
Laras POV
Perjalanan Menuju Rumah Sakit
Lampu mobil ambulance berkedip cepat menandakan jika terdapat pasien darurat di dalamnya. Pak Kentaro ditemukan dalam keadaan tergeletak tidak sadarkan diri di lantai. Hal itu sontak membuat Dilan terkejut serta menyesal, karena telah lalai dalam menjaga sang Paman.
Pemuda itu tertunduk dengan jalinan tangan sebagai penopang kepalanya. Tepat di hadapan kami Pak Kentaro terbaring dengan selang yang terpasang di setiap lubang hidungnya. Pria tua itu tampak seperti sedang tertidur tenang, membuat yang melihatnya menjadi banyak berprasangka. Masih bernafaskah dia?
Dilan tidak bersuara, baru kali ini aku melihat raut wajahnya yang berantakan… meski begitu tidak mengurangi kadar ketampanan pada parasnya. Aku menyelimutinya dengan jaketku, dia tersentak lalu menoleh padaku. Aku tersenyum sambil berkata. “Semua akan baik-baik saja.”
Aku bisa mendengar helaan nafasnya, dia menatapku dalam. “Bolehkah aku memelukmu? Aku… takut,” suaranya terdengar getir membuatku iba.
Aku sempat terdiam sebelum mengangguk mengiyakan keinginannya. Aku hanya berharap Dilan tidak mendengar detak jantungku yang berdebar-debar.
Aku menemani Dilan menuju Rumah Sakit, sementara Rian menungguku di rumah. Mengingat keadaanya yang juga belum begitu baik.
🍁🍁🍁
“Terima kasih, sebaiknya anda pulang. Biar saya yang menjaganya,” ucap Dilan setelah dirinya menemui dokter.
“Kau yakin? Aku bisa menginap di sini, dan pulang esok pagi,” jawabku.
Dilan menggeleng. “Saya sudah cukup merepotkan, dan saya sangat berterima kasih atas semuanya,” entah mengapa aku sedih saat Dilan menyuruhku pergi.
Tapi memang besok aku ada kelas pagi di kampus. “Baiklah, segera hubungi aku jika kau butuh sesuatu, Ok?!”
“Siap!” dengan sikap memberi hormat membuatku terkekeh.
Aku pun pamit untuk pulang ke rumah, sepanjang jalan aku terus berdo’a agar Pak Kentaro baik-baik saja.
🍁🍁🍁
Kediaman Laras
Pukul 01.00 dini hari aku sampai di rumah. Baru saja mobilku ingin memasuki pekarangan rumah, aku kejutkan dengan mobil Mas Andi yang terparkir di garasi. Aku memarkirkan mobil di seberang jalan rumahku. Karena garasiku kecil, hanya muat 1 mobil.
“Dek Laras!” panggil seseorang padaku.
__ADS_1
Aku menengok pada sosok tinggi yang berjalan menghampiriku, raut wajahnya terlihat khawatir.
“Mas, sedang apa di sini?” tanyaku yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari yang bersangkutan.
“Kamu sengaja tidak memberitahu Mas tentang Rian?! Bagaimanapun juga Mas ini Papanya,” kecam Mas Andi.
Ya ampun, aku baru sampai rumah dan sudah diintimidasi dengan seenaknya, hari ini aku benar-benar merasa lelah. Mas Andi tidak pernah bisa melihat situasi dan kondisi jika sudah marah. Aku mengurut ujung hidungku yang terasa pegal.
“Sebaiknya Mas pulang, rasanya kekhawatiran Mas sudah terlambat. Apa kabar 5 tahun yang lalu? Saat Rian sakit, Mas sibuk bermain gila dengan sekretarismu!” aku meninggikan nadaku 1 oktaf menahan amarah akibat kelelahan.
Wajah Mas Andi pias, bahkan dirinya tercekat karena ucapanku yang tajam. “Dek… sudah selama itu, kamu masih terus mengungkitnya. Mas mesti bagaimana lagi agar kamu memaafkan Mas?” suaranya lirih.
Pria itu menahan langkahku dan mencekal tanganku, aku menghempasnya dan menekan dadanya dengan jariku. “Tidak ada dan tidak perlu,” ucapku lantang.
Aku meninggalkan dirinya yang masih memanggilku. Namun, lagi-lagi langkahku terhenti. Mas Andi memelukku dari belakang. “Maafin Mas, Dek… maaf.”
Aku melepas pelukannya sambil memejamkan mata. “Kita ke dalam, tidak enak di lihat tetangga,” ujarku mengalah. Mas Andi pun tersenyum sumringah, dan menggandeng tanganku memasuki rumah.
