
Laras POV
Di bawah Pohon Mangga
Dilan kembali memelukku, membenamkan kepalaku ke dadanya. Dia seperti berusaha melindungiku agar tidak dikenali oleh orang yang memanggilnya. Aku mencengkeram jaket Dilan, menunduk dengan hati was-was. Aku tau suara itu, suara mantan suamiku... Mas Andi.
"Dilan... sedang apa kau di sini?" Aku bisa mendengar suara langkah kakinya yang mendekat.
Dilan segera menoleh memperlihatkan wajah terkejutnya, entah itu acting atau bukan. "Eh, Tuan... maaf... saya-" ucapnya kikuk.
Mas Andi mengamati dan terkekeh. Sepertinya dia mulai menyadari apa yang sedang terjadi. "Cari tempat lain jika mau bermesraan, kasihan pacarmu nanti digigit nyamuk," godanya.
Pemuda itu malah tersenyum menyeringai. "Mungkin bukan nyamuk yang menggigitnya... tapi saya," aku mencubit perut Dilan gemas mendengar perkataannya. Dia pun meringis menahan nyeri. Masih sempat-sempatnya untuk bercanda!
Mas Andi tergelak mendengar perkataan Dilan. “Dasar anak muda,” tidak lama dia menyodorkan secarik kertas kecil seperti kartu nama. “Aku tau tempat yang pas untukmu dan pacarmu.”
Dilan terdiam sesaat sebelum meraih kartu itu, aku pun mengintip dari balik pelukan Dilan. Sebuah nama hotel tertera di sana, tanganku mendadak dingin rasa ngilu menjalar di setiap rusukku membuatku tidak nyaman.
Aku tau hotel itu, hotel yang pernah aku datangi 5 tahun lalu, tempat alasan mengapa pernikahanku kandas. Mataku memanas, padahal peristiwa itu sudah lama sekali namun, aku masih sering terbayang peristiwa laknat itu. Kenapa dia masih menyimpan kartu hotel itu? Apa maksud semua ini?
“Aku mengenal managernya, aku bisa bilang padanya jika kau ingin ke sana,” ujar Mas Andi.
Dilan belum berkata apa-apa, sekilas menatapku yang membisu lalu menoleh kembali pada Mas Andi.
“Maksudnya?” tanya Dilan polos.
“Aku masih sering ke sana, di sana nyaman. Kamu akan lebih leluasa dengan pacarmu di bandingkan di sini,” jelasnya membuatku gemetar menahan amarah.
Jadi… selama ini dia masih sering ke sana? ke tempat dirinya bermain gila, apa jangan-jangan mereka masih berhubungan? Ucapannya yang meyakinkan aku jika sudah berubah berarti bohong? Bagaimana bisa kamu setega ini, Mas?
Jantungku bergemuruh, tubuhku bergetar dengan susah payah aku mengatur nafasku yang tersendat. Serta merta Dilan mengusap bahuku, seolah ingin menenangkan aku.
“Terima kasih, mungkin nanti akan aku pertimbangkan,” Dilan mengangguk dan memasukkan kartu itu ke dalam saku celananya.
Setelah itu Mas Andi pun pamit, aku sudah mengharapkan pria itu pergi sejak tadi. Ketika sosok itu menghilang aku segera menjauhkan diri dari Dilan. Pemuda itu menahan tubuhku yang terasa limbung, sepertinya aku cukup terkejut dengan apa yang aku ketahui barusan.
“Kau masih memikirkannya?”
__ADS_1
Aku menatap Dilan sesaat kemudian menggeleng. “Tidak!” jawabku mantap. Aku mengurai tangan Dilan yang menahanku. “Aku hanya butuh waktu sendiri,” tambahku.
Aku berjalan menuju rumahku tanpa menoleh bahkan pamit. Dilan berseru saat kakiku menapaki teras.
“Lihat aku, Laras!”
Mendadak aku terdiam. “Aku akan ke rumahmu nanti, bukankah Pamanmu sudah pulang?” lagi aku berkata tanpa melihatnya.
“Biarkan aku menemanimu-“
Bisa ku dengar langkah kakinya yang ingin mendekat, aku segera memotong. “Tolong… aku benar-benar ingin sendiri,” ucapku pelan.
Entah terdengar atau tidak tapi aku tidak mendengar suara langkah itu. Aku memilih segera masuk ke dalam rumah dan kebetulan Rian berdiri tepat di sana.
“Mama baru pulang?” tanyanya.
