Terjerat Brondong

Terjerat Brondong
TB 32


__ADS_3

Laras POV


Sebuah cahaya mengintip dari ufuk timur memberikan sinyal pada ayam jantan untuk berkokok. Gema adzan berkumandang membuatku terjaga, segera aku beranjak dan menunaikan kewajibanku.


Aku memanjatkan do’a agar hubunganku dengan Dilan berjalan lancar ke jenjang yang lebih serius, hingga aku dan dia bisa berhenti melakukan segala maksiat.


Tidak di pungkiri di zaman saat ini orang yang menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih akan melakukan hal lebih dari sebuah genggaman tangan. Kecuali bagi mereka yang menganut system ta’aruf, dan aku bukan termasuk dari mereka.


Aku hanyalah orang dengan minim ilmu agama tapi, sebisa mungkin aku memiliki niat baik untuk merubah diri sedikit demi sedikit. Kita tidak tahu seberapa lama setiap orang dalam do’anya, seberapa lama mereka bersimpuh memohon ampun, dan seberapa besar penyesalan mereka.


Mengusap sisa air mata yang membasahi pipi sambil kembali bersujud untuk yang terakhir. ‘Sujud sahwi'


Setelah mengadu dengan sang Khalik, aku memilih membereskan rumah. Menyapu halaman yang lumayan luas. Terdapat pohon belimbing di sana hingga banyak daun-daun kecil yang berserakan setiap harinya. Aku mengenakan tunik lengan pendek berwarna abu-abu dengan legging hitam ¾.


Cukup lama aku menyapu hingga tubuhku berkeringat, aku merutuk pemilik rumah yang menanam pohon belimbing, kenapa tidak pohon mangga atau rambutan saja? Karena daunnya lebih lebar dan tidak menempel pada tanah. Di sela kegiatanku, aku mendengar seseorang yang memanggilku.


“Wah, Mbak Laras rajin sekali, ya!” orang itu ternyata Rahman. Pria itu tersenyum lebar dengan maniknya yang kembali memindaiku.


Aku tersenyum masam. ‘Kenapa orang ini datang lagi seh?’ batinku kesal.


“Hm… kalau butuh apa-apa Mbak tidak perlu sungkan, Mbak bisa langsung cari saya,” jelasnya kikuk karena tidak kunjung mendapatkan respon dariku.


“Iya Mas! Makasih atas tawarannya,” sahutku berusaha ramah meski sebenarnya enggan. Orang ini terlalu sok kenal sok dekat.


“Ya sudah kalau begitu saya pergi dulu, mau tugas Negara!” pamit Rahman. Aku mengangguk dan bernafas lega. Akhirnya orang itu pergi juga.


🍁🍁🍁


Cuaca mulai terik karena matahari yang merangkak naik. Aku mengenakan sunblock agar kulitku tidak terbakar selama di perjalanan menuju Café yang telah disepakatiku bersama Dilan. Sengaja aku menggunakan ojek online agar lebih cepat sampai tujuan.


15 menit sudah waktu yang disepakati terlewat, padahal aku datang 15 menit lebih awal dari waktu yang dijanjikan. Berarti selama ½ jam aku menunggu di Café dengan pesanan kedua. Perutku hampir kembung karena kopi, hingga akhirnya aku memutuskan untuk menelpon Dilan.


[Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau-] aku segera memutus panggilan itu. Menghela nafas gusar karena itu adalah panggilan yang ke sekian kalinya.


“Kenapa ponselnya tidak aktif? Apa terjadi sesuatu?” gumamku khawatir.


Kembali mengutak- atik ponselku dan terlintas untuk menghubungi Maria.


“Sebaiknya aku bertanya pada Maria lokasi Dilan magang,” aku mengscroll deretan WA yang tersusun, terdapat pesan Rian yang menanyakan kabarku kemarin. “Ah, aku lupa membalas pesan Rian!” pekikku.


Saat itu juga aku menelpon Rian, beruntung ternyata dia sedang tidak sibuk. Setengah jam aku bercengkrama dengan Rian, memberi kabar jika aku baik-baik saja. Baru satu hari berpisah, aku sudah merasakan rindu pada puteraku itu. Aku hampir lupa dengan tujuanku yang ingin menanyakan lokasi magang Dilan pada Maria hingga panggilanku usai.

__ADS_1


Dilan masih belum menampakkan batang hidungnya, aku mengedarkan pandangan dengan rasa was-was. Tidak biasanya dia seperti ini. Aku pun menghubungi Maria namun, panggilannya sedang sibuk.


“Ah sudahlah … mungkin dia sibuk. Sebaiknya aku pulang,” monologku.


Aku berjalan lunglai meninggalkan Café. Sebelumnya aku telah mengirim pesan pada Dilan jika dia bisa langsung datang ke kontrakan saja.


Hari sudah sore, sebenarnya enggan kembali ke kontrakan tapi mau bagaimana lagi? aku malas jika harus jalan-jalan keliling seorang diri. Meski berat aku kembali memesan ojek online menuju kontrakan.


🍁🍁🍁


Dilan benar-benar tidak ada kabar hingga keesokan harinya. Aku yang dirundung rasa tidak tenang merasa sedikit terobati dengan Maria yang menghubungiku.


