
Laras POV
Universitas ***
Jantungku berdegub kencang, sepanjang perjalanan menuju kampus hatiku tidak tenang. Bagaimana tidak, pagi ini aku dikejutkan dengan kabar dari Maria mengenai Rian yang terlibat perkelahian dengan salah satu anak Dekan. Bisa runyam urusan, aku tidak ingin Rian sampai kena skorsing.
Aku setengah berlari menyusuri koridor menuju ruang Dekan, baru setengah jalan aku sudah berpapasan dengan Maria.
“Maria? Bagaimana dengan Rian” tanyaku panic, ternyata aku terlambat. Aku mengatur nafasku yang sempat tersengal-sengal.
“Slowly Laras, Tenang dulu!” ucapnya sambil mengusap bahuku. “Rian aman, tapi tidak dengan Dilan,” tambahnya.
“Maksudmu? Kenapa dengan Dilan?” aku kembali bertanya, apa hubungannya dengan Dilan?
Maria menatap kemudian menarik tanganku. “Kita ke ruanganku,” ajaknya.
Aku mengikuti Maria yang menuntunku ke ruangannya. Setelah sampai di sana aku dipersilahkan duduk dan menunggu Maria menyiapkan teh, aku sebenarnya sudah tidak sabar tapi aku menurut saja.
“Minum dulu!” pintanya padaku.
Aku menerima teh itu dan menyesapnya pelan, perasaan dan nafasku memang menjadi lebih baik. Maria tampak memperhatikanku sesaat lalu mengutarakan sesuatu. “Dilan… dia memukuli anak Dekan hingga wajahnya babak belur.”
Mataku melebar. “Jadi, bukan Rian yang berkelahi?”
Maria menggeleng. “Bukan, aku juga baru mendengar cerita sebenarnya barusan. Beruntung ada saksi lain hingga tidak begitu memberatkan hukuman Dilan,” jelasnya membuatku menoleh khawatir.
“Dilan… kena hukuman apa?”
“Skorsing 1 bulan, dan penundaan magang sampai tahun depan,” jelas Maria takut-takut.
“Apa?! Itu bisa menghambat kelulusannya tahun ini. Maria, bagaimana bisa kamu bilang ini tidak berat? Aku meninggikan suaraku satu oktaf.
“Dilan tidak mengelak, tidak merasa keberatan juga. Setidaknya Dekan tidak mengambil jalur hukum, kau tau sendiri. Dilan tidak ada penanggung jawab di sini,” keluh Maria.
Aku mengepalkan tangan, ini sangat tidak adil. “Bukankah kau bilang ada saksi lain? Siapa dia?”
“Fany, kalau tidak salah dia satu jurusan dengan Rian,” Maria menerawang seperti berusaha mengingat siapa orang itu.
Aku tau gadis itu, tidak aneh jika dia memihak Dilan yang notabene adalah sahabat Rian. aku harus mencarinya dan mendengar cerita yang sebenarnya dengan lebih detail.
“Lalu, kau tau di mana Dilan sekarang?” tanyaku untuk kesekian kalinya.
Wanita itu mengedikkan bahu. “Sepertinya dia langsung pulang,” jawab Maria tidak yakin.
Aku pun beranjak dari dudukku, bersiap-siap untuk pergi. Maria tampak terkejut karena pergerakanku yang terlihat terburur-buru. “Mau kemana?”
__ADS_1
“Mencari Fanny, kemudian menemui Dekan. Dilan harus mendapatkan keadilan,” jawabku cepat.
“Eh… Laras, tunggu-“
Aku tidak mendengar Maria yang terus memanggil dan menahanku. Aku akan menghubungi Dilan nanti, yang penting temui Fanny terlebih dahulu.
🍁🍁🍁
Author POV
Di sebuah taman yang sepi terdapat sepasang manusia yang saling berhadapan. Tampak mereka sedang membicarakan hal serius.
“Terima kasih untuk kesaksianmu,” ucap Rian tersenyum tipis.
Rian tau, Fanny pasti akan membela Dilan. Karena gadis itu menyukai Dilan.
Fanny terdiam dengan sulit ingin mengatakan sesuatu, entah karena malu atau gengsinya yang tinggi. Sejujurnya dia menyesali kejadian yang mengakibatkan dirinya putus dari Rian. Ternyata setelah Rian memutuskan hubungan, gadis itu menangis semalaman. Mengingat betapa baiknya Rian selama ini padanya. Pria yang tidak pernah diliriknya karena tidak populer di kampus.
Rian yang merasa sudah tidak ada lagi yang ingin disampaikan akhirnya memutuskan untuk pamit. “Sebentar lagi jam ke-2, aku duluan ya,” perkataan Rian sontak membuat Fanny gelagapan.
“Rian…” Fanny menahan tangan Rian hingga pemuda itu berhenti melangkah. “Aku melakukan ini semua karena kamu, bukan Dilan. Aku harap kamu tidak salah paham,” jelasnya kemudian Fanny melepaskan tangannya dan pergi meninggalkan Rian yang tertegun.
Rian memperhatikan Fanny yang semakin menjauh dan menghilang dari pandangannya. “Ada apa dengannya?” monolog Rian. Bersamaan dengan itu Rian pun berjalan kembali menuju kelasnya.
🍁🍁🍁
Kebanyakan orang bahkan menghindari pelajaran itu hingga tidak sedikit yang mengambil jurusan yang tidak terlalu banyak berinteraksi dengan mata kuliah tersebut.