Aku tidak menjawab, menarik daun pintu dan menutupnya. Detik kemudian aku memeluk Rian, Erat. Aku menenggelamkan wajahku di dada puteraku, menangis pedih.
Rian tersentak. “Ma! Mama kenapa?”
Hening, hanya isakkan tertahan yang terdengar, cukup Rian bertanya. Pemuda itu kemudian merangkul tubuhku, memeluk balik diriku. Tangisku makin pecah, apa jadinya jika Rian tau jika Papanya sama sekali tidak berubah?
Beberapa saat hatiku menjadi lebih tenang, pelukan Rian sanggup membuatku meluruhkan rasa kecewa. Aku melepas pelukan menatap puteraku dengan mata sembab.
“Mama tidak apa-apa,” aku menangkupkan ke dua pipinya. “Mama sayang kamu,” kucium wajah puteraku dan memeluknya kembali.
Hari ini adalah hari terakhir aku menangisimu Mas, tidak akan ada hari esok lagi untuk kita.
“Aku juga sayang Mama,” Rian balas memelukku tanpa melontarkan kata lain. Kami saling mengerti, aku beruntung memilikinya.
🍁🍁🍁
Kediaman Laras
Dua minggu berlalu, aku menjalani hari-hariku seperti biasa. Setelah kejadian malam itu keesokan harinya aku bertandang ke rumah Pak Kentaro. Membantu Dilan merawat Pamannya, hanya sebatas itu.
Aku berusaha untuk tidak sendirian dalam 1 ruangan dengan pemuda itu. Dilan berkali-kali mengirimiku pesan bahkan menelpon tapi aku tidak membalas dan mengangkatnya. Aku ingin menyelesaikan masalahku terlebih dahulu, masalahku dengan Mas Andi.
__ADS_1
Hari ini aku baru saja selesai memasak dan ingin mengantarnya ke rumah Pak Kentaro, Rian juga tampak bersiap-siap untuk keluar entah ke mana. Yang jelas puteraku itu sangat rapi dan tampan, bahkan aku dapat mencium bau parfumnya dari jarak 2 meter.
“Tidak biasanya pakai minyak wangi…” seruku sambil bernyanyi menirukan pelantun lagu tersebut.
Rian tergelak, dia menghampiri dan mengecup pipiku. “Hm… Mama bisa pingsan kalau cium wangimu,” godaku.
“Aku ada janji sama Fany, kita sudah jadian!” selorohnya penuh semangat.
Aku membulatkan mata. “Perjaka Mama sudah ada yang punya?” menutup mulutku seolah syok.
Kekehan terdengar merdu dari bibir puteraku. “Tapi aku tetap milik Mama, kok!”
Aku tersenyum, melihat puteraku bahagia apalagi sudah menemukan tambatan hati aku sungguh senang. Tapi dia tetap mengutamakan aku, rasanya sungguh terharu.
“Inget ya, jaga Fany… jangan macam-macam. Mama gak mau kamu sampai menyakiti perempuan, dan-“
“No SBM, aku inget ma… aku akan jadi pria yang sejati. Mama tenang saja!” sela Rian menyentilku.
Apa kabar diriku yang sudah menghabiskan malam dengan Dilan? Tapi, bukankah semua orang tua tidak ingin anaknya mengikuti jejak buruk orang tuanya? Sebisa mungkin hanya ada kebaikan, biar Tuhan memberikan teguran padaku yang banyak dosa ini, tidak pada puteraku.
Aku memeluk erat Rian sebelum ia pergi. Rian tampak bingung dengan sikapku namun, dia sama sekali menanyakan hal apapun. Seperti biasa dia akan menunggu hingga aku menceritakan semua, entah kapan aku akan memberitahunya.
🍁🍁🍁
Aku bersiap-siap untuk menuju rumah Pak Kentaro dengan sebuah paper bag di tanganku. Masakan yang cukup untuk kami bertiga, aku bisa membayangkan wajah masam Dilan yang selama ini aku abaikan.
Sebenarnya aku rindu, dengan apa yang ada pada dirinya. Senyumannya, gombalannya, argumennya dan… wajahku sontak memanas. Aku menggeleng menepis pikiran yang tidak seharusnya.
Kenapa itu yang diingat?
Aku memutar tuas pintu dan di kagetkan dengan sosok yang berdiri menjulang di sana.
Akhirnya datang juga… batinku.
Tbc.
Please rate, vote dan likenya yach!
__ADS_1
Sertakan komment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!