebaik hari ini. Bahkan wajahku masih merah merona, aku memandang diri di cermin kantorku.


Ya, ampun... rasanya aku seperti kembali ke masa 10 tahun yang lalu. Jiwa puberku kembali. Mengingat perkataan Dilan yang akan menikahiku kemarin membuat jantungku berdegup kencang. Aku membayangkan saat kami akan bersama, tidur dalam ranjang yang sama, dan menatapnya ketika pagi tiba. Aku sudah tidak bisa meneruskan khayalan itu lagi.


Mengusap wajahku yang tidak henti ingin terus tersenyum. Aku bisa gila kalau begini!


"Laras, wajahmu kenapa?"


Aku terperanjat dengan suara familiar yang tiba-tiba terdengar, dan menoleh pada Maria yang menatapku heran.


"Kamu masih sakit? Kalau masih sakit kenapa masuk ngajar?" Omelnya membuatku terkikik. Aduh, aku tidak bisa menahan senyum mengganggu ini.


"Aku sudah sembuh," jawabku setenang mungkin.


Maria menatap curiga. "Sembuh?" Ditaruh telapak tangannya pada keningku. "Tidak panas, tapi kenapa merah?"


"Ini... ini karena blush on ku terlalu banyak!" jawabku asal sambil memalingkan muka. Dengan cepat aku meraih tas dan beranjak pergi keluar kantor. "Aku masuk kelas dulu ya... bye,"


"Eh, tunggu!" Maria berseru saat pintu tertutup.


Aku harusmenghindari Maria... jangan sampai dia tau hal ini sebelum waktunya.


Tbc.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan koment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!

__ADS_1


__ADS_2