
Author POV
Rian memasuki rumah dengan wajah datar, Andi selaku ayahnya pun menegurnya.
“Dari mana saja Rian?” tanyanya.
Pemuda itu diam saja, memilih duduk di kursi makan. Laras sedang memasak untuk makan siang mereka.
Merasa diabaikan Andi pun memilih membicarakan hal lain. “Bulan depan Papa ada dinas ke Bali, kau mau ikut? Di sana kita bisa nonton bola lagi,” ucapnya antusias.
Lagi, pemuda itu tidak mengubris Andi. Pemuda itu hanya menatap malas Ayahnya dan berkata. “Aku tidak mau, aku sibuk!” jawabnya ketus.
Andi merasakan hal aneh sejak Rian kembali, sikap puteranya menjadi tidak bersahabat. Saat dirinya ingin melontarkan kata, Laras datang dari dapur hingga membuat Andi mengurungkan niatnya. Laras yang sudah selesai memasak segera menghidangkannya di meja makan. Tersenyum senang ketika melihat Rian yang sudah duduk di kursi makan.
“Kamu sudah pulang? Kok Mama tidak dengar kamu kasih salam, ya?!” gurau Laras.
Rian bukannya menjawab pertanyaan Laras malah berkata hal yang membuat Andi tidak enak hati. “Papa tidak pulang? Jangan pikir semua kesalahan Papa bisa dilupakan begitu saja.”
Laras mengeryitkan. “Ada apa Rian? Kenapa kamu bicara seperti itu?”
“Aku hanya bicara kenyataan!” sahutnya acuh.
“Kamu lupa? Kamu yang ajak Papamu makan siang di sini,” Laras mulai terpancing emosi.
“Dan aku nyesel!” Rian berkata dengan lantang.
“Rian, jaga bicara kamu sama orang tua!” Laras pun menjadi geram.
Andi mengangkat tangan menahan tubuh Laras yang hendak menghampiri Rian. Menatap sendu putera semata wayangnya.
“Rian benar! Kesalahan Papa tidak bisa dimaafkan, Papa hanya berfikir untuk memperbaiki semua yang telah Papa rusak,”ucap Andi berusaha menahan suaranya yang bergetar.
Dia tidak menyangka setelah sekian lama mengenal Rian, baru kali ini dia mendapatkan sikap puteranya yang ketus. Apakah ini semua isi hati Rian yang dipendamnya.
“Tidak ada yang bisa diperbaiki!” pemuda itu menggebrak meja lalu beranjak dari kursi, berlalu meninggalkan Andi dan Laras yang masih terkejut.
Laras yang sempat terhenyak segera tersadar. “A… Apa-apaan anak ini? Rian, Kembali! Rian!” Laras memanggil Rian yang berjalan menuju kamarnya.
__ADS_1
Pemuda itu tidak bergeming hingga pintu kamarnya tertutup dengan cukup keras.
“Astagfirulloh, kenapa Rian jadi begitu?” Laras mengurut dadanya bingung.
Andi merasa tidak enak dan memilih untuk pamit pulang tanpa menyentuh masakan yang telah tersaji. “Sebaiknya Mas pulang, sampaikan maafku pada Rian,” ucapnya pelan dan beranjak dari kursi makan.
Laras pun hanya bisa mengiyakan. “Aku juga minta maaf Mas, atas nama Rian,” keluhnya.
Andi mengangguk. “Iya, tidak apa-apa. Assalamu’alaikum,” jawabnya kemudian pria itu berlalu.
Laras melambaikan tangan saat mobil Andi berjalan menjauh dari pekarangan rumahnya dan kembali memasuki rumah. Menatap nanar pintu kamar puteranya yang tertutup rapat. Mendekat dan meletakkan tangannya di sana.
“Rian… Mama tidak pernah mengajarimu untuk mendendam. Semua sudah berlalu, belajarlah mengikhlaskannya,” setelah berkata seperti itu Laras pun pergi menuju kamarnya.
Rian dapat mendengar perkataan Mamanya, entah kenapa bayangan masa lalu kembali terngiang membuat amarah naik. Pemuda itu memilih memejamkan mata, mungkin setelah tidur perasaannya akan lebih baik.
