Terjerat Brondong

Terjerat Brondong
TB 08


__ADS_3

Laras POV


Kediaman Laras


Hari ini aku mengadakan barbeque di rumah, Maria merayakan ulang tahunnya di sini. Wanita itu hanya tinggal seorang diri di apartemen, orang tuanya tinggal di Bali beserta sanak saudaranya. Dia pergi merantau ke ibu kota sejak masa kuliah dulu. Beruntung karena keuletan dan kegigihannya dia cukup berhasil dengan menjadi wakil dekan. Hanya saja hingga saat ini dia masih sendiri, mungkin karena karakternya yang cuek membuatnya tidak begitu memikirkan hal seperti jodoh.


Dilan sudah pulang tadi pagi, aku pun mengajaknya untuk barbeque bersama. Aku belum menanyakan kabar Pak Kentaro karena sibuk menyiapkan bahan makanan.


Setelah semuanya selesai kami pun menyantap hasil panggangan Dilan dan Rian yang cukup memuaskan. Mereka sepertinya cocok menjadi tukang sate di persimpangan jalan. Sate di sana benar-benar enak meski dengan harga murah meriah.


Maria mengamati Dilan dengan seksama. "Kau anak pindahan dari Osaka itu?"


"Iya Bu," jawab Dilan sopan.


"Woah! Kau langsung memanggilnya Ibu, sedangkan denganku kau belum pernah memanggil seperti itu," godaku membuatnya kikuk.


"Benarkah? Itu hanya perasaan anda..." Dilan langsung terdiam saat sadar memanggilku dengan sebutan 'anda'


"See..." selaku.


"Oh... Ya ampun, kau lucu sekali Dilan! Memang Laras ini harusnya dipanggil Kakak dari pada Ibu, itu terlalu tua," celoteh Maria.


"Tapi beliau bukan Kakakku, jadi tidak pantas dipanggil Kakak..." sanggah Dilan.


"Baku sekali, kau harus masuk kelas sastra," ujar Maria.


"Tapi aku lebih suka sejarah," ucap Dilan sambil melirikku.


"Jangan katakan itu," ucap Maria dan Rian bersamaan.


"Ada apa dengan sejarah?" Aku terusik dengan reaksi sahabat dan anakku sendiri mengenai jurusan yang ku ajarkan.


Maria mengedikkan bahu acuh. "Aku tidak masalah dengan sejarah, tapi bermasalah dengan dosennya," ucap Maria polos.


"Ya, Mama terkenal dosen yang paling dihindari, karena tidak mudah lulus di jurusannya," bisik Rian pada Dilan membuatku mendelik.


"Hei, jangan pengaruhi temanmu, Rian. Mama tidak sesulit itu," sergahku tidak terima.


Dilan menahan senyum sambil mengangguk. Aku jadi malu sendiri. "Itu tidak benar, jangan dengarkan mereka," jelasku.


"Ya... jangan dengarkan kami," sahut Maria.


"Dengarkan ucapan alumni saja," timpal Rian.


"Sudah, berhenti mengatakan hal tidak penting," sungutku makin kesal. Apa memang seburuk itu imageku selama ini di pikiran para Mahasiswa?


Sesaat kemudian aku mengingat perihal Pak Kentaro, aku pun menanyakan kabarnya pada Dilan.

__ADS_1


"Bagaimana kabar Pamanmu?" Tanyaku.


"Paman harus melakukan operasi, mungkin 2 minggu hingga masa pemulihan Paman harus ada di rumah sakit," jawab Dilan dengan wajah sendu.


Aku menepuk bahunya. "Aku yakin, Pak Kentaro akan lekas sembuh," hiburku.


"Kamu tidak sendiri, kau bisa tidur di kamarku jika kamu takut di rumah sendirian," Rian ikut memberi semangat.


"Jadilah pria kuat, don't be sad," ucap Maria.


"Terima kasih banyak," pemuda itu pun tersenyum penuh kelegaan.


🍁🍁🍁


Keesokan harinya Mas Andi datang menjemput Rian untuk melihat pertandingan bola di Bandung. Aku bisa melihat keantusiasan Rian, mengetahui hal itu membuatku merasa miris. Rian yang tegar pun pada akhirnya menunjukkan seberapa besar pengaruh Mas Andi selaku Ayahnya.


Dengan riang Rian pamit sebelum akhirnya mereka pergi meninggalkan aku seorang diri. Aku melambaikan tangan hingga mobil Mas Andi tidak terlihat. Aku pun kembali memasuki rumah.


Hari telah petang, aku sedang menikmati waktu liburku dengan membaca buku sebelum nanti malam menghadiri acara kencan buta yang disiapkan oleh Maria. Tidak lama terdengar ketukan pintu dari pintu belakang rumahku, aku melihat Dilan berdiri di sana.


"Assalamu'alaikum, maaf mengganggu," salamnya.


"Wa'alaikum salam, tidak... kamu tidak menganggu ku," jawabku sambil tersenyum. "Masuklah," tambahku.


"Terima kasih... aku hanya ingin memberikan ini," Dilan menjulurkan buku di tangan kanannya setelah memasuki rumah.


Mataku membulat sempurna saat melihat buku apa itu. "Illiad?" Aku membuka buku itu, dan lagi-lagi aku terhenyak melihat edisi keberapa buku itu. "Cetakan pertama, ini pasti mahal, aku tidak bisa menerimanya," tolakku mengembalikan buku itu.