Saat sampai di dalam aku meninggalkan Mas Andi menuju kamarku, sebenarnya sudah tidak ada lagi yang perlu kami bicarakan. Kami sudah selesai, meski kadang sempat terlintas keinginan rujuk kembali namun, aku segera menepisnya.
Aku tertidur cukup lama, hingga suara ketukan pintu kamarku terdengar. Aku melirik jam meja di nakas ranjangku, sudah pukul 08.00. Aku beranjak menuju kamar mandi tanpa memperdulikan suara pintu yang terus diketuk.
"Dek Laras sudah siap? Biar nanti Mas antar, sebelum itu, makan dulu ya!" Ucapnya seraya menyendokkan nasi goreng pada piring dan menaruhnya di meja makan.
"Mas sudah izin di kantor, jadi bisa jaga Rian di rumah, Dek Laras tenang saja," selanya saat aku ingin melontarkan kata.
Aku mengatupkan bibir dan memilih duduk di kursi makan, aku memakan nasi goreng buatan Mas Andi. Tidak buruk, dan tidak enak sekali, biasa-biasa saja pikirku.
Mas Andi sesekali curi-curi pandang padaku, aku menyadari itu. Aku menghabiskan makanan dan meminum air putih hingga tandas. "Aku berangkat sendiri saja," ucapku seraya bangkit dari kursi.
Wajah pria itu berubah sendu, mungkin tidak menyangka akan mendapatkan penolakan dariku untuk kesekian kalinya. "Baiklah, hati-hati di jalan," ujarnya dengan senyum kecut.
Aku pun pergi menuju kampus setelah melihat keadaan Rian. Menoleh pada pelataran rumah Pak Kentaro yang lengang. Semoga saja nanti sore mereka sudah pulang.
🍁🍁🍁
Universitas***
__ADS_1
"Laras, jangan lupa ya minggu depan," Maria mengekoriku yang sedang mengambil file kabinet di pojok ruangan.
Aku tidak mengindahkannya, hingga wanita itu gemas dan mengambil barang dari tanganku.
"Denger gak?"
"Hadeuh.. iya denger, lagian minggu besok aku sibuk evaluasi para mahasiswa. Kamu ngertiin donk," ucapku tidak kalah gemas.
"Kerjaan bisa dicari, jodoh di depan mata mau kapan lagi? Serius, ini duda keren banget!"
"Kenapa gak kamu saja yang ambil, kan duda keren banget," ledekku.
Maria berdecih. "Dia maunya sama kamu, waktu aku liatin foto kamu, dia nanyain kamu terus!" Hebohnya.
Terlintas sebuah ide di kepalaku, aku akan mengikuti kencan buta itu. Kita lihat, sekeren apa orang itu. "Ok, aku datang. Kamu kasih alamatnya saja nanti via WA," Maria sontak memelukku karena senang.
"Bagus! Kamu sudah mengambil keputusan yang benar," serunya lantang. Aku sampai bingung. Kenapa Maria yang terlihat sangat antusias.
Aku kembali ke mejaku, Maria seolah tidak punya kerjaan. Jika aku sedang di kantor, dia pasti meninggalkan tugasnya hanya sekedar ingin bergosip ria denganku.
"Mas Andi di rumahku sekarang," aku mengawali percakapan dan jangan ditanya bagaimana responnya saat nama mantan suamiku disebutkan.
"Seroisly? Mau ngapain dia? Jangan bilang kalau kamu mau rujuk? Aku orang pertama yang menolak itu. JANGAN PERNAH!"
Aku terkekeh. "Memangnya kenapa kalau aku rujuk?" pancingku.
"Berarti kamu bodoh, pria kalau sudah sekali selingkuh... seterusnya akan begitu," ujarnya menggebu.
"Tapi 5 tahun ini Mas Andi terus berusaha membuktikan jika dia sudah berubah, wanita itu sudah dipecat, bahkan Mas Andi pindah bagian," belaku.
"Bullshit! aku tidak percaya, buktinya wanita jalang itu menghubungimu perihal mereka akan menikah, sudahlah... move on dan buka lembaran baru dengan duda keren yang aku kenalkan!" aku semakin terkikik geli mendengar Maria yang bersikukuh menjodohkan aku.
"Kita lihat nanti," pungkasku.
Tbc.
Please rate, vote dan likenya yach!
__ADS_1
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
Aku ngetik sambil meriang... huhuhu... gak enak bngt!