Terjerat Brondong

Terjerat Brondong
TB 03


__ADS_3

Universitas ***


Cuaca hari ini cukup cerah, memberikan energi positif pada diriku untuk memulai kegiatan. Aku mengajar sebagai guru sejarah, baik dalam negeri maupun luar. Kali ini aku mengangkat sejarah tentang kisah cinta yang terjadi di masa lalu, tidak sedikit kisah mereka yang berujung tragis.


Misalnya Nenek Lampir, adakah yang tau kisahnya? Sebenarnya beliau adalah seorang putri nan cantik jelita dari kerajaan kuno, Champa. Kerajaan Champa yaitu kerajaan yang pernah menguasai daerah yang sekarang termasuk Vietnam tengah dan selatan. Diperkirakan antara abad ke-7 sampai dengan 1832.


Singkat cerita Mak Lampir jatuh cinta dengan seorang pimpinan pasukan harimau yang bernama Datuk Panglima Kumbang. Namun, sayangnya cinta Mak Lampir ditentang oleh orangtuanya sehingga Mak Lampir memutuskan untuk bertapa di Gunung Merapi. Di sana dia berguru dengan petapa sakti mandra guna hingga akhirnya Mak Lampir mempunyai kekuatan yang tidak tertandingi.


Mak Lampir tidak mengetahui bahwa ternyata Datuk juga mencintainya, sampai akhirnya mereka dipertemukan dalam sebuah pertempuran yang menewaskan sang Datuk. Menjelang kematian sang Datuk Mak Lampir baru mengetahui hal yang sebenarnya, Ia pun menyesal.


Kemudian Mak Lampir mengikat jiwa sang Datuk ke bumi dengan sebuah syarat yang harus dia bayar mahal, tubuh dan wajahnya menjadi buruk rupa. Namun, sayang seribu sayang. Ketika Datuk hidup kembali, pria itu tidak mengenali Mak Lampir karena tampilannya yang buruk rupa. Dia hanya mengenal Mak Lampir sebagai setan yang menebar terror di masyarakat.


Akhir yang tragis dan menyesakkan… tidak jauh berbeda dengan dongeng putri duyung yang menenggelamkan diri menjadi buih di lautan.


🍁🍁🍁


Aku termenung sesaat, sebesar itukah yang harus dikorbankan demi cinta? Jika aku menjadi Mak Lampir, aku lebih baik mencari lelaki lain. Masih banyak ikan di laut…! Namun, aku meringis sendiri. Nyatanya hingga saat ini aku belum menemukan pengganti Mas Andi, apa bedanya aku dengan Mak Lampir?


“Laras!”


Ah… suara itu, padahal aku sudah menghindarinya dari minggu kemarin.


“Jangan kabur! Aku sudah menemukan calon yang tepat untuk kau kencan buta minggu depan,” aku menengok pada asal suara yang sedikit melengking itu.


Memang suaranya seperti orang menjerit, bukan hanya aku yang bilang begitu. Maria Hutagalung, Wanita yang lebih tua 4 tahun dariku. Sahabatku sejak kuliah dulu, dan kebetulan dia sebagai wakil Dekan di sini.


Sejak perceraianku 5 tahun lalu, Maria tidak henti-hentinya membujukku untuk ikut kencan buta, untungnya selama itu aku baru 2 kali ikut acara tersebut dan berakhir tragis. Entah mengapa pria yang dikenalkannya selalu pria yang arogan, percaya diri, meski kaya. Aku tidak menyukai pribadi seperti itu. Tidak cocok untukku.


“Kali ini pasti kamu suka, dia duda anak satu. Gantengnya gak kalah sama mantanmu, and… dia pengusaha!” masih, Maria terus mempromosikan produknya. Seperti sales rokok di pasar!


“Aku punya gaji yang lebih dari cukup untukku dan Rian,” ucapku ketus.


Maria mendengus sambil mencibir. “Kamu selalu berfikiran negative, finansialnya itu bonus dari semua yang sudah aku deskripsikan. Aku tidak mau sahabatku mendapatkan pendamping yang tidak layak!” belanya.


“Oh… begitu, kamu baik sekali sayang,” aku mengusap pipinya. Kulihat wajahnya yang berbinar karena pujianku. “Buat kamu saja!”seruku sambil berlalu meninggalkannya.


Maria melotot dan berteriak sebelum pintu kantor tertutup. “KAU HARUS DATANG LARAS, AKU TIDAK MAU TAU!”


Bagaimana bisa seorang wakil dekan bersikap seperti itu? Jika mahasiswa melihatnya, bisa jatuh reputasinya yang terkenal killer itu.


🍁🍁🍁


Author POV


Rian tampak kesulitan membuka lokernya, padahal jam ke-dua sudah mau dimulai. Dengan kesal Rian menggedor loker karena gemas.


BRAK

__ADS_1


“Ah, kenapa macet pas lagi gini seh?!”