Fanny masih setia di tempat duduknya, matanya tertuju pada pemuda yang sudah bukan miliknya. Tidak berselang lama datanglah seorang gadis yang tidak dikenalnya, menghampiri Rian dengan wajah riang.
“Kak Rian… aku adiknya Kak Doni, yang kakak beli atribut sepedanya,” gadis itu tersenyum ramah.
Terlihat dari cara pakaiannya, Fanny bisa menebak jika gadis itu masih SMA. Wajahnya tidak cantik tapi juga tidak jelek, hanya saja senyumannya manis. Hati Fanny tiba-tiba merasa tidak enak, ada denyutan nyeri yang mengganggu di sana.
Ketika mendengar nama Doni, Rian segera berdiri dan tersenyum antusias. “Owh iya, kamu Chindy ya? Ada perlu apa?”
Gadis itu menaruh sebuah tas kecil dan membukanya di hadapan Rian. “Ini titipan Ibu, sebagai tanda terima kasih karena sudah bantu kami,” ternyata Chindy memberikan sebuah kotak bekal pada Rian.
Rian dengan sungkan menerimanya. “Wah, padahal tidak perlu repot-repot. Aku hanya sedikit membantu.”
Chindy menggeleng. “Tidak, Kakak sudah benar-benar membantu kami disaat semua orang tidak ada yang mau membantu, terima kasih banyak.”
Rian mengangguk mengerti. “Baiklah, sama-sama. Terima kasih untuk makanannya,” pemuda itu mengambil kotak bekal itu.
Pemandangan yang dilihat Fanny sungguh memberikan sakit tidak kasat mata, gadis itu memilih beranjak dari duduknya dan berlalu meninggalkan kelas. Rian melihat Fanny yang melewatinya begitu saja. Pemuda itu sempat terdiam hingga kemudian kembali bercengkrama dengan Chindy.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Fanny berjalan tanpa arah, dengan helaan nafas lelah. Ditendangnya kerikil- kerikil kecil di jalan.
“Rian bodoh!” umpatnya gemas.
“Siapa yang bodoh?” suara seseorang
mengejutkannya.
Menoleh dengan cepat dan seketika Fanny mengatupkan bibirnya rapat.
“Bu… Laras,” ucapnya lirih. Hatinya merutuk, berharap jika umpatannya tadi tidak terdengar oleh orang di hadapannya kini. “Hm… tidak ada kok Bu,” gadis itu menunduk takut.
Laras berjalan mendekati Fanny. “Benarkah?”
Gadis itu mengangguk tanpa kata. Laras pun memilih mengabaikan hal itu. “Fanny, boleh Ibu minta bantuan padamu?” kembali Laras bertanya.
Fanny memberanikan diri untuk menatap Laras dan menjawab. “Bantu apa Bu?”
“Ceritakan padaku, semua yang kau ketahui tentang perkelahian antara Dilan dan anak Dekan tempo hari!” ucap Laras serius. Hening sesaat hingga akhirnya Fanny mengangguk menyanggupi permintaan Laras.
Singkat cerita Laras telah mengetahui semuanya, dari awal sebab mengapa Dilan nekat memukul anak Dekan tersebut. Laras pun mengajak Fanny untuk kembali menghadap Dekan saat itu juga.
Kini mereka telah berada di dalam ruangan Dekan.
“Ada perlu apa Ibu Laras ke ruangan saya? Bukankah masalah anak Ibu telah selesai?”
Laras menatap tajam pada sang Dekan, dengan lantang Laras akhirnya mengeluarkan uneg-unegnya selama ini.
“Cukup lama saya diam karena saya menghormati anda, tapi saat ini anak anda telah melampui batas. Semua yang di jelaskan Fanny adalah bukti jika anak anda yang memulai perkelahian,” wajah sang Dekan menegang. Belum sempat dirinya membela diri Laras sudah kembali menyerangnya dengan kata-katanya. “Saya di sini tidak hanya menuntut keadilan untuk anak saya, tapi untuk mahasiswa bernama Dilan yang telah berjasa menjaga anak saya. Tanpanya mungkin anak saya yang akan terluka, saya akan menjadi penanggung jawab Dilan dalam hal ini meminta anda untuk mencabut hukuman tidak berdasar padanya!” jelas Laras dengan Tegas.
“Anda tidak bi-“
“Saya akan meneruskan masalah ini ke Rektor jika anda masih tidak mengambil keputusan!” Laras menyela.
Sang Dekan tampak naik pitam. “Anda mengancam saya?!”
Laras tidak bergeming. Dengan wajah serius dan maniknya yang menatap langsung pada sang Dekan membuat orang itu memilih mengalah.
“Baiklah, aku akan mengurangi hukumannya. Bagaimanapun juga, keputusannya melakukan tindak kekerasan bukanlah hal yang dibenarkan. Aku akan menarik penundaan magang jika dirinya sendiri yang memintanya, keputusan yang bersangkutan sangat menentukan. Mengingat sikapnya yang diam saja saat sidang tadi, aku takut semua ini hanya pemikiran anda saja, Ibu Laras. Bagaimana?”
“Baik!” tanpa basa basi Laras segera menerima penawaran sang Dekan.
Tbc.
__ADS_1
Please rate, vote dan likenya yach!
Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!