
Laras POV
Kediaman Laras
Rian langsung pergi menuju kamarnya setelah sampai rumah. Aku dapat melihat sekilas wajahnya yang merah karena kesal.
"Apa terjadi sesuatu?" Tanyaku pada Dilan yang sedang menaiki tangga.
Dilan terdiam sejenak lalu berkata. "Tadi Rian diganggu oleh beberapa pemuda, sepertinya teman kampusnya," perkataan Dilan membuat mataku melebar.
"Apa mereka bertiga? Wajahnya sangar-sangar?"
Dilan mengangguk membenarkan semua perkataanku. Aku menghela nafas pelan. "Mereka memang biang onar, selalu membuat masalah. Tidak hanya Rian, mahasiswa lain tidak luput dari bullyannya," Dilan menghentikan kegiatannya dan menuruni tangga.
"Kenapa pihak kampus tidak mengambil tindakan?"
"Karena mereka anak dekan, tidak ada yang berani menghukum mereka," jelasku.
Dilan terkekeh hingga membuatku mengeryit bingung. "Jika mereka berurusan denganku, aku akan menghajarnya. Tidak peduli meski mereka anak presiden sekalipun."
Aku berdecak. "Ya, karena itu mereka tidak berani padamu," ucapku membenarkan.
Dilan kembali melakukan kegiatannya memperbaiki rollingku yang macet. Aku terus memikirkan Rian yang mengurung diri di kamar. Bagaimana seharusnya aku mengambil tindakan? Apa sebaiknya aku menghadap dekan terkait masalah ini?
🍁🍁🍁
Author POV
Universitas ***
Pagi ini Rian berangkat menuju kampus seorang diri, hatinya masih dongkol akibat kejadian kemarin. Apa sikap diam saja bukan yang terbaik? Rian menahan diri demi nama Mamanya di kampus. Pemuda itu tidak mau sampai orang yang sangat disayanginya itu kesulitan akibat aduannya. Rian tidak mau terlihat cengeng dengan banyaknya keluhan dirinya.
"Astagfirulloh..." bisiknya di sepanjang jalan. Laras selalu mengingatkan Rian agar terus beristigfar jika hatinya gundah dan merasa cemas.
Tampak dari kejauhan Dilan berjalan menghampiri Rian. Pemuda itu tersenyum dan mengucapkan hal yang selama ini tidak terlintas di kepalanya.
"Ikut aku ke club tinju, aku akan melatihmu, hingga tidak ada yang berani membullymu," pintanya.
"Hah? Tinju?" Rian membeo.
Pemuda itu sedikit terkejut, bukan apa. Selama ini Rian tidak pernah ikut kegiatan semacam bela diri, dia lebih memilih menghadapi sebuah laptop dibandingnya samsak tinju.
🍁🍁🍁
Club Tinju***
Pukulan demi pukulan terdengar menggema di seluruh ruangan itu, peluh keringat membasahi tubuh akibat banyaknya bergerak. Untuk pertama kalinya Rian merasakan perasaan baru yang tidak pernah dibayangkannya. Sedikit menyenangkan bisa melampiaskan kesal melalui samsak yang sengaja tergantung di sana.
BUGH
BUGH
__ADS_1
BUGH
"Bagus, kita ulang lagi. Bayangkan saja jika samsak ini adalah mereka!" ucap Dilan menyemangati.
BUGH
BUGH
BUGH
Rian tampak serius, dia terus meninju samsak dengan ritme mulai cepat.
"Rian... sekarang kurangi kecepatan..." pinta Dilan saat menyadari Rian yang mulai mempercepat pukulan.
BUGH
BUGH
BUGH
"Slowly buddy... hei... Rian... calm down!" lagi Dilan memperingatkan.
Rian seolah tidak mendengar, pemuda itu terus meninju samsak dengan menggebu dan kehabisan oksigen. Nafasnya terputus-putus dan jantungnya terasa sesak. Rian memegang dadanya sebelum ambruk di tempat.
BRUGH
"RIAN!!!" Dilan berteriak melihat Rian yang mulai kejang-kejang. "Apa yang harus aku lakukan?" Dilan berlari menuju loker dan mengeluarkan tas Rian, mengobrak-abrik barang di dalamnya. Dapatlah sebuah suntikan, dengan terburu-buru Dilan kembali mendekati Rian yang semakin tidak terkendali.
"Dimana aku harus menyuntiknya? RIAN, KATAKAN!" ucapnya panik. Namun, anggota club lain berseru dan memberitahukan di mana Dilan harus menyuntiknya.
"DI PAHANYA!"
