
Laras POV
Aku berlari kecil menghindari kejaran Dilan. Kami sedang memakan ice cream barusan sebelum aku dengan jahil menorehkan ice cream ke wajahnya. Aku terkekeh dan segera meninggalkan dirinya yang sempat terhenyak, mungkin karena rasa dingin yang menjalar di pipinya.
“Laras, jangan lari,” serunya mengekoriku dari belakang.
“Kejar aku jika bisa,” ledekku dengan senyum jenaka.
Langkahku terhenti di sebuah taman, aku sudah tidak kuat berlari karena perutku yang sakit akibat tertawa. Dilan berhasil menangkapku hingga kami berguling di hamparan rumput hijau yang asri. Bayangkan saja kami sedang melakoni adegan sebuah film bolywood, disertai alunan lagu india yang mengalun merdu. Membuat suasana begitu romantis, serasa dunia ini milik berdua.
Beruntung situasi di sana dalam keadaan sepi, jika tidak mana berani aku bersikap seperti sekarang ini. Merebahkan kepala di atas pangkuan pemuda yang begitu memikat, tangannya mengelus lembut rambutku yang terurai. Rasanya sangat nyaman, aku memejamkan mata menikmati setiap usapan.
Tidak lama gerakan itu terhenti membuatku terusik dan terjaga, hampir saja aku tertidur. Mata kami bertabrakan, tatapannya membuatku ingin menerawang apa yang sedang dipikirkan.
“Kenapa melihatku seperti itu?”
Bibir itu melengkung manis. “Kau cantik, hingga aku ingin terus menatapmu.”
Wajahku memanas, siapa yang tidak akan salah tingkah jika dipuji seperti itu oleh kekasih hati? Aku rasa saat ini pipiku memerah seperti tomat matang.
“Gombal! Sudah berapa gadis yang kau rayu?” ucapku pura-pura merajuk.
Ibu-ibu yang tidak tau batas usia, mungkin itu pikir orang lain jika melihat tingkahku saat ini. Aku sendiri bingung mengapa bisa bersikap seperti ini.
Dilan tertawa kecil dan kembali mengusap rambutku. “Tidak… aku bicara kenyataan, di mataku kau paling cantik. Seberapa pun banyaknya wanita di dunia ini,” aku semakin tersipu.
“Berhenti merayu!” aku sudah tidak tahan lagi jika dia melontarkan rayuan atau pujian lainnya. Yang ada nanti aku akan senyum-senyum sendiri membuatku seperti orang gila.
“Wajahmu merah,” ledek pria itu.
Aku mencebik dan beranjak duduk, Dilan malah menahanku untuk kembali berbaring.
"Jangan marah, nanti jadi makin cantik,” kali ini aku sudah tidak bisa menahan senyum tertahanku. Aku menutup wajah karena malu. Dilan sepertinya senang menggodaku, membuatku mati kutu.
🍁🍁🍁
Kontrakan Laras
Karena waktu telah mulai larut malam, kami pun memutuskan untuk pulang. Kami hanya mengunjungi 2 tempat dari daftar yang telah disarankan oleh Dilan. Sampailah kami di kontrakan yang aku sewa selama dua bulan ke depan. Kebetulan rumah yang dikontrakan lengkap dengan perabotannya, hingga aku tidak perlu membeli barang apa pun untuk dibawa ke sana. Dilan beristirahat beberapa saat di dalam rumah kontrakan sambil menemaniku merapikan baju dan keperluanku yang lain.
Aku merenggangkan tubuh yang mulai terasa pegal, mengintip Dilan yang tertidur di sofa melalui celah pintu kamarku. Aku tersenyum tipis, beranjak dari sana menuju dapur. Aku pikir secangkir kopi sebelum pulang ke mess akan membuatnya sedikit segar.
Aroma wangi kopi hitam menyeruak memanjakan indera penciuman, ternyata saat aku kembali ke ruang tamu Dilan telah bangun dari tidurnya. Aku membawa nampan dengan 2 cangkir di sana.
“Kopi,” tawarku sambil memberikan salah satu cangkir padanya.
“Hm … Aku mencium wanginya tadi di dunia mimpi,” Dilan menghirup aroma kopi sebelum menyesapnya.
__ADS_1
“Benarkah?” tanyaku seolah percaya, aku menaruh nampan dan mengambil cangkir satunya untuk diriku sendiri. “Itu pasti karena kau setengah tidur, habiskan… setelah itu kau bisa pulang.”
Saat itu juga Dilan tersedak. “Uhuk, uhuk, uhuk!”
“Pelan-pelan Dilan!” aku memekik dan mengusap punggungnya.
“Kau mengusirku? Tidak bisakah aku menginap malam ini?” ucapnya memelas.