Aku sungguh menghargai apa yang dia berikan. Buku ini sangat bagus, disaat aku menonton Troy yang mengisahkan Achilles yang runtuh karena cinta, berbanding terbalik dengan kisah di buku ini. Achilles di versi Illiad Homerus dia mempunyai kelemahan di tumitnya, tidak ada unsur cinta sama sekali di sana. Dia mati karena tumitnya di panah oleh Paris. Dan berakhirlah kejayaan prajurit setengah dewa tersebut.


Aku membolak balik buku itu. "Kau suka kisah ini?"


"Aku lebih suka versi filmnya," jawabnya dengan manik mengunci padaku. "Ketika briseis menaruh belati dileher Achilles saat berbaring diranjang, dia hanya berkataΒ 'Just Kill Me'. Bersamaan dengan itu mereka telah saling jatuh cinta, Achilles mencintai briseis dengan penuh hormat dan penghargaan layaknya menjamu tamu yang baik. Cinta Achilles tidak menjadikan pasangan bersikap halnya tawanan perang, tapi cinta yang membebaskan," terangnya membuatku takjub dengan pemikirannya.


"Aku... terkesan, wow... aku sampai tidak bisa berkata-kata," ucapku jujur.


Dilan tersenyum malu-malu, aku bisa melihat rona merah di pipinya. "Tidak, itu hanya pemikiran biasa saja," pemuda itu menundukkan kepala hingga maniknya menangkap sebuah kotak sepatu yang terbuka berada di atas meja.


"Itu sepatu..."


"Sepatu itu dari Maria, apa terlihat aneh?"


Sebuah stiletto dengan sedikit motif kulit harimau. Dilan mengerutkan kening. "Sepatu itu akan membuat yang memakainya merasa sexi, sedangkan anda... tidak butuh itu," ujarnya yang membuatku merona.


"Apa anda ada acara malam ini?"


"Hm... ya, aku ada janji dengan seseorang," jawabku.

__ADS_1


"Sayang sekali, padahal saya ingin di ajarkan memasak ayam kalkun panggang. Saya sudah membelinya tadi pagi," ucapnya pelan. Aku bisa merasakan ada kekecewaan pada nada bicaranya.


"Tidak masalah! Aku bisa membantumu memasak sebelum pergi ke acara itu," sahutku cepat.


Seketika wajah Dilan berbinar, senyumannya itu buat jantungku berdebar. Aduh, dasar tidak sadar umur. Rutukku pada diri sendiri.


🍁🍁🍁


Kediaman Pak Kentaro


Aku sudah siap dengan apron yang terpasang di balik dress satin andalanku. Harusnya aku menggantinya, tapi aku takut tidak cukup waktu hingga terlambat, itu bukan gayaku.


Dilan menemaniku dengan kaos oblong tanpa lengan, memperlihatkan tangan kekarnya yang berotot. Aku pikir, wajahnya yang halus tidak memungkinkan untuknya memiliki tubuh sekekar itu. Tidak terlalu besar atau kecil, sangat pas dengan posturnya yang tinggi. Tanpa sadar aku memperhatikannya hingga Dilan memanggilku.


"Ada yang aneh?" Ucap Dilan membuatku terperanjat gugup.


Ya ampun aku ketahuan menatapnya, memalukan!


"Ahh... hm... tidak, hanya kagum saja. Kau... punya tubuh yang bagus," jawabku polos.


Dilan hanya tersenyum dan mengambil bahan makanan yang akan dimasak. "Saya suka bela diri, hingga tanpa sadar membentuk tubuh dengan sendirinya," ujarnya membuatku mangut mengerti. "Ini ayam kalkunnya," aku menerima ayam itu.


"Oh, begitu. Bagus sekali, sambil menyelam minum air," sahutku.


Hening kemudian, aku memilih fokus memasak dan sesekali memberitahukan langkah-langkah yang harus Dilan lakukan. 1-1/2 jam ayam kalkun panggang pun siap disajikan.


"Terima kasih banyak, jika saya yang memasak pasti akan ada mobil pemadam kebakaran yang datang," guraunya.


Aku mengulum senyum. "Tenang saja, aku punya banyak karung goni di rumah," Dilan tergelak. Aku ikut tertawa bersamanya. Hingga tawa itu lenyap, hanya tatapan dalam yang dia berikan. Aku sampai salah tingkah dibuatnya.


"Kenapa menatapku seperti itu?" Tanyaku.


"Anda... begitu cantik, menarik dan menggoda," ucapannya membuatku meremang. Aku hanya bisa tersenyum tipis dan beranjak berdiri dari kursi makan. Aku tidak boleh berada di sini lebih lama lagi, ini tidak baik.


"Sebaiknya aku pergi," aku berbalik mengambil jaketku yang berada di sofa namun, saat kembali menoleh Dilan telah berdiri di hadapanku dengan jarak yang sangat dekat.


"Laras..." Dilan melangkah lebih dekat hingga membuatku terhimpit dinding. Aku terpaku dengan panggilannya padaku, dia memanggil namaku.


"Dilan..."


Aku tidak pernah sedekat ini dengannya, bahkan aku bisa merasakan deru nafasnya yang menerpa wajahku hingga membuatku memanas.


"Izinkan aku menciummu,"


Tbc.


Please rate, vote dan likenya yach!

__ADS_1


Sertakan komment kalian agar aku kebih baik lagi, Enjoy!


Hemmmm... aku mau lanjut ngetik tapi nanti adja deh. Hahahaha ... nunggu malem dulu.


__ADS_2