Tanpa menunggu lama, Dilan segera menancapkan suntikan itu pada paha Rian. Sejenak nafas Rian mulai teratur, dan kejang-kejang pun mereda.
Dilan memeluk Rian senang karena pemuda itu baik-baik saja.
"Hampir saja, kau menakutiku!" Ucap Dilan yang di balas senyum tipis oleh Rian. Pemuda itu terlalu lemas hanya sekedar untuk berkata.
🍁🍁🍁
Laras POV
Kediaman Laras
Kabar insiden sesak nafas sampai ke telingaku, Rian memang mempunyai riwayat penyakit sesak nafas yang akan kambuh jika dirinya dalam keadaan panik teramat sangat. Tubuhku hampir merosot lemas melihat Rian yang diantar Dilan dalam rangkulannya. Pemuda itu memapah Rian hingga ke kamar. Wajah puteraku merah seperti kepiting rebus. Segera aku memberinya obat hingga Rian tertidur.
"Terima kasih banyak, kamu sudah menjaga Rian..." aku mengucap syukur Rian baik-baik saja.
"Tidak masalah, Rian sudah aku anggap adikku sendiri," sahut Dilan menenangkanku.
"Baiklah, kamu juga kalau ada sesuatu tidak perlu sungkan," ucapku tulus.
__ADS_1
"Ya! aku tidak akan sungkan lagi," Dilan tersenyum menawan membuatku salah tingkah. Berusaha bersikap sebiasa mungkin, aku memilih beranjak dari sofa ruang tamu menuju dapur. "Aku akan menyiapkan makan malam, kamu istirahatlah di sini jika mau. Atau kau mau pulang dulu? Nanti aku akan kirim makanannya ke rumahmu," jelasku.
Dilan menggeleng. "Aku menunggu di sini saja," jawabnya mantap.
Aku memiringkan kepala. "Baiklah kalau begitu," sahutku dan berlalu meninggalkannya.
Saat makan malam keadaan Rian sudah lebih baik. Anak itu bahkan sudah mulai bergurau, dia menceritakan seorang gadis yang sedang didekatinya akhir-akhir ini. Nama gadis itu Fany, anak pemilik toko perkakas dekat rumah. Tokonya sangat besar dan sudah memiliki cabang dimana-mana. Aku harap gadis itu adalah gadis yang baik dan dapat mengerti Rian apa adanya.
"Lain kali kau ajak Fany ke rumah, Mama mau kenalan," ucapku sambil mengerlingkan mata.
Rian tersedak makanannya. "Tidak secepat itu Ma," wajah Rian merah hingga ke telinga. Sungguh lucu batinku.
"Ya, pokoknya jangan lama-lama, OK?" Godaku.
"Doakan saja ya Ma," serunya sambil menyuap daging ke mulut.
Aku memperhatikan Rian sejenak, anak ku sedang jatuh cinta. Aku pun tersenyum simpul, waktu begitu cepat, padahal dulu dia masih kecil sekali. Dan selalu mendekap erat pinggangku. Aku tiba-tiba rindu masa itu. "Waktu begitu cepat berputar," gumamku.
Ketika aku menoleh, manikku bertabrakan dengan Dilan. Pemuda itu sepertinya sudah sejak tadi ikut menatapku, memperhatikan dengan mata hitamnya yang tajam.
"Butuh sesuatu, Dilan?" tanyaku.
"Tidak ada, saya hanya ingin minum kopi buatan anda, jika boleh," pintanya.
Aku segera beranjak dari kursi makan. "Tentu saja," sahutku.
Ketika kopi yang diminta Dilan siap, aku membawanya ke meja makan. Bersamaan dengan itu ponsel Dilan berdering.
[Ya, hallo Paman?]
Tidak ada sahutan di seberang sana, merasakan hal yang janggal, segera Dilan pamit dari rumahku. Aku ikut khawatir.
"Ada apa?" ucapku penasaran.
"Entah lah, Paman tidak menjawab. Sebaiknya aku pulang sekarang," pamitnya dan beranjak dari kursi makan.
Aku mengangguk mengerti. "Ya, pulang lah. Sampaikan salamku pada Pak tua."
Dilan tersenyum sebelum menutup pintu. Aku hanya bisa melihat Dilan yang memasuki rumahnya lewat jendela dapur.
Batinku masih bertanya-tanya akan keadaan Pak Tua Kentaro dan sebuah teriakan pun terdengar dari arah rumah pria tua itu.
"PAMAN!!!"
Tbc.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan komment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
Ada apa ya dengan Pak Kentaro?? Nantikan saja... ok!
__ADS_1