[Maaf kemarin aku sedang di perjalanan, sekarang pun aku sedang di kamar hotel menunggu rapat di mulai,] jelas Maria tidak enak.


[Ah, tidak apa-apa Maria. Aku hanya ingin meminta alamat magang Dilan,] sahutku.


[Loh, bukankah aku sudah memberikan suratnya?] tanyanya heran.


[Aku lupa menanyakannya pada dia,] bohongku.


[Hm… begitu, alamatnya di…]


Maria menyebutkan alamat Dilan, aku mendengarkan dengan seksama sambil mencatatnya di atas kertas memo yang selalu aku bawa.


[Tidak masalah Laras, kalau begitu aku tutup dulu ya. Rapatku sudah mau dimulai, nanti kita sambung lagi, Ok?!]


[Ok, bye,] panggilan pun terputus.


Aku segera bersiap-siap untuk pergi ke alamat yang telah diberikan Maria. Sepanjang perjalanan aku merapalkan do’a berharap jika dia baik-baik saja. Tibalah aku di Rumah Bahasa Surabaya. Dilan mengambil jurusan satra Bahasa Indonesia, dia di sini sebagai penerjemah. Aku tidak meragukannya melihat dia begitu pandai dalam merangkai kata, khususnya merayu.


Aku memasuki gedung itu menuju Bagian Informasi hendak menanyakan keberadaan dirinya yang berhasil membuatku uring-uringan. Tapi, bukannya menanyakan pria itu aku malah menanyakan di mana letak toilet. Pasalnya saat dari rumah tadi aku menahan rasa ingin buang air kecil, dengan sedikit tergesa aku pun berjalan menuju toilet.


Sesudah dari toilet aku kembali ke bagian informasi namun, seketika itu juga aku dikejutkan dengan sebuah pemandangan menyayat hati. Seorang pria dengan seorang wanita … mereka berpelukan, aku yakin jika aku tidak salah lihat karena dia pun menoleh menatapku. Kulihat ekspresi terkejutnya, aku memundurkan langkah perlahan. Kini aku tau alasan mengapa dia sulit untuk dihubungi dari kemarin. Aku tersenyum tipis merasa dipermainkan.


Sialan!


Tanpa kata aku memalingkan muka dan melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Terdengar suara yang memanggil namaku.


“LARAS!”


Aku tidak mengindahkannya. Aku memilih berlari, aku akan pulang hari ini juga. aku harus pulang sekarang!

__ADS_1


🍁🍁🍁


BRAK


Pintu itu terbuka dengan kasar, aku melampiaskan amarahku pada benda mati tersebut. Mataku berkabut, tanganku pun gemetaran. Aku bergegas ke kamar meraih koperku, membuka asal lemari pakaian dan melemparkan helaian demi helaian bajuku ke dalamnya.


Aku sudah tidak memperdulikan untaian kain yang terjepit diantara resleting koperku. Aku menggeret koper itu dengan sisa tenagaku yang tiba-tiba terkuras. Untuk kesekian kalinya aku melihat sebuah pengkhianatan di depan mataku.


“Arrrggh!” aku berteriak frustasi.


Manikku bergerak dengan liar, mencari keberadaan tasku yang barusan ku lempar asal. Ponsel, aku butuh ponsel untuk memesan tiket pesawat. Aku berusaha mengatur nafasku yang tersendat, dadaku sesak. Belum sempat aku menemukan benda itu, Dilan sudah berada di depan pintu.


“Laras!”


Aku terperanjat dan menggelengkan kepala. Dilan melirik koper yang tidak jauh dari dia berdiri.


“Dengarkan penjelasanku,” pinta Dilan.


“Jangan mendekat!” ancamku. “Aku sudah melihat semuanya!”


“Itu salah paham.”


“Kau sama saja, kau sama dengan Mas Andi-“ ucapanku terputus oleh Dilan yang mengikis jarak dan mencengkeram kedua tanganku, maniknya memerah dengan urat yang menyembul di pelipisnya.


“JANGAN PERNAH KAU SAMAKAN AKU DENGAN DIA, AKU BUKAN DIA!” teriaknya membuatku bungkam ketakutan. Aku tidak pernah melihat amarahnya yang seperti ini. Aku meringis merasakan sakit di pergelangan tanganku.


“AKU LEBIH BAIK DARI DIA!” kembali Dilan berteriak.


Cengkeraman itu semakin kuat hingga aku mengaduh. “Sakit… Dilan,” aku merintih.


Dilan seperti tersadar, dia segera melepas cengkeraman itu. Aku terduduk dengan air mata yang mengalir begitu saja.


“Oh tidak! Laras … maafkan aku, sayang…” suaranya melunak setengah memohon.


Dilan meraih tanganku namun, aku sempat terhenyak karena takut. “Maaf… kumohon maafkan aku, jangan pergi… maaf,” ucapnya pelan dengan raut penyesalan. Diciuminya pergelangan tanganku yang memerah. Air mataku semakin deras, kembali teringat sikap kasarnya tadi.


“Laras… maaf… aku terlalu takut kehilanganmu,” Dilan mengiba lalu memelukku. Aku tidak menjawab, aku masih bingung dengan apa yang barusan terjadi.


Dilan… seperti apakah dirimu sebenarnya?


Tbc.

__ADS_1


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan koment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!


__ADS_2