🍁🍁🍁
Di seberang sana seorang pemuda sedang duduk di sisi ranjang dengan manik yang mengarah ke kamar Laras, melalui jendela besarnya dia bisa melihat Laras yang sedang tertidur. Hatinya berkecamuk, baru tadi malam mereka menghabiskan waktu bersama. Begitu indah dan begitu sempurna, bagaimana bisa Laras memintanya untuk melupakan?
“Aku pastikan, kau yang akan kembali ke pelukanku,” gumamnya.
Meraih selimut yang menyelimuti Laras tadi pagi dan menghirupnya. Wangi wanita itu masih tertinggal membuat pemuda itu kembali mengingat kilasan kejadian semalam.
Setiap lekuk tubuh Laras yang memabukkan, erangan manja yang terdengar merdu di telinga, manisnya bibir layaknya madu yang membuat candu. Hampir membuat Dilan menjadi gila karena fantasinya yang semakin liar. Tidak akan pernah bisa untuk dilupakan… tidak akan pernah!
“Laras… ” ucapnya lirih.
Antara cinta buta dan obsesi beda-beda tipis. Entah mana yang Dilan rasakan, yang jelas pemuda itu akan terus mengejar Laras. Menerjang apa pun yang akan menghalanginya, menjadikan wanita itu miliknya.
🍁🍁🍁
Laras POV
Pagi ini aku terbangun seperti biasa, hanya saja aku sedikit terkejut dengan Rian yang sudah rapi sebelum aku menyiapkan bekal.
“Pagi, Ma!” sapanya.
__ADS_1
“Ehm, pagi…” sahutku terus memperhatikan Rian.
“Aku ada kelas pagi, jadi aku langsung berangkat. Dilan sudah menungguku di luar,” ucapnya sambil memakai sepatu.
“Kau tidak mau bawa bekal?” tanyaku meyakinkan.
“Dilan mau mentraktirku nanti siang,” entah mengapa aku menjadi sedikit khawatir dengan kedekatan mereka. Ada rasa takut jika pemuda itu akan memberitahu Rian hal yang terjadi kemarin malam.
“Sebaiknya kau menjaga jarak dengan Dilan,” ujarku pelan.
“Kenapa? Dia sahabat aku,” pertanyaan Rian membuatku mati kutu.
Apa alasan yang logis agar Rian mau menjauh dari Dilan?
Aku memutar otak dan memberikan alasan masuk akal. “Dilan seniormu, jelas dia banyak tugas kuliah yang harus dikerjakan. Mama hanya takut dia tidak focus karena terlalu sering bersamamu,” jawabku sambil menata bekal. “Bawalah, traktirannya lain kali saja,” aku memasukkan kotak bekal ke dalam tas Rian.
Rian tampak berfikir sejenak, dan mengangguk mengerti. “Iya Ma, tahun ini Dilan wisuda. Dia juga mengajukan magang untuk skripsinya, mungkin selama 2 bulan dia akan pergi ke Surabaya.”
Aku yang mendengar Dilan akan pergi sedikit terkejut, aku baru mengetahui mengenai hal itu. “Benarkah? Mama baru tau,” ucapku penasaran.
“Ya, belum lama dia memberitahuku,” sahutnya kemudian meraih ranselnya. “Sudah telat, aku berangkat! Assalamu’alaikum,” pamitnya dan mencium tanganku.
“Wa’alaikum salam,” jawabku.
Aku tidak keluar rumah, hanya melihat dari jendela Rian yang menaiki mobil Dilan. Aku menghela nafas kasar, bagaimana selanjutnya? Keadaan saat ini membuatku tidak tenang.
Pembicaraan terakhirku dengan Dilan membuat pria itu marah. Usia kami terlampau jauh, dan statusku sebagai dosennya dapat menggiring opini public bahwa aku adalah janda gatal yang menggoda mahasiswanya. Dan jika ini sampai diketahui pihak kampus, bukan tidak mungkin aku akan kehilangan pekerjaanku, nama baik dan… ah… memikirkannya membuatku semakin pening.
Semua tidak semudah yang dibayangkan.
Jika boleh jujur, aku menyukainya. Kami melakukan itu secara sadar, aku terlena dengan semuanya. Tapi saat kenyataan menyapa aku harus bangun dari mimpi indah itu.
Tbc.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan koment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
__ADS_1
Kasih solusi… adakah jalan untuk mereka bersatu?