Aku menyipitkan mata, aku tidak boleh termakan rayuan atau permohonannya. Bisa gawat jika kami hanya berdua dalam satu ruangan, aku meragukan dirinya dan juga diriku yang seringkali khilaf.
“Kau ingin kita digrebek Pak RT?”
“Aku janji tidak akan macam-macam!”
“Hanya satu macam, aku sudah tau kelanjutannya,” cibirku berhasil membuat Dilan terkekeh.
“Kau semakin sulit untuk digoda, ya!”
“Tentu saja.”
Aku tersenyum manis sambil menyesap teh hangat, melirik jam dinding yang bertengger apik di dekat langi-langit.
“Baiklah, aku akan pulang,” Pemuda itu mengerucutkan bibirnya.
Aku menahan geli melihat itu. “Boleh kulihat surat yang diberikan Maria tadi?”
“Untuk?”
Dilan diam sejenak, kemudian berkata. “Aku akan membawamu ke sana, lebih jelas dan akurat kan?!”
Aku mengerutkan kening, memang itu lebih efektif. Tapi apa salahnya jika aku melihat surat itu? Kebetulan aku belum tahu di mana Dilan magang, aku tidak sempat menanyakannya pada Maria.
“Benar juga seh, kapan kau akan mengajakku ke sana?”
“Setelah aku tahu, baru aku akan membawamu. Aku sendiri kan belum pergi ke sana,” jelasnya.
Iya juga, Dilan kan baru sampai hari ini. Seharian kami malah pergi jalan-jalan, bukannya langsung ke tempat magang Dilan. Aku meringis mengingat hal itu.
“Apa perlu aku antar kau sekarang menuju messmu?”
“Sudah larut dan terlambat jika kau menawarkan itu sekarang,” ucapannya membuatku membulatkan mata.
Aku baru ingat jika sekarang hampir tengah malam. “Hm… Maaf ya, kau jadi harus mencari-cari dulu alamatnya,” cicitku tidak enak.
“Tidak apa-apa, aku hanya bercanda,” guraunya.
Dilan beranjak dari duduk dan berjalan menuju pintu keluar. Aku mengantarnya hingga teras rumah. Pemuda itu tersenyum dan berbisik. “Goodnight kissnya mana?”
__ADS_1
Aku terperanjat mendengar permintaan Dilan. “Dilan, nanti ada yang lihat!” bisikku balik.
Dilan mengedarkan pandangan, sejauh mata memandang memang tidak ditemukan keberadaaan seseorang. Dilan kembali melihatku dengan senyuman jahil. “Tidak ada orang!”
“Tidak mau!” tolakku sambil memalingkan muka.
“Sebentar saja, please…” wajah memelasnya membuatku iba. Dia benar-benar pandai membuatku luluh dalam sekejab.
“Please … “ kembali Dilan memohon.
Aku menoleh padanya, kalau sudah begini aku bisa apa? Bibirku berbicara tidak mau, nyatanya aku tidak tega melihat manik memelas itu.
Aku memperhatikan sekitar ke kanan dan kiri seperti maling, secepat kilat mendekatkan wajah dan mengecup bibir tipis pria itu.
“Sudah!”
“Terima kasih,” wajah pria itu berbinar senang.
Duh, ngegemesin banget seh kamu! Batinku berseru. Jika aku tidak ingat batasan, rasanya lebih baik aku mengunci Dilan di dalam rumah dan mendekapnya semalaman. Astagfirulloh! Eling Laras… eling!
Jiwa jombloku meronta, berharap dalam waktu dekat segera dihalalkan oleh pria di hadapanku ini.
Dilan akhirnya pamit, dia bilang akan menjemputku besok. Kami akan bertemu di Café yang tadi sempat didatangi.
Aku hendak memasuki rumah namun, terhenti kala seseorang pria tidak dikenal mendekat dengan sebuah sarung tersampir di bahunya.
“Orang baru, ya?” tanyanya antusias.
Netra itu seperti menelisikku dari ujung kaki hingga ujung rambut. Membuatku risih, aku menarik kerah baju yang terasa longgar.
“Iya, baru hari ini,” jawabku dengan senyum kikuk.
“Saya Rahman! Rumah saya di sebelah kanan rumah Mbak,” jelasnya.
“Oh… Iya Mas, saya Laras,” sahutku.
“Namanya bagus, secantik orangnya," entah mengapa mendengar pujian dari orang lain sama sekali tidak membuatku senang.
"Tadi itu siapa?” tanya Rahman kembali.
“Hm… kekasih saya.”
Raut wajah berbinar pria itu berubah seketika. “Hari pertama sudah diantar pacar,” nadanya getir. “Saya lanjut ronda dulu, ya!” pamitnya.
Aku menghela nafas lega akhirnya pria itu pergi. segera aku memasuki rumah dan mengunci pintu. Aku berpikir untuk menambah slot kunci besok hari.
Tbc.
__ADS_1
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan koment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!