“Jangan ditarik, didorong dulu baru diputar kuncinya,” ucap seseorang mengagetkan Rian.


Seorang pria tinggi dengan paras rupawan berdiri di sampingnya, kulitnya yang putih seputih lobak membuat Rian terdiam sesaat.


“Apa ada syuting film di sini?” Gumamnya.


Melihat Rian yang terdiam membuat pemuda itu tersenyum dan mengambil kunci dari tangan Rian, loker pun terbuka dengan mudahnya.


“Sudah terbuka,” jelasnya menyadarkan Rian.


“Wah, iya… terima kasih banyak!” Rian tersenyum kikuk dan segera mengambil buku yang dibutuhkannya. Setelah menutup loker Rian memanggil pemuda yang menolongnya tadi. “Kalau tidak keberatan, aku mau mengajakmu makan siang.”


Pemuda itu mengangguk hingga akhirnya mereka berdua pergi meninggalkan loker.


🍁🍁🍁


Cafetaria.


“Kau mau makan apa? Biar aku pesankan,” tawar Rian saat sampai di Cafetaria.


“Samakan saja dengan pesananmu,” jawabnya.


“Aku hanya memesan minum, karena aku membawa bekal,” terang Rian.


Dari kejauhan tampak banyak para wanita yang saling berbisik dengan mata yang terus menelisik pemuda yang bersama Rian. Rian yang selesai memesan segera kembali ke kursinya.


“Kau punya banyak fans ya,” seloroh Rian.


Pemuda itu menatap heran Rian. “Fans?”


Rian menunjuk ke arah kerumunan wanita yang sedang sibuk bisik-bisik. Mereka pun memalingkan muka karena ketahuan oleh Rian. Pemuda itu hanya mengedikkan bahu acuh.


“Aku tidak kenal mereka.”


“Kau baru di sini?” tanya Rian penasaran.


Seorang pelayan wanita datang mengantar pesanan dengan wajah tersipu malu, tapi pemuda itu tidak mengindahkannya. Menerima pesanan tanpa mengucapkan kata terima kasih, Rian meringis.


“Ya, aku pindahan…”


“Darimana?”


“Osaka.”


“Jepang?”

__ADS_1


“Yup,”


“Tapi kamu fasih berbahasa Indonesia,” Rian mencondongkan duduknya.


Pemuda itu mengaduk kopi latte yang dipesannya. “Karena aku Jepang keturunan, ada darah Jawa di keluarga kami,” menambah 1 bungkus krimmer ke dalamnya.


“Aku jadi teringat tetanggaku yang orang Jepang-Indo,” seru Rian.


“Siapa namanya?”


“Bapak Kentaro!”


“Itu Pamanku,” sahut pemuda itu cepat.


“Wah… berarti Pamanmu, tetanggaku!” Rian berbinar. Ternyata dunia ini selebar daun kelor.


“Sebenarnya, aku baru pindah ke sana minggu lalu untuk menemaninya,” jelasnya.


“Jadi kita tetanggaan?”


Pemuda itu mengangguk. “Siapa namamu?”


“Rian Bramantyo, kamu?” raut wajah pemuda itu berubah saat mendengar nama Rian.


“Dilan Suryatama, hm… kamu dengan Laras… maksudku, Ibu Laras apa hubungannya?”


“Dia Ibuku,” ucap Rian bangga.


Dilan terdiam, dia tidak menyangka wanita yang ditemuinya memiliki anak hampir seusianya. Laras tidak terlihat seperti ibu-ibu dalam pandangannya, bahkan terlalu muda untuk di sebut ibu-ibu. Terlalu cantik dan menarik, terlalu… ah… Dilan sungguh bingung menjabarkannya.


Pemuda itu terpesona sejak pandangan pertama. Paras ayu nan memikat, dengan warna kulitnya yang terlihat seski di mata Dilan berhasil membuatnya tidak bisa tidur semalaman.


Lamunannya buyar saat Rian membuka kotak bekalnya, harumnya menyeruak menggugah selera. Dilan yang barusan bilang tidak lapar, sontak tergiur melihat bekal Rian tersebut. Perutnya mendadak keroncongan. Rian menyadari itu.


“Kau mau? Ini bekal dari Ibuku, dia jago memasak!” pujinya.


“Boleh?” Dilan tampak tidak malu-malu.


“Karena kamu sudah menolongku, kali ini aku rela bagi-bagi,” Rian menyodorkan sendok pada Dilan.


Dua pemuda itu kini makan berdua dalam satu kotak bekal, terlihat romantis!.


Tbc.


Please rate, vote dan likenya yach!


Sertakan comment kalian agar aku lebih baik lagi, Enjoy!

__ADS_1


Aku mau donk makan bekal berdua sama dek Dilan… sama Rian juga…. Wah othor mabok berondong! hahahhahah.


__ADS_2