
Author POV
Dilan menyelimuti Laras yang tertidur karena kelelahan setelah beberapa kali pelepasan. Pemuda itu pelakunya, dengan sengaja ingin mendengar suara rintihan sang kekasih. Kini dia pun kena batunya sendiri, harus memadamkan gairahnya dalam kucuran air dingin.
Perkataan Laras yang ingin melakukannya setelah menikah membuatnya berfikir, dia harus secepatnya menyelesaikan study jika ingin meminang pujaan hati. Sepertinya mulai besok dia sudah tidak bisa menyia-nyiakan waktu bahkan untuk sekedar hangout dengan Rian dan teman-temannya.
Dilan baru saja keluar kamar mandi setelah menuntaskan hasratnya yang tidak tersalurkan, melangkah mendekati Laras yang bergelung selimut dengan mata yang terpejam. “Kita akan bersama nanti,” ucapnya lirih kemudian mengecup kening wanita itu sebelum akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke rumah.
Dilan tampak tidak menyadari akan dirinya yang diamati, pemuda itu tampak terkejut oleh panggilan seseorang dari pintu dapur.
“Dilan, aku kira kau sudah pulang?” Rian membawa gelas di tangannya. “Dan kenapa kau dari atas?” tanyanya penuh selidik.
Pasalnya lantai atas hanya ada sebuah kamar, dan kamar itu adalah kamar Laras, Mamanya.
Dilan yang ditanya diam sejenak hingga kemudian dia melontarkan kata. “Aku barusan membantu Mamamu,” Rian sontak melebarkan mata saat mendengar sesuatu mengenai Mamanya.
“Ada apa dengan Mama?” tanyanya khawatir.
“Mamamu terjatuh di taman belakang, dan aku membantunya menuju kamar,” jawab Dilan.
Rian langsung menaruh gelas dan hendak berjalan menuju lantai atas namun, dihadang oleh Dilan.
“Mamamu sudah tidur, aku sempat menemaninya sebentar.”
“Kenapa kau tidak memberitahuku?” tanya Rian gemas.
“Aku tidak enak, kau tidur sangat pulas,” sanggah Dilan.
Rian meremas rambutnya kesal. “Ah… harusnya aku yang merawat Mama,” pemuda itu menatap Dilan serius. “Tapi Mama tidak apa-apa kan?”
Dilan mengangguk membuat Rian dapat bernafas lega. “Terima kasih,” tambahnya.
Dilan hanya tersenyum, dia senang mengetahui jika Rian sangat menyayangi Laras, terlihat dari respon yang sangat mengkhawatirkan Mamanya. Dia sedikit ragu, apa Rian akan menerima nanti jika dia jujur tentang hubungannya dengan Laras.
Dilan pun pamit pada Rian, sepanjang jalan pemuda itu memikirkan masa depannya dengan Laras. Sungguh dirinya tidak sabar menantikan hari itu tiba. Saat Laras menjadi miliknya seutuhnya.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Kediaman Kentaro
Tidak lama setelah memasuki rumah, ponsel Dilan berdering. Nomor tidak dikenal terlihat di sana. Pada panggilan ke-dua dilan pun menerimanya. Ternyata telpon tersebut dari rumah sakit tempat pamannya dirawat. Pihak rumah sakit memberitahukan jika pamannya sudah bisa melakukan rawat jalan mulai besok.
Dilan senang, akhirnya pamannya bisa kembali sehat meski belum sepenuhnya. Setidaknya dia dapat lebih leluasa merawatnya di rumah.
Dilan akan memanfaatkan banyak waktu untuk bersama Laras. Wanita itu pasti akan lebih sering ke rumahnya untuk menjenguk atau membantunya merawat sang paman. Sambil menyelam minum air, Dilan akan menang banyak. Pemuda itu tersenyum kecil menantikan hari esok.
Lengkungan indah di wajahnya tidak kunjung memudar, sebelum tidur pun pemuda itu menyempatkan diri mengirim pesan pada Laras. Setelah itu barulah dirinya memejamkan mata, berharap memimpikan wanita yang selalu ada di pelupuk matanya setiap saat.
🍁🍁🍁
Laras POV
Kediaman Laras
Aku terbangun dengan tubuh yang remuk redam dan lemas, aku kemudian mengingat kejadian terakhir sebelum aku tertidur. Aku mengusap wajahku menahan malu, bagaimana aku bisa berhadapan dengannya nanti. Dilan membuatku merintih semalam meski kami tidak melakukannya, tapi Dilan menggunakan cara lain yang aku tidak sanggup untuk mengucapkannya.
Rasanya aku tidak mau pergi bekerja, aku tidak mau melihatnya. Ah… betapa memalukan.
[Rian melihatku keluar dari kamarmu, aku bilang jika kamu terjatuh dan aku membantumu menuju kamar, jadi jangan kaget jika Rian akan bersikap berlebihan nanti,]
Aku pun mengetikkan sesuatu pada pesanku, lalu beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.
🍁🍁🍁
Seperti biasa Bi Inah sedang bersih-bersih rumah ketika aku menuruni tangga menuju lantai bawah. Aku menyapanya dan memberikan uang serta daftar yang harus beliau belanja hari ini.
Setelah itu aku menyiapkan bekal terlebih dahulu. Manikku menangkap Rian yang asik dengan ponselnya. Anak itu tersenyum sendiri membuatku curiga. Rian pun menoleh padaku dan langsung menghampiri.
“Mama gak apa-apa? Tadi malam kata Dilan-“
“Mama tidak apa-apa kok, kamu tenang saja,” selaku memutus ucapan Rian.
“Beneran? Coba aku lihat, Mama jalan dulu!” pintanya membuatku mengulum senyum.
Aku berjalan melewati Rian, dengan sengaja berlenggak-lenggok layaknya sang model di atas catwalk. Rian tergelak dan menyuruhku untuk berhenti.
__ADS_1
“Sudah, aku percaya!” kekehnya.
“Ya sudah, ayo kita berangkat!” aku memasukkan bekal ke dalam ransel Rian.
Rian mengusap lehernya dengan wajah merona. “Hm.. aku mau jemput Fany Ma, Mama bareng Dilan saja ya! Dia udah nunggin tuh di depan,” setelah mengatakan itu Rian mencium tanganku dan meraih ranselnya. “Assalamu’alaikum, Ma,” pamitnya.
Aku sempat terdiam dan baru sadar saat Rian sudah membuka pintu rumah. “Wa’alaikum salam… Loh, kok Mama sama Dilan? Rian!”
Aku mendengus kesal, ini pasti akal-akalan pria itu. Duh, aku belum siap untuk bertemu dengannya. Aku mengintip melalui gorden ruang tamu. Dilan sedang berdiri sambil menyenderkan diri pada pilar teras rumah. Aku menengok ke belakang, terlihat Bi inah yang sedang memasak.
Apa sebaiknya aku pergi melalui belakang dan memesan ojek online?
Aku termenung beberapa saat hingga Bi Inah menegurku. “Ibu sedang apa? Kok belum berangkat?”
“Ah, iya… ini mau berangkat,” aku melihat kembali ke jendela rumah. “Hm… Bi, saya mau lewat belakang. Nanti kalo ada yang cariin, bilang saja saya sudah berangkat sendiri,” pintaku pada Bi Inah yang mengangguk mengerti.
Namun, detik kemudian Bi Inah kembali bertanya. “Memangnya mobil Bu Laras kenapa?”
Langkahku tertahan, dengan senyum terpaksa aku berbohong. “Mobilnya lagi mogok! Sudah ya Bi, saya berangkat dulu… Assalamu’alaikum,” pamitku.
Biar saja, aku akan mengerjainya. Setelah kejadian semalam dia masih dengan santainya ingin menemuiku. Akunya yang malu. Onderdilku sudah dilihat bahkan di…. aarrgg... sudah aku tidak mau mengingatnya!
Aku berjalan dengan setengah berlari, mengendap-endap sambil sesekali menengok ke arah belakang. Aku menarik sudut bibirku tersenyum geli.
“Rasakan! tunggu saja sampai ubanan, aku sudah sampai kampus duluan,”
Aku pun memesan ojek online di perempatan jalan, lokasi yang diperbolehkan untuk mengendarai jasa tersebut. Banyaknya ojek pangkalan yang sepi menumpang membuat pihak ojek pangkalan memberikan batas bagi ojek online.
Aku sempat berfikir, mengapa ojek pangkalan tidak memakai online juga? Hingga mereka tidak akan bersaing sesulit ini. Tapi ternyata masyarakat banyak yang mempunyai kendala dan tidak semua tukang ojek mempunyai ponsel pintar.
Tbc.
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!
Slowly... aku mulai menata waktu... cuzz ah lanjut nyetrika lagiii... 😅
__ADS_1